NovelToon NovelToon
IPAR

IPAR

Status: tamat
Genre:Romantis / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:3.9M
Nilai: 5
Nama Author: Kirei

Menikah dengan Ipar adalah sesuatu yang sumbang buat Aralia. Tetapi ia tidak bisa menolak permintaan Ibunya yang memohon dengan air matanya demi sang cucu.

Varga suami yang lembut tak bosan-bosan memperhatikan istrinya walau sang istri menolak perhatian itu. Bahkan berani memasuki hati pria lain, yang membuat perjalanan cinta mereka rumit.

Dapatkan Varga memenangkan hati istri atau akan menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fantasi liar

"Ga, mama pamit ya." suara dari balik pintu mengangetkan Varga dan membawanya sadar dari fantasi liarnya.

"Iya ...ma." sahut Varga. astaga apa yang aku pikirkan.

Varga mengusap wajahnya kasar. Melihat ke Aralia yang masih sibuk memainkan ponselnya. Varga menyugar rambutnya kebelakang. Darah alami prianya semakin mendidih. Saat ini pikirannya sangat nakal.

Bagaimana bisa aku membayankan itu ....

Varga tidak sanggup lagi, ia berjalan menuju kamar mandi dan berniat mengakhiri gejolak yang membakar dirinya. Duduk di atas toilet, memejamkan mata sambil mengatur napasnya. Mencoba berpikir rasional.

"Tenang ... aku bisa mengendalikannya." Benak Varga menoleh ke bagian yang menonjol di kedua pahanya. Varga mengambil napas berusaha menyadarkan diri agar tak berbuat hal bodoh.

"Hei, jangan nakal boy, kau harus tidur." ujar Varga melirik bagian sensitivnya yang menuntut kebebasan. Ia malas melakukan gerakan solo hanya untuk menyenangkan si boy dalam celananya, meski sebenarnya dia menginginkannya juga.

sementara Aralia, bergegas menuju balkon. Menghubungi Reven yang sedang berada di parkiran motor.

"Ra ..., apa yang terjadi? Kau sakit apa? Kenapa baru menghubungiku?" Sederet pertanyaan di lontarkan Reven dari seberang sana.

"Kau tahu aku sakit?" tanya Ara balik sedikit berbisik.

"Suamimu disana?" Mendengar nada bicara Aralia, membuat Reven bertanya.

"Iya ... dia baru pulang, dan aku baru mendapatkan ponselku kembali. Dia menahannya." jawab Aralia, seraya mengawasi keadaan.

Reven menghela napas panjang." Kau sakit apa, Ra?"

"Demam sama pusing, itu aja. Jangan khawatir besok kita ketemu."

"Aku mohon jaga dirimu, aku hampir gila kau buat. Aku tunggu besok sayang. Istirahatlah."

"Baiklah, sudah ya. Aku matiin takut kak Varga datang."

"Aku mencintaimu, Ara." ucap Reven sebelum mematikan telponnya.

"Aku juga." Aralia menutupnya, berlari kecil kembali ke tempat tidurnya.

______________________________________________

"Kak ... kepala Ara pusing," suara Aralia menghentikan jemari Varga yang sedang mengerjakan pekerjaanya di laptop lalu menghampiri Aralia yang tengah meracau.

"Kenapa, Ra?"

Aralia mengigil dan suhu tubuhnya kembali tinggi.

Varga melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Hampir jam sepuluh malam.

Pasti ada yang salah ... benak Varga.

Berjalan membuka lemari Aralia, mengambil jaket dari sana lalu mengenakannya pada Aralia. Varga mengambil ponsel bersamaan dengan kunci mobil kemudian menggedong Aralia turun ke bawah.

"Ara demam tinggi, Ma. Varga bawah ke rumah sakit aja." ucap Varga saat melintasi ruang keluarga, disana ada Roland dan Ele menikmati acara televisi.

"Bukannya sudah baikan tadi siang, Ga?" Ele mengikuti dari belakang lalu membantu Varga membuka pintu keluar.

"Iya tapi tiba-tiba deman lagi, menggigil juga, Ma." jawab Varga merasa sangat khawatir.

"Mama ikut ya." Ele membuka pintu mobil setelah Varga menekan tombol remote mobil yang ada di tangannya.

