Sesion 1
Gadis itu bernama lee Renzai, dia adalah putri ketiga dari seorang jenderal di istana, tetapi dia juga seorang jenderal di masa lalu yang kejam, yang berasal dari kerajaan Ochtosk.
Karena kekejamannya, dia akhirnya berubah menjadi buih karena meminum air keramat yang berasal dari sungai kyusu, siapapun orang yang kejam dan meminumnya akan menghilang bersama derasnya air sungai.
Mampukah Sang jenderal untuk merubah takdirnya, akankah dirinya yang kejam akan berubah ketika dia terlahir kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vol 22
Teriakan itu membuat Gun wu kebingungan, para prajurit telah mengepungnya.
"Bukan, bukan aku, aku tidak mencuri, aku menemukannya di tanah, ayahku mengajariku untuk tidak mencuri, ayahku.....
Tanpa Mendengarkan penjelasan Gun wu para prajurit itu memukulinya hingga babak belur, kue yang dipegangnya berjatuhan di tanah.
"Park Ji Eun melihatnya dipukuli tanpa belas kasihan, dia hanya memandang mencela ke arah Gun wu, setelah itu dia pergi. Park jie Eun menuju ke istana dan bertemu yang mulia putri.
~
"Bagaimana kabar anda hari ini yang mulia? aku membawakan bunga Krisan yang di bawa langsung dari Ming Utara." Senyumnya.
Yang mulia putri adalah adik kandung dari pangeran putra mahkota, yang akan mewarisi langsung tahta kerajaan di Juseon, putri kerap mendatangi kediaman Jenderal Lee gem Ling.
"Aku baik-baik saja, hari ini cuaca sangat cerah, aku menikmati indahnya pagi ini, terima kasih untuk bunga krisannya putri mahkota." Senyumnya.
Putri menatap Park jie Eun. "Ada apa dengan ekspresimu itu? apakah kau sedang sakit putri mahkota?" tanya sang putri.
Park Ji Eun memegang wajahnya. "Benarkah? Aduh, bagaimana ini? padahal hari ini aku harus bertemu dengan pangeran." ucapnya.
Dia menghembuskan napasnya perlahan. "Hari ini aku bertemu seorang pencopet, kantung uangku hilang pada saat aku melihat-lihat perhiasan di pasar, tapi untungnya pencopet itu di tangkap." ucap Park Ji Eun.
Yang mulia putri terkejut, "Astaga, ya ampun, kau harus hati-hati putri mahkota,"
Park Ji Eun menatap sungguh-sungguh yang mulia putri. "Mohon putri jangan mengeluarkannya, meskipun seseorang menjaminnya." Park jie Eun memohon pada putri dengan sungguh-sungguh.
"Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan dia keluar dari penjara." ucapnya.
~
"APA?" Renzai sangat terkejut, dengan berita yang di sampaikan Cha Wu kakaknya.
"Gun Wu tidak mungkin melakukannya," Ucap Renzai dengan panik. "Aku sangat mengenal Gun Wu, ia tidak mungkin mencuri." Ucap Renzai marah.
"Aku juga tidak percaya Renzai, tetapi yang menangkapnya adalah calon putri mahkota, dia park Ji Eun, Gun Wu tidak akan mudah lolos darinya." ucapnya.
"Aku harus ke istana, aku akan menjamin Gun Wu." Kakaknya tiba-tiba menghalanginya.
"Tidak Renzai, jangan ke sana, kau tahu siapa pemilik kantung uang yang di curi itu? dan yang melarang Gun Wu untuk di bebaskan?" ucap Cha Wu.
"Memangnya siapa? aku akan mengembalikannya dua kali lipat." ucap Renzai.
"Dia adalah putri mahkota, dan di belakangnya adalah yang mulia putri, adik pangeran mahkota."
"Tch, aku tidak perduli, aku akan menjemput Gun Wu." ucap Renzai.
~
Renzai berlari menuju ke istana, Renzai kini berhadapan dengan prajurit istana.
"Aku ingin membebaskan Kang Gun wu dan bertemu dengan putri mahkota." ucap Renzai.
Prajurit istana itu menyilangkan tombak ke depan Renzai. "Putri mahkota tidak menemui sembarangan orang, pergilah !" bentak mereka. Renzai di dorong oleh mereka hingga dia terjatuh, tetapi Renzai kembali berdiri.
"Apa yang kalian lakukan !" Teriak seseorang dari belakang Renzai, Renzai berbalik ketiga pria telah berdiri di belakang Renzai. Dia adalah Otaru, hatachi dan Rui.
"Maafkan hamba, tapi nona ini memaksa masuk ke dalam istana. Putri berpesan kepada siapapun yang datang dan ingin membebaskan pria bernama Gun wu akan di hukum." ucap prajurit itu.
"Apakah itu pesan putri? kalau begitu aku ingin menjamin keselamatan Kang Gun Wu, aku akan membayarnya, berapapun itu."
"Tidak boleh ada yang menjaminnya." ucap salah satu prajurit. "Putri tidak mengizinkan."
Kemarahanya memuncak, Renzai maju beberapa langkah di hadapan dua prajurit itu, melihat kemarahan renzai, Otaru kini berbicara kepada kepadanya.
"Nona Renzai, biar kami yang akan berbicara kepada tuan putri anda pulanglah dulu," Renzai lalu menatap Otaru. "Ya, benar nona Renzai, kami akan memastikan Gun Wu akan dibebaskan, jadi kami harap nona kembali dulu, kami akan membebaskan Kang Gun Wu." Ucap Rui tertunduk. Tanpa berkata-kata, Renzai meninggalkan tempat itu.
