Dinikahi secara paksa oleh pria yang tidak dikenal nya. Membuat Valencia membenci pria yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.
Sikap baik yang selalu di tunjukan oleh suaminya (Devano). Sama sekali tidak membuat hatinya luluh. Namun, berkat semua nasehat yang di berikan orangtua serta saudara dan juga orang-orang terdekatnya. Membuat ia bisa membuka hati dan menumbuhkan perasaan untuk suaminya itu.
Tapi, bagaimana jadinya?! Jika di saat ia sudah benar-benar membuka hati dan mencintai suaminya, ia malah mendapati dan mengetahui rahasia besar yang di sembunyikan suami dan juga mertuanya.
Devano, pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Ternyata menderita penyakit kanker otak stadium lanjut.
Bersamaan dengan itu, ia juga mendapati bahwa dirinya tengah mengandung benih suaminya. Bahagia dan juga sedih bercampur menjadi satu didalam hatinya! Beberapa bulan kemudian, Devano menghembuskan napas terakhirnya yang membuat perasaan Valencia begitu hancur, dunianya terasa runtuh!
Bagaimana kisahnya? Akankah ia mampu menata hidupnya tanpa sosok Devano yang telah mampu mencuri hatinya dan juga menghancurkan hidupnya dalam waktu sejekap itu?!
“Jodoh PENGGANTI Untuk Nona Muda”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU UDAH JEBAK KAMU!
Setelah selesai acara ijab qobul itu, Valencia meraih tangan Revano dan menciumnya. Begitupun Revano, ia mengecup lembut kening istrinya di hadapan semua orang.
"Dy, Ka au ium!" Tiba-tiba saja, Devanka yang berada di pangkuan Arvan berjalan mendekat ke arah Valencia dan Revano.
Revano tersenyum dan menyambut gadis kecil itu. Ia menciumi pipi gembul Devanka dan memangku tubuh kecil itu.
"Dy gak leh ium My. Ium Ka ja," kata Devanka. Valencia dan yang lainnya di buat tersenyum dengan perkataan yang keluar dari bibir Devanka.
"Apa kata Devanka?" bisik Revano pada Valencia. Tepat di hadapan Nino dan Penghulu.
"Gak boleh cium Mommy. Cium Devanka aja," kata Valencia. Ia menterjemahkan perkataan putrinya yang sering sulit untuk di mengerti.
"Ibu-ibu, bapak-bapak dan adik-adik semuanya. Silahkan menikmati hidangan ala kadarnya yang sudah kami siapkan!" Mama Mia dan Zivanya mempersilahkan para saksi yang hadir di acara pernikahan sederhana Revano dan Valencia.
"Hebat banget keluarga ini, makanan mewah kayak gini di bilang makanan ala kadarnya," kata salah satu saksi yang sengaja di undang oleh Papa Rahman ke acara ijab qobul itu.
"Lah, emang tadi gak denger mahar yang di sebutkan tadi? Seluruh aset kekayaan pihak pria," kata saksi yang lain. "Denger-denger juga, itu mempelai pria asal Belanda dan pemilik perusahaan besar di sana dan udah mengembangkan di negara kita ini!"
"Emang iya sih, lagian keluarga ini emang keluarga terpandang dan hebat. Harta mereka gak akan habis sampe 11 keturunan, udah baik, ramah-ramah dan rajin sedekah pula!"
Zivanya yang mendengar semua itu hanya tersenyum kecil. Perlakuan baik mereka selama ini, ternyata meninggalkan kesan yang begitu baik di masyarakat.
Malam harinya, Mama Mia dan Zivanya sibuk mengasuh Devanka di ruang tengah rumah Valencia. Mereka semua memberi ruang untuk Revano dan Valencia untuk berbicara berdua ataupun melakukan malam pertama mereka di malam itu.
Jadi, semua orang pun ikut andil dalam mengasuh dan membujuk Devanka yang sedang aktif-aktifnya.
"Ni apa?" tunjuk Devanka pada Nyonya Liliana.
"Ini Eyang!" ujar Zivanya sembari tersenyum.
"Ang?" tanya Devanka.
"Ya, ini Eyang Devanka. Oma nya Daddy," kata Zivanya dengan pelan. "Ayo, kiss Eyang!"
Devanka mendekat pada Nyonya Liliana dan mencium pipi keriput wanita baya itu.
"Cantik sekali," kata Nyonya Liliana. "Wajahnya mirip sekali dengan Revano saat masih kecil."
"Ya, wajah Devanka adalah duplikat mendiang ayahnya. Yang membedakan nya hanyalah laki-laki dan perempuan saja," kata Mama Mia dengan tatapan sendu.
"Saya jadi penasaran," kata Nyonya Liliana.
"Tina, tolong ambilkan album foto yang ada di lemari paling pojok, kamar yang mama dan papa sering tempati," kata Mama Mia pada Tina. Pengasuh Devanka yang berambut keriting.