"Nggak usah ma, jaga Bianca aja." jawab Varga meletakkan Aralia di jok.

"Kasih kabar secepatnya. Biar mama sama papa tahu apa yang harus kita lakukan." Kata Roland.

"Baik pa," Varga mengitari mobilnya menuju jok pengemudi.

Sesampainya di rumah sakit, Aralia di dorong pakai kursi roda dan langsung masuk UGD.

Dokter melakukan pemeriksaan pada pasien.

"Sudah berapa lama demamnya?" Tanya dokter wanita itu pada Varga.

"Dari kemarin siang dokter, cuman siang tadi sudah baikan."

"Obat yang di berikan?"

"Penurun demam aja."

"Demamnya tinggi ini." kata dokter itu setelah mengukur suhu tubuh Aralia.

"Langkah apa yang harus di lakukan dok?" tanya Varga.

"Untuk sementara kita kasih obat penurun panas, dan boleh juga kita lakukan cek darah."

"Cek darah?"

"Iya pak, untuk mengetahui penyakit yang di derita pasien,bisa seperti Virus, Demam berdarah atau tipes dan jika mau lebih dalam lagi kita bisa cek secara lengkap."

" Lakukan tes demam berdarah aja." ujar Varga setelah menimbang penjelasan dokternya.

"Oke. Pasien boleh ke labotarium untuk di ambil sampel darah, letaknya di lantai dua dan ini surat perintahnya." ujar dokter itu sambil menuliskan sesuatu di kertas dan memberikanya pada Varga.

"Terima kasih dokter." Varga membantu Aralia turun dari bangsal pemeriksaan dan mendudukkannya di kursi roda.

"Sama-sama, pak."

Varga mendorong kursi Aralia menuju lantai dua. Mencari ruang laboratorium yang di maksud dokter itu. Varga membaca petunjuk yang ada di dinding dan segera menuju ke sana.

"Kak ... Ara nggak mau di suntik," rengek Aralia begitu mendengar darahnya mau di ambil.

"Sttt ... nggak apa-apa, tidak sakit kok."

"Itu pasti sakit."

"Kakak tahu tapi ini demi kebaikan kamu, ya."

Varga mengangguk memberi tanda pada perawat yang mau mengambil darah Aralia.

"Rileks ya nyonya ... jangan kaku tarik napas dan santai saja ...," Perawat itu menyuntik jarum panjang itu dan terdengar rintihan Aralia.

"Oke ..., sudah. Nyonya bisa tunggu di luar nanti hasilnya kita panggilkan ya." kata perawat itu sopan dan ramah.

"Oke, terimakasih ya." Varga membawa Aralia ke luar dari sana dan menunggu di ruang tunggu.

"Aku tidak mau duduk di sini, kayak orang cacat tahu? Seram." Aralia bergidik ngeri membayangkan dirinya cacat dan berada di kursi itu.

"Tapi kan berguna buat bantu kamu biar nggak jalan."

"Cepat bantuin Ara keluar dari sini." Protes Aralia, mengangkat kedua tangannya minta pindah.

Varga mengangkat Aralia dan mendudukkanya di kursi pengunjung.

Drrrttt ...Drrrtt ...

Ponsel Varga berdering, panggilan dari Ele.

"Bagaimana Ara?" sebelum Varga menyapa Ele langsung bertanya.

"Cek darah ma, dan kita ini masih nunggu hasilnya."

"Oh ya ampun. telpon mama kalau sudah keluar hasilnya."

"Iya, Ma Bianca bagaimana?"tanya Varga khawatir

"Tenang aja Bianca tidur nyenyak kok."

"Syukurlah. Ya sudah ma aku tutup ya."

Varga menutup telponnya dan melihat Aralia yang terlihat lemas duduk di sampingnya.

"Kamu ngantuk?" Aralia mengangguk lemah kemudia Varga membawa kepala istrinya untuk bersandar di bahunya. Aralia menurut dan memejamkan mata menunggu hasil pemeriksaan darahnya.

Dua jam berlalu, hasil lab akhirnya keluar.

"Nyonya Aralia Sadaah." Panggil perawat dari konter sana.

"Ra ... bangun bentar ya. Kakak ambil hasil lab nya dulu sudah di panggil." Aralia menarik kepalanya dari bahu Varga, mengizinkan pria itu pergi.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Varga

"Silakan menemui dokternya nanti hasilnya di bacakan sama beliau."

