NovelToon NovelToon
RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Eksplorasi-misteri dan gaib / Rumahhantu / Roh Supernatural / Mata Batin / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: Mbak Bashi

Novel ini sebuah novel kisah nyata tentang petugas yang bekerja di sebuah sawmill atau penggergajian kayu pada kisaran tahun 1997an yang letaknya di tengah hutan di daerah jawa timur

Dimana rumah tinggal petugas itu ternyata menyimpan misteri yang menakutkan, tetapi karena dia membutuhkan uang untuk biaya nikah sehingga dia tidak gentar meskipun menghadapi berbagai gangguan disana.

Kisah yang cukup mengerikan ini dikisahkan sendiri oleh mantan petugas itu kepada penulis yang merupakan masih saudara jauhnya.

Tidak ada jalan keluar, tidak ada solusi selain menghadapi gangguan yang hampir tiap malam selalu mendatanginya. Tidak ada penyelesaian selain keluar dari tempat itu.

Tetapi ada sesuatu yang membuat petugas itu enggan keluar dari sana, dan memilih bertahan disana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Bashi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22.SIAPAKAH BELIAU YANG DIMAKSUD ITU

Perjalanan menuju ke kota tempat terminal bus memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi paling tidak aku bisa ke mencari bus yang tercepat.

Dan yang pertama kulakukan adalah hubungi pak Wandi dulu untuk mengabari kematian Mamad, kemudian hubungi bos juga untuk menanyakan penggantian Mamad, dan kemudian ke bank untuk ambil uang

Kami Sudah melewati hutan, dan sekarang kami sudah ada di desa tempat aku melakukan interlokal kepada bos dan makan mie ayam.

Tapi untuk saat ini, desa ini aku lewati karena tujuan kita ke rumah teman Mamad untuk melakukan sambungan telepon kepada keluarga Mamad.

Hampir satu jam sudah perjalanan menuju ke rumah teman Mamad, hingga akhirnya  sampai juga di sebuah rumah yang sederhana tempat biasanya Mamad main apabila tidak ada kerjaan di hutan.

“Mari masuk pak Agus, saya akan telepon keluarga Mamad dulu, sampeyan tunggu disini dulu saja pak” kata pak Theodore Wagimin

“Baik pak, saya tunggu disini”

Ruang tamu rumah yang sederhana, hanya ada meja kursi dan beberapa peralatan rumah tangga yang bergeletakan di lantai, kesan pertama pemilik rumah kurang rapi

Setelah beberapa saat pak Wagimin ada di dalam dan sedang berbicara dengan orang yang merupakan keluarga dari Mamad, akhirnya pak Gimin  keluar juga dari bagian dalam rumah.

“Darsamad akan dimakamkan pukul 09.00 pagi ini, kalau seumpama pak Agus mau ke sana, lebih baik sekarang saja, karena perjalanan dari sini menuju kesana memakan waktu sekitar dua jam  kalau naik bus”

“Ini alamat rumahnya Mamad” kata pak Gimin sambil menyerahkan secarik kertas yang ditulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi

“Terimakasih atas infonya pak, saya akan interlokal kepada bos dulu tentang meninggalnya mamad, setelah itu saya akan kesana pak”

“Eh begini pak Agus, ada baiknya pak Agus tidak usah ke tempat Darsamad, jangan kesanalah pokoknya pak…eh”

“Kenapa  pak, kenapa saya tidak boleh ke rumah Mamad?”

“Eh begini, saya agak sulit jelaskannya pak, tapi pokoknya sampean ndak usah ke rumah Mamad”

“Jangan begitu pak jangan rahasiakan apa yang terjadi dengan teman saya pak”

“Pak Agus baru kenal Mamad dua hari, saya sudah kenal dia dua bulan ini. Dia selalu bercerita apabila ada sesuatu yang terjadi sini”

“Mamad selalu kesini apabila dia ditinggal pak Wandi, dia tidak pernah berani ada disana sendirian intinya”

“Apalagi kalau pak Wandi sedang interlokal, dia akan selalu ketakutan, dan dia akan pergi jalan kaki menuju ke desa seberang  sungai, dari sana ada kendaraan umum yang menuju ke sini”

“Memangnya pak Wandi kalau interlokal lama sekali to pak Gimin?”