"Iya, ma," kata Tina yang sudah biasa memanggil Mama Mia dengan sebutan mama seperti Valencia.
Tina pun segera menuju lantai atas dan mengambil album foto yang di maksud oleh Mama Mia. Setelah itu, ia kembali ke lantai bawah dan memberikan album foto itu.
Nyonya Liliana membuka satu persatu foto yang ada di album itu. Mulai dari mendiang Devano masih bayi bahkan sampai mendiang Devano jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit.
Nyonya Liliana begitu terkejut, beruntungnya wanita baya itu tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Jadi, ia tidak serangan jantung setelah melihat semua potret mendiang Devano.
"Kenapa bisa begini? Dia begitu mirip dengan cucuku, bahkan bukan hanya mirip tapi sama," kata Nyonya Liliana.
"Itulah yang kami herankan, Nyonya. Kami juga begitu terkejut saat pertama kali melihat sosok Revano," kata Mama Mia. "Pantas saja Devanka tidak mau lepas dari Revano. Karena ia pikir, Revano itu adalah Daddy-nya."
"Jika di pikir-pikir, nama mereka juga begitu mirip. Yang satu Revano dan yang satu lagi Devano," kata Nyonya Liliana. "Apakah wanita yang selalu hadir dan mengusik tidur cucuku itu adalah Valencia?" Nyonya Liliana seperti tidak percaya pada kenyataan yang ada.
"Benar, Nyonya. Revan juga mengatakan, saat pertama kali ia tidur di rumah ini. Ia tidak mengalami mimpi itu lagi, bahkan ia tidur dengan pulas dan terbangun saat hari sudah siang!" jelas Papa Rahman kepada Nyonya Liliana.
Arya, Zivanya, Nino, Arvan dan juga yang lainnya hanya menyimak cerita Papa Rahman. Mereka juga begitu tidak menyangka bahwa Revano jauh-jauh dari Negara Belanda kembali ke Indonesia hanya untuk mencari wanita yang selalu hadir di dalam mimpinya. Tanpa di duga lagi, Revano benar-benar menemukan wanita yang ada di mimpinya itu dan ternyata wanita itu adalah Valencia.
"Reinkarnasi kalik!" Celetuk Arvan tiba-tiba. Pemuda itu sibuk membaca buku novel cetak yang ada di tangannya.
Semua orang menjadi memandang pada Arvan. "Kamu ngomong apa, dek?" tanya Nino kepada Arvan.
"Reinkarnasi, ini Arvan lagi baca cerita tentang orang yang meninggal dan gak lama dari itu datang sosok yang sama persis kayak orang yang meninggal!" jelas Arvan. "Dah lah! Jangan ganggu, Arvan mau pindah aja ke kamar." anak kuliahan itu segera pergi meninggalkan semua orang menuju kamar.
.
.
.
Di dalam kamar Valencia dan Revano. Kedua anak manusia itu sama-sama duduk di atas ranjang, tetapi ada yang duduk di sudut kanan dan ada yang duduk di sudut kiri.
"Val, kamu nyesel gak nikah sama aku?" tanya Revano tiba-tiba.
"Nyesel kenapa? Kenapa mesti nyesel?" tanya balik Valencia.
"Aku boleh jujur gak? Tapi kamu gak boleh marah, karena kita udah sah jadi suami istri," ucap Revano dengan pelan.
"Jujur apa? Mau jujur kalau kamu sebenernya udah punya istri?"
"Bukan itu, aku gak punya istri. Orang deket sama perempuan lain aja gak pernah kecuali kamu," kata Revano dengan jujur. "Tapi ada hal lain, itu semua menyangkut kita."
Valencia beringsut dan mendekat pada Revano, pria yang sudah menjadi suaminya. Ia menyentuh bahu Revano dengan lembut.
"Kita kenapa?" tanya Valencia sembari menatap wajah Revano dengan intens.
"Kita tu semalam gak ngapa-ngapain, aku udah jebak kamu," kata Revano dengan cepat. Valencia mengerutkan kening dibuat nya.
"Terus? Kalau di jebak kenapa?" tanya Valencia lagi.
"Ya kamu gak boleh marah lah, kan aku suami kamu," kata Revan dengan wajah yang di buat se imut mungkin.
"Aku gak marah," kata Valencia. Mendengar kata 'gak marah' dari bibir Valencia. Revano pun tersenyum cerah, ia memeluk erat tubuh Valencia yang berbalut gaun tidur pendek.
"Kamu gak malu apa nikah sama janda? Bekas nya orang?" tanya Valencia yang berada di dalam pelukan Revano.
"Kenapa malu? Kenapa kalau bekas orang?" Revano melepaskan pelukan itu dan beralih menangkup wajah Valencia.
"Di luar sana ba-" perkataan Valencia terputus, dengan tiba-tiba Revano menyambar bibir tipis istrinya itu. Ia menciumnya dengan lembut, mata Valencia terbelalak di buatnya.
atau ternyata beda penulis?
Sukses bwt kk