Ah ribet sangatlah ... batin Varga menerima hasil lab dan menghampiri Aralia yang tengah duduk menunggu.

"Apa hasilnya?" tanya Aralia dengan suara serak.

"Kita akan tahu setelah ketemu dokter yang tadi, mau didorong pakai kursi roda atau jalan?"

Aralia menggeleng."Gendong." jawabnya.

"Eh? Kakak nggak mau, jalan ya." Tolak Varga, ia tak ingin gila seperti tadi siang dan berakhir konyol di kamar mandi.

"Lemas kak." rengek Aralia.

"Ya udah kakak dorong pakai kursi,"

"Tidak mau, kursi itu buat orang -orang yang berkebutuhan khusus."

"Batu," Varga tidak ingin berbebat, karena ia tahu berdebat dengan Aralia tidak akan menghasilkan sesuatu keuntungan baginya. Tetap aja ia yang kalah dan harus mengalah.

Varga mengangkat tubuh Aralia, dan membawanya ke arah lift.

Aralia tersenyum, entah apa yang menggelitik hatinya. Ia membenamkan kepalanya pada dada pria itu dan melingkarkan lengannya pada suaminya. Beruntung malam itu pengunjung rumah sakit tidak terlalu banyak tapi meski begitu setiap orang yang mereka lewati tetap saja memberi tatapan dengan pikiran masing-masing, Varga mengabaikannya dan terus melangkah menuju ruang dokter setelah lift membawa mereka turun ke lantai sebelumnya.

Varga melepaskan Aralia pelan setelah tiba di sana.

"Wah ... anda perhatian sekali. Kenapa tidak menggunakan kursi roda?" tanya dokter memuji Varga tapi Varga malah berpikir kalau itu hanya sebuah ledekan.

"Itu karena aku sangat mencintai istriku, benarkan sayang?" Aralia berdecih, rasanya ingin menggarut pria yang tengah tersenyum manis di depannya itu dan seketika membuatnya menyesal digendong Varga.

"Hasilnya disini...," Varga menunggu dokternya membacakan hasilnya," seperti dugaan anda, istri anda positif demam berdarah." sambung dokter melanjutkan ucapannya.

Varga menoleh ke Aralia yang duduk di sampingnya. Aralia terlihat takut dan cemas.

Varga mengambil tangan Aralia dan menggenggamnya.

"Jangan khawatir ini belum parah kok." ujar dokter begitu melihat raut Aralia sedih.

"Lalu apa yang harus kita lakukan dok?"

"Rawat inap."

"Baiklah."

"Oke kalau begitu, perawat saya akan menyiapkan kamar dan pasien bisa langsung ke sana."

Aralia membisu di tempat duduknya. Varga melepaskan genggaman tangannya dan berniat menggedong Aralia kembali.

"Jangan, aku bisa sendiri." ucapnya pelan menolak. Tadi aja minta di gendong.

Varga mengangguk, membantunya bangun dan mengikuti langkah perawat ke kamar inap.

"Jangan khawatir, ini nggak akan lama kok. Paling dua hari." ucap Varga, mengelus kepala Aralia lembut.

"Silakan tidur Nyonya, kita akan memasang selang infus dan obat ya." ucap perawat membantu Aralia ke atas bangsal.

"Ra, kakak ke administrasi dulu ya." Pamit Varga keluar meninggalkan ruangan itu.

"Suami atau kakaknya?" tanya perawat penasaran.

"Suami."

"Aku suka deh suami kayak begitu, masih ada nggak ya."

"Hah?" tanya Aralia dengan dahi berkerut.

Perawat itu terkekeh melihat Aralia mengerutkan dahi dengan bingung.

"Oke saya suntik ya."

Varga, membayar uang muka biaya rumah sakit Aralia.

"Terimakasih pak, sisanya bisa nanti setelah pasien sehat." ucap bagian admin ramah. Varga mengambil nota dan meninggalkan tempat itu menuju ruang Aralia di rawat.

"Sering-sering di kasih minum ya Pak." ucap perawat setelah selesai memasang obat melalui infus di tangan Aralia.

Varga mengangguk, menghampiri Aralia yang terlihat lemas.

