"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 26, Sahabat.
Malam turun perlahan seperti selimut beludru yang membentang di atas langit Jakarta. Di rooftop rumah sewa tiga lantai itu, aroma daging panggang bercampur asap arang masih menggantung di udara. Lampu-lampu kecil yang melilit pagar besi memancarkan cahaya keemasan, sementara kipas angin tua di sudut ruangan berputar malas menghalau hawa hangat yang masih tersisa.
Di atas meja lipat sederhana berserakan tusuk sate, jagung bakar yang tinggal separuh, kaleng minuman, serta piring kertas yang menjadi saksi obrolan panjang tiga sahabat yang seolah tak pernah kehabisan topik.
Malam itu, Irene akhirnya mengetahui alasan koper Anna berada di kamar Sherly.
"Aku sama Mas Jeevan sudah resmi pisah rumah."
kalimat sederhana itu membuat Irene yang sedari tadi sedang menggigit sosis bakar berhenti mengunyah.
Tatapannya bergantian antara Anna dan Sherly.
Sherly hanya mengangguk pelan, memberi syarat bahwa kabar itu memang benar.
"Serius?" tanya Irene kaget.
Anna mengangguk sambil tersenyum kecil. "Iya."
Irene meletakkan garpu plastiknya. "Aku boleh marah, gak?"
Anna tertawa pelan. "Boleh."
"Kok kalian cerai tanpa rapat keluarga dulu?"
Sherly langsung mengangkat tangan. "Aku juga protes! Minimal bikin grup WhatsApp korban perceraian Anna dulu."
Anna menggeleng sambil menahan tawa. "Kalian ini...."
Percakapan malam itu berlangsung panjang. Anna menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan apa pun lagi. Tentang alasan dirinya memilih mengakhiri pernikahan, tentang rasa bersalah karena merasa hanya menjadi beban bagi Jeevan, tentang keputusan yang menurutnya merupakan jalan terbaik meski teras seperti mengiris dirinya sendiri sedikit demi sedikit.
Irene tidak menyela.
Sherly pun kali ini lebih banyak diam.
Sesekali hanya terdengar embusan napas panjang dari keduanya. Mereka tidak berusaha menghakimi keputusan Anna. Mereka juga tidak memaksanya kepada Jeevan. Yang mereka lakukan hanya mendengarkan.
Kadang, itulah bentuk kasih sayang yang paling sulit dilakukan.
Ketika jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam, angin mulai bertiup semakin dingin. Mereka pun membereskan meja yang menjadi alas duduk mereka bertiga secara bersama-sama.
Karena sudah terlalu malam untuk pulang, Irene memutuskan untuk menginap.
"Besok aku mau langsung berangkat ke kantor dari sini." katanya.
Sherly mengangguk.
Anna tersenyum. "Kayanya...kita jarang banget tidur bareng kaya dulu. Aku kangen deh." Ungkapnya mengenang.
Sherly melirik Irene yang masih mengenakan kemeja kerja dan rok span meskipun rambutnya sudah di urai berantakan.
"Asal kamu jangan ngorok aja." Celetuknya.
Irene mendelik. "Aku gak ngorok."
"Mau aku kasih bukti?" goda Sherly cengengesan.
"Dih, kekanakan sekali kamu." Cibir Anna yang hampir meraih rambut cruly Sherly yang di gerai.
Anna berjalan di belakangnya sambil memperhatikan kedua sahabatnya yang sejak dulu kalau bersama memang seperti film kartun Tom and Jerry.
"Udah-udah, nanti di tegur sama penghuni kamar bawah, loh." Tegur Anna seraya tertawa kecil.
...💞...
Entah sudah pukul berapa.
Anna membuka mata.
Ruangan hanya diterangi cahaya lampu jalan yang menyelinap melalui sela-sela gorden. Di sampingnya, Sherly tidur sambil memeluk guling hingga nyaris terjatuh dari kasur. Sementara Irene tertidur di atas kasur lipat dengan posisi yang begitu rapi, seolah bahkan saat tidur pun perempuan itu masih menjaga wibawa.
Anna mengembuskan napas pelan.
Dadanya terasa sesak.
Bukan karena penyakit lambungnya.
Melainkan oleh pikiran-pikiran yang tiba-tiba berdatangan seperti ombak yang menolak surut.
Perlahan ia bangkit agar tidak membangunkan kedua sahabatnya.
Pintu kamar di buka perlahan dan sangat hati-hati. Setelah pintu terbuka, langkahnya membawa dirinya menaiki tangga menuju rooftop.
