NovelToon NovelToon
Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Spiritual / Lari Saat Hamil / Tamat
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ria

Hidup tanpa cinta memang hampa, tapi kehampaan tercipta karna adanya cinta.
Apakah hanya wanita yang harus menjadi bahan perbandingan dan apakah semua kesalahan harus ditanggung oleh wanita juga.

Lantas, di mana keadilan itu berada? Mereka bilang cinta membawa kebagian dan cinta menuntun kita ke kehidupan baru, tapi yang aku rasakan jatuh terbalik dari pernyataan itu semua.


Hidupku hancur, harga diriku terhina semua orang mencemooh bahkan mengucilkan aku.
Apakah ini yang di namakan hidup baru penuh kebahagiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekecewaan Cinta

Dilangit barat, cahaya matahari terbenam dan di hari yang panjang dan melelahkan ini, Erli mendapati hatinya penuh dengan keluh kesah. Bayangan yang samar, tawa yang mengering menambah kesedihan hatinya dan luka yang menganga tidak akan mudah menghilang.

Di tengah dia berjalan kegelapan awan menyapa dan rintik hujan terus mengguyur bumi dan tubuhnya. Suara gemercik hujan mengiri tangisannya yang menyayat, berulang kali Erli menepuk dadanya yang terasa sesak. Paru-parunya seakan tidak mampu memompa Oksigen yang ia hirup, napas Erli berkali-kali tercekat.

Tetesan air mata mengalir bersamaan dengan air hujan yang membasahi seluruh tubuh; Jika Erli mengingat kejadian tadi, ingin rasanya dia beranjak dan menyiram Rafan dengan segelas minuman yang tersaji di meja. Namun, hal itu tidak mungkin dia lakukan karna dia sadar bahwa di antara mereka berdua ada dinding pemisah.

Aku pikir kau menyiapkan itu untukku. Ternyata ada wanita lain di hatimu, sia-sia saja aku berusaha memenangkan hatimu dan percuma aku memupuk cinta di antara kita, keluh Erli dalam hatinya.

Dalam ke putus asa-an hatinya, Erli berjalan di tengah padatnya kendaraan. Beberapa pengemudi memaki dan meneriakinya, sama sekali Erli tidak peduli dengan teriakan semua orang yang berdiri di bahu jalan, sampai ada seorang pengemudi mobil pick up yang rela menepikan mobilnya, segera dia berlari menghampiri Erli dengan payung yang ada di genggaman tangan kiri.

“Apa yang Anda coba lakukan?” tanya wanita itu.

Petir yang menyambar membuat suara Seri tidak di dengar oleh Erli, dengan berat hati Seri mengulang pertanyaannya. “Apa yang Anda lakukan hujan-hujan begini?”

“Aku tidak tahu,” jawab Erli seraya berjalan mendekati mobil Seri.

Wanita tomboi tersebut memiringkan kepalanya dan dia terus menatap punggung Erli yang semakin menjauh. Erli meneriaki Seri, mendengar panggilan Erli, wanita tomboi tersebut mempercepat langkahnya.

“Kenapa Anda berdiri di tengah jalan seperti itu? Anda tidak takut di tabarak mobil atau semacamnya?” Seri melirik Erli sebentar.

Erli tersenyum dan menggeleng pelan. “Untuk apa takut?! Kita semua akan mati juga ‘kan?”

“Iya bener, tapi hargai hidup selagi ada kesempatan. Apa Anda tidak kasihan dengan bayi yang ada di dalam sana?” Jari telunjuk wanita itu mengacung ke arah perut Erli.

Ucapan Seri membuat Erli kembali menangis dan dia sangat menyesal akan kelakuannya. Disela isak tangisnya Erli meminta wanita itu mengantarnya pergi ke kontrakan yang pernah dia tinggali dulu, kebetulan rumah itu masih milik Erli sampai bulan September ke depan.

