NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Sisi Lain Sang Raja Ular

Waktu di dalam rumah kuno itu tidak lagi berjalan melingkar, melainkan meluncur lurus seperti anak panah menuju kepunahan.

Satu bulan telah berlalu dalam keheningan yang stagnan, mengikis kewarasan dua wanita yang terperangkap di dalamnya.

Bagi Sekar, setiap matahari terbit adalah siksaan. Kulit lengan dan tungkai kakinya kini telah sepenuhnya kehilangan rona merah muda manusia.

Teksturnya licin seumpama lilin pembungkus mayat, memantulkan cahaya putih kusam, dan suhunya terus merosot hingga menyamai suhu ruangan yang ber-AC pekat, bahkan di tengah terik siang hari yang memanggang kampung.

Ibunya, Rahayu, kini lebih banyak menghabiskan waktu di sudut dapur, memeluk lutut sembari meratapi takdir dengan mata cekung kehitaman. Dia tidak lagi berani menatap langsung ke arah Sekar. Aura intimidasi yang memancar dari tubuh anak gadisnya telah terlalu tebal, dipenuhi distorsi gaib yang membuat lambung manusia normal mual karena ketakutan.

Hingga akhirnya, siklus terkutuk itu menggenapi hitungannya. Jumat Wage tenggelam, digantikan oleh keheningan mutlak malam Sabtu Kliwon.

Sejak pukul delapan malam, badai tanpa petir telah mengurung wilayah tersebut. Angin malam menderu kasar, menghantam dinding-dinding bata tua hingga mengeluarkan suara bergetar yang konstan. Sekar duduk membeku di tepi ranjang kamarnya. Dia sengaja mengenakan kebaya hitam longgar milik neneknya, berusaha menyembunyikan kerah sisik legam yang kini telah merayap naik, mengunci seluruh tengkuk hingga menyentuh batas bawah rahangnya.

Dia tidak mengunci pintu kamar. Percuma. Mengunci pintu kayu lapuk dari entitas yang menguasai elemen bumi adalah kebodohan yang sia-sia.

Teng... Teng... Teng...

Jam dinding kuno di ruang tengah berdentang tiga kali, menandakan waktu telah melangkahi pukul dua belas malam. Tepat pada dentangan terakhir, angin di luar rumah mendadak mati. Sunyi yang masif seketika jatuh menghimpit kamar Sekar, begitu pekat hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti ketukan palu hakim di atas meja pengadilan.

Sreeet... sssss...

Aroma itu datang lebih dulu. Bukan bau kenanga busuk yang pekat seperti dua minggu lalu, melainkan keharuman yang teramat ganjil. Bau harum bunga sedap malam yang segar, berbaur dengan aroma kayu cendana yang mahal dan uap tanah basah setelah hujan. Bau itu tidak memuakkan, namun justru menghipnotis, membuat kelopak mata Sekar mendadak terasa berat dan otot-otot tubuhnya yang tegang perlahan-lahan mengendur di luar kendali logikanya.

Dari sudut tergelap kamarnya, di dekat lemari tua peninggalan sang ayah, bayangan hitam yang pekat perlahan memadat. Kabut tipis berwarna keperakan merayap di atas lantai tegel, membawa hawa dingin yang membuat uap napas Sekar mengembun di udara.

Sesosok figur perlahan melangkah keluar dari dalam kegelapan.

Sekar menahan napas, sepasang pupil matanya langsung menyusut menjadi garis vertikal yang tajam saat mendongak.

Mahluk yang berdiri di depannya malam ini tidak menampakkan wujud monster melata berdiameter raksasa. Kalingga datang dalam wujud manusianya yang paling paripurna. Dia menjelma sebagai seorang lelaki bangsawan Jawa zaman kuno dengan garis wajah yang teramat simetris, rahang tegas yang pucat, dan kulit yang bersih tanpa cacat seolah-olah dipahat dari batu pualam terbaik. Rambut hitamnya yang panjang bergelombang dibiarkan terurai rapi hingga ke bahu, dihiasi oleh sepotong cunduk mentul emas berbentuk kepala ular yang berkilat mewah.

Dia mengenakan kain jarik bermotif Parang Rusak Barong berwarna cokelat tua kemerahan yang melilit pinggangnya dengan anggun, memperlihatkan dada bidangnya yang telanjang. Tidak ada sisik yang terlihat di permukaan kulit manusianya malam ini, namun aura magis yang memancar dari tubuhnya begitu kuat, dominan, dan pekat hingga atmosfer kamar Sekar terasa berputar halus.

Sepasang mata emasnya yang besar menatap Sekar. Tatapan itu tidak lagi memancarkan kemurkaan tirani yang menghancurkan, melainkan sebuah kedalaman yang teduh, dingin, dan penuh dengan kelembutan yang manipulatif.

