Status adik angkat tak pernah membuatku aman dari mereka."
Bertransmigrasi ke tubuh figuran yang diangkat anak oleh keluarga Sterling, Ceira berniat kabur dari alur novel. Namun, jiwa barunya yang tangguh justru memicu obsesi gelap Kaiser dan King Sterling.
Satu tubuh adik angkat, dua raga kembar, dan empat jiwa penguasa yang terobsesi mengunci hidupnya. Lari bukanlah opsi saat jerat liar mereka sudah mengunci mati.
"Mampukah dia lolos dari jerat liar mereka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepungan di Jam Istirahat dan Pesona Sang Alter Ego
Hari berjalan dengan ritme yang terasa begitu lambat, membosankan, sekaligus menyesakkan dada bagi Ceira. Pikirannya terus berkecamuk, berputar hebat memikirkan ancaman ganda yang datang dari para penguasa Kediaman Sterling, serta peringatan terselubung penuh teka-teki yang dilontarkan oleh Zayn Al-Fayed di koridor fakultas tadi pagi. Bayangan tentang sangkar emas yang mengekangnya membuat setiap detik di dalam kelas terasa seperti berada di dalam ruang hampa udara tanpa pasokan oksigen yang memadai.
Ketika bel tanda waktu istirahat siang berdering nyaring di seluruh penjuru gedung universitas, para mahasiswa lain langsung berbondong-bondong keluar ruangan menuju kantin atau area terbuka untuk menikmati waktu istirahat mereka. Suasana lorong fakultas mendadak menjadi ramai oleh gelak tawa dan obrolan ringan antarmahasiswa. Namun, langkah kaki Ceira justru terhenti sesaat ketika ia berniat melewati area taman belakang gedung fakultas—sebuah jalur alternatif yang lebih sepi, rindang, dan jarang dilalui orang banyak untuk menuju ke perpustakaan pusat.
Tanpa ia sadari sedikit pun, sebuah perangkap maut telah dipasang secara rapi untuk menyambut kedatangannya di tempat terpencil itu.
Tiba-tiba, langkah kecilnya terhalang oleh sekelompok orang berbadan tegap berbalot jaket hitam berukuran besar yang muncul secara serentak dari balik dinding pembatas koridor luar. Tidak tanggung-tanggung, ada lima belas orang preman bayaran kelas kakap suruhan Clara yang sengaja dikirim khusus untuk memberikan pelajaran fisik yang mematikan kepada Ceira, demi melampiaskan rasa cemburu buta dan ambisi busuk wanita berambut pirang itu.
"Mau lari ke mana, Nona Sombong?" ucap salah satu preman bertubuh paling besar dengan seringai keji terukir di bibirnya yang tebal, sambil menenteng sebatang pipa besi panjang yang digoreskan kasar ke lantai hingga memunculkan percikan suara deru yang mengerikan. "Clara menyuruh kami memastikan wajah cantikmu itu hancur babak belur dan tidak lagi dikenali oleh para Tuan Sterling."
Ceira serta-merta memundurkan langkahnya ke belakang dengan kepanikan yang teramat sangat. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk hingga terasa sesak. Pengawal pribadi bayaran keluarga Sterling yang biasanya berjaga secara ketat di luar pagar kampus memang dilarang masuk terlalu dekat ke area privat mahasiswa demi menjaga privasi institusi, membuat posisinya saat ini benar-benar terisolasi tanpa ada satupun tempat berlindung di sekitarnya.
"Kalian... jangan mendekat!" cicit Ceira dengan suara bergetar hebat, sementara air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah.
Tanpa memberikan aba-aba atau kesempatan sedikit pun bagi gadis itu untuk melarikan diri, gerombolan preman berandalan tersebut langsung bergerak cepat mengepung Ceira dari segala penjuru mata angin, menutup rapat setiap celah pelarian yang tersisa. Mereka mulai melayangkan pukulan serta dorongan kasar secara membabi buta. Ceira mencoba menangkis serangan itu dan melawan sebisanya menggunakan kedua tangan kosong, namun dari segi kekuatan fisik dan postur tubuh, tubuh mungilnya tentu saja kalah telak melawan belasan pria dewasa berbadan besar.
Sebuah hantaman benda tumpul yang cukup keras mengenai bahu kanannya tanpa ampun, membuatnya langsung tersungkur jatuh tersungkuk ke atas tanah berumput dengan napas tersenggal-senggal dan rasa sakit yang langsung merembes menyengat seluruh saraf tubuhnya.
“Sialan... bodoh sekali! Kita dikeroyok belasan sampah tak berguna ini!” maki Scarlett berang luar biasa di dalam ruang kesadaran mereka, suaranya menggelegar penuh amarah yang membakar ubun-ubun. “Ceira, menyingkir dan serahkan kendali! Biar aku yang merobek mulut sialan mereka satu per satu hari ini juga!”
