Natasha Finding Love
_________________
"Saya masih single bukan karna susah move on. Saya masih single karna saya sedang menyiapkan diri untuk orang yang mengharapkan saya dalam doanya," ~ Natasha
"Kalau memang kamu jodohku, biarlah waktu yang menjawabnya. Tapi bila tidak, semoga kita bahagia dengan jalan kita masing-masing," ~ Raka
Karena has rat sesaat, Natasha harus menanggung perbuatannya.
_________________
Novel ini adalah lanjutan dari novel
Pertama~ My Butler
Kedua~ Sekar & Raja Phinisi
Ketiga~ My Personal Tour Guide
_________________
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RenMk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditelan Bumi
Mendengar nama Raka, Sasa kembali mengingat seluruh cerita yang diucapkan oleh Joy.
“Udah balikan dia sama mantannya,” ucap Sasa dengan wajah tertekuk.
“Darimana kakak tahu kalau mas Raka balikan sama mantannya?” tanya Bondan penasaran sambil menjatuhkan pantatnya untuk duduk di samping Sasa.
“Dari mas Joy. Dari mana lagi kalau bukan dari dia,” ketus Sasa tidak suka membicarakan hal itu.
Sedangkan Bondan yang mendengar jawaban itu justru menanggapi dengan senyuman mengejek.
“Terus kakak percaya sama orang itu?” Tanya Bondan membuat Sasa mengerutkan alisnya. Sejauh ini cerita Joy mengenai Raka dan Gadis hanya sebatas ucapan saja. Tidak ada bukti foto atau video tentang Raka dan Gadis yang pernah Joy tunjukan. “Mending kakak cari tahu sendiri soal hal itu. Kak Sasa kan tahu kalau mas Joy suka kakak, siapa tahu aja itu cuma karangan mas Joy doang buat bikin kak Sasa kesel dan benci mas Raka,” saran Bondan membuat Sasa berfikir. Nalarnya mulai berjalan mungkin saja ucapan adiknya itu benar.
“Betul juga sih… Tapi gimana mau contact mas Raka nya?... Kayanya dia ganti nomor juga. Soalnya aku pernah coba mau nelpon buat ngasih ucapan selamat karna udah balikan sama mantannya, tapi nomornya ga aktif,” sambung Sasa mengingat hal itu.
“Hmm…… Ya kak Sasa samperin aja ke Bintan di villa resortnya itu. Lagi pula masih di wilayah Indo. Gak jauh-jauh amat. Ngejar om Deni breng seek sampai ke Melbourne aja sanggup, masa nyamperin mas Raka di Bintan ga bisa?!” saran Bondan sedikit gemas dengan kakaknya.
“Tapi jadwalku padat banget, 6 bulan ke depan. Belum lagi membagi waktu buat ngurus Al,” ucap Sasa memijit kepalanya. “Kamu dong Ndan… tolongin aku buat nyamperin mas Raka di Bintan,” bujuk Sasa mengkedip kedipkan matanya kepada Bondan. “Dari dulu kan kamu ngebet buat jodohin mas Raka ke kakak…” Sasa mencolek – colek pipi adiknya. “Ntar aku booking in tiket buat pergi ke Bintan, okeh…” Sasa terus-terusan memohon agar Bondan mengabulkan permintaannya.
“Iya… tapi ga gratis ya…” Bondan mulai memikirkan sesuatu sebagai imbalan yang ingin dia minta.
“Iya… apa aja boleh,” timpal Sasa merasa senang karena Bondan mau membantunya.
Akhirnya setelah beberapa hari kemudian, Bondan terbang ke Bintan menuju Luxus Resort tempat Raka tinggal. Tapi rupanya setelah mengkorek informasi, sudah hampir 2 tahun Raka tidak tinggal di Bintan. Hanya setiap beberapa bulan sekali Raka akan mengunjungi resortnya itu.
Drrtt… Drrtt… Drrtt… Handphone Sasa bergetar saat dirinya menyu sui anaknya.
“Hallo… kenapa, Ndan?” sapa Sasa sambil mengepuk epuk pan tat Al.
“Hai kak! Ada 2 info nih yang aku dapet. Mau dengar info yang mana dulu nih…? Info bagus… atau info buruk?” tanya Bondan membuat Sasa penasaran.
“Info apa tuh? Kasih tahu dong! Dah ga sabar nih,” balas Sasa.
