NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MUSIM YANG AKAN PANJANG

Pagi berikutnya Ayah membawa hasil perhitungannya ke meja makan. Beberapa lembar uang diletakkan di samping tiga tongkol jagung yang belum dikupas. Ia menjelaskan bahwa panen terakhir tidak sebaik perkiraan. Banyak batang mengering sebelum berbuah, sedangkan sebagian jagung rusak dimakan tikus.

“Uangnya cukup untuk satu hal,” katanya. “Memperbaiki atap atau membeli satu pasang sepatu.”

Tidak seorang pun langsung menjawab. Dari lubang kecil di atas dapur, cahaya pagi masuk seperti garis tipis. Ketika hujan turun, garis itu berubah menjadi aliran air. Ember harus dipindahkan berkali-kali, dan tikar Ibu sering lembap sampai pagi.

Nira menatap sepatunya di dekat pintu. Kulit cokelatnya sudah kusam dan sol bagian depan mulai terbuka. Aku menatap sepatuku sendiri. Jahitan benang karung masih bertahan, tetapi telapak kirinya tipis dan tidak lagi rata.

“Perbaiki atap saja,” kataku.

Nira mengangguk. “Sepatu kami masih bisa dipakai.”

Ayah tidak tampak lega. Ia justru menunduk. “Kalian selalu bilang masih bisa.”

“Karena memang bisa,” jawabku, meskipun jari kakiku masih dibalut.

Ibu meletakkan cangkir di meja. Batuknya datang lagi, panjang dan berat. Ia menutup mulut dengan kain, lalu berkata udara malam terlalu lembap. Tidak perlu dokter. Atap yang kering sudah cukup membuat tubuhnya membaik.

Keputusan dibuat tanpa pemungutan suara. Uang digunakan membeli beberapa lembar seng bekas dan paku. Pak Darma membantu Ayah menutup bagian atap yang paling rusak. Mereka bekerja sejak siang sampai matahari hampir tenggelam. Aku memanjat tangga bambu untuk memberikan paku, sedangkan Nira memungut potongan daun rumbia yang jatuh.

Dari atas rumah, aku dapat melihat jalan setapak yang berkelok menuju kebun. Awan gelap berkumpul jauh di belakang Bukit Giriwungu. Musim hujan belum benar-benar datang, tetapi udara sudah berbau tanah basah.

“Kalau hujan panjang, jalan akan lebih buruk,” kata Pak Darma.

Ayah memukul paku lebih keras. “Karena itu jembatan harus dibuat sebelum arus besar.”

“Bambu yang terkumpul belum cukup.”

“Kita cari lagi.”

Mereka berbicara tentang jembatan, tetapi aku tahu uang dan tenaga warga juga terbatas. Orang-orang di dusun bekerja untuk mengisi piring hari itu. Menyisihkan satu batang bambu atau satu hari kerja berarti mengurangi sesuatu di rumah masing-masing.

Setelah atap selesai ditambal, hujan kecil turun sebagai ujian. Kami berdiri di dalam rumah sambil melihat langit-langit. Dua titik masih menetes, tetapi bagian di atas tempat tidur Ibu tetap kering. Ayah tersenyum sedikit. Ibu menyentuh lengannya sebagai ucapan terima kasih.

Sepatu kami tetap berada dekat tungku. Tidak ada yang menyebutnya lagi. Namun, setiap kali lewat, aku melihat Ibu menatap keduanya. Tatapannya berhenti lebih lama pada sepatu Nira yang ujungnya terbuka. Aku tahu ia ingin mengatakan bahwa kaki anak seharusnya lebih penting daripada atap. Tetapi saat batuknya datang lagi, ia menunduk dan kembali merapikan kain. Di rumah kecil itu, kami semua belajar menyembunyikan keinginan agar keputusan terasa lebih ringan.

Malam itu aku membawa sepatuku ke bengkel Mbah Wreda. Nira ikut sambil membawa lampu minyak. Jalan ke rumah orang tua itu tidak jauh, tetapi tanah sudah licin. Kami membungkus sepatu di dalam karung agar tidak terkena lumpur lebih banyak.

Mbah Wreda memeriksa telapak sepatuku dengan jari. “Kulit atasnya masih bisa bertahan. Bagian bawahnya yang menyerah.”

“Bisa ditambal?” tanyaku.

“Semua bisa ditambal. Pertanyaannya, berapa lama tambalan mau bekerja.”

