“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Bab 3: Aroma Bensin dan Rahasia di Bawah Lampu Jalan
Deru mesin motor sport hitam itu menderu pelan, memecah kesunyian malam yang baru saja dibasahi oleh sisa hujan sore tadi. Bau bensin dan aspal basah menguap ke udara, berpadu dengan dinginnya angin malam yang menerpa pinggiran kota. Keisha duduk kaku di boncengan belakang. Kedua tangan kecilnya mencengkeram erat besi pegangan di bawah jok, menjaga jarak sejauh mungkin agar tubuhnya tidak bersentuhan dengan jaket kulit Rangga.
Namun, laju motor yang sesekali melewati tikungan tajam membuat tubuhnya terpaksa beberapa kali hampir menubruk punggung bidang di depannya. Setiap kali hal itu terjadi, jantung Keisha berdegup sepuluh kali lebih cepat.
"Kalau mau pegangan, pegang jaket gue. Jatuh di kecepatan segini akibatnya fatal, Keisha," suara berat Rangga terdengar menembus helm full-face yang ia kenakan, mengalahkan suara angin malam.
Keisha menggigit bibirnya di balik helm cadangan yang terasa sedikit kebesaran di kepalanya. "S-saya bisa jaga diri, Kak," jawabnya setengah berteriak agar terdengar oleh Rangga.
Rangga tidak membalas ucapannya dengan kata-kata, melainkan menarik gas sedikit lebih dalam, membuat motor melesat lebih cepat di atas jalanan aspal yang hitam mengkilap. Pria itu tahu betul Keisha sedang ketakutan setengah mati, tetapi ada kepuasan tersendiri bisa membawa gadis itu keluar dari zona nyamannya—membawanya masuk ke dunianya yang bising dan penuh aturan rimba.
Lima belas menit kemudian, motor berbelok tajam memasuki sebuah area ruko tua di sudut kota yang sudah tutup. Tempat itu tampak sepi, remang-remang, dan jauh dari kawasan pemukiman padat. Di bagian belakang bangunan, lampu neon kuning berkedip redup, menerangi beberapa anak muda berpakaian serba hitam yang sedang duduk-duduk di atas jok motor mereka sambil merokok dan tertawa lepas.
Markas Black Raven.
Begitu motor Rangga memasuki halaman, suasana yang tadinya riuh mendadak mendadak hening. Semua kepala menoleh ke arah gerbang. Anggota geng motor yang tadinya bersantai langsung berdiri tegak, melemparkan pandangan hormat sekaligus penuh rasa penasaran ke arah pengendara utama mereka.
Lebih tepatnya, pandangan mereka terpaku pada sosok gadis yang turun dari boncengan ketua mereka.
Keisha melepas helmnya dengan tangan sedikit gemetar. Ia merapikan rambutnya yang agak berantakan karena angin, lalu berdiri mematung di samping motor, merasa seperti domba yang tersesat di kandang serigala. Puluhan pasang mata menatapnya dengan berbagai macam ekspresi—ada yang terkejut, heran, bahkan ada yang menatap dengan sorot menyelidik.
"Bos? Serius nih? Lo bawa anak sekolah ke markas?" tanya Satria dengan nada tak percaya, melangkah mendekat sambil membuang puntung rokoknya ke tanah lalu menginjaknya hingga padam. Ia menatap Keisha dari atas sampai bawah, lalu kembali menatap Rangga dengan alis terangkat sebelah.
Rangga turun dari motornya dengan gerakan santai. Ia melepas helmnya, menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari tangan kirinya, lalu menatap tajam ke arah Satria. "Ada masalah sama pilihan gue, Sat?"
"Bukannya masalah, Bos," balas Satria cepat, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah seraya tersenyum miring. "Cuma aneh aja. Biasanya tempat ini cuma diisi sama bau oli, asap rokok, sama rencana perang lawan Viper. Sekarang malah kedatangan siswi teladan peraih beasiswa teladan SMA Nusantara. Takutnya mentalnya ciut kena debu markas kita."
Mendengar sindiran halus itu, harga diri Keisha terpancing. Meskipun lututnya masih terasa lemas dan ia ingin sekali berlari pulang, ia tidak ingin diremehkan begitu saja di hadapan sekumpulan preman jalanan ini.
Dengan dagu sedikit diangkat, Keisha memberanikan diri bersuara, meskipun suaranya masih terdengar agak parau. "Saya ke sini bukan atas kemauan saya sendiri. Kak Rangga yang memaksa saya ikut."