“Okeh… aku mulai dari info buruknya aja ya… Info buruknya aku gak ketemu mas Raka. Salah satu karyawan di sini bilang mas Raka udah hampir 2 tahun tinggal di luar negeri,” ucap Bondan membuat Sasa menerka-nerga di negara mana Raka tinggal saat ini.
Jangan-jangan dia tinggal di Prancis atau Italy… atau mungkin Spain sama Gadis. Huft… batin Sasa menjadi pesimis.
“Berita bagusnya katanya 9 bulan lagi mas Raka bakal balik ke Bintan buat ambil alih secara penuh perusahaan bokapnya.”
“Hmm… masih 9 bulan lagi ya kayak nungguin orang hamil,” ucap Sasa tambah lesu karena harus menunggu berbulan-bulan bila ingin bertemu Raka.
“Seenggaknya kan ada kepastian kalau mas Raka bakal balik ke Indo lagi kak,” timpal Raka mencoba memahami perasaan kakaknya. “Dan yang paling penting… karyawan-karyawan di sini waktu aku tanyain status mas Raka masih single atau enggak, mereka bilang mas Raka masih single… Jadi harus tetap semangat…! Kali ini kak Sasa yang harus nunjukin sikap buat ngedapetin mas Raka. Dulu kan mas Raka udah mencoba buat deketin kak Sasa, tapi kan kakak justru acuh dan milih om breng seek itu,” ucap Bondan dengan enteng.
Percakapan Sasa dan adiknya itu terpaksa berhenti ketika Sasa mendengar keributan di depan villanya.
“Siapa sih itu?... Hm… Al, cup cup cup… bobok sayang ya…” Sasa menidurkan bayinya di bed. Al melepas dot assii mamanya dengan mata perlahan – lahan mulai menutup.
“Hehh… mam ma…” bayi mungil itu mulai tertidur setelah kenyang meminta assii.
Setelah Sasa tengok dari jendela ruang tamu, rupanya ada Joy yang sedang beradu mulut dengan laki-laki paruh baya.
“Ngomongin soal apa sih kok mukanya sama-sama garang kayak gitu?” ucap Sasa.
Ceklek… Sasa mulai membuka pintu villanya.
“Mas Joy…” sapa Sasa menatap Joy dan seorang laki-laki paruh baya yang ada di samping Joy.
“Sa…” Joy melangkah mendekati Sasa.
Tapi langkahnya itu terhenti karena bahu Joy dicengkram Oleh laki-laki itu.
“Joy! Jangan. Papi belom siap,” ucap laki-laki itu dengan wajah paniknya.
Sasa semakin tidak mengerti dengan percekcokan mulut yang terjadi di depan villanya ketika menyadari laki-laki itu adalah orang tua Joy.
“Pap!... Ini udah keterlaluan. Sasa berhak tahu semuanya! Mau sampai kapan papi menutupi kenyataan?!” Ucap Joy mengeluarkan kekesalannya.
Ini adalah pertama kalinya Joy menampakan emosi di depan Sasa. Sasa menerka nerka kalau ada hal serius yang menjadi perdebatan ayah dan anak itu.
“Mas Joy… sebenarnya ada apa?” Sasa berjalan mendekati papinya Joy. Dia merangkul bahu laki-laki paruh baya itu agar amarahnya tidak terpancing karena Joy membentak berkali-kali. “Om, sabar ya. Jangan dimasukan hati,” ucap Sasa mengusap punggung laki-laki itu. Setelah beberapa saat, diam-diam tangan Sasa mencubit lengan Joy dengan sorot mata tajam menunjukan kalau dirinya tidak suka dengan sikap Joy yang dia anggap terlalu keras kepada orang tua.
Sikap Sasa yang terasa baik terhadapnya, membuat papinya Joy justru menangis. Karena terbawa perasaan, laki-laki itu justru menghamburkan pelukannya kepada Sasa.
“Om…?” Sasa merespon dengan membalas balik pelukan laki -laki itu. “Mas Joy sih galak banget sama papi sendiri!” ucap Sasa dengan bibirnya bersungut- sungut. “Tenang, om. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Kita masuk ke dalam yuk! Kita bicarain baik-baik,” ucap Sasa mengusap air mata yang membasahi pipi papinya Joy. “Mari, om masuk ke rumah saya. Nanti kalau mas Joy keterlaluan banget, biar saya marahin,” ucap Sasa dengan senyumnya.