Seketika itu juga, tanpa bisa dicegah lagi oleh rasa takut, pendar di manik mata Ceira bergeser drastis dalam sepersekian detik. Warna cokelat jernih itu lenyap sepenuhnya, berganti menjadi merah pekat menyala tajam di balik bingkai kacamata tipisnya. Scarlett mengambil alih kendali penuh atas raga fisik mereka dalam kedipan mata yang cepat.
Dengan gerakan akrobatik yang sangat cepat dan sama sekali tidak diduga oleh gerombolan preman tersebut, Scarlett melompat bangkit dari tanah dengan gesit. Alih-alih menunjukkan ekspresi ketakutan atau kesakitan seperti gadis lemah pada umumnya, sudut bibir Scarlett justru menyunggingkan senyuman miring yang penuh darah dingin dan mematikan.
Ketika preman pertama menerjang maju secara serampangan sambil mengayunkan balok kayu dengan tenaga penuh ke arah kepalanya, Scarlett merunduk dengan sangat rendah pada detik terakhir. Ia memutar poros tubuhnya dengan kelenturan luar biasa, lalu melayangkan sebuah tendangan putar (spinning hook kick) telak yang menghantam rahang sang preman dengan kekuatan penuh. Suara hantaman tulang yang berderak terdengar nyaring, membuat tubuh pria berbadan besar itu langsung berputar di udara dan terpelanting keras menghantam tanah dalam kondisi pingsan seketika.
Melihat rekan mereka tumbang dalam satu serangan telak, tiga orang preman lainnya langsung menyerbu secara bersamaan dari berbagai arah dengan membawa pisau lipat dan rantai besi.
Scarlett sama sekali tidak menunjukkan gentar. Ia melangkah maju menyambut serangan pertama, menangkap pergelangan tangan preman yang mengayunkan pisau dengan presisi tingkat tinggi, lalu memutar sendi lengan tersebut ke belakang hingga terdengar suara dislokasi yang menyakitkan. Tanpa memberi jeda, ia menggunakan tubuh preman yang sedang menjerit kesakitan itu sebagai perisai hidup untuk menangkis terjangan rantai besi dari penyerang kedua. Dengan gerakan siku tangan yang dihantamkan sekuat tenaga ke arah ulu hati, penyerang kedua langsung terbungkuk muntah darah. Preman ketiga yang mencoba mencengkeram bahunya dari belakang langsung dibanting over-shoulder—melewati bahu Scarlett—membentur paving block dengan bunyi benturan yang memekakkan telinga.
Pertarungan brutal satu lawan lima belas orang itu berjalan layaknya eksekusi militer berdarah dingin. Scarlett bergerak lbagai bayangan maut yang tak tersentuh; ia menepis hantaman pipa besi dengan tangkisan lengan bawah yang kokoh, memecah konsentrasi kelompok penyerang dengan serangan balik berupa tendangan lutut (knee strike) tepat ke arah tulang rusuk, serta mematahkan paksa arah siku musuh yang mencoba mendekat. Dalam hitungan menit, rumput taman belakang kampus tersebut telah berubah menjadi arena hancur dipenuhi oleh rintihan kesakitan dari para preman bayaran yang bergelimpangan tak berdaya.
Tanpa disadari oleh siapa pun di tengah kekacauan di lapangan bawah, dari balik jendela kaca lantai dua koridor gedung utama yang menghadap langsung ke arah lapangan taman belakang, sepasang mata tajam mengamati seluruh rangkaian insiden mematikan tersebut dengan gelombang ketertarikan yang luar biasa besar.
Zayn Al-Fayed berdiri tegak bersandar di balik dinding pembatas kaca, melipat kedua tangannya di depan dada dengan postur santai namun penuh perhatian. Pria itu awalnya hanya berniat melintasi area gedung fakultas untuk memantau situasi harian. Namun, begitu manik matanya menangkap perubahan warna manik mata gadis itu menjadi merah pekat yang menyala, serta menyaksikan cara bertarung yang luar biasa liar, anggun, namun mematikan di saat yang bersamaan, napas Zayn mendadak tertahan di tenggorokan.
Jantung sang pemimpin sindikat independen yang terkenal dingin dan berdarah dingin itu seketika berdegup kencang di luar kendali. Alih-alih merasa ngeri melihat pertunjukan kekerasan di bawah sana, seulas senyuman penuh kekaguman mendalam dan obsesi yang membara justru terukir jelas di wajah tampan Zayn.
“Menarik... ini benar-benar penemuan yang sangat menarik,” batin Zayn dalam hati, manik matanya terus menatap lekat setiap gerak-gerik sosok Scarlett yang baru saja menginjak dada preman terakhir dengan satu injakan kuat penuh dominasi. “Dia bukan sekadar gadis penakut peliharaan simpanan keluarga Sterling... Dia adalah ratu liar berdarah dingin yang sesungguhnya. Dan aku harus merebut serta memilikinya untuk diriku sendiri, bagaimanapun caranya.”
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......
gak jdi tuker tempat ma kamu ah..atutt 🤣🤣🤣🤣 jiwa halu ku meronta 😩😩
aahhh...gak sabar up lgi..👏👏👏
Semangat