NovelToon NovelToon
Turun Ranjang

Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fanfic / Perjodohan / Berondong / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.7
Nama Author: Arazy

Ditinggal pergi untuk selamanya oleh suami yang kaya membuat Karina harus rela dimusuhi oleh ibu mertuanya.

Karena harta kekayaan sang suaminya jatuh ke tangannya hampir tujuh puluh lima persen karena kekayaan suaminya dirintisnya dari nol dengan Karina yang mendampinginya sebagai kekasihnya dan sekarang menjadi istrinya. Gelar istri yang baru disandangnya seminggu itu harus rela menjadi janda karena sang suami meninggal dalam kecelakaan karena perjalanan bisnis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Karina membuka matanya perlahan, melihat sekeliling dengan bau obat yang dikenalnya sebagai rumah sakit. Meski ruangan yang digunakan ruangan VIP namun bau khas obat dari rumah sakit terasa menusuk hidungnya.

"Kau sudah sadar nak?" Tanya Bu Meri melihat Karina mulai menggerakkan jemari tangannya juga.

"Ibu." Bisik Karina lemah dengan mata masih setengah terbuka. Dia meringis merasakan pening di kepalanya yang berdenyut karena hendak memaksa untuk bangun.

"Tetaplah berbaring nak jika masih sakit!" Titah Bu Meri lembut melihat Karina masih meringis. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Ada Bu Meri yang setia menemaninya di dalam kamar perawatan sambil duduk di sisi ranjang tempatnya berbaring.

"Ada apa denganku Bu?" Tanya Karina memilih menurut untuk tetap berbaring meski menahan sakit di kepalanya.

"Sejak sore kamu terlelap seperti orang pingsan dengan demam yang membuat ibu terkejut dan langsung membawamu ke rumah sakit. Karena kau tetap tidak bangun meski ibu membangunkanmu berulang kali. Ibu takut terjadi sesuatu yang buruk padamu saat itu. Alhamdulillah sekarang demamnya sudah reda." Jelas Bu Meri membuat pikiran Karina berulang dengan kejadian kemarin setelah dia pulang ke panti saat membeli kebutuhan pernikahan dengan dibantu calon adik iparnya.

"Sebentar." Ucap bu Meri langsung memencet tombol perawat di samping ranjang.

"Kenapa harus di kamar mewah Bu...ini..."

"Mbak sudah bangun?" Tanya Johan yang langsung muncul saat mendengar kode tombol perawat dinyalakan, dia sejak tadi menunggu tombol itu menyala di ruang perawat meski sebenarnya jam prakteknya sudah berakhir jam dua belas malam.

Namun dia enggan untuk pulang sebelum melihat calon kakak iparnya bangun. Namun dia tak mau dinilai buruk dengan menungguinya di ruang perawatan yang sama tempat calon kakak iparnya dirawat. Dia hanya merasa bertanggung jawab atas calon kakak iparnya karena amanah dari kakaknya.

"Johan?" Karina mengernyit bingung melihat Johan sang calon adik iparnya juga ada disitu.

"Nak Johan kebetulan sedang praktek sore di rumah sakit ini juga. Dia yang mengurus kamar perawatanmu." Jelas Bu Meri.

"Selamat malam." Sapa seorang dokter penanggung jawab Karina.

"Dokter masih disini?" Tanya dokter wanita itu ramah yang bername tage Amira. Karina menatap dokter itu dan Johan bergantian melihat mereka yang begitu akrab.

"Dia calon kakak ipar saya." Jawab Johan menatap dokter Amira dengan senyum manisnya.

"Oh, yang akan menikah besok?" Tanya dokter Amira antusias.

"Iya." Jawab Johan tersenyum paksa.

"Apa saya bisa cepat sembuh dok?" Tanya Karina di sela percakapan mereka.

"Maaf, saya periksa dulu ya?" Ucap dokter Amira tersenyum ramah memeriksa kondisi Karina setelah siuman.

"Sejauh ini baik. Mungkin besok bisa pulang jika tidak terjadi hal yang diinginkan."

"Apa saya bisa pulang hari ini? Dokter dengar saya besok menikah, saya harap tidak terlambat." Pinta Karina menatap dokter Amira penuh harap. Dokter Amira terdiam, dia beralih menatap Johan yang juga menatap Karina cemas.

"Akan saya usahakan, jika nanti sore anda tidak mual, pusing dan lemas. Saya akan mengizinkan anda pulang dengan catatan anda harus banyak istirahat sebelum pernikahan besok pagi." Jelas dokter Amira tersenyum ramah. Meski merasa terpaksa dia mengiyakan keinginan Karina untuk pulang karena pernikahan besok.

"Sebaiknya ditunda mbak, karena kesehatan mbak lebih penting." Saran Johan dengan wajah cemas.

Sebenarnya Johan sudah mempelajari rekam medis milik Karina saat mendengar Karina pingsan saat tidur. Namun ada kejanggalan yang dilihatnya dalam laporan itu namun Johan berusaha tenang.

"Itu adalah hari baik yang dipilih ibu untuk pernikahan kami dek, kamu tahu sendiri hari baik untuk pernikahan kami masih lama lagi." Jawab Karina membuat Johan mendesah kecil.

"Tidak apa-apa dok, saya akan buatkan resep vitamin untuk malam pertama mereka agar tetap sehat." Canda dokter Amira membuat Karina tersipu malu. Sedang Johan dadanya terasa dihempas jatuh ke bawah dengan begitu mudah membuatnya mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Kalau begitu kami permisi." Pamit dokter Amira diikuti perawat yang mengikutinya sejak tadi.

"Terima kasih dok." Ucap Karina tulus.

"Mari Bu!" Pamit dokter Amira pada Bu Meri yang sejak tadi hanya diam menyimak.