“Terima kasih, Mbak. Kalau boleh tahu nama Mbak siapa?” Erli membuka pintu mobil sesaat Seri memberhentikan mobilnya di depan rumah kontrakan Erli.

“Seri, kalau nama Anda siapa?” Seri tersenyum seraya memberikan sebungkus roti dan sebotol air mineral. “Ambil saja! Aku yakin di rumah ini tidak ada makanan.”

Erli menatap keheranan, “Dari mana kamu tahu, kalau aku tidak ada makanan?”

“Lihat kondisi rumahmu! Sudah beberapa lama rumah ini tidak ditempati?” ujar Seri lembut.

“Sekitar tiga bulananlah tidak di urus ini rumah.” Erli tersenyum tipis sembari mengusap tengkuknya.

Seri tertawa melihat ekspresi Erli, setelah perkenalan usai Seri meninggalkan Erli begitu saja. Erli naik meraih sebuah kunci yang tersembunyi disela cela lubang udara, udara lembab menyapanya saat dia membuka pintu.

Semua barang masih tertata rapi di tempatnya, Erli membuka tirai salah satu kamar. Wanita berbadan dua tersebut meringkuk di pojok kamar yang gelap, tangisannya kembali terdengar dan tiba-tiba dia menjerit mengerang.

Semua barang-barang yang ada di ruangan itu dia lempar sembarangan, tampak semua barang dan tasnya berhamburan.

“Saat kamu menyentuh mata, hidung dan bibir sampai ke ujung jari. Aku masih bisa merasakannya,” ujar Erli terisak. “Tapi seperti terbakar api. Terbakar dan hancur, semua cinta kita begitu menyakitkan.”

Dengan air matanya yang masih berlinang. Ingin rasanya Erli melupakan Rafan, sosok pria yang selama ini dia hormati dan dia cintai.

“Kenapa Engkau ciptakan rasa ini, Ya Allah? Hamba tidak sanggup menjalani ini semua tanpa dia!” tanya Erli terisak, perlahan dia membaringkan tubuhnya di lantai.

“Jika ini mimpi, tolong bangunkan aku?! Jangan biarkan aku tenggelam dalam mimpi buruk ini, Ya Allah. Aku ... Aku tidak ingin tidur terlalu lelap.”

***

“Assalamualaikum ....” Rafan membuka pintu.

Rania menjawab salam Rafan seraya melontarkan pertanyaan, “Wa 'alaikumsalam. Apa Mbak Erli pergi menemui, Mas?”

“Iya, tadi siang. Memang kenapa?” Pria kekar itu balik bertanya.

“Mbak belum pulang sampai sekarang, Mas. Nia sudah mencoba menelepon tapi nomor Mbak tidak aktif,” kata Rania pelan.

Mata Rafan membulat menatap sang adik.

“Yang benar? Jangan nge-prank Mas lagi!” seru Rafan dengan suara yang meninggi.

Kedua tangan Rania saling meremas, “Rania tidak main-main Mas ... ini tu beneran, Mbak belum pulang sejak pergi tadi pagi! Ibu juga tidak tahu ke mana Mbak,” ucap Rania penuh penekanan.

Rafan kembali memakai sepatu yang baru saja dia lepas, “Ibu di mana?”

Jari Rania mengarah ke dalam dan saat gadis itu hendak berkata-kata, Rafan sudah pergi masuk ke dalam garasinya. Gadis muda itu masih menatap penasaran sang kakak.

“Kamu di mana? Kenapa tadi aku menuruti permintaanmu tadi? Aargh ... sungguh bodoh!!” Rafan memukul setir mobilnya berulang kali.

Sepanjang perjalanan mata Rafan terus melirik ke kanan dan ke kiri, berharap dapat menemukan sang istri. Tangan kirinya meraih earphone, dengan tenang dia menelepon Erli. Namun, panggilan Rafan selalu teralihkan ke kotak suara.

Ya Allah ... Di mana istriku sekarang? Lindungilah dia di mana pun dia berada, pinta Rafan dalam hati.

