Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 ~ Tidak Tinggal Bersama
Di lantai paling atas Gedung Foster Group, Damian tengah memeriksa beberapa dokumen kerja di ruangannya.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Haris melangkah masuk sambil membawa sebuah map berwarna hitam.
Ada informasi terbaru mengenai tender pembangunan Kawasan Bisnis Internasional Emerald, Tuan."
"Tiga bulan lagi pemerintah akan resmi membuka tendernya. Harley Group dipastikan ikut dalam proses perebutan proyek tersebut."
Damian mengangguk tipis. Hal itu sudah ia duga.
"Namun..." lanjut Haris, "ada satu kabar yang cukup menarik."
Damian meletakkan pena di atas meja, mengangkat pandangannya.
"Bicaralah."
"Dikabarkan, keluarga Harley akan menurunkan salah satu putra mereka untuk memimpin proyek ini."
"Putra pertama keluarga Harley?" ulang Damian datar.
"Iya, Tuan. Menurut informasi yang saya dapat, pria itu baru saja kembali dari London pagi ini."
Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Siapa namanya?"
Haris menggeleng pelan.
"Belum ada yang tahu."
"Selama ini identitas putra pertama keluarga Harley memang sangat tertutup. Bahkan Tuan Harley sendiri hampir tidak pernah memperkenalkannya kepada para petinggi perusahaan maupun mitra bisnis di luar."
"Yang beredar hanya kabar bahwa ia telah menyelesaikan pendidikannya di London dan baru dipanggil pulang untuk bergabung dengan Harley Group."
Damian menyipitkan matanya.
"Berarti... Dia bukan orang sembarangan."
Haris mengangguk.
"Benar, Tuan. Banyak yang menduga Tuan Harley sengaja menyembunyikan putranya sampai benar-benar siap terjun ke dunia bisnis."
Sudut bibir Damian terangkat tipis.
"Kalau begitu... Aku jadi penasaran." Ia menutup map di hadapannya.
"Siapkan semua informasi tentang proyek itu. Aku ingin tahu seperti apa orang yang dianggap layak disembunyikan selama bertahun-tahun oleh Tuan Harley."
"Baik, Tuan."
Haris membungkukkan badan sebelum meninggalkan ruangan.
Haris membungkukkan badan sebelum meninggalkan ruangan.
Ceklek.
Pintu kembali tertutup.
Ruangan itu seketika hening.
Damian bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Tatapannya lurus mengarah ke deretan gedung pencakar langit yang memenuhi pusat kota.
Selama bertahun-tahun Foster Group selalu berada di garis depan setiap proyek besar. Tidak banyak perusahaan yang mampu menyaingi mereka.
Namun kali ini berbeda.
Jika Tuan Harley sampai rela menurunkan putranya yang selama ini disembunyikan dari publik, berarti proyek Emerald memang jauh lebih penting daripada yang dibayangkan banyak orang.
Sudut bibir Damian terangkat tipis.
"Menarik..."
Ia mengambil ponselnya, lalu menekan sebuah nomor. Tak lama kemudian, panggilannya tersambung.
"Batalkan seluruh agenda yang tidak penting selama tiga bulan ke depan."
Suara sekretaris di seberang sana langsung menjawab, ["Baik, Tuan."]
"Mulai hari ini, fokus kita hanya satu. Tender Kawasan Bisnis Internasional Emerald. Pastikan seluruh divisi bekerja maksimal. Aku tidak ingin ada satu kesalahan pun."
["Baik, Tuan Damian."]
Sambungan telepon berakhir. Damian kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
Sorot matanya berubah tajam.
"Siapa pun putra keluarga Harley itu... aku tidak akan membiarkannya mengambil proyek yang sudah kuincar."
••
••
Beberapa saat kemudian...
Keheningan kembali menyelimuti ruang keluarga keluarga Harley.
Axel masih asyik bermain dengan dasi Tuan Harley, sementara pria itu membiarkan tingkah polos cucunya tanpa sepatah kata pun.
Nyonya Chatarina menatap keduanya beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.
"Ada satu hal lagi yang harus kita putuskan."
Tuan Harley mengalihkan pandangannya. "Apa?"
Nyonya Chatarina menatap suaminya dengan sorot mata serius. "Axel tidak akan tinggal di sini."
Kalimat itu langsung membuat Tuan Harley mengernyit. "Maksudmu?"
"Dia akan tinggal bersama Evan."
Ruangan kembali hening.
Arlos yang sejak tadi memilih diam kini ikut mengangkat kepalanya.
"Tapi..." ucap Tuan Harley pelan. "Bukankah lebih baik cucuku tinggal bersama keluarganya?"
Nyonya Chatarina menggeleng tegas. "Selama dua tahun terakhir, Axel hanya mengenal satu orang sebagai tempatnya pulang."
Tatapannya beralih ke arah tangga.
Nyonya Chatarina menatap suaminya tanpa ragu. "Selama ini Evan hidup sendiri di London bersama anaknya. Axel masih sangat bergantung padanya. Kalau mereka tinggal di rumah ini..." ia berhenti sejenak. "...anak itu akan kesulitan beradaptasi."
