Niat hati menolong seorang wanita yang nyaris diperkosa, Rain justru diperlakukan layaknya sampah. Sebab setelah difitnah oleh para pelaku, Echa selaku wanita yang nyaris diperkosa juga membenarkan, bahwa justru Rain pelakunya.
Karena kenyataan tersebut juga, warga yang telanjur datang ke lokasi, langsung mengeroyok Rain. Rain yang nyaris meregang nyawa sengaja dibuang ke sungai berarus deras. Mereka yakin, dengan begitu Rain akan benar-benar mati. Hingga mereka tak perlu bertanggung jawab, apalagi berurusan dengan polisi.
Padahal, harusnya satu minggu lagi Rain menikah dengan Hasna. Malahan saat Rain mengalami kejadian tragis saja, keduanya baru saja meninjau lokasi resepsi pernikahan. Hanya saja, menghilangnya Rain tak membuat Hasna curiga. Terlebih selain tipikal periang, Rain yang berasal dari keluarga kaya raya juga terbiasa jail. Meski di hari pernikahan mereka, Hasna berakhir pingsan karena Rain tetap tak kunjung datang. Namun di tempat berbeda, Rain yang terluka parah akhirnya sadar. Rain dirawat di rumah seorang dukun dan ternyata merupakan orang tua angkat Echa. Masalahnya, Echa yang hamil di luar pernikahan mengaku dihamili Rain.
Satu-satunya yang ingin Rain lakukan hanyalah balas dendam. Rain sungguh langsung memulainya, dan menjadikan Echa sebagai target pertama sekaligus utama. Meski karena keputusan itu juga, sederet fakta mencengangkan membuat hidup Rain layaknya menaiki roller coaster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 : Seran-gan Balik
“Istighfar ... istighfar ... sadar, ... sadar. Jangan sampai oleng, nanti yang ada disuruh tidur di luar!” batin Rain yang masih menguatkan diri untuk tidak menjalani kebiasaannya. Mengenai ia yang sudah terbiasa dekat dengan banyak perempuan. Meski dari semuanya, merupakan saudara atau kerabat perempuannya.
Halaman depan rumah orang tua Rain, sudah penuh mobil yang terparkir. Kebersamaan yang awalnya akan mereka langsungkan di kediaman Adam kakak Rain, memang berpindah ke rumah orang tua Rain.
Karena selain orang tua Rain yang ingin menjamu keluarga mereka, rumah orang tua Rain memang jauh lebih luas. Malahan saking luasnya rumah orang tua Rain, di sana sampai ada studio untuk syuting. Apalagi selain pak Ojan yang notabene merupakan artis kawakan, mereka juga memiliki rumah produksi. Rain sekeluarga lah yang memegang kendali rumah produksi mereka secara langsung.
“Malam ini, mau nginep di sini?” tanya Rain sambil menuntun masuk sang istri.
Suasana rumah Rain sudah sangat ramai. Bukan karena di sana ada pesta yang sampai disertai musik keras atau malah mir.as. Namun karena rumah memang sudah dipenuhi sanak saudara. Sebagian sudah asyik mengobrol. Para anak-anak juga tampak asyik bermain di wahana samping rumah. Sementara sisanya, tengah berenang ramai-ramai di kolam. Namun dari kebanyakan mereka, para ibu-ibu yang tak terlihat, Rain yakini tengah sibuk memasak di dapur.
“Innalilahi ... nyaris!” batin Rain sangat deg-degan. Sebab Rain nyaris memeluk Hyera lagi. Di sebelahnya, Hasna yang masih ia gandeng, makin mengeratkan gandengan mereka.
Kemudian, yang Hasna lakukan ialah menatap sang suami penuh arti. Itu merupakan wujud dari peringatan keras yang sengaja Hasna berikan kepada Rain.
“Aafreen Sayang, sini. Ayo ikut Mbak sama Mas. Biar Papa ngobrol sama para Uncle dan Om!” ucap Hasna. Ia sengaja mengambil sang adik dari pangkuan sang papa. Kemudian, Hasna sengaja memberikan adik perempuannya itu kepada sang suami.
“Nah, gitu. Biar ada pegangan!” ucap Hasna yang merasa jauh lebih aman setelah Rain mengemban Aafreen.
Setelah mengembuskan napas pelan, Rain juga jadi merasa lega. “Ke kamarku dulu,” sergah Rain.
“Ngapain?” tanya Hasna bingung.
“Taruh barang-barang kita,” balas Rain.
“Oh, oke ....” Hasna sudah sempat melangkah, tapi Rain meraih sebelah tangannya.
“Merasa tersiks-a?” lembut Hasna sengaja memastikan kepada suaminya. Apalagi, ekspresi Rain jadi terlihat sangat tidak nyaman.
“Takut saja. Takut kebablasan!” yakin Rain yang malah dihadiahi cubitan di perut oleh Hasna.
“Aduh, Dek. Mbakmu. Kalau enggak ...,” ucap Rain langsung tidak jadi lantaran sang istri sudah langsung menatapnya tajam.
“Ya sudah, yuh. Kel.on saja di kamar, biar hidupku damai,” bisik Rain yang langsung cekikikan. Lain dengan Hasna yang jadi salah tingkah.
“Sayang, pipi kamu jadi merah begitu. Masa iya, sudah menikah, kamu masih malu juga ke aku?” ujar Rain kali ini sengaja menggod.a istrinya.