"Kamu pulang aja dek, mbak udah gak apa. Ada Bu Meri yang menjagaku." Usir Karina halus. Dia tak mau lagi merepotkan calon adik iparnya itu lagi. Karena dia bisa melihat lingkaran hitam di bawah matanya menghitam karena kurang tidur dan kelelahan.

"Hari ini aku praktek pagi mbak, karena sejak nanti sore dan besok pagi akan sibuk." Tolak Johan pergi dari ruang perawatan Karina.

Karina terdiam menghela nafas panjang, dia menatap ponselnya berharap seseorang yang diharapkannya menghubunginya menanyakan keadaannya. Namun tak ada notifikasi pesan atau panggilan dari yang diharapkannya. Apalagi besok adalah pernikahan mereka.

*Dia akan datang di pernikahan kami besok kan?

Kamu dimana mas?

Kenapa akhir-akhir ini kamu sulit sekali dihubungi?

Semoga jika kamu sibuk dengan pekerjaanmu segera selesai*.

"Kau tak ingin ke kamar mandi?" Tawar Bu Meri menatap Karina kasihan karena dia tahu siapa yang diharapkannya ada di hadapannya kini.

"Iya Bu, Karina mau buang air kecil." Jawab Karina segera bangun dari ranjang meski sedikit meringis memegangi kepalanya dengan dibantu Bu Meri dan dipapah ke dalam kamar mandi dengan mendorong infusnya.

***

"Dokter yakin dia bisa pulang sore nanti? Apa itu tidak akan berakibat buruk nanti?" Tanya Johan yang langsung masuk ke dalam ruang kerja dokter Amira setelah dari ruang perawatan Karina.

"Dokter Johan begitu menyayangi calon kakak iparnya ya?" Goda dokter Amira sambil tersenyum tipis.

"I..itu tidak seperti yang dokter pikirkan. Aku melakukannya semata-mata karena pesan kakakku untuk menjaganya selama dia mengurus pekerjaannya sebelum pernikahannya besok. Aku hanya cemas jika pernikahan besok terjadi sesuatu pada salah satu diantara mereka." Jelas Johan panjang lebar meski sedikit gugup. Namun dia terlalu pandai menutupi kegugupannya sehingga dokter Amira tidak terlalu curiga.

"Aku bisa mengerti dengan yang dokter cemaskan." Jawab dokter Amira.

"Duduklah dulu sebentar dok, ada yang mau saya bahas dengan anda mengenai rekam medis calon kakak ipar anda!" Persilahkan dokter Amira menunjuk kursi di depan mejanya. Johan hanya menurut tanpa banyak bertanya. Dokter Amira mengeluarkan hasil rontgen dan hasil CT scan milik Karina dan menunjukkan pada Johan.

Johan mengamati dan membaca hasilnya dengan teliti dan seksama. Kadang ekspresinya berubah-ubah saat membaca hasil rekam medis itu dan membandingkannya dengan hasil rontgen dan CT scan nya. Namun saat di akhir pemeriksaan menunjukkan kalau keadaan Karina secara garis besar baik. Meski harus dengan syarat mengatur pola makan hidup sehat.

"Jadi ini?" Tanya Johan dengan senyum lebar di bibirnya. Entah kenapa dia merasa lega setelah membaca hasilnya itu.

"Benar, kemarin sepertinya ada kesalahan sedikit, sehingga saya melakukan rontgen dan CT scan lagi pada tubuh pasien. Dan ini hasil akhirnya setelah kemarin. Dan mungkin masih sangat lama hal itu akan terjadi padanya." Jelas dokter Amira.

"Apa maksud dokter?" Tanya Johan mengernyit heran.

"Tapi jangan cemaskan hal itu asal dia tidak terlalu stres juga menjaga pola makan hidup sehatnya." Jelas dokter Amira membuat senyum Johan semakin lebar.

"Sepertinya anda sangat perhatian pada calon kakak ipar anda." Goda dokter Amira lagi saat melihat raut wajah bahagia terpancar pada Johan.

"Tentu saja. Kakakku akan membunuhku jika terjadi sesuatu sedikit saja pada calon istrinya." Jawab Johan santai. Dia pun segera pamit dari ruang kerja dokter Amira dengan senyum terus terpatri di bibirnya juga raut wajah lega.

.

.

TBC

1
nobita
aku mampir kak
Fi Fin
sungguh aku selalu bwrharap johan akan selalu mencintai dan melindungi karina
Fi Fin
kok sama johan di pegang ga mau bukan muhrim kt nya tp pas sama ken di peluk di cium2 tanganganya ga apa2 gimana sih
Fi Fin
sepertinya menarik ceritanya ..lanjut baca
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
👍👍👍
R'vina
Luar biasa
Hasnaeni
sy suka jalan ceritanya trims suksses selalu dgn cerita yg lain
buk e irul
pin nyepak lek ngunu ku
buk e irul
karena manusia nafsu nya lebih,,, jadi ya gitu
Niaa🥰🥰
Luar biasa
🇮🇩A Firdaus🇰🇷
karya mu bagus ceritanya Thor
🇮🇩A Firdaus🇰🇷
kalau istilah naik ranjang apa itu? 🤣🤣
Nisa Sugiarti
Luar biasa
🇮🇩A Firdaus🇰🇷
Aq mampir ni Thor moga suka sama ceritanya
Phoo
Hadeeehhh.... Novel ko isinya penderiaan tok sampek akhir, bahagianya cuma beberapa bab trus tamat. Menyebalkan🤭
Phoo
Baru baca, sepertinya bagus🥰
Susanti Susanti
ceritanya menarik,,,,,,
Imelda Damayanti
ok
Dewi Hutabarat
ok bgt
Aris Bos
luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!