Ia mengambil potongan ban sepeda bekas dari bawah meja. Karet itu sudah tipis, tetapi lebih kuat daripada telapak sepatuku. Ia mengukur bentuknya, lalu memotong mengikuti garis sepatu.

“Aku bisa mengerjakannya,” kataku. Aku tidak membawa uang dan tidak ingin terus menerima pekerjaan gratis.

Mbah Wreda menyerahkan pisau kecil. “Kalau begitu belajar.”

Ia mengajariku mengikis permukaan karet, mengoleskan lem, lalu menekan potongan ban pada telapak. Setelah itu, kami menjahit bagian tepi memakai benang nilon. Jarum besar sulit menembus karet. Aku harus mendorongnya dengan potongan kayu agar telapak tanganku tidak terluka.

Nira memegang lampu dekat meja. Cahaya kecil bergerak setiap kali tangannya lelah.

“Jangan terlalu dekat,” kata Mbah Wreda. “Lem mudah terbakar.”

Nira mundur sedikit, lalu menatap pekerjaanku. “Seperti membuat sepatu baru.”

“Bukan baru,” kataku. “Hanya menambah umur.”

Mbah Wreda tertawa pendek. “Banyak manusia juga hidup begitu. Bukan menjadi baru, hanya diberi alasan untuk bertahan satu hari lagi.”

Kami bekerja hampir dua jam. Ketika selesai, telapak sepatuku tampak lebih tebal. Potongan ban berwarna hitam menutup lubang dan membuat bagian bawahnya tidak rata. Aku mencobanya. Sepatu terasa kaku, tetapi tidak lagi membiarkan tanah menyentuh kaus kaki.

“Untuk Nira juga?” tanyaku.

Mbah Wreda memeriksa sepatu cokelat adikku. Bagian depan solnya terbuka, tetapi telapaknya belum setipis milikku. Ia memberikan sedikit lem dan sepotong kain tebal untuk disisipkan.

“Besok kau kerjakan sendiri,” katanya. “Sekarang sudah malam.”

Sebelum kami pergi, Mbah Wreda memberikan sisa potongan ban yang terlalu kecil untuk sepatu orang dewasa. Ia mengatakan potongan itu dapat dipakai memperkuat ujung sepatu Nira. Aku menyimpannya dalam karung dan berjanji mengembalikan lem yang tersisa. Mbah Wreda hanya mengibaskan tangan. “Kembalikan dengan cara menjaga adikmu tetap sekolah,” katanya.

Dalam perjalanan pulang, aku membawa sepatu seperti membawa benda berharga. Nira berjalan dengan lampu minyak, sementara bayangan kami memanjang di tanah.

“Kalau bantuan sekolah datang, apakah kita bisa membeli sepatu?” tanyanya.

“Bantuannya untuk iuran dan buku.”

“Berarti sepatu menunggu.”

Aku mengangguk. “Sepatu kita sudah pandai menunggu.”

Di rumah, Ibu memasang kain baru pada bagian dalam sepatuku agar jahitan tidak menggesek kaki. Ia menggunakan potongan baju lama. Ayah menguji telapak dengan menekannya ke lantai. Potongan ban tidak lepas. Setelah itu aku mencoba memperbaiki sepatu Nira. Tanganku belum terampil. Lem mengenai jari dan jahitannya miring, tetapi bagian depan akhirnya menutup. Nira mencobanya, berjalan mengelilingi tikar, lalu mengatakan sepatunya terasa seperti mempunyai gigi baru. Kami tertawa pelan agar Ibu yang sudah berbaring tidak terbangun.

“Bagus,” kata Ayah. “Tapi jangan merasa ini cukup untuk selamanya.”

Aku tidak tahu bagaimana menjawab. Di rumah kami, kata selamanya terlalu besar. Kami hidup dari satu panen ke panen berikutnya, satu tambalan ke tambalan berikutnya, satu hari sekolah ke hari sekolah berikutnya.

Sebelum tidur, aku membuka buku catatan jalan. Aku menulis: atap diperbaiki, sepatu ditambal ban bekas, awan datang dari barat. Nira menggambar tiga tetes hujan di samping tulisanku.

Angin malam mulai mengguncang dinding bambu. Dari kejauhan terdengar bunyi guntur. Mula-mula pelan, lalu semakin dekat. Lampu minyak bergetar. Ibu menarik selimut sampai ke dada, sementara Ayah berdiri di pintu memandang langit.

Guntur pertama musim hujan terdengar tepat di atas dusun kami.

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!