Satu hal yang membuat Hasna merasa spesial. Karena ternyata, di kamar, sang suami sudah menyiakan buket bunga matahari. Dari semua bunga, bunga matahari memang menjadi bunga favorit Hasna.
“Aku juga mau!” rengek Aafreen, dan langsung membuat Hasna maupun Rain mendelik.
“Dek Aafreen nonton hape Mas saja. Mau nonton apa? L.O.L? Apa kuda ponny? Ayo ... ayo ....” Rain sudah langsung mengeluarkan jurus andalan kepada sang adik ipar. Apalagi selain es krim dan permen yang selalu membuat Aafreen sakit gigi. Aafreen juga sangat suka menonton acara favoritnya.
“Apa nonton acaranya Mas saja? Nonton mbah Ojan jadi wanita hamil, ya? Biar viewer acara Mas banyak. Makin banyak di tonton kan, makin jadi cuan. Biar jatah bulanan mbakmu nambah juga!” bujuk Rain sambil sesekali melirik sang istri. Ia dan Hasna sama-sama cengar-cengir.
“Kan tadi sudah ketemu mbah Ojan di depan,” ucap Aafreen tetap tidak mau ganti tontonan.
Sadar sang suami sudah tidak mengurus Aafreen, Hasna yang masih mendekap buket bunga mataharinya, langsung duduk di pangkuan Rain.
“Aduh ... leganya kalau sudah begini. Rasanya damai banget!” ucap Rain sambil mendekap tubuh Hasna.
Hasna hanya cengar-cengir kegirangan. Layaknya wanita normal pada kebanyakan, perlakuan manis Rain juga membuat Hasna merasa sangat spesial. Hasna bahagia dengan perhatian yang Rain berikan. Khususnya kenyataan suaminya yang masih rutin memberi bunga kesukaannya, dan itu dalam jumlah banyak. Kenyataan tersebut juga yang membuat Hasna makin manja.
“S—sayang, gini ... seberapa pun kamu marah ke aku. Kamu jangan sampai bikin aku tidur di luar, ya?” ucap Rain benar-benar memohon. “Marahnya didiskon. Kamu cukup hukum aku buat, ... masakin kamu, pijitin kamu, apa ... suruh mandiin kamu, aku juga mau banget!”
“Mbak Hasna kan syudah gede. Masa masih dimandiin? Mandi syendili lah,” ucap Aafreen yang tetap menyimak meski ia fokus menonton.
Detik itu juga Rain dan Hasna celingusan. Hasna mengecu.p gemas pipi kiri Rain kemudian menaruh buket bunga mawarnya di meja nakas depannya.
“Sayang, hape kamu penuh notifikasi,” ucap Hasna tak sengaja melongok layar ponsel sang suami.
“Apa kabar perkembangan kasu.sku, ya?” balas Rain.
“Bentar, aku pakai hape aku buat dek Aafreen,” sergah Hasna bergegas meninggalkan pangkuan suaminya.
Seperti yang Rain khawatirkan, alasan utama ponselnya penuh pemberitahuan memang karena kabar perkembangan khas.usnya.
“S—sayang, bagaimana?” lembut Hasna sengaja memeluk manja suaminya dari samping. Ia sengaja melongok layar ponsel suaminya.
“Gil.a sih ini,” lirih Rain yang kemudian menatap Hasna.
“Gimana? Cerita saja,” lembut Hasna mencoba memberi suaminya dukungan. Hanya saja, ekspresi Rain yang tampak sangat emosi, membuatnya makin khawatir.
“Laporan ke abah dukun enggak berlaku karena abah dukun dan Echa, mengaku sama-sama suka. Malahan, aku dijer-at pasal IT karena sudah menyebarka.n video as.susila. Padahal, tanpa menyebar video itu, ya tentu kedok percab-ulan tuh dukun, ... enggak terbongkar!” ucap Rain belum apa-apa sudah emosi.
“Gini, nih, yang bikin orang awam makin masa bodo dan cari aman. Menyebarkan kebenaran demi memberantas kebat-ilan disalahkan. Meminta tolong bahkan ke polisi tanpa modal uang, pasti ya cuma dianggap lalat hijau!” Rain makin uring-uringan.
“Nah, ini lagi ... kasu.s Amir dan kawan-kawan pun ... astaga, semuanya kompak melakukan seranga.n balik ke aku. Mereka berhasil meyakinkan polisi. Enggak ada tindakan as.usila. Hanya kenaka-lan orang kampung pada kebanyakan. Dan penyelesaiannya cukup ditebus uang sama kehadiran orang tua,” ucap Rain lagi.
“Apa yang aku lakukan ke Amir dan Asep ditun.tut dengan pa.sal pengania.yaan berat!” Rain mengakhiri ucapannya dengan mendengkus kesal.
Hasna tidak bisa melihat suaminya bersidih apalagi emosi. Kedua tangannya membingkai wajah Rain. Berkaca-kaca ia menatap kedua mata Rain penuh dukungan. “S—sayang, kamu enggak usah takut. Aku sama yang lain selalu ada buat kamu! Kita lawan! Bila perlu, kita tunt-ut pihak kepolisian yang sudah membenarkan pembelaan mereka!”
🤗
smoga mereka menemukan Rain yg sdh lelahan berlari