Udara malam langsung menyambut wajahnya. Ia memandang sekelilingnya dan Jakarta belum sepenuhnya tidur.
Dari tempat itu, ribuan lampu kota tampak berpendar seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Deretan gedung tinggi berdiri angkuh, kendaraan masih mengalir di jalan raya, sementara suara sirene samar sesekali melintas memecah keheningan.
Anna berjalan mendekati pagar besi. Tangannya bertumpu pelan pada pagar yang dingin. Matanya menatap jauh ke arah hamparan cahaya yang tak pernah benar-benar padam.
Senyumnya sudah menghilang. "Keputusanku...sudah benar gak ya?"
Kalimat itu meluncur lirih, nyaris larut bersama embusan angin malam.
Bagaimana kalau sebenarnya ia terlalu egois? Bagaimana kalau Jeevan pulang ke apartemen dan membawa asistennya yang bernama Arumi? Bagaimana perasaan Bu Ratih? Bagaimana ayah mertuanya?
Lalu...
Bagaimana ibunya nanti ketika mengetahui putrinya gagal mempertahankan rumah tangga?
Anna memejamkan mata. Ia bahkan belum mampu membayangkan percakapan itu.
"Bu...Anna cerai...."
Kalimat sederhana itu saja terasa seperti batu besar yang menekan dadanya. Ketakutan demi ketakutan bermunculan tanpa permisi.
Pikirannya mulai berlari ke segala arah. Bagaimana kalau semua orang menyalahkannya? Bagaimana kalau mereka berkata dirinya kurang bersyukur? Bagaimana kalau keputusan ini justru menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya?
Napas Anna mulai memburu. Lalu jari-jarinya menggenggam pagar itu lebih erat, hingga tak sadar telapak tangannya terluka dan mengeluarkan darah.
...💞...
Di dalam kamar, Sherly menggeliat pelan. Tangannya yang semula memeluk guling mendadak menyentuh kasur kosong.
Dahinya langsung berkerut. "Na?"
Tidak ada jawaban, gegas saja Sherly membuka mata. Dan saat itulah bola matanya hanya mendapatkan kasur kosong bekas orang tidur.
"Anna?" panggilnya seraya mengedarkan pandangannya.
Seketika saja kantuknya menghilang. Ia baru ingat kalau Anna mengalami gangguan depresi dan anxiety. Gegas saja ia turun dari ranjang dan langsung membangunkan Irene yang tengah terlelap.
Sherly memukul Irene berusaha membangunkan sahabatnya. "Ren! Bangun! Irene! "
"hmmm...." gumam Irene seraya membalikkan tubuhnya membelakangi Sherly.
Sherly kembali berusaha membangunkan Irene. "Irene bangun cepetan!"
Irene mendecak. "Ada apaan sih, Sherly? Masih malem juga."
"Makanya bangun dulu!" seru Sherly seraya menarik lengan sahabatnya agar duduk.
"Ada apa? Kebakaran? Hmm?" gumamnya lagi.
"Anna hilang, Ren!" seru Sherly.
Seketika perempuan terkenal kebo di antara mereka itu langsung duduk tegak. Ia membuka matanya dengan penuh paksakan lalu mengedarkan pandangannya.
"Apaan deh kamu, Sher. Gak usah ganggu tidur orang tahu." Gerutu Irene seraya hendak tidur lagi.
"Aku serius, Ren. Anna gak ada, dia gak ada di sini!" tegasnya.
Seketika Irene sadar. "Kamu jangan becanda. Ini larut malam tahu!"
"Kita cari Anna sekarang!" ajak Sherly seraya menarik lengan sahabatnya.
"I-iya bentar." katanya seraya menggelung rambutnya lalu menusuknya dengan pensil yang tergeletak di meja pendek.
Gegas keduanya segera keluar dari kamar, mereka meneriakkan nama Anna.
"Kita cek ke rooftop dulu. Gak mungkin Anna melakukan batas wajarnya," ujar Irene seraya menaiki tangga menuju rooftop.
Berbagai kemungkinan buruk berlomba-lomba memenuhi kepala mereka. Mereka tahu kondisi Anna dan mereka juga tahu diagnosisnya.
Dan mereka tahu malam setelah mengambil keputusan besar sering kali menjadi saat paling berat bagi seseorang.
Begitu rooftop pintu terbuka....
...💞💞💞...
Ada apa dengan Anna?
Temukan jawabannya di bab selanjutnya 🫶
...BERSAMBUNG...