Siapa sangka bekerja di sebuah hotel akan mengantarkan kesucian yang di jaganya, Dhea harus kehilangan mahkotanya di saat seorang pria memaksanya untuk melayaninya saat mengantar minuman.
Hingga gadis itu hamil dan melahirkan anak kembar yang sangat cantik.
Arya Ghora prasida, bahkan pria itu pun tak tau siapa wanita yang sudah berhasil membuatnya puas hanya dengan satu malam, hingga rasa itu menjadi candu baginya, dan Arya tak bisa melupakannya walaupun sekejap.
Sampai lima tahun penantian yang hampa, akhirnya mereka di pertemukan kembali, meskipun tak saling mengenal, Arya merasa ada sebuah aliran listrik yang menyengat di saat ia berdekatan dengan Dhea.
apakah dunia akan mempersatukan mereka dengan hadirnya si kembar yang hebat?
ataukah Dhea memilih untuk hidup sendiri, dengan kedua putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Arya terkejut dan mengernyitkan keningnya saat membuka pintu ruangannya, di mana ia mendapati tunangannya sudah berada di sana.
''Maya,'' seru Arya, mendekati Maya yang duduk di sofa.
Wanita itu diam, matanya menatap ke arah Arya yang kini menuju kursi kebesarannya.
''Kenapa kamu terkejut seperti itu?'' Maya melipat kedua tangannya tanpa ingin beranjak.
''Bukan gitu, ngapain kamu ada di sini pagi pagi gini?'' jawab Arya lalu duduk di samping wanita itu.
''Dari mana kamu?'' akhirnya Maya kembali bertanya. Tak betah jika harus berlama lama diam.
''Kenapa pertanyaan kamu seperti itu, aku dari rumah? memangnya kenapa?''
Heh
Senyum mengejek, ''Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi begitu saja, aku ini tunangan kamu, dari mana kamu semalam?'' Maya kembali memastikan bahwa apa yang ia dengar dari Nyonya Septi itu tidak salah.
''Dari rumah Dhea, aku nginep di sana. Reina dan Rania minta aku menemaninya, itu saja.'' Jelas Arya.
Dengan sigap Maya menarik jas yang di pakai Arya dan mendenguskan hidungnya.
''Sekarang anak yang menjadi alasan kamu tidur di sana. Besok apa lagi, anaknya sakit lalu Mamanya dan kemudian apa lagi, bahkan saat ini pun kamu memakai parfum perempuan?''
Dengan sengaja Maya melempar tasnya ke sembarang arah.
Arya ikut menyengirkan hidungnya, pantas saja Maya marah, ternyata selain memakai sabun dan sampo milik Dhea, Arya pun memakai parfum Dhea yang ada di kamar si kembar.
Arya menghela napas tak ingin meladeni Maya yang saat ini sedang emosi. Baginya Maya hanya di liputi kecemburuan saja.
''May, aku kita maaf, tadinya aku nggak mau pakai parfum ini. Tapi karena Jojo dan Jeki tidak membawakan aku parfum. Terpaksa aku pakai yang ada di sana.'' Berkilah, padahal Arya memang sengaja, entah kenapa tangannya merasa geli dan menyemprotkan parfum itu di bajunya.
Maya diam menatap manik mata Arya mencari kejujuran di sana, dan benar, Arya nampak serius dengan kata katanya.
Bualan yang strategis.
''Kamu nggak bohong kan, dan ini murni permintaan anak itu, bukan mamanya?''
Arya hanya berdecak dalam hati, ini bukan dia yang harus membujuk seorang wanita, bahkan Arya gedeg dengan Maya yang terus mendesaknya.
''Aku nggak bohong, tadi malam itu Reina dan Rania minta aku menemaninya tidur, dan aku kasihan, itu saja, lagi pula dia itu calon istri Restu, mana mungkin aku mencintainya.''
''Tapi kenapa harus kamu, kenapa mereka nggak minta Restu saja, dia kan calon papanya.'' Maya makin nyolot dan tak mau kalah.
''Stop...'' teriak Arya yang sudah hilang kesabaran, baginya Maya kali ini keterlaluan dan selalu menyudutkan si kembar.
''Jangan sekali sekali membahas masalah ini, cukup ya May, mereka hanya anak kecil yang tak tau apa apa, yang mereka inginkan hanya kasih sayang dari semua orang, itu saja,'' nada marah.
Maya menepis tangan Arya yang sempat memegangnya, lalu mengambil tas yang ada di lantai. Tak mengucap sepatah kata pun Maya keluar dari ruangan Arya.
Arya menggebrak meja, seumur hidupnya baru kali ini harus di repotkan seorang wanita. Dan itu belum pernah ada dalam sejarah hidupnya.
Akhirnya pria itu membuka pintu ruangannya saat mengingat Maya yang keluar dengan emosi.