~
Sudah seminggu, tetapi belum ada kabar dari Otaru dan temannya mengenai kebebasan Gun Wu, Renzai tidak tahan lagi, kemarahanya sudah di ambang batas, dia memiliki rencana, rencana itu muncul begitu saja tanpa di perhitungkannya, tanpa takut, dan belas kasihan di matanya, sorot matanya memerah, Renzai tidak berbicara kepada siapapun setelah kejadian yang menimpa Gun wu, ia sedang menunggu sebuah kesempatan, dan kesempatan itu akhirnya datang juga kepadanya.
°°°
Cuaca cerah di musim semi, bunga-bunga bermekaran sehingga yang mulia putri dan putri mahkota yaitu Park Ji Eun berencana keluar istana untuk mengadakan upacara penyembahan di kuil, karena sebentar lagi putri mahkota akan segera menikah. Para pengawal telah berbaris di luar istana begitupun ke tiga Akai. Otaru merasa sangat bersalah kepada Renzai, sehingga akhir-akhir ini dia tidak fokus, janji yang diucapkannya belum bisa di kabulkan oleh tuan putri meskipun para Akai memohon kepada tuan putri.
Sekitar 20 penjaga dan prajurit mengawal kedua putri itu, mereka berdua tertawa-tawa di dalam kereta. Mereka berdua berbincang mengenai indahnya taman dan air sungai yang mengalir. Ketika mereka sampai di tengah hutan, seseorang berdiri di tengah-tengah jalan, menghalangi perjalanan sang putri dan pasukannya.
Dia mengenakan pakaian hitam dan wajahnya pun di tutup dengan topeng berwarna hitam, dia memegang pedang di tangannya, matanya memerah, penuh dengan sorot kebencian, senyuman mengerikan itu tersungging di wajahnya.
Pasukan berhenti, mereka mengeluarkan senjata. "Siapa orang itu?" tanya Otaru.
"Apa dia sudah gila?" ucap Hatachi yang menghentikan kudanya lalu turun dari kudanya.
"Menyingkir, apa yang kau lakukan? Cepat pergi, kalau tidak... !" bentak Otaru.
"Kalau tidak apa yang terjadi." Ejeknya, hatachi tersentak dia mengenal suara ini. Hatachi memandang Otaru dan Rui. Mereka berdua turun dari kudanya.
"Kalau anda ingin berbicara, anda....." Ucapan Rui terpotong oleh pedang yang di keluarkan oleh orang bertopeng yang tidak lain adalah Lee Renzai.
Renzai menyerang Rui, mereka bertarung, anehnya ketiga prajurit yang terkenal itu terlihat mengalah, hal itu membuat kemarahan dan kebencian Renzai semakin besar, dengan cekatan dia menghadapi prajurit-prajurit itu, dia mendapatkan celah dan dengan gesit dia menerobos tandu putri tetapi lagi-lagi dia dihalangi oleh para prajurit yang melindunginya.
Renzai sama sekali tidak gentar menghadapi puluhan prajurit itu, dia terlihat seperti puluhan atau ratusan kali bertempur, keahlian berpedangnya sangat mengagumkan dan lihai, tanpa takut, dia menebas, menusuk dan menyerang mereka semua, dia sangat kuat, rasa ingin mencabik mereka semua semakin dalam, darah memenuhi tubuh dan wajahnya, prajurit yang tersisa sekitar 7 sampai 8 orang, serta para Akai.
Para Akai sama sekali tidak benci ataupun marah kepadanya, malahan mereka semua kagum dengan keahlian Renzai.
Renzai berjalan dan maju, sekali lagi dia menebas prajurit itu layaknya seperti memetik bunga dari tangkainya. Akhirnya dia sampai ke tandu sang putri, mereka berdua berteriak ketakutan. Dari belakang, Otaru berlari merentangkan kedua tangannya di depan tandu kedua putri itu.
"Anda tidak boleh melakukannya." Ucap Otaru, dia melindungi kedua putri itu.
Dengan sedih, Otaru menatap mata sang jenderalnya, mata yang begitu di rindukan oleh mereka, akhirnya mereka yakin bahwa Lee Renzai lah sang jenderal yang selama ini mereka tunggu, dan dia kini kembali menjadi sosok Lee Renzai. Tanpa berpikir panjang Renzai menyerang Otaru sehingga darah merembes dari tubuhnya, Renzai lalu mendorongnya ke samping.
Rui dan Hatachi tidak berani melawan jenderal mereka, dia hanya memegang Otaru tanpa berniat menghalangi keinginannya. Tidak sedikitpun mereka berdua berniat menolong kedua putri itu, jika Jenderal menginginkan mereka mati, tidak ada yang bisa mereka berdua lakukan, itu adalah bukti kesetiaan para Akai kepada jenderalnya.
ditunggu season 2 nya😁😁
Sehat selalu 🙏🙏
Semoga dikehidupan nanti mereka berubah menjadi lebih baik👍🙏
Semangat terus berkarya Outhor, Qutunggu cerita2x yg lainnya💪🙏👍
Dan apakah Jendral Geem ayah dari Renzai tidak bisa membuat anaknya kembali menjadi baik🤔? Semangat Up dan sehat selalu buat Outhor💪🙏
Semangat terus ya Thor🙏👍
Semangat selalu outhor💪🙏
Lanjut Up dan Up, semangat 💪🙏