"Anak ayu..." Kalingga menyapa.

Suaranya tidak lagi bergaung seperti desisan jutaan ular di dalam tengkorak. Suara bariton itu kini terdengar teramat lembut, halus, dan menggunakan intonasi Krama Inggil—bahasa Jawa halus yang biasa digunakan di dalam lingkungan keraton. "Kenapa tubuhmu bergetar hebat begitu? Apakah kehadiran suamimu ini membuatmu tersiksa?"

Kalingga melangkah mendekat tanpa suara. Setiap tapak kakinya di atas lantai tegel tidak menghasilkan bunyi sedikit pun, seolah-olah dia berjalan di atas udara. Mahluk itu kemudian perlahan menurunkan tubuhnya, berlutut tepat di depan Sekar yang terduduk kaku di tepi ranjang.

Sekar ingin mundur, ingin menjauhkan tubuhnya hingga merapat ke dinding, namun sepasang tangan dingin Kalingga yang berkuku bersih—tidak lagi hitam panjang—perlahan menggenggam kedua lutut Sekar dengan tekanan yang lembut namun mutlak tidak bisa dibantah.

"Aku tidak datang untuk menyakitimu, Sekar," ucap Kalingga lagi, menatap langsung ke dalam mata silet Sekar yang bergetar liar. "Lihatlah aku. Apakah aku terlihat seperti iblis yang ingin menguliti jiwamu?"

Sekar membeku. Otaknya yang telah bersiap untuk menerima siksaan fisik atau pemaksaan energi mendadak mengalami kelumpuhan logika. Kelembutan ini jauh lebih mengerikan daripada kemurkaan, karena Sekar tidak tahu di mana letak jebakan dari sikap manis sang raja siluman.

Kalingga perlahan bangkit, lalu duduk di samping Sekar di atas kasur yang tipis. Kasur itu tidak amblas secara ekstrem seperti saat dia berwujud ular, membuktikan bahwa mahluk itu mampu memanipulasi bobot metafisiknya sesuka hati. Dengan gerakan yang teramat pelan, jemari tangan Kalingga yang panjang merayap naik ke kepala Sekar.

Dia mengambil sebilah sisir kayu milik Sekar yang tergeletak di atas meja nakas, lalu mulai menyisir rambut hitam panjang Sekar dengan kelembutan yang ganjil.

Sreeet... sreeet...

"Rambutmu indah sekali, Cah Ayu," bisik Kalingga tepat di dekat telinga Sekar. Embusan napasnya tidak lagi berbau anyir darah, melainkan aroma cendana yang menenangkan. "Di bawah sana... di dasar Sendang Kalingga, segalanya teramat sunyi. Kerajaanku megah, berlantai emas dan berdinding batu giok. Ribuan abdi dalem bersujud setiap kali aku melangkah. Namun... tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki jiwa."

Sisir kayu itu bergerak ritmis, membelai setiap helai rambut Sekar. Kalingga menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar penuh dengan kesepian yang telah mengendap selama ratusan tahun di dalam kegelapan bumi.

"Manusia-manusia di atas tanah ini selalu datang kepadaku dengan hati yang busuk," lanjut Kalingga, nadanya berubah menjadi sendu yang menghanyutkan. "Mereka membawa sesaji, menyembelih hewan, bahkan menyerahkan darah keturunan mereka hanya demi tumpukan harta fana yang akan membusuk dalam beberapa puluh tahun. Mereka menganggapku monster yang serakah. Padahal, merekalah yang membuka pintu kegelapan itu sendiri."

Kalingga menghentikan gerakan sisirnya. Dia meletakkan jemari tangannya di atas bahu kanan Sekar, tepat di balik kain kebaya hitam yang menutupi koloni sisik hitamnya. Sentuhan itu tidak lagi menyengat perih; anehnya, malam ini sentuhan Kalingga justru memberikan rasa hangat yang nyaman, meredakan rasa gatal dan kaku yang menyiksa Sekar selama tiga hari terakhir.

"Keluargamu yang datang mengemis padaku, Sekar. Mbah buyutmu yang menyerahkan garis keturunan ini agar mereka bisa hidup mulia di dunia fana," Kalingga berbisik lembut, wajah tampannya kini hanya berjarak satu jengkal dari pipi Sekar. "Dan sekarang, ketika giliranmu untuk menggenapi janji itu, kenapa kau menatapku seolah-olah aku adalah penjahatnya? Aku hanya mengambil apa yang telah disumpahkan menjadi milikku."

Sekar merasakan air matanya menetes. Kalimat Kalingga menghantam kesadarannya dengan cara yang teramat licik. Mahluk itu sedang memutarbalikkan fakta, menanamkan rasa bersalah yang mendalam ke dalam benak Sekar, membuat gadis itu merasa bahwa dialah yang bersalah karena menolak takdir ini. Gaslighting spiritual itu mulai bekerja, meracuni fondasi moral dan akal sehat Sekar.