Suasana di sekitar markas mendadak senyap sesaat. Beberapa anggota Black Raven yang tadinya berbisik-bisik langsung terdiam membeku. Tidak pernah ada seorang pun—bahkan wakil ketuanya sendiri—yang berani memotong atau mendebat ucapan Rangga dengan nada menantang seperti itu di hadapan umum.
Satria terbelalak kaget, lalu menoleh cepat ke arah Rangga, menunggu amarah sang ketua meledak.
Namun, di luar dugaan semua orang, Rangga justru terdiam. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat langka. Alih-alih marah karena harga dirinya dilawan oleh seorang gadis kecil, mata kelam Rangga justru memancarkan kilatan ketertarikan yang semakin dalam.
"Tuh, lu dengar sendiri," ucap Rangga santai kepada Satria, lalu melirik ke arah Keisha. "Dia bilang dia dipaksa. Padahal aslinya emang dia nggak punya pilihan."
Keisha mendengus kesal dalam hati. Pria ini benar-benar menyebalkan! Menyadari bahwa dirinya terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan, Keisha memilih menatap langsung ke arah Rangga dengan sorot mata protes.
"Kalau saya sudah sampai di sini dan aman dari hujan, sekarang saya mau pulang, Kak. Rumah saya jauh, dan ibu saya pasti sudah menunggu," kata Keisha tegas, berusaha mengabaikan debaran jantungnya yang kembali berulah akibat jarak mereka yang terlalu dekat.
Rangga menatap manik mata Keisha yang memantulkan cahaya lampu neon markas. Ada keteguhan di sana—sesuatu yang jarang ia temukan pada orang-orang di sekitarnya yang selalu tunduk karena takut atau mencari muka.
"Bara," panggil Rangga tanpa mengalihkan pandangannya dari Keisha.
"Ya, Bos?" jawab Bara, anggota berbadan tegap yang sejak tadi berdiri di dekat pintu gudang.
"Ambilkan jaket cadangan di dalam laci meja kerja gue, sama sebotol air mineral dingin," titah Rangga.
"Siap, Bos!" Bara langsung berbalik dan berlari kecil memasuki ruangan dalam markas.
Keisha mengernyitkan dahi, bingung. "Buat apa jaket sama air? Saya mau pulang, bukan mau piknik."
"Malam ini anginnya dingin, dan muka pucet lo itu kelihatan banget kalau lo sebenarnya lagi nahan lapar sekaligus syok berat," ujar Rangga tenang. Ia melangkah mendekati Keisha, membuat gadis itu reflek mundur hingga punggungnya membentur jok motor besar yang terparkir di belakangnya. Ruang gerak Keisha kini terkunci sepenuhnya di antara tubuh tinggi Rangga dan bodi motor.
Bau maskulin yang khas kembali memenuhi indra penciuman Keisha. Napasnya tercekat. Jarak mereka kini kurang dari setengah meter.
"Dengerin baik-baik, Keisha," bisik Rangga pelan, tepat di dekat telinga gadis itu, membuat suara bising di sekitar markas mendadak lenyap dari pendengaran Keisha. "Mulai hari ini, hidup lo nggak akan sesederhana dulu lagi. Lo sudah lihat apa yang seharusnya nggak lo lihat di parkiran sekolah tadi pagi. Anak-anak Viper di luar sana bukan cuma sekadar geng motor biasa; mereka tahu kalau ada orang lain yang sempat memergoki transaksi mereka, dan mereka bakal cari siapa pun yang ada di sekitar tempat kejadian."
Mendengar kata-kata itu, darah Keisha mendadak terasa membeku. Seluruh keberanian semu yang ia kumpulkan seketika menguap. "Maksud... maksud Kakak, mereka juga mengincar saya?" tanyanya dengan suara bergetar hebat. Rasa takut yang sebenarnya kini mencengkeram dadanya dengan kuat.
Rangga menatap manik mata Keisha yang mulai berkaca-kaca. Ada rasa iba yang asing menyelinap di balik dada bidang pria itu, perasaan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapapun seumur hidupnya. Dengan perlahan, Rangga mengangkat tangan kanannya, ragu-ragu sejenak, lalu menepuk puncak kepala Keisha dengan lembut.
"Selama lo ada di bawah pengawasan gue, nggak akan ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuh sehelai pun rambut lo," ucap Rangga penuh penekanan, sebuah janji mutlak yang diucapkan dengan nada suara paling serius yang pernah didengar oleh anak-anak Black Raven.