Setiap tempat yang disuka Erli telah di datangi, Rafan juga menelepon teman kuliah Erli yang tinggal di Jakarta.

Rafan membentur-benturkan kepalanya di setir mobil sambil berpikir keberadaan istrinya.

“Kenapa aku tidak ke pikiran tempat itu? Pasti dia ada di sana.” Bergegas dia menginjak pedal gas.

***

Suara ketukan pintu terdengar. Dengan tubuh yang lemas Erli bangkit dan berjalan sempoyongan membukakan pintu, ketika dia membuka pintu matanya melotot menatap wajah itu.

Perlahan dia berjalan mundur, hatinya tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Saat Erli ingin melangkah maju kepalanya terasa pusing kakinya tidak mampu berdiri lagi, wajahnya juga sangat pucat. Tanpa berkata-kata lagi pria itu menggendong Erli dan membawanya pergi meninggalkan rumah kontrakan yang kotor.

Setelah kepergian mobil Pajero, Rafan datang dan memeriksa kontrakan itu dengan wajah yang berhiaskan senyuman.

“Sayang, ini aku datang. Kenapa kamu tidak bilang kalau mau ke mari?” Rafan masuk ke dalam dan memeriksa beberapa ruangan sampai dia masuk ke dalam kamar, di sana dia melihat tas dan beberapa barang yang berantakan.

Rafan berlari keluar mencari tetangga terdekat untuk bertanya keberadaan sang istri.

“Tadi saya dengar Kak Erli berteriak, tapi saya tidak melihatnya keluar dan saya juga tidak mendengar keributan lagi,” kata perempuan penjaga warung.

Kecemasan terlihat jelas di wajahnya, Rafan menutup pintu mobil dan berbalik menatap rumah kecil yang di tempati Erli dulu.

“Mas, siapanya Mbak Erli?” tanya pria tua.

“Saya suaminya, Pak.”

“Sebelum sampean datang, ada seorang pria memakai jas datang ke sini dan membawa Mbak Erli pergi,” kata pria tua yang menuntun sepeda unta.

“Yang benar Pak? Lantas mobil itu pergi ke arah mana Pak?” tanya Rafan terkekeh.

“Ke sana, Nak. Kelihatannya pria itu baik,” pungkas pria tua itu.

1
it's me oca -off
semangat makkk
auliasiamatir
apa vina bakal jahat yah
👑Ria_rr🍁
begitulah kecanggungan Erli saat bersama Rafan kk, thanks ya udah baca karya acak Adul ini
auliasiamatir
lanjut... tambah keren
auliasiamatir
tuh kan, jangan bilang gak berhasrat yah fan.
auliasiamatir
yang benar rafan... tar bucin loh
auliasiamatir
erli manggil suami itu yah, mas, sayang, Hanny, suamiku.. gitu kek, ni malah manggil anda .. hum.. kamu terlalu
auliasiamatir
ya Allah rafan manis dikit kalimatnya napa sih
auliasiamatir
untung Katrin ibu yang bijak yaj
auliasiamatir
galang kamu itu usil nya yah....🙄🙄🙄
auliasiamatir
😀😀😀
auliasiamatir
rafan.... 🙄🙄🙄
auliasiamatir
mantap erli hempas kan bibit bibit pelkaor itu
auliasiamatir
penganten barunya belum sempat tempur kok tante 🤭
auliasiamatir
mimpi buruk kah
auliasiamatir
penasaran, apa yang terjadi sebelum nya.
🦢 DARAH BIRU
yang merajuk di biarkan saja begitu sampai reda sendiri 🤭

kemasan isi cerita yang menarik 💞 keren 💕semangat selalu sahabat q sayang👍
🦢 DARAH BIRU
ibu muda yang sedang gamang hatinya semoga mendapat ketetapan.

tes..
that's right answered🤭

miss you thor♥
👑Arsy Penduduk bunian🌿
kerennn 🥰🥰lanjut beb sayang 💕
TK
☕ pait untuk othor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!