Apa salahnya dengan tubuh Aku yang gendut ini?
Apakah Aku pernah mengambil makanan kalian?
TIDAK PERNAH
Lantas Mengapa Kalian membully Aku?
Bahkan Kalian sampai memberikan nama julukan kepada Aku DinDut yang artinya Dinda Gendut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinda Di Siram
"Awal cerita di sebut prolog, akhir cerita di sebut epilog, percakapan dua orang di sebut dialog, berbicara sendiri di sebut monolog, dan berjuang sendiri di sebut goblog."
Dinda hanya mengangguk kepalanya sebagai tanda Iya.
"Apa kamu tidak takut kalau BB (berat badan) kamu natik naik?" tanya Emil.
"Gak, kan tadi aku udah membakar kalori dengan jogging jadi BB ku gak bakal naik."Dinda berbicara dengan penuh keyakinan kepada Emil.
"Tapi kalori yang kamu bakar tadi tidak sepadan dengan banyaknya makanan yang akan kamu makan." Ucapan Emil.
"Dinda Dinda Dinda, kalau begini sih kamu ceritanya kayak lagi balas dendam." Wulan menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap Dinda.
"Balas dendam apa?"Dinda tidak mengerti dengan ucapan Wulan, sehingga keningnya berkerut.
"Tadikan kamu sudah membakar kalori dengan jogging sekarang kamu malah mau makan yang banyak jadi kalau bukan balas dendam itu apa namanya?" Wulan bertanya balik kepada Dinda.
"Aku itu lapar bukan balas dendam."Jawab Dinda.
Esokan Paginya...........
Pagi ini di atas tempat tidur yang berada di dalam kamar utama sepasang suami-istri sedang tertidur dengan nyenyak sambil berpelukan. Sementara itu di dalam kamar yang berada di sebelahnya seorang perempuan masih tertidur nyenyak di bawah selimut yang menutupi tubuh nya.
Jam weker terus berbunyi tetapi si perempuan itu masih tertidur dengan nyenyak.Suara jam weker terdengar hingga kekamar sebelah. Si wanita yang berada di kamar sebelah membuka kedua matanya berlahan-lahan.
Si wanita melihat jam dinding yang terpasang di dinding kamarnya.Si wanita terkejut melihat angka di jarum jam menujukan pukul 06.00 wib.
"Astagfirullah, ayah ayah ayah bangun."Si wanita berusaha menyingkirkan tangan suaminya yang melingkar di perutnya, setelah berhasil menyingkirkan tangan suaminya si perempuan menggoyang-goyankan lengan suaminya.
"Ini sudah bangun, sekarang jam berapa bu?" Kedua mata Ayah sudah terbuka, lalu dia mengucek kedua matanya.
"Pukul 06.00 wib."
"Apa?"Ayah terlojot kaget, lalu dia turun dari tempat tidur.Ayah melangkah terburu ke arah kamar mandi.
Setelah turun dari tempat tidur Ibu keluar dari kamarnya.Ibu sudah berada di depan pintu kamar Dino.
"Dino." Ibu sambil mengedor pintu kamar Dino.
"Dino bangun." Ibu berteriak membangunkan Dino.
"Aku sudah bangun bu."Suara berisik ibu mengedor pintu sambil berteriak sehingga Dino terbangun.
"Cepatan kamu mandi, ibu mau kekamar Dinda dulu."Setelah Ibu menyuruh Dino mandi, ibu pun beranjak pergi dari kamar Dino.
"Ini aku juga mau mandi ibu."Dino turun dari tempat tidur lalu dia mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarnya.
Ibu mengedor pintu kamar Dinda sambil berteriak-teriak memanggil Dinda.Sudah lima menit ibu mengedor pintu kamar Dinda tetapi tidak ada jawaban dari Dinda.Ibu membuka pintu kamar Dinda, Ibu melangkah masuk ke dalam kamar Dinda.
Ibu sudah berada di pinggir tempat tidur Dinda.
"Dinda bangun."Ibu membangunkan Dinda dengan menarik selimut yang menutup tubuh Dinda.
Setelah selimut di tarik oleh Ibu, Dinda tetap belum bangun juga.
"Dinda bangun."Ibu mengoyang-goyangkan lengan Dinda,tetap saja Dinda tidak terbangun dari tidurnya.
Dinda kalau tidur sudah mirip kerbau susah di bangunin
Kalau ada gempa bumi saat Dia tertidur pasti dia gak akan terbangun
Ibu melihat Dinda masih tertidur dengan nyenyak di atas tempat tidur. Ibu melihat ke arah nakas yang berada di samping tempat tidur Dinda. Di atas nakas itu terdapat segelas air putih. Ibu mengambil segelas air putih dari nakas itu, Ibu menyiram segelas air putih di atas wajah Dinda.
Byuuurr
"Hujan." Dinda merasakan wajahnya basah terkena akhir segera membuka kedua matanya sambil berbicara.
"Akhirnya kamu bangunan."Ibu berbicara sambil memegang gelas di tanganya.
"Ibu atap rumah kita bocor hujan nya masuk ke dalam kamar ku, maka nya wajah ku bahasa." Dinda sudah berganti posisi dengan duduk di atas tempat tidur.
"Atap rumah kita tidak bocor selain itu di luar tidak hujan."
"Terus itu air dari mana ibu?"
"Itu air dari gelas ini." Ibu berbicara sambil menujukan segelas kosong yang berada di tangannya.
~ Bersambung ~