"Aku kesepian, Sekar..." Kalingga menyandarkan dahinya perlahan pada bahu Sekar, sebuah gestur keintiman yang teramat intim sekaligus intimidatif. "Kau adalah satu-satunya alasan mengapa aku bersedia naik ke permukaan tanah yang kotor ini. Jiwamu... keindahanmu... kau diciptakan bukan untuk menderita di dunia manusia yang penuh kepalsuan ini. Ikutlah bersamaku secara sukarela, dan kau akan menjadi ratu di atas segala mahluk melata di kerajaan bawah tanah."

Dari dalam saku kain jariknya, Kalingga mengeluarkan sebuah benda yang berkilauan kuno.

Sebuah gelang emas tebal berpola ukiran ular naga yang saling menggigit ekor. Emas itu tidak berwarna kuning terang, melainkan kuning tua kemerahan khas emas purba yang telah terkubur berabad-abad di dalam tanah. Aura magis yang pekat memancar dari perhiasan tersebut, mengeluarkan suara dengungan halus yang hanya bisa didengar oleh indra gaib Sekar.

"Ini adalah Gelang Sangker Bumi," ucap Kalingga sembari meraih pergelangan tangan kiri Sekar yang dingin dan licin. "Gunakan ini, Permaisuriku. Ini adalah tanda bahwa tubuh dan jiwamu telah berada di bawah perlindungan mutlak dariku. Tidak akan ada satu pun mahluk halus rendahan atau manusia suci gadungan yang bisa menyentuhmu lagi."

Sebelum Sekar sempat menarik tangannya, Kalingga telah menyelipkan gelang emas tebal itu melingkari pergelangan tangan kirinya.

Klik.

Begitu gelang emas kuno itu mengunci pergelangan tangannya, Sekar tersentak. Sensasi pertama yang dirasakannya bukan lagi rasa dingin yang membekukan, melainkan gelombang kehangatan yang menjalar cepat melalui pembuluh darahnya. Rasa kaku pada sendi-sendinya mendadak luruh. Rasa gatal yang menyiksa di sepanjang tulang belikat dan tengkuknya hilang seketika, digantikan oleh rasa nyaman yang teramat dalam, seolah-olah tubuhnya baru saja disembuhkan dari penyakit kronis yang mematikan.

Napas Sekar yang semula memburu tidak keruan, kini perlahan melambat, menjadi teratur dan sunyi.

"Bagaimana, Cah Ayu? Terasa lebih baik, bukan?" Kalingga tersenyum tipis. Jemarinya yang pucat mengusap lembut gelang emas yang kini melingkar pas di pergelangan tangan Sekar. Ukiran ular naga pada gelang itu tampak sedikit berkilau, seolah-olah emas purba itu baru saja mengisap secuil energi kehidupan dari tubuh Sekar untuk mengaktifkan kunciannya.

Sekar menatap gelang itu dengan pandangan kosong. Kebencian yang selama ini membakar dadanya mendadak terasa tumpul, tersamarkan oleh rasa nyaman fisik yang baru saja diberikan oleh sang siluman. Manipulasi ini bekerja terlalu rapi. Kalingga tidak menghancurkan kewarasannya dengan siksaan, melainkan dengan cara menghapus penderitaannya secara selektif, memosisikan dirinya sendiri sebagai satu-satunya penawar rasa sakit yang dialami Sekar.

"Kamu... apa yang kamu lakukan pada tubuhku?" tanya Sekar. Suaranya terdengar sangat lirih, kehilangan daya perlawanannya. Nada desisan ganda itu masih ada, namun kini terdengar lebih selaras dan menyatu dengan artikulasinya.

Kalingga terkekeh pelan, sebuah suara bariton yang terdengar seperti gesekan daun kering yang tertiup angin malam di pemakaman. Dia mengulurkan tangan, dengan kelembutan yang penuh kalkulasi, dia menyelipkan beberapa helai rambut Sekar ke belakang telinganya. Kulit jari Kalingga terasa begitu halus, meraba barisan sisik mikro kelabu yang mulai tumbuh di bawah telinga Sekar tanpa rasa jijik sedikit pun.

"Aku tidak melakukan apa-apa, Nduk. Aku hanya membantumu menerima dirimu yang sebenarnya," bisik Kalingga dengan bahasa Jawa yang teramat santun. "Manusia-manusia di luar sana melihat perubahanmu sebagai kutukan yang menjijikkan. Ibumu sendiri bahkan tidak berani menatap wajahmu lagi, bukan? Mereka takut pada keagungan yang tidak mereka pahami."