“Natasha…” sapa laki-laki itu menghentikan langkah kaki Sasa. “Apa papi mu ini berhak masuk ke rumah mu setelah sekian tahun meninggalkan mu sendiri?” tanya laki- laki itu.
Sasa cukup bingung mendengar kalimat itu. Dia mencerna kalimat itu berulang kali.
“Maksudnya…?” Tanya Sasa membagi pandangannya kepada laki-laki itu dan Joy.
“Sa... papi ku ini adalah papi kandung mu.”
Ucapan Joy itu masih saja tidak dimengerti oleh Sasa. Beberapa detik Sasa memandangi wajah laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya.
“Jadi… Heghh—” Sasa sedikit terhuyung karena syok menyadari laki-laki itu adalah ayah kandungnya.
Melihat Sasa yang hampir pingsan, Joy dan papinya segera membawa Sasa masuk ke dalam rumah. Keduanya memberi pertolongan agar Sasa tidak berlanjut pingsan.
“Minum, Sa. Habiskan airnya,” ucap papinya.
Sasa terus-terusan memandangi wajah laki-laki yang ada di sampingnya itu. Joy yang ada di belakang sofa juga memberi pijatan di kepala Sasa.
“Dimana aja anda selama ini? Kata daddy Bimo saat mama Jesslyn mengandung, anda ninggalin mama kandung saya,” ucap Sasa dengan suara sedikit berat. Dia masih syok dengan kedatangan laki laki itu beserta pengakuannya.
“Maafin papi, Natasha. Kejadiannya mirip dengan kasus kamu dan Deni. Papi dan maminya Joy sempat berpisah kurang lebih 10 tahun lamanya. Rupanya waktu kami berpisah, dia mengandung Joy. Setelah Joy cukup besar, papi bertemu lagi dengannya. Tapi waktu itu papi menjalin hubungan dengan mama mu Jesslyn. Awalnya papi enggak tahu kalau mama mu hamil,” jelas laki laki itu. “Maafin papi ya, Sa. Bukannya papi gak peduli sama kamu. Tapi sebagai rasa berterima kasih dengan daddy mu Bimo, papi membiarkannya merawatmu karena papi tahu dari mama mu Jesslyn kalau Bimo mengidap masalah fertility (kesuburan),” ucap laki-laki itu menunjukan rasa bersalahnya karena sudah bertahun- tahun menyembunyikan rahasia.
Joy yang mendengar ucapan papinya pun menjadi lega karena sudah beberapa hari setelah dia mengetahui kebenaran itu papinya menolak untuk memberi pengakuan. Tapi pada akhirnya saat ini kebenaran itu sudah diketahui oleh Sasa.
“Mulai saat ini, papi harap kamu… Joy… jangan mengejar Sasa lagi. Kalian kakak beradik. Selama ini papi diam karena papi tahu Sasa gak ada rasa sama kamu,” ucap laki-laki itu mencubit lengan Joy.
Melihat kejadian itu, Sasa pun tersenyum kecil.
“Papi udah buat pengakuan ke Natasha. Sekarang gantian kamu Joy!... Kamu jadi laki-laki jangan kayak gitu! Teman makan teman! Itu namanya kamu nikung Raka!”
Sasa menyipitkan matanya memahami kalimat itu.
“Iya, pi. Nanti aku ngomong ke Raka. Tapi sebenarnya udah lama aku gak dengar kabar soal Raka. Dia kayak menghilang ditelan bumi,” timpal Joy mulai duduk di samping Sasa.
“Maksudnya? Ada hal apa lagi yang belum aku tahu?... Bukannya mas Joy bilang kalau mas Raka udah balikan sama mantannya? Hampir tiap hari kan mas Joy selalu cerita soal mas Raka sama ceweknya sekarang. Kok… tiba-tiba jadi bilang udah lama gak dengar kabar mas Raka?” tanya Sasa bingung.
*****
Bersambung…
*****
Jangan terlalu mencolok di mata orang
Jaga jarak ke Raka sha, jual mahal sedikit tidak masalah
'maaf Sa aku g tau Gadis diajak kesini'
atau, 'udahlah Pa, Ma.. sekarang aku in relationship dg Sasa. Gadis cm masa lalu, gak perlu diungkit lagi. Tolong hargai Sasa'
ini cuma dag deg aja, hadeeeeeh