"Ara tidur ya. Kakak mau kasih kabar Mama sama papa biar mereka tenang." ucap Varga duduk menyisihkan rambut yang menutup wajah Aralia.

Varga mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi.

"Ma. Hasilnya sudah keluar, Ara positif Demam berdarah."kata Varga.

Terdengar helaan napas panjang di sana.

"Opname kan, Ga?"

"Iya ma."

"Ya sudah, besok mama ke sana buat jagain Ara."

"Jangan ma jaga Bianca aja, Ara biar aku yang urus."

"Kalau begitu, aku akan kirim makananya sama jus jambu. Jaga istrimu sering-sering kasih minum ya."

"Baik ma, terima kasih."

"Kak," lirih Aralia

"Kenapa?"

"Jangan kasih tahu mama ya."

"Ra ... Mama berhak tahu keadaan kamu,"

"Aku takut mama khawatir,"

"Ya sudah, tapi ... kamu harus nurutin semua yang kakak bilang. Biar cepat sembuh dan kita bisa pulang, ya."

Aralia mengangguk.

"Baiklah," Varga meletakkan ponselnya pada meja kecil yang ada di sana. "Tidur!" perintahnya mengelus pipi Aralia lembut dan entah kenapa Aralia tidak menolak sama sekali.

1
Shifa Burhan
perbandingan novel author sendiri
OBSESSIVE LOVE dan IPAR
*perselingkuhan suami dilaknat tapi perselingkuhan istri dianggap bisa saja
*suami selingkuh dibuat dapat balasan, menderita, mengemis maaf dan berjuang keras dapat kesempatan tapi istri selingkuh dianggap biasa saja dan semudah itu dimaafkan
*suami selingkuh, sikap istri tegas, minta cerai, pergi dan tidak mudah memaafkan tapi istri selingkuh. sikap suami bodoh, tidak punya harga diri, malah suami yang mengemis dan memohon istri tinggalkan selingkuhan nya dan semudah itu dimaafkan
*suami selingkuh kalian hadir lelaki lain yang perhatian pada sang istri tapi istri selingkuh, kalian hadirkan wanita lain tapi tetap saja dicap pelakor dan wanita murahan
*wanita selingkuhan diperlakukan kasar, hina dan dibinasakan tapi ptia selingkuhan istri diperlakukan sangat lembut dan malah seakan jadi korban

adil jalan pikir mu kalau sudah begini, miris sikap egois wanita dalam membuat novel
Shifa Burhan
segitu munafiknya wanita dalam berkarya banding dengan novel mu sediri
obsessive loves (suami selingkuh) dan ipar (istri selingkuh)

obsessive lover, suami selingkuh dilaknat, dapat balasan, menderita, mengemis maaf, berjuang membuktikan diri, berjuang keras dapat kesempatan, sikap istri tegas minta cerai, pergi dan tidak semudah itu memaafkan, kalian hadirkan lelaki lain yang peduli pada sang istri dan dianggap pria paling pengertian, wanita selingkuhan diperlakukan kasar, tidak ada baiknya, dihinakan dan akhirnya dibinasakan
banding dengan novel sendiri
ipar ketika istri selingkuh,perselingkuhan itu malah dianggap hal biasa saja, semudah itu dimaafkan, sikap suami kayak lelaki tidak punya harga diri dan bodoh, Terima saja diperlakukan kayak gitu dan malah dia yang mengemis dan memohon cinta pada istri najis tukang selingkuhnya, kalian hadirkan wanita yang perhatian pada sang suami tapi tetap saja kalian wanita murahan, dan diperlakukan kasar, pria selingkuhan diperlakukan lembut, solah dia korban juga, seakan perselingkuhan itu kalian benarkan

jika sudah begitu banggakah author dengan sikap yang sangat egois ini dalam berkarya

miris
Shifa Burhan
kalau susah wanita buat novel pasti tidak adil dan egois

*lihat begitu enaknya jadi pemeran utama wanita selingkuh dan semudah itu dimaafkan (coba kau banding dengan novel suami selingkuh, udah pasti dibuat dapat balasan menderita, mengemis maaf dan berjuang keras)

*saat novel suami selingkuh kau buat istri tegas pergi dan minta cerai tapi saat istri selingkuh suami dibuat kayak pria bodoh dan tidak punya pendirian Terima saja diperlakukan kayak gitu