Kalimat itu menghantam bagian paling rapuh dari psikologis Sekar saat ini: rasa terasing. Kalingga secara instan memanfaatkan fakta bahwa Rahayu ketakutan dan Dinda telah dibuat bisu untuk mempertegas isolasi Sekar. Dia membuat Sekar percaya bahwa di seluruh dunia ini, hanya Sang Kalingga-lah yang bisa menerima, menyentuh, dan mencintai wujud monsternya tanpa prasangka.

"Hanya aku yang bersamamu, Sekar. Hanya aku yang menginginkanmu apa adanya," lanjut Kalingga. Dia mendekatkan wajah manusianya yang tampan, menatap langsung ke dalam sepasang pupil vertikal Sekar yang kini tidak lagi bergetar liar karena ketakutan, melainkan melebar karena efek hipnotis aura cendana. "Dunia manusia ini terlalu bising, penuh dengan pengkhianatan dan pamrih. Ikutlah denganku saat malam Sabtu Kliwon terakhir nanti tiba. Kita akan meninggalkan semua penderitaan ini di atas tanah."

Sekar merasakan air mata dinginnya mengalir lagi, namun kali ini ada rasa bimbang yang luar biasa di dalam hatinya. Logika manusianya berteriak bahwa mahluk di depannya adalah dalang dari segala petaka yang menimpa keluarganya. Dialah yang mengunci suara Dinda, dialah yang membuat ibunya histeris, dan dialah yang sedang menguliti kemanusiaannya secara perlahan.

Namun, di sisi lain, kenyamanan fisik yang diberikan gelang itu dan belaian lembut Kalingga terasa begitu memikat bagi jiwanya yang sudah terlanjur lelah dan kesepian dalam isolasi. Kebingungan psikologis (gaslighting spiritual) ini mulai meretakkan benteng pertahanan terakhir Sekar. Dia mulai merasa kasihan pada mahluk purba yang mengaku kesepian ini, sekaligus merasa sangat bergantung pada kehadiran energinya untuk meredakan rasa sakit di tubuhnya sendiri.

"Sekarang, istirahatlah, Permaisuriku," ucap Kalingga lembut. Dia mengecup kening Sekar dengan bibirnya yang sedingin es, meninggalkan sensasi mati rasa yang menjalar ke seluruh wajah gadis itu.

Kalingga perlahan bangkit berdiri. Wujud manusianya yang anggun perlahan-lahan mulai memudar, melarut kembali ke dalam kegelapan dan kepulan asap cendana yang tipis. Sebelum dia benar-benar menghilang, suara desisan ganda yang masif kembali bergema di sudut kamar, mengingatkan Sekar pada wujud reptil raksasanya yang asli.

"Jaga gelang itu baik-baik... itu adalah janji suci kita yang tidak akan pernah bisa dilepaskan oleh tangan manusia mana pun."

Begitu Kalingga menghilang sepenuhnya, keheningan malam kembali normal. Suara angin yang menghantam dinding rumah kembali terdengar, dan suhu kamar perlahan menghangat ke batas wajar.

Sekar terduduk sendirian di atas ranjangnya, menatap pergelangan tangan kirinya yang kini dihiasi gelang emas purba bermotif naga. Dia mencoba menarik gelang itu dengan tangan kanannya, berniat untuk melepaskannya. Namun, anehnya, gelang itu seolah-olah telah menyatu dengan dagingnya. Ketika ditarik, kulit di bawah gelang itu ikut tertarik parah, menimbulkan rasa perih yang teramat sangat seolah-olah gelang itu telah mengakar ke dalam tulang pergelangan tangannya.

Gelang itu menolak untuk dilepaskan. Itu adalah borgol gaib yang dikemas dalam bentuk perhiasan mewah.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka sedikit. Rahayu mengintip dari balik celah pintu dengan mata yang sembap dan wajah yang pucat pasi. Dia melihat gelang emas di tangan Sekar, dan seketika itu juga, Rahayu langsung menutup mulutnya, menahan jeritan histeris yang nyaris lolos dari tenggorokannya. Wanita tua itu tahu betul apa arti perhiasan itu: itu adalah Gelang Sangker Bumi, tanda bahwa mas kawin gaib telah diserahkan, dan ritual pengantin siluman telah berjalan lebih dari setengah jalan.

Sekar tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap ibunya dengan sepasang mata ular yang kini memancarkan kombinasi rasa sedih yang mendalam sekaligus kepasrahan yang dingin. Di bawah pengaruh manipulasi Kalingga, Sekar mulai berhenti melawan. Dia mulai menerima takdirnya bahwa kulit manusianya memang ditakdirkan untuk mengelupas habis, digantikan oleh keabadian yang dingin di dasar sendang keramat.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!