Kayana Putri & Gavin Adhitama
Kayana terpaksa menerima perjodohan itu karena dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Kayana berusaha untuk menjadi isteri yang baik dan penurut, tapi usahanya tidak pernah di hargai oleh Gavin. Sampai pada suatu hari Gavin bertemu kembali dengan wanita di masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.M Arti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
"Tu. . tuan. . " Ucap Kayana kaget.
"Kau mengenalku?" Tanyanya.
"Oh. . maaf. Tidak... Saya tidak mengenal Anda. Terimakasih." Ujar Kayana.
"Kak Yana tidak apa-apa?" Tanya Ricko langsung menarik tubuh Kayana dan menjauhkan dari pria yang barusan menangkap tubuh Kayana.
"Tidak apa-apa Rick. Ayo kita pergi saja. . ." Ujar Kayana.
"Tunggu, sepertinya aku mengenalmu." Ujarnya.
"Mungkin Tuan salah orang. . " Ujar Kayana mencoba untuk menghindar.
"Kak Yana kenal dengan. . ." Ujar Ricko yang tahu nama pria tersebut meski tidak mengenalnya.
"Tidak. . ayo kita kesana." Ujar Kayana.
"Nona Kayana. . " Ucap Agil saat Kayana hendak berjalan menjauh.
"Siapa kau bilang?" Tanya Tuan Gavin dengan bingung.
"Dia Nona Kayana Tuan. . " Ujar Agil mengulanginya.
"Maaf, saya harus pergi. . . " Kayana segera pergi menjauh dan diikuti Ricko.
Sedangkan Tuan Gavin menarik tangan Agil menjauh dari kerumunan untuk meminta penjelasan dari Agil. Karena Gavin benar-benar tidak tahu, dan bahkan hampir lupa dengan nama Kayana.
Sesampainya di ujung lorong yang sepi, Gavin segera mencerca Agil dengan banyak pertanyaan hinhga Agil bingung menjawab mulai dari yang mana.
"Apa maksudmu?" Tanya Tuan Gavin.
"Apakah Tuan ingat 4 bulan yang lalu saat saya membawa secarik kertas surat dari Nona Kayana? Hari itu Nona pergi dari rumah. Dan bahkan Tuan tidak menyadarinya." Ujar Agil.
"Kenapa kau tak bilang padaku? Lalu dia hamil?? anak siapa? atau. . . ." Ujar Tuan Agil terdiam.
"Sebaiknya Tuan baca dulu surat dari Nona. Saya membawanya." Agil mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya.
*Dear : Tuan Gavin.
Maaf jika kedatanganku selama ini menjadi beban atau penghalang dalam hubungan Tuan dengan Nona Claudia. Saya tidak ingin menjadi penghalang, saya tahu selama ini Tuan hanya mencintai Nona Claudia.
Sekali lagi maaf, karena hubungan persahabatan kedua orangtua saya dan Tuan mengharuskan Tuan untuk menikah dengan Saya.
Terimakasih atas fasilitas yang sudah diberikan pada saya. Sekarang sudah waktunya saya untuk pergi dari rumah ini, semoga Tuan dan Nona Claudia berbahagia.
Sudah saatnya saya hidup mandiri, dan Tuan tidak perlu mencari saya. Saya sudah menerima keputusan yang Tuan berikan pada saya, termasuk perceraian.
-Kayana*-
Tuan Gavin aasih bingung dengan isi surat dari Kayana. Agil menjelaskan semuanya pada Tyan Gavin, biar bagaimanapun Tuan Gavin harus tahu saat itu juga. Selagi mereka berada dalam satu tempat yang sama.
"Satu bulan setelah malam itu, Nona Kayana pingsan di tempat kerja. Billy dan Dini menghubungi saya dan memberitahukan Nona di bawa ke Rumah Sakit. Sesampainya disana, Bayu memberitahukan jika Nona Kayana Hamil. Tentu saja itu anak Tuan, karena saya langsung memintanya untuk tes DNA. Dan hasilnya 100% cocok dengan Tuan." Ujar Agil membuat Gavin terdiam.
"Nona Kayana meminta saya untuk merahasiakan kehamilannya, karena dia tahu Tuan mencintai Nona Claudia. Dia masih ingat, saat Tuan bilang hendak perjalanan bisnis selama 1 minggu dan siangnya Tuan bertemu dengan Nona di Mall bersama Nona Claudia." Ujar Agil melanjutkan ucapannya dengan sesekali mengatur nafas karena dia bisa merasakan apa yang Nona Kayana rasakan saat itu.
"Lalu kenapa dia pergi dari rumah?" Tanya Tuan Gavin.
