Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Setelah mas Adya berangkat kekantor, aku bersiap-siap untuk pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli semua kebutuhanku yang hampir tidak tersisa lagi.
Aku berangkat dengan sopir mas Adya. Sopir yang selalu ikut dengan mas Adya kemanapun ia pergi. Tapi hari ini, ia ditugaskan oleh mas Adya untuk ikut kemana aku pergi, untuk menemani sekalian menjaga aku di luar sana.
Itu kata mas Adya sih sebenernya. Karena menurut pendapat aku, aku tidak butuh sopirnya untuk bersama aku. Karena aku baik-baik saja sendirian di luar. Toh, aku sudah biasa berbelanja sendirian saat aku masih gadis beberapa waktu yang lalu.
Aku sampai di salah satu swalayan yang lumayan sangat amat besar. Tempat yang biasanya aku berbelanja semua kebutuhanku.
Aku turun dari mobil, lalu meminta pak Yahya untuk tinggal di mobil saja.
"Pak, tunggu di dalam mobil aja yah. Aku pergi sendirian aja," ucapku dengan sedikit senyum padanya.
"Tapi non ... pesan den Adya tadi ...."
"Gak papa kok pak. Aku sendirian aja kedalam. Gak usah mikir pesan mas Adya yang meminta pak Yahya ikut masuk. Aku udah terbiasa belanja sendiri soalnya."
"Tapi non ... bapak takut kalo ada apa-apa sama non. Nanti bapak yang disalahkan sama den Adya."
Aku menarik panas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.
"Pak ... aku gak akan kenapa-napa kok. Lagian, aku udah biasa kali belanja sendirian di tempat ini."
"Bagaimana sama barang bawaan non nanti. Bukankah kalo bapak ikut, bapak bisa bantu bawakan."
"Yah ... aku gak enak belanja jika diikuti sama cowok pak. Nantinya aku bisa bingung, gak tahu mau beli apa. Lagian, kalo belanja gak bawa barang belanjaan sendirian, seperti orang yang datang hanya untuk melihat-lihat aja pak."
"Iya sudah. Kalau non Kaila bilangnya seperti itu, bapak tidak bisa memaksakan non Kaila lagi. Tapi bapak minta sama non, hati-hati ya di sekitar orang ramai," kata pak Yahya berpesan dengan sangat serius.
"Iya pak. Tenang aja," ucapku sambil senyum.
Akhirnya, aku bisa juga menggoyahkan kerasnya keinginan pak Yahya untuk ikut bersamaku masuk kedalam.
Aku pun berjalan menuju pintu masuk, sambil sesekali tersenyum geli memikirkan apa yang baru terjadi.
Ternyata, sopir sama majikannya gak jauh beda. Sama-sama keras kepala jika diajak adu mulut.
Tadi pagi, aku debat sama mas Adya karena ia meminta aku membawa sopirnya buat berbelanja. Lah, siang ini, aku debat sama sopirnya hanya karena pesan dari mas Adya yang meminta sopirnya untuk ikut dan melayani aku saat berbelanja.
Aduh ... bikin pusing aku aja jadinya. Mas Adya yang selalu mengalah itu ada kalanya keras kepala, sampai tidak bisa aku tolak apa yang ia inginkan.
Aku sibuk memikirkan apa yang terjadi. Sampai-sampai, setelah aku masuk, aku hanya berjalan tanpa menyentuh satu barang pun di dalam swalayan ini.
Aku tidak ingin terlihat seperti orang **** yang hanya berjalan di dalam swalayan yang ramai ini. Nanti, bisa-bisa, aku dibilang orang hanya datang untuk melihat-lihat saja.
Aku pun memutuskan untuk menyingkirkan apa yang aku pikirkan. Lalu, aku segera mengambil barang-barang yang aku butuhkan.
Tapi, belum ada dua barang yang aku pilih. Suara seseorang membuat aku harus menghentikan apa yang aku lakukan.
"Kaila!" teriak seseorang memanggil namaku lumayan keras.
Sontak saja, aku langsung menoleh untuk melihat siapa yang telah memanggil namaku di dalam swalayan yang ramai ini.
"Kamu ...."
Aku tidak bisa berkata apa-apa selain kata kamu ketika melihat orang yang telah memanggil namaku tadi.
Orang itu menatap aku dengan tatapan yang sulit untuk aku artikan. Ia hanya berjarak beberapa langkah dari hadapanku saat ini.
Jujur saja, aku tidak ingin bertemu dengan dia. Rasa sakit hati masih tergambar jelas ketika aku melihat wajahnya yang terlihat polos namun sangat menakutkan.
Aku memilih untuk menghindarinya. Menjauh dan mengganggap tidak bertemu dengannya sama sekali di swalayan ini.
Tapi, itu tidak terjadi. Ia dengan cepat menahan tanganku untuk mencegah aku pergi meninggalkannya.
"Tunggu Kaila! Beri aku sedikit saja waktu untuk bicara padamu."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, Maya. Semuanya sudah terjadi dan aku tidak ada waktu untuk membahas hal-hal yang terjadi di masa lalu."
Aku berusaha untuk terlihat sangat tenang dihadapan Maya. Padahal sebenarnya, hatiku tidak setenang yang aku tunjukkan saat ini. Hatiku malah ingin marah-marah dan meminta penjelasan atas apa yang telah ia lakukan padaku.
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