(Agar nyambung baca Suami Biadab dulu ya besti)
Belum bisa melupakan kepergian mommy nya, Albert memutuskan untuk melajang seumur hidup namun keinginannya ditentang oleh para Dadddy, mereka melakukan drama agar Albert mau menikah dengan wanita pilihan mereka.
Elizabeth, wanita yang dipilihkan para Daddy untuk menjadi pendamping Albert.
Melalui kencan buta yang dijadwalkan mereka berdua bertamu, Albert sebisa mungkin membuat Elizabeth ilfil sedangkan Elizabeth berusaha membuat Albert untuk menerimanya.
Apakah mereka berdua berjodoh? yuk ikutin ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I love you
Elizabeth hanya diam bingung harus menjawab apa, dari sikap Elizabeth inilah Albert bisa menyimpulkan kalau bunga tersebut dari Hardan.
"Pasti dari Hardan," kata Albert.
"Iya," sahut Elizabeth.
Kedua tangan Albert mengepal, amarah dalam dirinya mencuat begitu saja.
"Ada hubungan apa kamu dengan Hardan."
Tatapan Albert begitu dingin sehingga membuat Elizabeth ketakutan.
"Kami tidak ada hubungan apa-apa," jelas Elizabeth
"Bohong!" saru Albert yang membuat Elizabeth. tersentak kaget.
"Aku dan Hardan memang tidak ada hubungan apa-apa Albert." Sekali lagi Elizabeth menjelaskan kalau dia dan Hardan tidak memiliki hubungan apa-apa.
Albert melonggarkan dasinya, tentu hal ini membuat Elizabeth ketakutan dan perlahan mundur untuk menjauhi Albert.
Seakan tahu kalau Elizabeth menghindarinya, Albert maju mengikuti Elizabeth.
Terus mundur membuat tubuh Elizabeth membentur dinding, kini dia terhimpit antara dinding dan juga tubuh Albert, ingin melarikan diri tapi dengan cepat tangan Albert mengunci dirinya.
"Albert kamu mau apa?" tanya Elizabeth dengan bibir yang memucat.
Tanpa menjawab pertanyaan Elizabeth, Albert langsung saja mencium bibir Elizabeth tapi kali ini dia mencium dengan sedikit kasar.
Elizabeth mendorong tubuh Albert, dia memohon pada Albert kalau jangan bersikap seperti ini tapi kelihatannya Albert tidak menggubris ucapan Elizabeth.
Karena ketakutan Elisabeth pun berlari menuju kamarnya, saat dia akan menutup pintu kamarnya Albert juga datang dan menghalaunya.
"Albert kita bisa bicara baik-baik," pinta Elizabeth.
Elizabeth terus berjalan mundur dan tanpa sengaja kakinya membentur ranjang sehingga dia jatuh tepat di atas ranjang.
Albert langsung menindih tubuh Elizabeth, lagi-lagi dia mencium Elizabeth dengan paksa.
Tangan Elizabeth yang sudah dikunci oleh Albert tentu tidak bisa melawan, yang bisa dia lakukan adalah menikmati sentuhan kasar Albert dengan menangis.
Tangisan Elizabeth kian lama kian keras sehingga membuat Albert menyudahi aksinya.
"Elizabeth sudah jangan menangis," pinta Albert.
"Tapi aku masih ingin menangis," sahut Elizabeth.
"Maafkan aku," timpal Elizabeth.
"Nggak mau," ucap Elizabeth yang kemudian membuat Albert membawa Elizabeth dalam pelukannya.
Elizabeth yang kesal memukul-mukul dada Albert, bagaimana bisa seorang Albert melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini.
"Maafkan aku," kata Albert lagi.
"Kenapa sih Albert kamu membuat aku bingung, kalau kamu menginginkannya kita bisa melakukannya dengan baik-baik nggak dengan cara memaksa seperti ini," ungkap Elizabeth.
"Itu semua aku lakukan karena aku marah padamu," timpal Elizabeth.
Elizabeth menghela nafas, dia sudah mengira kalau Albert marah karena bunga pemberian dari Hardan.
"Kenapa harus marah, bukankah kita tidak memiliki hubungan apa-apa? apa yang terjadi dengan kita itu karena perjodohan yang mana aku terpaksa menerima perjodohan ini," ungkap Elizabeth.
"Toh baik kamu atau aku juga tidak pernah mengungkapkan perasaan masing-masing," sambung Elizabeth yang sontak membuat Albert melepaskan pelukannya.
Albert seakan disekatmat oleh Elizabeth, memang benar apa yang diucapkan Elizabeth, jika mereka tidak memiliki hubungan apa-apa, dirinya masih terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaannya.
Albert duduk sambil mengusap rambutnya dengan kasar, dia bingung apa yang harus dia lakukan.