"Karena Tuan Gavin tak pernah sedikitpun perduli, bahkan bertanya kabarpun tak pernah. Untung saja Nona Kayana memiliki dua sahabat yang begitu perhatian padanya. Nona memutuskan untuk pergi, dan menata hatinya untuk menjalani hidup berdua bersama anak yang ada di dalam kandungannya sekarang." Ucap Agil lagi.
"Lalu dimana dia tinggal sekarang?" Tanya Tuan Gavin.
"Saya kehilangan jejak Tuan, dia mungkin mengganti nomor teleponnya." Ucap Agil.
"Lalu. . .Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Tuan Gavin.
"Temui Nona Kayana, selesaikan masalah ini. Dia isteri Tuan, ibu dari anak Tuan yang saat ini masih ada di dalam kandungannya." Ujar Agil.
"Lalu Claudia?" Tanya Tuan Gavin membuat Agil merasa geram.
"Dia masa lalu Tuan, saya yang akan mengurusnya." Ucap Agil.
Sementara itu. .
Kayana pergi ke lantai 2 di susul oleh Ricko di belakangnya. Ricko yang tidak tahu apa hanya diam dan bertanya kenapa Kayana menangis. Ricko takut di marahi Billy jika tahu Kayana menangis saat ini.
"Kak Yana kenapa menangis? Apa ada yang sakit Kak? Mana yang sakit, biar Ricko panggilkan dokter untuk Kakak ya. Jangan menangis lagi." Ucap Ricko menghapus air mata Kayana.
"Rick, sayang sama Kakak kan?" Ucap Kayana dengan lirih.
"Hmm. . bahkan aku sudah menganggap Kak Yana seperti Kakakku sendiri. Kenapa Kak Yana bertanya seperti itu?" Tanya Ricko.
"Bawa aku pergi dari sini sekarang. Aku mohon. . " Ucap Kayana.
"Tapi Kak, acara belum selesai, bagaimana kalau semua orang mencari kita?" Tanya Ricko.
"Kalau begitu biarkan aku pergi dari sini. . aku tida bisa disini terlalu lama." Ujar Kayana.
"Kakak mau kemana?" Tanya Ricko.
"Kemana saja. . kamu tetaplah disini, katakan pada Billy dan Dini untuk tidak perlu mencariku." Ujar Kayana.
"Tapi Kak. . " Ucap Rick.
"sssttt. . .Aku akan jaga diri baik-baik." Uhar Kayana meletakkan jari telunjuk di bibir Ricko supaya diam.
"Kalau begitu aku ikut dengan Kakak. Aku di beri tugas untuk menjaga Kakak. Ayo kita pergi." Ujar Ricko berdiri.
"Tidak Ricko, kau benar. Acara belum selesai, dan aku tidak mungkin meninggalkan acara begitu saja." Ujar Kayana.
"Bisa di atur." Ricko menulis surat untuk Billy. "Ayo Kak. . ." Ricko menggandeng tangan Kayana dan menuju lift untuk turun.
Ada dua lift disana, Ricko memakai lift yang sebelah kiri karena tampaknya tidak ada yang memakai, setelah pintu lift terbuka, Ricko dan Kayana segera masuk dan menutup pintu lift. Sementara itu Tuan Gavin keluar dari lift yang satunya untuk mencari kamar Kayana.
Sesampainya di lantai bawah, Ricko bertemu seorang pelayan, dan menitipkan secarik kertas untuk memberikan pada Billy. Setelah itu, Ricko mengajak Kayana untuk keluar melewati pintu belakang.
Mobil Ricko kebetulan terparkir di belakang gedung. Sesampainya di dalam mobil, Kayana bernafas dengan lega dan berucap syukur bisa keluar dari gedung itu secepatnya. Dan tidak melihat ada Agil atau Tuan Gavin lagi disana.
"Kakak yakin kita akan pergi dari sini?" Tanya Ricko untuk meyakinkan.
"Iya. . ayo kita pergi. . " Ucap Kayana.
"Tapi bukankan Kakak belum makan?" Tanya Ricko yang ingat Kayana belum sempat memakan makanan yng mereka ambil tadi.
"Nanti kita makan di jalan saja Rick. Ayo sekarang pergi dulu dari sini." Ujar Kayana.
"Baiklah. . ." Ricko menginjak gas dan mobil melaju meninggalkan gedung dimana acara pernikahan Billy dan Dini masih berlangsung.
\=\=\=\=\=\=
Maaf typo masih suka nyempil
Ditunggu Kritik & Sarannya 🙏
Jangan lupa meninggalkan Jejak untukku (Like, Komen, Rate 5🌟, jika berkenan boleh juga vote 🙏🙏🙏)
Terimakasih 🌹🌹
Btw, aku pernah baca novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, itu keren banget. Kalo search jangan lupa tanda kurungnya