"Ma, dia hamil." Ungkap Rey.
"Siapa yang kau hamili, Rey." Sontak, Mama Lalita terkejut ketika mendapati pengakuan dari anaknya, ia bahkan sampai terperanjat dari duduknya.
"Hanna!" Sarkas Rey kemudian.
Kepanikan Mama Lalita berubah menjadi gelak tawa, ketika mendengar nama wanita yang sudah dihamili oleh anaknya.
"Lalu, apa masalahnya? Memangnya mengapa jika kau menghamili istrimu sendiri!" Pungkas Mama Lalita.
Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Rey justru panik ketika istrinya hamil?
Dan yang lebih parahnya lagi, Hanna yang berstatus istri Rey, justru kebingungan ketika mendapati dirinya hamil. Ia bingung, siapa Ayah dari bayi yang ia kandung!
Wahh...! Bagaimana itu bisa terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klien Penting
Tanpa basa basi dan mengulur waktu, Rey langsung membahas inti dari pertemuan itu.
"Tidak perlu terburu-buru Pak Rey." Sela sang klien. Sambil memberi aba-aba pada seorang pelayan untuk menuangkan Rey minuman.
"Tidak terima kasih, saya harus mengemudi nanti." Tolak Rey sopan.
"Baiklah, kalau begitu digantikan oleh sekertarismu saja. Jika tidak, aku akan merasa tersinggung." Pungkasnya, seperti ancaman. Dengan raut wajah tersenyum tapi sedikit menakutkan.
Hanna dengan ragu-ragu menerima gelas pemberian si klien itu. Walaupun Rey sudah menatapnya tajam, untuk mengisyaratkan agar Hanna juga menolaknya. Namun, Hanna tak punya keberanian seperti Rey yang bisa menolak dengan mudah. Apa lagi ia tahu, seberapa penting kliennya kali ini untuk perusahaan.
Hanna minum, minuman itu dalam satu tegukan.
"Sepertinya kau peminum yang hebat." Sarkas si klien sambil menyeringai.
Hingga gelas ke tiga. Sedangkan Rey, sudah mengusap wajahnya kasar saking geramnya.
"Maaf, aku permisi ke toilet sebentar." Ucap Hanna kemudian. Membuat Rey menghela lega.
"Akhirnya gadis ini tahu cara menyelamatkan diri." Batin Rey.
Rey tak ingin membuang kesempatan dan semakin mengulur waktu, ia langsung mengambil kesempatan untuk cepat membuat si klien menandatangani kontrak.
"Tapi ada satu syarat." Ujar si klien yang baru saja hendak menandatangani kontrak, namun kembali menghentikannya seketika.
"Tentu, Anda bisa mengajukan syarat apapun. Aku akan berusaha menyanggupinya." Imbuh Rey percaya diri.
Si klien terkekeh puas. "Aku sangat suka anak muda sepertimu." Ucap si klien. "Aku akan menggunakan modelku sendiri." Lanjut si klien sambil menandatangani kontrak.
Rey tersenyum miring, "Tentu!" Jawabnya menyanggupi.
Didalam toilet, tepatnya di depan wastafel. Hanna berulang kali menyirami wajahnya dengan air. Mencoba mengembalikan kesadarannya dari pengaruh alkohol.
"Itu tak akan berguna sama sekali!" Imbuh seseorang. Membuat Hanna terhenti, lalu mengarahkan tatapannya ke sumber suara.
Myesa yang tiba-tiba muncul entah dari mana, menyeringai dengan tatapan yang sulit di artikan Hanna.
Hanna hanya terbujur di tempat ia berdiri.
"Lama tak bertemu!" Ujar Myesa dengan tatapan tajamnya. "Aku cukup lama menunggumu memberikan informasi tentang Rey. Tapi kau justru membuat waktuku terbuang percuma!" Lanjut Myesa.