"Itu bukan alasan."
Suara Tuan Harley tetap dingin.
"Dia cucuku. Ayahnya juga anakmu."
Nyonya Chatarina membalas tanpa kalah tegas. "Biarkan Evan membesarkan anaknya dengan caranya sendiri. Rumah ini bukan tempat yang tepat untuk anak sekecil Axel."
Tatapan keduanya saling bertemu. Tidak ada yang mengalah. Hanya Nyonya Chatarina yang mengetahui alasan sebenarnya.
Bukan karena Axel sulit beradaptasi... Melainkan karena setiap kali bocah itu memanggil "Mommy...", rahasia yang mereka simpan selama puluhan tahun bisa runtuh dalam sekejap.
Nyonya Chatarina menatap suaminya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan.
"Karena aku tidak ingin Axel tumbuh di rumah ini."
Keheningan langsung memenuhi ruangan.
"Apa maksudmu?" tanya Tuan Harley.
"Rumah ini..." Nyonya Chatarina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Sudah terlalu lama dipenuhi urusan bisnis, ambisi, dan persaingan."
"Sejak kecil Arlos dididik menjadi penerus perusahaan."
"Lalu Evan..." Wanita itu berhenti sejenak. "Dia bahkan kehilangan sebagian besar masa mudanya demi mempertahankan nama keluarga Harley."
Tatapan Tuan Harley mulai berubah.
Nyonya Chatarina melanjutkan, "Aku tidak ingin Axel mengalami hal yang sama. Aku ingin dia tumbuh seperti anak-anak pada umumnya."
"Berlari."
"Bermain."
"Tertawa."
"Bukan sejak kecil dipaksa memahami saham, kontrak, dan perebutan kekuasaan."
Ruangan kembali sunyi.
Nyonya Chatarina menatap lurus ke arah suaminya. "Biarkan Evan membesarkan anaknya di luar rumah ini."
"Biarkan Axel datang sebagai cucumu. Bukan sebagai pewaris yang setiap langkahnya akan dibebani nama Harley."
Untuk pertama kalinya Tuan Harley tidak segera membantah. Ia hanya memandang Axel yang masih tertawa kecil di dalam gendongannya.
Entah mengapa.. Ucapan istrinya kali ini membuatnya teringat pada masa kecil kedua putranya, yang lebih banyak dihabiskan di ruang belajar dan ruang rapat daripada di taman bermain.
Tuan Harley mengalihkan pandangannya dari Axel kepada sang istri.
"Kau ingin cucuku tinggal di luar rumah Harley?"
"Bukan." Nyonya Chatarina menggeleng pelan. "Aku ingin dia memiliki masa kecil yang tidak pernah dimiliki kedua putraku."
Tatapan Tuan Harley mengeras. "Dia tetap cucu keluarga Harley. Dan suatu hari nanti dia harus mengenal keluarga ini."
"Aku tidak pernah melarang itu." Nyonya Chatarina melangkah mendekat. "Tapi bukan sekarang."
"Axel baru berusia dua tahun. Dia belum mengerti apa itu bisnis, persaingan, ataupun kekuasaan. Yang dia butuhkan saat ini hanyalah seseorang yang selalu ada saat dia menangis, tertawa, dan terbangun di tengah malam."
Pandangan Nyonya Chatarina perlahan beralih kepada Evan yang masih berdiri tak jauh dari sana.
"Dan orang itu... adalah ayahnya."
Evan hanya menundukkan kepala. Ia tahu, sang ibu sedang berusaha melindunginya tanpa membuka rahasia yang sebenarnya.
Arlos yang sejak tadi menyimak akhirnya ikut angkat bicara.
"Ayah... menurutku Mama benar."
Tuan Harley menoleh tajam.
"Kau membelanya?"
"Bukan." Arlos menggeleng. "Aku hanya berpikir... rumah ini memang bukan tempat yang cocok untuk anak seusia Axel."
"Sejak kecil kita hidup dengan jadwal, target, dan tuntutan. Biarkan Axel mengenal keluarga Harley sebagai tempat untuk pulang. Bukan tempat yang membuatnya kehilangan masa kecil."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Tuan Harley menatap wajah cucunya yang kini mulai menguap kecil di dalam pelukannya.
Bocah itu sama sekali tidak memahami pembicaraan orang-orang dewasa. Ia hanya memeluk boneka dinosaurusnya, lalu menyandarkan kepala di dada sang Opa.
Helaan napas panjang keluar dari bibir Tuan Harley.
"Baik." Satu kata itu membuat semua orang menoleh. "Tapi ada syaratnya."
Tatapan Tuan Harley kini tertuju kepada Evan. "Kau tetap bekerja di Harley Group mulai besok. Dan setiap akhir pekan... bawa Axel kemari. Aku tidak akan membiarkan cucuku tumbuh tanpa mengenal keluarganya."
Evan mengangguk pelan.
"Baik, Yah."
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya