Reina mentari seorang gadis pekerja keras, ceria, dan pantang menyerah. Kehidupannya berjalan normal sampai suatu hari ia bertemu dengan Saina putri kecil Revan yang mengubah seluruh alur cerita kehidupannya yang biasa saja.
"Menikah lah denganku" hal itu tentu menjadi kata paling bahagia untuk semua wanita yang ada di dunia, tapi tidak untuk Reina karena Reina tahu Revan tidak mencintainya. Namun demi Saina gadis kecil yang merindukan sosok seorang ibu di hidupnya sehingga mau tidak mau Reina harus menekan sedikit egonya untuk kebahagian Saina.
Perlahan alur kisah Reina mulai berubah, tabir rahasia yang ditutupi orang tuanya selama ini ikut naik kepermukaan meluluhlantahkan hatinya.
Akan kah Reina menerima Revan? Rumah tangga seperti apa yang akan dialami Reina? mampukah Reina melewati segala kesulitannya? ikuti terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Tendangan pagi hari
...Baru beberapa saat Reina mulai memasuki alam mimpi ia harus dikejutkan dengan seseorang yang tiba tiba melompat keranjang dan langsung memeluknya dari belakang yang ternyata adalah Revan. Karena terkejut awalnya Reina menolak dan berontak namun kemudian samar samar ia mendengar langkah kaki mendekati kamar mereka....
Tap tap tap
Langkah kaki tersebut terdengar semakin dekat dan kian mendekat kemudian..
Cklek
Suara pintu kamar di buka oleh seseorang dari luar.
...Reina begitu sangat gugup apalagi posisi Revan dan Reina yang begitu dekat dan menempel sehingga membuat Reina bisa mendengar dengan jelas suara detak jantung yang berdebar sangat cepat, saking dekatnya Reina sampai tidak bisa membedakan detak jantung siapa itu. Tidak ada yang tidur dari ke duanya hanya saling mematung diam di tempat dengan posisi Revan memeluk Reina dari belakang. Sampai kemudian terdengar suara pintu tertutup kembali baru lah Revan melepaskan pelukannya tadi namun tetap berbaring di ranjang....
" Ah jangungku hampir saja copot " ucap Reina dan Revan serentak sama dalam hati mereka masing masing.
...Setelah beberarapa menit tidak ada suara sampai mereka yakin bahwa tidak ada lagi yang akan membuka pintu barulah Reina mulai berbicara....
" Sudah tidak ada, sana balik lagi." Ucap Reina memecah keheningan.
...Namun bukannya bergerak Revan malah tetap diam ditempat sambil mengangkat ke dua bahunya....
" Ayolah van..." Ucap Reina lagi
" Sudah lah kita tidur seranjang saja, jika tiba tiba ada yang datang lagi kan kita gak tau." Ucap Revan dengan datar.
" Tapi tapi " ucap Reina ingin menyangkal namun ia urungkan mengingat perkataan Revan ada benarnya.
" Sudah tidurlah aku tidak akan menyentuhmu, lagi pula aku tidak terlalu suka dengan wanita kurus sepertimu." Ucap Revan datar yang langsung mendapat plototan dari Reina.
" Dasar nyebelin " ucap Reina dengan nada kesal.
...Pada akhirnya Reina hanya bisa menahan emosinya karena perkataan Revan, kemudian beranjak tidur dengan posisinya membelakangi Revan. ...
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah...
Suasana di meja makan kediaman Mahendra
" Loh ma hanya kita berdua? Anak anak pada kemana? " Tanya Mahendra pada istrinya.
" Kalau Saina masih tidur pa sepertinya ia kelelahan, sedangkan Reina dan Revan mama tidak melihatnya lagi setelah acara selesai tadi." Ucap Lila pada sang suami.
" Coba mama panggil mereka turun untuk makan malam." Ucap Mahendra pada istrinya itu.
...Setelah mendengar perintah dari suaminya Lila langsung bergegas naik ke lantai atas menuju kamar Revan. Ketika sampai di depan pintu kamar Revan awalnya Lila ingin mengetuk pintu namun tiba tiba terlintas sebuah ide konyol di benaknya....
" Aku buka saja pintunya, kita akan lihat sedang apa mereka berdua hehehe " ucap Lila pada diri sendiri sambil tersenyum usil.
Cklek
Suara pintu terbuka..
...Dengan gerakan perlahan Lila membuka pintu kamar Revan, ketika pintu sudah terbuka sepenuhnya Lila mendapati pemandangan di mana Revan tengah tertidur sambil memeluk erat Reina dari belakang, melihat hal itu Lila lantas tersenyum geli sambil menutup pintu kamar Revan kembali....
" Katanya kemarin menikah karena Saina, eh pas udah sah ternyata nyosor juga. Revan Revan semua laki laki sama ya malu malu tapi mau." Ucap Lila dalam hati sambil menutup pintu kamar kembali.