Satria dan anggota geng lainnya yang melihat interaksi itu dari jarak beberapa meter hanya bisa saling bertukar pandang dengan ekspresi terperangah. Mereka mengenal Rangga sebagai sosok pemimpin yang dingin, kejam di jalanan, dan tidak peduli pada urusan perempuan. Melihat ketua mereka memperlakukan seorang siswi biasa dengan begitu protektif adalah pemandangan paling mustahil di dunia ini.
Beberapa saat kemudian, Bara datang membawa jaket kulit hitam berukuran sedang dan sebotol air mineral, menyerahkannya dengan hati-hati kepada Rangga.
Rangga menerima benda-benda itu, lalu menyampirkan jaket hitam tersebut ke bahu Keisha yang tampak kedinginan. Ukuran jaket itu tentu saja terlalu besar untuk tubuh mungil Keisha, membuatnya tampak tenggelam di balik balutan kulit hitam berat berlogo sayap gagak. Namun anehnya, jaket itu langsung memunculkan kehangatan instan yang menepis udara dingin malam.
"Pakai. Jangan dibantah," kata Rangga ketika melihat Keisha hendak membuka jaket tersebut.
Keisha menarik napas panjang, menyerah pada keadaan. Ia merapatkan jaket di tubuhnya, merasakan aroma khas milik Rangga yang mengurung seluruh indranya. Rasa takut itu memang belum sepenuhnya hilang, tetapi ada perasaan aman yang aneh dan membingungkan yang kini mulai merayap di lubuk hatinya.
"Sekarang, gua antar lo pulang," ujar Rangga final, membalikkan badan dan kembali menaiki motor sport hitamnya. "Naik, Keisha."
Tanpa banyak bicara lagi, Keisha melangkah pelan dan kembali naik ke boncengan belakang. Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan kota yang basah, perjalanan pulang terasa jauh berbeda dari biasanya. Di balik deru mesin motor yang membelah jalanan sepi, dua jiwa yang berasal dari dunia yang bertolak belakang kini terikat dalam satu rahasia gelap yang tak terelakkan.
Sesampainya di sebuah gang sempit di kawasan perumahan padat penduduk tempat Keisha tinggal, motor Rangga berhenti tepat beberapa meter sebelum memasuki jalan masuk rumah. Keisha meminta untuk turun di ujung gang agar tidak menimbulkan kecurigaan para tetangga jika melihat seorang ketua geng motor berandal mengantar seorang siswi teladan malam-malam begini.
Keisha turun dari motor, melepas helm cadangan itu dan menyerahkannya kembali kepada Rangga dengan tangan sedikit canggung.
"Terima kasih... Kak Rangga, buat tumpangan dan jaketnya. Besok di sekolah akan saya kembalikan," ucap Keisha pelan, menundukkan pandangannya ke aspal.
Rangga menerima helm tersebut, lalu memasangkannya di spion motor. Ia menatap gadis di hadapannya lekat-lekat di bawah temaram lampu genteng warga yang berpendar kekuningan.
"Masuklah ke rumah, kunci pintunya rapat-rapat, dan jangan keluar lagi malam ini," pesan Rangga dengan nada suara yang melembut namun tegas. "Besok pagi, tunggu di halte dekat taman kota jam enam lewat seperempat. Gua jemput."
Keisha langsung menggeleng cepat. "Eh? Nggak usah, Kak! Saya bisa berangkat sendiri naik angkutan umum seperti biasa!"
Rangga mendengus pelan, menampilkan senyuman miring yang khas. "Itu bukan pertanyaan, Keisha. Itu perintah."
Sebelum Keisha sempat melayangkan protes protes panjang lebar, Rangga sudah memutar gas motornya. Kendaraan itu melesat meninggalkan gang sempit tersebut, meninggalkan suara deru knalpot yang perlahan menjauh di telan keheningan malam.
Keisha berdiri terpaku di tempatnya, kedua tangannya merapatkan jaket kulit hitam besar yang masih melekat di tubuhnya. Aroma tembakau dan mint masih tercium samar dari kain tersebut. Ia menatap kosong ke arah jalanan kosong tempat motor itu tadi menghilang, sementara debaran di dadanya semakin tak karuan.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hidupku? batin Keisha, menyadari bahwa dunianya yang tenang dan lurus kini telah resmi berubah selamanya sejak ia menatap mata kelam sang ketua geng di koridor sekolah pagi tadi.