"Tidak ada informasi yang bisa aku berikan. Kau kekasihnya, tentu saja kau bisa langsung bertanya padanya tentang apa yang ia lakukan." Hanna memberikan jawaban.
"Baguslah jika kau tahu kalau aku kekasihnya. Jadi tolong jaga sedikit jarak di antara kalian! Bukan apa, aku hanya tidak ingin kau salah paham dengan kebaikan Rey. Mungkin kau tidak tahu, dia memang sebaik itu. Bukan hanya padamu! Selain kau harus banyak tahu tentang Rey, kau juga harus tahu diri!" Pungkas Myesa.
Kalimat itu seakan menampar Hanna dengan keras, kembali tersadar dengan posisinya. Benar yang dikatakan Myesa. Hanna seharusnya tahu diri, posisinya hanya sebagai pengganti. Hanna seakan begitu menikmati dan menjiwai perannya selama ini.
Pandangan Hanna teralihkan ke arah jari manis Myesa, yang sedang mencuci tangannya. Dia memang dengan sengaja ingin menampakkan cincin itu pada Hanna.
Myesa, sebenarnya sudah tahu tentang pernikahan antara Rey dan Hanna. Tapi masih pura-pura bodoh dihadapan Rey. Seakan ia benar-benar polos. Myesa, punya caranya tersendiri bagaimana akhirnya ia bisa mengetahuinya.
Berawal dari sikap Rey yang mulai berubah, Myesa tidak sebodoh itu. Yang hanya tinggal diam begitu saja. Ia mulai mencari informasi, apa yang terjadi di hari pernikahannya itu. Myesa mendapatkan informasi dari MUA yang merias Hanna hari itu.
Dari situlah, Myesa mulai kembali menyusun rencananya. Untuk kembali mendapatkan Rey dan menyingkirkan Hanna.
"Rey sudah menceritakan semuanya padaku. Terima kasih kau sudah bersedia membantu menggantikan aku hari itu. Rey, benar-benar menyesal sudah merepotkanmu, sungguh! Kau tahu, katanya dia merasa tidak enak jika harus meminta kembali cincin pernikahan kami dari mu. Sepertinya kau sangat menyukainya! Dasar Rey, dia memang sebaik itu. Bayangkan saja, dia memintaku untuk merelakan cincin itu dan menggantikannya dengan yang baru." Ucap Myesa penuh dusta.
Hanna mendidih mendengar itu. Ia kepal tangannya dengan geram. Andai saja bisa, ia ingin melepaskan cincin itu dengan segara dan melemparkannya ke arah gadis itu. Tapi, akan sia-sia jika Hanna mencoba melepaskannya di hadapan gadis itu sekarang. Karena Hanna tahu, cincin itu tidak akan bisa ia lepaskan dengan mudah. Ia bahkan selalu mencoba melepaskannya disetiap waktu luangnya, tapi tetap tidak berhasil.
Tentu bukan hanya karena cincin itu Hanna menjadi sangat marah. Tetapi sepertinya Rey mulai mengekspos dirinya kepada orang-orang. Awalnya keluarga besarnya, kini Myesa! Lalu setelah ini, pada siapa lagi ia akan memberitahukan rahasia pernikahan itu.
Bukan apa, hanya akan memalukan rasanya jika pada akhirnya orang-orang tahu ia melakukannya hanya demi menjadi karyawan tetap disebuah perusahaan. Sangat murahan sekali!
"Tidak apa-apa, anggap saja itu hadiah ucapan terima kasih dari aku dan Rey." Lanjut Myesa, setelah itu berlenggang pergi.
"Sepertinya aku benar-benar sudah salah mengartikan kebaikanmu selama ini, Rey!" Hanna membatin.
Hanna keluar dari toilet. Sudah ia putuskan, emosinya tidak akan mempengaruhi apapun. Ia akan tetap harus bekerja seperti biasa. Dan hanya perlu menjaga jarak seperti ucapan Myesa.