“Kata Mamad bukan hanya lama, kadang pak Wandi tidak pulang ke rumah, pagi setelah subuh baru dia datang”

“Oalah… mangkane waktu beberapa hari lalu waktu saya ke desa untuk interlokal, tiba-tiba rumah dalam keadaan kosong, Mamad baru ada di rumah waktu pagi hari”

“Iya pak Agus, waktu itu dia kesini, ke rumah saya, dan sebelum subuh sudah saya antar lagi ke sini” kata pak Gimin

“Lalu alasan apa saya tidak boleh ke rumah Mamad pak Gimin?”

“Oklah akan saya ceritakan yang Mamad katakan kepada saya pak. Dia sempat telepon ke saya sewaktu di terminal menunggu bus datang”

“Jadi begini, kata Mamad pak Agus lihat kuburan ghaib yang ada di tengah hutan itu kan?”

“Iya pak, saya lihat di tengah hutan”

“Kata Mamad masyarakat disini mempercayai apabila ada yang lihat kuburan itu maka orang di sekelilingnya akan mati. dan itu tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali”

“Nah ketika malam hari sebelum banjir bandang, kalian berdua kan lihat penampakan mbah Karyo. malamnya waktu kalian sampai rumah, Mamad mencium bau busuk, benar kan?”

“Iya pak Gimin, benar kami melihat penampakan itu, dan Mamad katanya juga mencium bau busuk” jawabku

“Sik pak Agus, waktu ada penampakan mbah Karyo, apakah pak Agus merasa dibisiki sesuatu, atau mendengar sesuatu?”

“Tidak pak Gimin, saya tidak mendengar sesuatu sama sekali”

“Berbeda dengan Mamad, dia mendengar suara  yang menyuruh dia untuk segera pergi dari rumah itu”

“Suara itu hanya sekali saja, dan kata Mamad suara itu adalah suara mbah Karyo!”

“Ketika sampai di belakang rumah dia mencium bau busuk, dan dia merasa ini tandanya dia diusir dari rumah itu!”

“Makanya dia izin pulang sehari kepada pak Agus, tetapi rencananya dia tidak akan kembali lagi ke rumah itu, tapi ternyata nasib berbeda, dia meninggal tertabrak bus karena mencoba melarikan diri dari sana”

“Kenapa Mamad tidak membolehkan saya ke rumah nya pak” tanyaku penasaran

“Dia sudah wanti-wanti, pokoknya pak Agus jangan sampai ke rumahnya, dan alasanya dia takut kalau pak Agus diikuti sesuatu. Amanah Mamad harus saya sampaikan ke pak Agus kan”

*****

Aku ada di sebuah wartel yang dekat dengan terminal bus, dimana saat ini belum ada bus yang datang dari arah timur. Setahuku untuk menuju ke kota Mamad itu mudah, karena tiap bus yang dari arah timur biasanya melewati kota Ngjk.

Tapi setelah tadi mendengarkan cerita dari pak Gimin, dan  amanah  dari Mamad bahwa aku tidak boleh kesana, maka ya aku tidak akan ke sana.

aku akan telepon ke pak Wandi dan bos saja, setelah itu ndak tau apa yang bisa aku lakukan lagi.

*****

“Inalillahi wainailaihi rojiun…. kamu segera telepon bos saja Gus, kabari secepatnya dan tanya juga apa yang harus kamu lakukan, apakah kamu harus ke rumah Mamad atau tetap jaga di penggergajian kayu”

“Karena sekarang kan tinggal kamu sendirian yang disana, sementara takutnya ada kiriman solar atau gelondongan atau ada kegiatan pemotongan” kata pak Wandi

“Kemungkinan hari ini tidak ada kegiatan penggergajian pak Wandi, karena kemarin lusa ada karyawan kita yang meninggal juga, namanya mbah Karyo”

“Inalillahi wainailaihi rojiun, Pak Karyo juga meninggal Gus….ya Allah….. kenapa minta lagi beliau itu….”

