Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Darah di Dermaga Utara
Van rampasan itu melaju beringas menembus tirai hujan, meninggalkan area kontainer dan mendekati ujung dermaga utara. Di kabin belakang, Rara masih menekan sapu tangannya kuat-kuat ke perut Arka, menahan darah yang terus merembes ke kemeja pria itu.
Tiba-tiba, Bara menginjak rem. Ban van berdecit beradu dengan aspal basah, membuat tubuh Rara nyaris terjerembap ke depan kalau saja tangan kiri Arka tidak menahan bahunya.
"Kenapa berhenti?!" pekik Rara panik.
"Jalur ke kapal kargo diblokir," lapor Bara kaku, matanya menajam menatap ke depan. "Tiga anjing pelacak Victor berjaga di titik masuk. Bersenjata lengkap."
"Aduh, Gusti!" Dino meratap dari kursi depan, memeluk lututnya sendiri. "Udah, kita nyerah aja, Bos! Daripada bodi mobil ini bolong-bolong kayak saringan tahu!"
Arka menepis tangan Rara dari perutnya secara sepihak. Pria itu menggeser tubuhnya yang basah kuyup, menahan ringisan di balik rahangnya yang mengeras, lalu menarik kembali pistol Glock-nya dari lantai.
"Tunggu di sini," perintah Arka mutlak.
"Lo gila?!" Rara membelalak, refleks menarik ujung jaket pria itu. "Luka lo makin parah, Arka! Biar Bara aja yang urus!"
"Tugas Bara memastikan kalian berdua tetap hidup jika saya gagal," balas Arka dingin. Tanpa basa-basi lagi, ia membuka pintu geser dan melompat keluar, menembus badai pelabuhan.
Bara langsung menekan tombol sentral, mengunci semua pintu van. Klik.
"Bara! Buka pintunya!" Rara memukul punggung jok depan dengan panik, napasnya ngos-ngosan. "Kalau jahitannya robek total gimana?! Mau dia mati konyol di luar sana?!"
"Fokus ke depan, Nona," potong Bara datar tanpa menoleh sedikit pun. Matanya mengawasi dari balik kaca depan yang basah. "Bos tidak akan mati semudah itu."
Rara menelan ludah susah payah. Jantungnya bergemuruh lebih keras dari suara guntur. Dengan tubuh gemetar, ia mencondongkan badan ke depan, menempelkan kening ke kaca. Tepat saat itu, kilat menyambar terang benderang, menyingkap kegelapan malam.
Di detik itu, Rara melihat semuanya.
Tiga pria bersenjata laras panjang sedang mengawasi area dermaga, sama sekali tidak menyadari bayangan mematikan yang menyelinap dari balik tumpukan peti kemas di belakang mereka. Gerakan Arka sangat cepat dan efisien. Tanpa suara, ia membekap mulut penjaga paling belakang, mematahkan lehernya dalam satu sentakan brutal, lalu membiarkan tubuh tanpa nyawa itu merosot ke aspal.
Dua temannya tersentak, baru akan memutar tubuh sambil mengangkat senapan.
DOR! DOR!
Dua tembakan akurat bersarang tepat di dahi mereka. Keduanya langsung tumbang sebelum sempat menarik pelatuk. Eksekusi yang sangat rapi, berdarah dingin, dan tanpa ampun.
Rara membekap mulutnya sendiri. Tangannya bergetar hebat. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat nyawa manusia dihabisi secara langsung, tepat di depan matanya. Rasa mual, ngeri, dan tegang mengaduk-aduk perutnya jadi satu.
"Jalan bersih," kata Bara singkat, langsung menginjak pedal gas.
Van melaju membelah genangan air dan mengerem mendadak tepat di samping Arka. Bara menarik tuas kunci.
Srek! Brak!
Arka kembali naik ke kabin, membanting pintu sampai tertutup rapat. Bau karat, air hujan, dan anyir darah langsung menyengat hidung. Arka menyandarkan kepalanya ke dinding van, mengembuskan napas panjang. Wajahnya yang biasa sangar kini tampak sangat pucat.
Mata Rara langsung tertuju pada tangan Arka yang kembali menekan perut. Darah merah pekat kini tak terbendung lagi, mengalir membasahi celana kargonya.
"Darah lo..." bisik Rara ngeri. Tanpa pikir panjang, ia merebut handuk kecil dari ransel taktis di dekatnya dan memajukan badan. "Tuh, kan! Jahitan lo tembus parah! Sengaja banget mau pamer nyawa lo ada sembilan, hah?!"
"Jangan berteriak, Rara," tegur Arka parau, matanya masih terpejam. "Telinga saya berdengung."
"Gimana gue nggak teriak kalau lo sebodoh itu?!" Rara sudah tidak peduli. Air matanya tumpah tanpa bisa ditahan. Tangannya yang gemetar mengusap wajah basah Arka asal-asalan pakai handuk. "Gue bilang jangan nekat! Kalau lo pingsan beneran di luar sana, emangnya gue bisa nyeret badan lo ke kapal?!"
Arka perlahan membuka mata. Ia menatap gadis yang jaraknya hanya beberapa jengkal darinya itu. Mata Rara merah, basah, dan sarat akan ketakutan yang luar biasa.
"Lo pucat banget, Arka..." suara Rara mendadak melemah, berubah parau karena isak tangis. Jari gemetarnya tanpa sadar menyentuh rahang pria itu yang sedingin es. "Jangan bikin gue jantungan kayak gini..."
Arka diam sejenak. Ia membiarkan tangan gadis itu menempel di rahangnya, sebelum akhirnya ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah musuh. Bukan untuk membelai atau mencium tangan Rara, melainkan untuk menyingkirkan tangan gadis itu dengan cengkeraman yang kaku dan posesif.
Arka menatap tepat ke dalam manik mata Rara. Sorot matanya gelap, tak terbantahkan, dan penuh dominasi.
"Hapus air matamu," perintah Arka dingin, nadanya sangat mutlak. "Sudah saya bilang, kematian tidak akan berani menyentuh saya sebelum saya memulangkanmu dengan selamat. Saya bukan pria yang melanggar sumpahnya."
Rara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, meredam isakannya. Tidak ada kalimat manis, tapi janji absolut yang keluar dari mulut pria kejam itu entah bagaimana meruntuhkan seluruh kepanikannya. Karena kelelahan fisik dan mental yang memuncak, Rara menundukkan kepala, menyandarkan keningnya ke bahu lebar Arka. Ia tidak peduli lagi kemejanya akan kotor terkena darah dan air hujan.
Arka sempat menegang sesaat menerima sandaran tiba-tiba itu, namun ia tidak menepisnya. Ia hanya membiarkan Rara berlindung di bahunya yang basah, sementara tatapan tajamnya beralih ke depan.
"Kapal kargonya ada di depan, Bos," lapor Bara.
"Bagus. Berhenti di titik bayangan," perintah Arka datar. "Kita tinggalkan daratan kotor ini."