Langkah Hanna perlahan terhenti, ketika melihat disana sudah ada Myesa tepat disamping Rey. Mereka mengobrol dengan santai. Seakan menambah kebenaran dari apa yang diucapkan Myesa! Perasaan Rey pada Myesa tak pernah berubah.
"Hanna, cepat kemari." Panggil Myesa tampak ramah.
"Sejak kapan kalian menjadi dekat?" Tanya Rey penasaran.
"Kau tidak tahu? Kami sudah dekat bahkan dihari pertama bertemu." Myesa bersandiwara.
Hanna, mencoba menguatkan perasaannya. Ia kembali duduk dan bergabung bersama mereka.
"Oh iya Rey, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan. Ayo ikut aku." Ajak Myesa sedikit memaksa dengan menarik tangan Rey, agar beranjak dari duduknya.
"Tapi-" Imbuh Rey, namun tak punya pilihan lain, selain harus ikut.
"Mereka terlihat sangat serasi." Imbuh klien itu berkomentar diiringi kekehannya. "Bukan begitu Nona, Hanna." Imbuhnya meminta pendapat Hanna.
"Iya." Jawab Hanna sekenanya. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Gelas terakhir." Imbuh si klien akhirnya, sambil menyodorkan segelas minuman lagi.
Hanna menghela napas dalam. "Kau benar! Aku membutuhkan alkohol, untuk saat ini."
Hanna menerima gelas itu lalu meneguknya. "Bisa tambahkan segelas lagi?" Sambil menyodorkan gelas itu ke arah si klien.
Sedangkan si klien menyeringai puas. Ia menuangkan lagi minuman ke gelas Hanna. Padahal sebenarnya, itu sama sekali tak perlu, karena hanya satu gelas kecil saja, sudah cukup membuat Hanna melayang.
Hanna mulai merasa gerah dan kepanasan. Ia mencoba mengipas-ngipaskan dirinya dengan tangannya. Tapi itu sama sekali tak bekerja, ia masih merasa semakin gerah dan kepanasan. Akhirnya, Hanna memutuskan membuka hoodie nya. Hanya tersisa tanktop crop yang memperlihatkan lekukan tubuh dan perutnya yang mulus dengan jelas. Sayangnya Hanna masih juga merasa kepanasan dan gerah. Entah obat apa yang sudah dimasukan oleh si klien kedalam minuman Hanna. Hingga bisa membuat Hanna kehilangan akal sehatnya seperti itu.
Sedangkan si klien, terus memperhatikan Hanna dengan tatapan nakalnya. Ia mulai melancarkan aksinya, mencoba untuk merangkul Hanna.
"Maaf, sepertinya aku harus membawa sekertarisku pulang sekarang." Dengan cepat, Rey langsung menghentikan aksi jahat itu. Walaupun kemarahannya sudah begitu memuncak, saat melihat apa yang terjadi. Tapi Rey sebisa mungkin mencoba menahan emosinya. Lagi dan lagi, semua itu karena mengingat betapa pentingnya kerja sama diantara mereka.
Rey dengan cepat langsung menutupi tubuh Hanna dengan jas miliknya. Lalu membawa Hanna keluar dari sana dengan segera.
"Apa yang sedang kau lakukan!" Pekik Hanna sambil mendorong tubuh Rey dengan kasar.
"Apa kau gila! Bisa-bisanya kau menerima minuman yang diberikan olehnya." Pekik Rey tak kalah emosi.
Hanna justru terkekeh.
Rey langsung kembali memegang tubuh Hanna yang sama sekali tak memiliki keseimbangan itu. Namun, Hanna dengan cepat kembali menepisnya.
Lalu berjalan menjauh dengan lunglai.
"Kau mau kemana?" Tanya Rey masih dalam keadaan emosi.
"Bukan urusanmu!" Jawab Hanna, tak perduli.
TO BE CONTINUE >>>