“Siapa yang minta lagi pak?” tanyaku penasaran

Aneh kenapa omongan pak Wandi tidak dilanjutkan, apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh pak Wandi tentang rumah penggergajian itu

“Eh tidak..tidak ada… Eh lebih baik kamu sekarang telepon saja ke bos, dan katakan apa yang terjadi disana, dan ingat jangan ada yang ditutup-tutupi”

“Eh sekarang saja kamu telepon bos, saya tunggu kabar dari kamu mas” kemudian pak Wandi menutup teleponnya

Kubuka tasku dan kucari buku notes kecil yang berisi nomor telepon telepon penting,  kemudian kuputar nomor bos yang bernama Jayanto. Ndak tau siapa nama chinanya, tetapi nama dia yang disebutkan oleh pak Wandi adalah Jayanto.

*****

“Lebih baik kamu tidak usah ke sana, jaga penggergajian. Di hutan itu banyak orang yang minat pada mesin diesel dan satu set alat gergajinya. kamu sekarang ambil uang dan kemudian balik ke sana, kata pak bos seperti itu pak Wandi”

“Dan saya tidak boleh pergi dari sini pak, apabila saya pergi dan ada kerusakan atau barang yang hilang maka akan menjadi tanggung jawab saya”

“Begitu tadi perintah pak Jayanto pak Wandi”

Kulaporkan pada pak Wandi apa yang tadi aku dan bos Jayanto bicarakan

“Wah kurang ajar juga Jayanto itu, benar-benar tidak berkeperimanusiaan”

“Ya sudah kamu turuti saja apa kata bos mas, dan sekarang segera ke bank untuk ambil uang, kemudian kamu standby di sana hingga bos dapat penggantinya Mamad” jawab pak Wandi

“Baik pak, saya akan balik ke rumah saja pak”

Setelah menyudahi pembicaraan, aku pergi dari wartel ini  menuju ke rumah tengah hutan

Dalam perjalanan pulang aku mampir ke Atm dulu untuk mengambil uang yang akan digunakan untuk membayar solar yang katanya nanti malam akan datang, dan bahkan mungkin juga kayu gelondongan juga akan datang.

Ketika aku  sampai  rumah suasana terasa berbeda, apalagi ketika aku masuk ke dalam rumah dan Mamad sudah tidak ada disini lagi.

Meskipun aku  baru mengenal Mamad beberapa hari saja, tapi rasanya dia itu orang paling rajin dan baik yang kukenal.

Kujatuhkan tubuhku di atas tempat tidur dan kutatap langit-langit kamar, suara burung yang berkicau di luar sana seolah mengatakan… “rasakan sekarang kamu sendirian di rumah ini, rumah yang akan membuat mimpi buruk terjadi….”

“Duh perutku lapar sekali… magku bisa bisa kumat ini” gumamku ketika kurasakan bahwa magku mulai terasa sakit

Aku menuju ke dapur,  ternyata di dapur sama sekali tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak, semua habis termasuk beras pun sudah habis.

Kenapa tadi waktu di kota aku tidak belanja bahan makanan sih,  kalau sudah seperti ini kan yang susah aku juga.

Lebih baik aku beli bahan makanan yang ada di desa sebelah sungai saja, sekalian kabari kalau Mamad sudah meninggal

Tapi aku tidak kenal siapapun pekerja disini, hanya pak Solikin yang kukenal, karena pernah dikenalkan oleh Mamad sebagai istilahnya komandan para pekerja lah

Tapi aku tidak tau dimana rumah pak Solikin, atau lebih baik ke rumah keluarga pak Karyo saja, dari sana nanti pasti akan diarahkan ke tempat tinggal pekerja yang lain.

Berjalan menuju ke desa sebelah sungai itu sebenarnya suatu kenikmatan dan memanjakan mata, karena sepanjang kita jalan pemandanganya bagus perpaduan antara hutan yang ada di sisi kiri.

Pemandangan sisi kiri yang tampak kontras dengan di sisi kanan yang ada hanya semak belukar dengan beberapa pohon yang besar saja.