*saat novel suami selingkuh kau hadirkan pria lain yang baik pada sang istri tapi pada saat istri selingkuh kalian hadirkan wanita lain tapi tetap saja dicap wanita murahan

*saat suami selingkuh, wanita selingkuhannya kalian cap wanita murahan tapi saat novel istri selingkuh, pria selingkuhan kalian buat seakan jadi korban

*saat suaki selingkuh kalian laknat, dan tidak ada pembelaan sama sekali tapi pada saat istri selingkuh kalian bela dengan alasan masih labil lah

pikiran munafik dari wanita dia dibawah kedalam novel maka jadilah novel yang munafik dan menjijikan
sulanjari makmur
menarik,lanjut baca
Sulaiman Efendy
LAMA JUGA HAMILNYA, SETELH 3 TAHUN.. TPI BAGUS,JUGA, BIAR GK TRLALU DKT DGN BIANCA JARAK UMUR CALON ADIK BIANCA..
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
JGN2 KERJAAN LISA TU YG NABRAK ARA.
Sulaiman Efendy
UNTUNG VARGA MSH BISA KUASAI EMOSINYA, KLO AKU MNGKIN SDH TRJDI PMBUNUHN DIKAMAR HOTEL ITU..
Sulaiman Efendy
SETIDAKNYA LO JDI PRIA PRTAMA YG MNJADIKN ARA MANTAN PERAWAN..
Sulaiman Efendy
HRSNYA JGN LO MATIKAN, BIARKN REVEN DENGAR DESAHAN KALIAN BRDUA..
Sulaiman Efendy
KNP GK DIBLOKIR TU NO REVEN...
Sulaiman Efendy
PASTI SI LISA SURUH REVEN NODAI ARA.. BNAR2 MAK LAMPIR IBLIS NI SI LISA
Sulaiman Efendy
ROMANTIS DN TUKANG ZINAH..
Sulaiman Efendy
INI SI LISA MAK LAMPIR,, MAU JDI PELAKOR RUPANYA
Sulaiman Efendy
NAHH, PANDAI JUGA LO MARAH DN CEMBURU MA CAYROL,, KMARIN2 LO GK MIKIRKN PRASAAN VARGA.
SKRG LO LGSUNG BRUBAH JDI KLINCI MANIS, KMARIN2 SLMA 11 BLN VARGA BRSIKAP MANIS, PRHATIAN DN SABAR, SLLU LO KETUSIN.. SEHARI PULANG DRI RS, LO MALAH MESRA2AN MA REVEN.. DN BETAPA GILANYA LO JDI TAMENG TUBUH BUAT REVEN PAS KPERGOK VARGA..
DN MLMNYA SETELH VARGA DUEL MA REVEN, LO MLH LBH KUATIR K REVEN.. SETELH APA YG CAYROL LAKUKAN, LO LGSUNG BRUBAH JDI KLINCI MANIS.
SAMPE SAAT INI, IBU LO SINISA, DN KDUA MERTUA LO, GK TAU KLAKUAN LO, SEMUA KBUSUKN LO DI TUTUPI OLEH SUAMI LOO, RELA DIMUSUHI DN TRSAKITI OLEH ORTU SENDIRI, DEMI JAGA HARGA DIRI DN NAMA BAIK LOO..
Sulaiman Efendy
KURANG APALAGI PRIA SPRTI VARGA INI, DEMI NAMA BAIK ARA DIDEPAN KDUA ORTUNYA, DY RELA TRSAKITI..
Sulaiman Efendy
SEANDAINYA LO TAU YG SEBENARNYA ROLAND, APA LO MSH MNYAYANGI ARA...
Sulaiman Efendy
DEMI JAGA BAIK ARA DI DEPAN ORTUNYA, VARGA RELA MNGAKU SELINGKUH DI DEPAN ORTUNYA, MSH SAJA SI ARA WANITA ANJING GK PNY HATI, BRRTI MMG BNAR2 IBLIS TU ARA..
Sulaiman Efendy
NANGGUNG BANGET, KNP GK LO PATAHIN TU TULANG2NYA SI ANJING REVEN..
Sulaiman Efendy
KNP GK LO SETUBUHI SAJA TU ARA SIALAN GA, BIAR KAPOK DY...
TU REVEN KSIH MMPUS SAJA.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!