Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20, JALAN MENUJU LIRAEL
Mereka tidak bisa tinggal diam di hutan itu. Pasukan Veyra semakin mendekat, dan api unggun mereka terlihat di kejauhan seperti lautan bintang yang gelap. Zhoo memutuskan — mereka akan bergerak ke utara, menuju Kerajaan Lirael, negeri tepi laut dan pelabuhan. Jika mereka bisa memenangkan Lirael, mereka memiliki akses ke laut, jalan keluar, dan sekutu yang menguasai jalur perdagangan seluruh benua.
Perjalanan itu berat dan penuh bahaya. Mereka harus melewati jalan-jalan terpencil, menghindari patroli Veyra, berjalan di bawah hujan dan angin dingin musim gugur. Setiap hari ada yang jatuh karena sakit atau kelelahan, dan setiap kali itu terjadi, beban di hati Zhoo semakin berat.
Suatu malam saat berkemah di dekat sungai besar, Kael duduk di samping Zhoo saat ia berjaga. Api unggun meredup, dan keheningan menyelimuti mereka.
"Kau tahu," kata Kael tiba-tiba, suaranya pelan. "Dulu aku berpikir jika kita berangkat dari desa, kita akan melihat dunia yang indah. Bahwa petualangan itu penuh kemenangan dan kemewahan." Ia tertawa kecil, namun tawanya sedih. "Aku tidak menyangka akan ada begitu banyak darah dan air mata."
"Dunia ini indah, Kael," jawab Zhoo pelan. "Tapi keindahannya tersembunyi di balik lapisan penderitaan yang tebal. Dan tugas kita adalah mengupas lapisan itu agar orang-orang setelah kita bisa melihat keindahannya tanpa harus terluka seperti kita."
"Apakah itu sepadan?" tanya Kael jujur. "Kadang aku berpikir — bagaimana jika kita pulang saja? Kembali ke desa, hidup sederhana, tidak peduli pada kerajaan-kerajaan itu?"
Zhoo diam sebentar, lalu menatap temannya itu. "Karena jika kita pulang, penderitaan itu tidak akan hilang. Ia hanya akan menunggu kita tua, lalu menimpa anak-anak kita. Dan aku tidak sanggup melihat mereka menderita seperti kita. Itulah sebabnya kita berjuang — bukan untuk diri kita sendiri, tapi untuk masa depan yang tidak akan kita lihat sepenuhnya, tapi yang bisa kita bangun dengan tangan kita sendiri."
Kael mengangguk pelan, air mata menetes di pipinya. "Aku tetap bersamamu, Zhoo. Sampai akhir. Maafkan aku karena ragu."
"Ragu itu bukan kelemahan," kata Zhoo lembut. "Itu tanda bahwa kau berpikir sebelum bertindak. Yang penting bukanlah tidak pernah ragu — tapi tidak pernah menyerah meskipun ragu."
Perjalanan berlanjut. Semakin ke utara, udara semakin lembap, dan aroma laut mulai tercium di angin. Pohon-pohon berubah, tanah menjadi berbatu dan berumput hijau yang lebat. Hingga akhirnya, di puncak bukit tinggi, mereka melihatnya — Lautan Luas, biru dan tak bertepi, ombaknya menghantam tebing berbatu dengan suara yang menggetarkan bumi. Dan di tepiannya, kota Lirael berdiri — rumah-rumah putih berderet, pelabuhan yang penuh kapal, menara-menara cahaya yang menjulang menghadap laut.
"Indah..." bisik Elara kagum.
"Dan sangat dijaga," tambah Arvin serius. "Lihatlah tembok pelabuhan itu. Setiap sudut dijaga dengan menara panah. Dan kapal-kapal perang itu bisa menembakkan api dari jarak jauh. Kita tidak bisa menyerang tempat ini dengan kekerasan."
"Kita tidak akan menyerang," kata Zhoo. "Kita akan berbicara. Seperti biasa — dengan jujur, dengan hormat, dan dengan kebenaran di sisi kita."
Namun saat mereka berjalan menuju gerbang kota, mereka melihat sesuatu yang membuat darah mendidih. Di depan gerbang utama, pasukan Veyra berdiri mengawasi masuk keluar, memeriksa setiap orang, dan memungut pajak yang begitu tinggi hingga pedagang kecil menangis menyerahkan barang dagangan mereka. Prajurit Veyra mendorong orang tua, memukul yang lambat, dan berbicara dengan kasar kepada semua orang.
"Ini bukan lagi sekadar persekutuan," kata Zhoo pelan, matanya gelap karena marah. "Ini adalah pendudukan. Dan penguasa Lirael membiarkannya terjadi di tanahnya sendiri."
"Mungkin dia tidak punya pilihan," kata Elara. "Sama seperti Raja Horus dulu."
"Kalau begitu kita harus memberinya pilihan," jawab Zhoo tegas. "Dan kita harus melakukannya sekarang, sebelum Vereon menghancurkan semangat rakyat ini sepenuhnya."