Tetapi apabila malam hari mamang suasana disini lebih mencekam, yah wajarlah karena selain gelap , di sekitar sini kan lumayan ngeri juga sungainya.

Aku sudah tiba di jembatan yang memisahkan daerah hutan dengan desa yang masih asri, ku seberangi jembatan ini tanpa rasa takut. Rasa takut yang timbul ketika bersama Mamad ketika ada sungai ini meluap.

Akhirnya aku tiba di desa, siang ini di desa ini nampak sepi sekali, hanya ada beberapa penduduk yang sedang ada di depan rumahnya.

Aku menuju ke  rumah mbah Karyo karena aku belum pernah kerumah pekerja penggergajian yang ada di desa ini kecuali rumah almarhum mbah Karyo saja.

“Assalamualaikum”  teriaku di depan rumah mbah Karyo yang nampak sepi

“Assalamualaikum…..” kuulangi lagi teriakanku karena belum ada jawaban dari dalam rumah

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab seorang perempuan yang membuka pintu rumahnya setelah beberapa kali kuucapkan salam

“Permisi bu… saya Agus yang bekerja di  penggergajian seberang sungai itu bu. eh Saya mau tanya rumah pak Solikin dimana ya bu?”

“Oh iya mas, mas ini yang bersama Mamad yang kemarin  kasih kabar apabila ada banjir akibat sungai meluap itu ya” kata wanita tua yang keluar dari rumah dan menuju ke arahku

“Inggih bu,  saya hanya mau memberi kabar kepada teman yang bekerja di penggergajian, eh Mamad kemarin meninggal dunia akibat kecelakaan di desanya bu”

“Inalilahi wainalilahi rojiun”

“Kenapa jadi beruntun begini ya, jangan-jangan beliau meminta ….. ah sudahlah"

"Eh pak Agus lihat itu ada rumah yang ada warnanya putih, nah itu rumah dari pak Solikin, nanti ceritakan saja apa yang terjadi nak” kata wanita tua itu"

“Beliau itu siapa ya bu kalau saya boleh tau, soalnya pak Wandi pun berkata yang sama dengan ibu, hanya saya saya kelihatannya tidak boleh tau siapa  beliau itu bu”

“Hmm bagaimana ya cara jelaskannya, karena memang sulit untuk dijelaskan mas. Eeehh lebih baik masnya tidak usah tau saja, nanti suatu saat masnya akan tau sendiri kok.

Setelah berterimakasih aku kemudian menuju ke rumah yang tadi ditunjuk oleh wanita tua yang kemungkinan besar adalah istri dari almarhum mbah Karyo.

1
Euiskomalawati
ceritanya terlalu lebay gak jelas
Hasan Basri
cerita nya kok nguber Thor..jangan terlalu sinetron lah ,gamblang ,elegan supaya mudah dimengerti..singkat padat dan puas begitu..daripada panjang ,mutar2..dan jenuh
Wahyu ningsing
Jane lho Thor rumah penggergajian Kii aman OPO ora nggo dua sejoli kui...kadang diwarah aman, ternyata Sik diuber penjahat ...kok membangongkan
Anggun Gayatri
heheeh min sy stop baca.
muter2 bosen
Minartie
alangkah bagusnya kalau dinuat cerita bari
Minartie
maaf sebenarnya ceritanya sangat bagus tapi sepertinya dipaksakan ngak ada habisnya....berbelit belit muter muter
Minartie
Terlalu rumit
Minartie
Sipp lanjut mbak👍👍👍🐴
Minartie
TERLALU BERBELIT BELIT
Minartie
kunyuk apa udah ketangkep
Minartie
mas Agus nyasar kali ???
Minartie
cerita menarik puolll
Minartie
mas Agus mas Agus kok ngilani .....
Minartie
sapa itu gus....kok ceroboh kamu...
Minartie
makasih
Minartie
bagua banget
Mirnawati
/Drool/
Anton Tony
Luar biasa
ᴊʀ ⍣⃝☠️​
knp g Agustus sj sekalian🤭
Siti Ma'rofah
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!