Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Apa Benar Aira Hamil?
Pagi ini jam menunjukkan pukul 07.00. Aira sudah asyik di dapur bersama Bi Nia.
"Non Aira, mau Bibi bantu?" tawar Bi Nia lembut.
Aira yang sedang membuatkan kopi hangat kesukaan Azam langsung menggeleng. "Makasih, Bi. Biar Aira saja. Oh ya, tolong ya, Bi, bawa nasi gorengnya ke ruang makan bersama yang lain," kata Aira lembut, yang langsung diiyakan oleh Bi Nia.
"Sekalian bikin susu deh, biar enggak bolak-balik lagi," gumam Aira lalu mengambil gelas baru untuk dirinya sendiri. "Bi, Bibi sudah rebuskan ayam buat Momo sama Coco belum? Kalau sudah, tolong kasih ke Momo sama Coco ya," kata Aira sembari menuangkan air panas ke dalam gelasnya.
"Sudah, Non. Bibi sudah rebuskan buat Momo sama Coco. Mau Bibi ambilkan, Non?"
Aira berjalan menuju ruang makan. "Iya, Bi. Tolong sekalian disuwirin ya, nanti taruh di meja saja, biar aku yang kasih," kata Aira.
"Baik, Non," kata Bi Nia patuh.
Setelah merasa puas dengan hidangan yang ada di atas meja, Aira langsung berlari kegirangan menaiki anak tangga. "Mas Azam! Bangun ...!"
Aira tersentak kaget saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
"Tumben banget, Sayang, kamu sudah bau dapur. Biasanya juga masih asyik rebahan," bisik Azam yang sudah berdiri di belakang Aira. Laki-laki tampan itu menekuk wajahnya di ceruk leher Aira.
Aira terkekeh pelan. "Aku juga pengin jadi istri yang baik buat kamu, Mas," kata Aira lembut.
Azam menegakkan tubuhnya, lalu kembali memeluk Aira dari belakang. "Dan kamu adalah istri satu-satunya dalam hidupku. Aku tidak pernah merasa tidak dihargai olehmu," kata Azam lembut.
Aira membalikkan tubuhnya, namun Azam tetap tidak melepaskan pelukannya. "Makasih ya, Mas. Aku juga bahagia banget punya suami kayak kamu," kata Aira lembut lalu membalas pelukan Azam dengan erat.
"Semoga hanya kamu yang akan menjadi istriku hingga maut yang memisahkan," bisik Azam.
"Aamiin," kata Aira mengamini ucapan Azam.
"Udah dulu gih, lepasin. Mau aku bantu rapihin rambut sama kemeja kamu enggak?" kata Aira mengusap rambut Azam lembut.
Azam mengangguk manja. Dengan telaten, Aira menyisir rambut Azam yang terlihat rapi seperti *oppa-oppa* Korea. Aira kemudian mengancingkan kemeja dan memasangkan dasi kerja Azam.
"Uwuh ... uwuh ... siapa nih kok ganteng banget?" goda Aira sembari mencubit gemas pipi Azam.
Azam terkekeh. "Aku suaminya kamu, Aira Humairaku," bisik Azam lembut lalu mencium kening Aira.
***
Setelah keberangkatan Azam, Aira menghubungi sang ayah.
"Assalamualaikum, Ayah," salam Aira ceria.
"Waalaikumussalam, Sayang," jawab Ayah Fikri dari seberang telepon.
"Ayah lagi di mana nih, Yah? Di rumah apa di mana?" tanya Aira kepo.
Ayah Fikri terkekeh pelan. "Ayah masih di Surabaya, Nak. Emang kenapa? Kamu mau main ke rumah?"
Aira menggeleng pelan. Namun, entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa mual yang bergejolak.
"Hoeek ... hoeek ..."
"Sayang, kamu kenapa?" panik Ayah Fikri dari seberang sana.
"Aira enggak tahu ...," jawab Aira terputus. "Hoeek ... hoeek ..."
Aira segera berlari menuju kamar mandi. Ia merasakan mual yang tak kunjung selesai. Ayah Fikri yang sangat khawatir langsung menutup panggilan lalu bergegas menghubungi Azam.
"Ya Allah, Non ... Non Aira kenapa, Non?" panik Bi Nia saat melihat Aira muntah terus hingga membuat wajah cantiknya pucat pasi.
"Perut Aira enggak nyaman banget, Bik ... hoeek ..."
"Non, kita ke kamar aja ya. Bibi antar Non Aira ke kamar ya, Non, biar Bibi telepon Tuan Azam."
Karena sudah merasa lemas, Aira akhirnya mengangguk pasrah, meskipun setiap beberapa langkah ia kembali didera rasa mual yang tidak bisa ditahan.
Bi Nia tersenyum hangat saat membantu Aira merebahkan diri. "Apa Non Aira hamil ya, Non?" kata Bi Nia tiba-kira.
Aira terdiam membeku. "Hamil?" gumam Aira pelan.
Bi Nia mengangguk mantap. "Iya, Non. Bisa jadi loh Non Aira hamil. Bibi doain ya semoga Non Aira beneran hamil," kata Bi Nia antusias.
"Aa ... hoeek ..." Belum sempat Aira melanjutkan ucapannya, lagi dan lagi ia merasakan mual yang hebat.
"Non Aira istirahat saja ya. Mau Bibi ambilkan sesuatu, Non?"
Aira menggeleng pelan. Setelah kepergian Bi Nia, Aira langsung mengusap lembut perutnya yang masih datar. "Apa iya Dede sudah hadir di perut Mama?" kata Aira antusias. "Bismillah ... semoga apa yang diomongin Bi Nia terwujud ya, Dede."
Sementara itu, Azam yang mendapat kabar mendadak dari Ayah Fikri langsung panik dan bergegas pulang. Dengan kecepatan tinggi, Azam mengendarai mobil mewahnya membelah jalanan kota demi menemani sang istri tercinta.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