..............
...Keesokan paginya Reina terbangun karena ia merasa seperti sedang di himpit sesuatu yang besar namun sangat hangat. Dengan perlahan Reina membuka matanya ketika mata Reina sudah terbuka penuh, alahkah terkejutnya Reina ketika mendapati Revan tengah memeluknya sangat erat layaknya sebuah guling. Sontak karena kaget akan pemandangan yang ada di depannya Reina langsung mendorong tubuh Revan dengan kuat hingga Revan tersungkur jatuh ke bawah....
" Aw...... Apa apan kamu pagi pagi buta sudah main dorong dorongan. Kamu kira aku bola?" Ucap Revan dengan kesal karena mendapat tendangan di pagi hari oleh Reina.
" Ya maaf habisnya kamu mecari kesempatan dalam kesempitan sih, jadi bukan salah aku dong." Ucap Reina sambil menjulurkan lidahnya ke arah Revan.
" Apa maksudmu....." Ucap Revan sambil mengelus pantatnya yang sedikit sakit karena terbentur lantai.
...Detik berikutnya kejadian demi kejadian semalam terlintas di benak Revan, ia ingat betul bahwa semalam ia bermimpi sedang berada di tengah salju dan sedang mencari kehangatan dengan tanpa sadar alam bawah sadarnya menuntun Revan untuk memeluk Reina awalnya Revan kaget ketika tersadar dan bangun dari mimpinya namun ketika melihat wajah polos Reina ketika tidur Revan jadi menikmati hal itu kemudian kembali tidur hingga pagi....
" Apa apa baru sadar kan sekarang, dasar modus." Ucap Reina dengan nada ketus.
...Revan yang menyadari kesalahannya hanya bisa tersenyum gak jelas tanpa bisa menyangkal apapun. Reina yang melihat kelakuan Revan hanya bisa menghela nafas sepertinya Reina harus menambah stok sabarnya untuk menghadapi Revan....
" Senyam senyum aja, emang kebangetan kamu ya." Ucap Reina
" Sudahlah aku mau mandi" ucap Revan datar kemudian berjalan memasuki kamar mandi.
**********
Setelah selesai mandi Revan langsung turun ke bawah menuju ruang makan.
" Pagi ma pa " ucap Revan pada kedua orang tuanya yang sedang sarapan di meja makan.
" Pagi, mau sarapan van?" Tanya mama dengan senyam senyum mengingat kejadian semalam.
" Enggak ma, aku bawa keatas aja makanannya sekalian buat Reina " ucap Revan
Mendengar hal itu ke dua orang tua Revan langsung tersenyum memandang anaknya.
" Ohh, tadi malem sampek ronde berapa van sampai sampai Reina gak bisa turun sarapan." Ucap Lila menggoda putranya.
" Mama jangan usil, kasian tuh anak kamu mukanya langsung kikuk gitu hahaha " timpal Mahendra sambil tertawa.
...Sedangkan Revan hanya bisa memasang wajah kikuk dengan senyuman terpaksa sambil memegang nampan berisi sarapan ditangannya kemudian berjalan naik kembali ke kamar....
" Ronde apanya baru peluk saja udah di tendang gimana kalau mau kikuk kikuk bisa berasa main smack down kali ya." Ucap Revan dalam hati sambil begidik ngeri menuju kamarnya.
Cklek
Suara pintu kamar terbuka
...Revan perlahan memasuki kamar kemudian menaruh nampan di atas nakas karena kebetulan hari ini adalah wekend jadi Revan bisa sedikit santai di rumah....
" Terima kasih ya.." ucap Reina tiba tiba ketika keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil roti lapis di atas nakas dan mulai mengunyahnya.
" Untuk?" Tanya Revan dengan bingung.
" Baju dan rotinya" ucap Reina santai sambil terus memakan roti isi lapis itu.
" Ya syukur kalau kamu tahu diri, untung saja Wili cekatan dan sangat profesional" ucap Revan datar membalas Reina.
...Reina yang mendengar itu langsung tersedak dan buru buru mengambil air di sebelah piring roti lampis kemudian meminumnya....
" Apaaaa, apa maksudmu adalah..." Ucap Reina sambil menunjuk baju yang ia kenakan dari atas hingga bawah.
" Iya siapa lagi kalau bukan Wili? " Ucap Revan santai.
" Termasuk..." Ucap Reina yang menggantung karena malu untuk meneruskan.
" Ya tentu termasuk dalamanmu itu." Ucap Revan sambil mengangkat bahu.
" Revaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnn" teriak Reina kemudian sambil menutupi buah dadanya dengan tangan kiri dan bawahannya dengan tangan kanan.
...Sementara Revan yang mendengar teriakan Reina hanya menutup kuping lalu berjalan ke sofa dengan cuek....
Bersambung