''Jo, kejar Maya, bawa dia ke sini lagi!" Titah Arya seraya menatap punggung Maya yang mulai menghilang.
Jojo dan Jeki yang selalu sigap itu pun segera pergi mengemban perintah dari Arya.
Sial, aku harus bagaimana, nggak mungkin aku menolak permintaan Reina dan Rania, tapi aku juga nggak mau kalau Maya mengadu ke Mama, pasti dia akan marah.
Bingung melanda, Arya memilih untuk duduk di kursinya dan memejamkan matanya. Jika selama ini ia hanya pusing dengan dokumen, kini masalah pribadinya pun lebih membuat kepalanya berat dan tak bisa berpikir jernih.
Baru juga beberapa saat menunggu kabar dari Jojo, ponsel yang ada di sakunya itu berdering, dan kebetulan nama Jojo berkelip di layar.
''Ada apa?'' tanya Arya.
Mbak Maya kecelakaan di dekat kantor, Tuan, mobilnya menabrak pembatas jalan.
''Apa?! bawa dia ke rumah sakit, aku akan segera datang.''
Arya yang nampak panik itu segera meninggalkan ruangannya untuk menyusul Jojo dan Jeki.
Gila tu anak, nekad banget. Apa dia nggak tau kalau ini berbahaya. gerutu Arya dalam hati.
Lima belas menit berlalu, kini Arya sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit. Dengan langkah lebarnya Arya menyusuri lorong untuk mencari ruangan Maya setelah mendapat petunjuk resepsionis.
''Tuan,'' Panggil Jojo menghampiri Arya yang sedikit kebingungan.
''Bagaimana keadaan Maya?''
''Masih diperiksa.'' Menunjukkan jalan ke arah ruangan tunangannya.
Ceklek, pintu ruangan terbuka tepat Arya sampai di sana. Sebuah kebetulan yang tak di sengaja, Arya langsung menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Maya.
''Dok, bagaimana keadaan Maya?'' tanya Arya antusias.
''Ada senyum yang terbit di sudut bibir Dokter di depannya itu.
''Non Maya baik baik saja, hanya terkena benturan sedikit, dan itu tidak parah, Tuan tidak perlu khawatir.''
Arya bernapas dengan lega setelah mendengar pernyataan Dokter. Setidaknya ini bukanlah masalah besar yang membebani.
''Terima kasih, Dok, apa saya boleh masuk?''
"Silahkan!"
Arya menatap tubuh Maya yang berbaring di atas brankar. Dengan langkah pelan Arya mendekati Mata yang meringkuk memunggunginya.
"Harusnya kamu itu mikir dulu akibat dari kecerobohan kamu." Ucap Arya.
"Kamu tau kan itu sangat berbahaya." Imbuhnya lagi.
Maya tak menjawab, namun suara sesenggukan menandakan kalau Maya sedang menangis.
"Aku minta maaf, karena aku nggak bilang sama kamu," ucap Arya, mengusap lengan Maya yang bergetar.
Akhirnya Maya bangun dan menyandarkan tubuhnya menatap wajah Arya yang mematung di samping brankar.
"Ar, aku tau kalau kamu tidak mencintai aku, tapi setidaknya hargailah aku sebagai tunangan kamu, aku mecintaimu." Maya menggenggam tangan Arya.
Maya begitu tulus mencintai aku, dan Dhea pun sudah menjadi milik Restu, aku harus mencoba membuka hati untuk dia.
''Kamu cemburu?'' tanya Arya menatap wajah Maya yang kini menunduk.
Apa dia nggak tau, gitu saja pakai nanya, dasar nggak peka.
Arya menarik kursi dan duduk disampingnya, ia sudah menerima pertunangan itu, artinya Arya pun harus siap menghadapi kehidupannya dengan Maya.
''Kamu tenang saja, aku di sana itu cuma menemani Reina dan Rania, nggak lebih,'' jelas Arya.
Mendengar ucapan Arya, Maya kembali menoleh ke arah xalon suaminya.
''Kamu yakin, kamu nggak ada rasa sama Dhea.'' Menyelidik, karena Maya nggak percaya begitu saja dengan Arya setelah melihat tatapan yang luar biasa di butik waktu itu.
Arya mengangguk tanpa suara. Meskipun hatinya masih oleng, setidaknya Arya berusaha untuk patuh pada ibunya.
typo ya thor,yg paling aneh di apartemen tapi denger klakson dan deru mobil 🙈
kok di klakson mobilnya naik keatas 🙈😛
terharu biru 💕
makasih Thor 🙏
cerita ny keren 👌👍
Arya vs Dhea wkwkwkwk
cocok nih Restu sama Yesi 🤔 akhirnya Restu menemui tambatan hatinya yaitu sahabatny Dhea c Yesi 🤔
terus Maya sama siapa nih 🤔