"Kalau memang kamu sendiri tidak yakin, kamu boleh meminta para Daddy untuk membatalkan perjodohan ini, toh ibuku juga sudah tidak ada misal mereka ingin memenjarakan aku atas ketidaksengajaan waktu itu aku siap," ucap Elizabeth.
Albert menatap Elizabeth dengan sendu, dia baru tahu kalau alasan Elizabeth menerima perjodohan ini karena ancaman dari para Daddy.
"Aku akui dulu Aku memang ingin membatalkan perjodohan ini, tapi saat ini semua telah berbeda," sahut Albert.
Ini gantian Elizabeth yang menatap Albert dengan nanar, dia merasa ambigu dengan ucapan Albert.
"Apanya yang berubah?" tanya Elizabeth.
Albert menghela nafas, kali ini dia harus mengesampingkan gengsinya, karena jika tidak Elizabeth akan pergi dari hidupnya.
"Perasaanku," jawab Albert.
"Kenapa dengan perasaan kamu?" tanya Elizabeth lagi.
"Kenapa sih banyak bertanya, seharusnya kamu paham saat aku menyebutkan perasaan," jawab Albert dengan mengomel.
Separuh gengsi Albert telah kembali, sehingga acara mengungkapan perasaan hanya setengah-setengah bahkan tidak ada setengah.
"Aku nggak paham," sahut Elizabeth dengan kesal.
Albert mengusap rambutnya dengan kasar, merasa kesal dengan Elizabeth yang tidak paham dengan maksud ucapannya.
Arrrrggggggg
"I love you,"
Tiga kata dari Albert mampu membuat Elizabeth mematung, rohnya kini bak melayang-layang di awan.
"Ulangi lagi Albert," pinta Elizabeth.
"Nggak ada siaran ulang," jawab Albert.
Meski tidak ada siaran ulang tapi Elizabeth sangat bahagia karena Albert telah mengungkap perasaannya.
Kini gantian Albert yang ingin tahu bagaimana perasaan Elizabeth terhadapnya, dia tidak sabar menunggu jawaban dari Elizabeth.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Albert yang kesal pasalnya Elizabeth hanya diam tanpa menjawab tiga kata cintanya.
Elizabeth hanya tertawa melihat ekspresi Albert yang kesal, dia sengaja melakukannya untuk membuat Albert merasakan apa yang dia rasakan yaitu menunggu ungkapan cinta.
"Memangnya aku harus bagaimana? lompat-lompat kegirangan?" tanya Elizabeth balik.
"Up to you," jawab Albert dengan ketus.
Tahu calon suaminya ngambek, Elizabeth bukannya jujur akan perasannya dia semakin menggoda Albert.
"Cie ngambek,"
Albert yang sangat kesal memutuskan untuk keluar kamar, dia ingin pulang daripada diledek terus oleh Elizabeth.
"I love you too Albert," teriak Elizabeth saat Albert akan keluar dari apartemennya.
Senyuman tersungging di bibir Albert, saat itu juga dia membatalkan keinginannya untuk pulang. Dengan langkah cepat dia mendekati Elizabeth yang berdiri tak jauh darinya.
Cup
Sebuah ciuman mendarat di bibir Elizabeth, berbeda dengan tadi ciuman kali ini sangat lembut dan membuat mereka tanpa sadar menginginkan sebuah pelampiasan.
Di sisi lain, paman David dan Daddy Daffa pergi untuk membeli sesuatu, mereka meninggalkan uncle Sean yang tengah tidur.
Beberapa waktu kemudian mereka tak kunjung kembali sampai uncle Sean bangun.
"David, Daffa,"
Uncle Sean memanggil kedua sahabatnya, berkali-kali memanggil namun kedua sahabatnya tak kunjung kelihatan.
"Dimana mereka," gumam Uncle Sean.
Merasa lapar uncle Sean pergi ke ruang makan untuk makan, berhubung belum waktunya makan uncle Sean hanya makan buah dan roti yang ada di atas meja makan.
"Kalian tau dimana David dan juga Daffa?" tanya Uncle Sean saat kepala pelayan keluar.
"Tadi saya melihat mereka pergi berdua," jawab kepala art.
Seusai makan, uncle Sean memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya namun sebelumnya dia ingin pergi ke ruang kerja paman David karena ada yang sesuatu yang harus diambil.
Saat masuk ke dalam ruang kerja asistennya, kedua bola mata uncle sean ingin melompat, bagaimana tidak Paman David merenovasi ruang kerjanya menjadi ruang kerja yang nyaman.
Tanpa basa basi lagi, Uncle Sean segera membuka laptop milik paman David dan betapa kagetnya dia saat menemukan sebuah foto.
pengen ku timpuk si Hans itu ngeselin amat dah kek cewe aja pnuh drama