NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24 Benang Hitam

"Tahan orang di belakang tirai," kata Adi.

Dua abdi dalem Puri Timur bergerak lebih cepat daripada bisik-bisik yang pecah di pendopo. Tirai samping tersibak. Seorang dayang muda tersandung keluar, wajahnya pucat, kedua tangannya memeluk kantong kain kecil di dada.

Kantong itu hampir jatuh.

Adi menangkap pergelangan tangannya lebih dulu.

"Apa yang kau bawa?"

"Tidak ada, Tuan. Hamba hanya lewat."

Suara dayang itu gemetar terlalu keras untuk terdengar polos.

Permaisuri Ratih meletakkan cangkirnya. "Adi, ini pendopo Puri Ratih. Kau tidak bisa seenaknya menangkap orangku."

Adi segera berlutut. Kepalanya tunduk, tetapi tangannya tetap menahan dayang itu. "Hamba mohon ampun, Permaisuri. Hamba hanya menjalankan perintah menjaga keselamatan Putri Mahkota."

Kalimat itu membuat semua mata kembali kepada Anindya.

Jika ia diam, Adi akan terlihat lancang. Jika ia membela terlalu tajam, Ratih bisa menuduhnya memanfaatkan nama Puri Timur untuk menginjak Puri Ratih.

Anindya meletakkan mangkuk jamu di atas nampan.

"Buka kantong itu," katanya.

Suaranya tidak tinggi, tetapi pendopo mendadak sunyi.

Dayang itu menoleh kepada Ratih, seolah mencari jalan keluar. Ratih hanya menatapnya dengan senyum dingin. Senyum itu cukup untuk membuat lutut dayang tersebut lemas.

Adi mengambil kantong kain dari tangannya dan menyerahkannya kepada Suradi. Tabib Kerajaan membuka simpulnya. Di dalamnya ada bubuk putih halus, dibungkus daun kering.

Beberapa istri pejabat menutup mulut.

Ratih menghela napas pelan, seperti orang kecewa pada pelayan bodoh. "Siapa yang menyuruhmu membawa benda itu ke sini?"

Dayang muda itu langsung bersujud. "Hamba tidak tahu, Permaisuri. Hamba hanya diperintah menaruhnya di dapur jamu. Katanya untuk membuat tubuh Gusti Putri lebih hangat."

"Oleh siapa?"

"Hamba..." Dayang itu menangis tanpa suara. "Hamba tidak melihat wajahnya. Ia memakai kain penutup kepala. Hamba hanya mendengar suaranya."

Ratih menoleh pada pengurus dapur yang berdiri di dekat pintu. "Bawa dia. Periksa semua orang dapur. Aku tidak ingin ada pelayan kotor di Puri Ratih."

Pengurus dapur maju dengan cepat.

Terlalu cepat.

Anindya melihat jari dayang muda itu mencakar lantai. Jika perempuan itu dibawa pergi sekarang, yang tersisa hanya cerita yang ditulis oleh Puri Ratih.

"Tunggu."

Semua orang menoleh.

Ratih mengangkat alis. "Ada apa lagi, Gusti Putri?"

Anindya berdiri perlahan. Tubuhnya belum sepenuhnya kuat. Saat kakinya menapak, lututnya sempat terasa kosong. Wulan ingin menopang, tetapi Anindya hanya menggerakkan jari agar ia tetap di belakang.

Ia tidak boleh tampak diseret sakit.

"Karena ramuan ini diberikan kepada hamba di depan para selir dan istri bangsawan," kata Anindya, "maka pemeriksaannya juga sebaiknya dicatat di depan saksi."

Senyum Ratih menipis.

"Kau mencurigai Puri Ratih?"

"Hamba menjaga nama Puri Ratih," jawab Anindya. "Jika dayang ini langsung dibawa ke ruang belakang, orang bisa mengatakan Permaisuri menutup sesuatu. Hamba tentu tidak ingin perhatian Permaisuri disalahpahami."

Kalimat itu mengembalikan pisau ke tangan Ratih sendiri.

Beberapa perempuan yang tadi menunduk kini saling melirik. Mereka tahu bahasa keraton. Mereka tahu ketika pujian berubah menjadi jerat.

Suradi menunduk. "Hamba dapat memeriksa bubuk ini sekarang."

"Periksa," kata Anindya.

Ratih tidak bisa melarang.

Suradi mengambil sedikit bubuk dengan ujung pisau kecil, mencampurnya dengan setetes air, lalu mendekatkannya ke hidung. Ia tidak mencicipi. Ia hanya melihat perubahan warna pada daun yang disentuhkan ke larutan itu.

"Ini bukan racun mematikan," katanya.

Sebagian orang menarik napas lega.

Suradi melanjutkan, "Tetapi bagi tubuh yang sedang menjalani pengobatan dingin dalam, bubuk pemanas sekuat ini bisa membuat perut kram, jantung berdebar, dan demam naik kembali. Jika Gusti Putri meminumnya, semua orang mungkin mengira tubuh beliau memang terlalu lemah untuk tugas istana."

Pendopo kembali sunyi.

Kali ini, sunyinya lebih berat.

Anindya menatap Ratih. Ia tidak tersenyum. Justru wajahnya tenang membuat tuduhan yang tidak diucapkan terdengar lebih jelas.

"Untung Permaisuri memanggil hamba di depan banyak saksi," katanya. "Jika tidak, kesalahpahaman ini mungkin sulit dibersihkan."

Ratih memandangnya lama.

Untuk pertama kalinya sejak Anindya masuk, perempuan itu tidak terlihat seperti ibu yang penuh perhatian. Di balik mata indahnya, ada perhitungan yang dingin.

"Gusti Putri benar," kata Ratih akhirnya. "Catat semuanya. Aku juga ingin tahu siapa yang berani memakai dapurku."

Adi menunduk. "Sesuai titah Permaisuri."

Namun saat ia berbalik, ia melihat sesuatu di pergelangan dayang muda itu. Seutas benang hitam menempel di bawah gelang kain, sangat kecil, hampir seperti sisa jahitan.

Benang yang sama dengan tanda pada surat.

Adi tidak mengatakan apa pun.

Ia hanya menutup kantong bubuk itu dan menyimpannya di kotak bukti.

***

Ketika Anindya kembali ke Puri Timur, telapak tangannya dingin sampai Wulan harus menggenggamnya dengan kedua tangan.

"Gusti Putri terlalu memaksakan diri," bisik Wulan.

"Kalau aku duduk terus, mereka akan menganggap aku mudah dipindahkan seperti vas bunga."

Wulan menggigit bibir, tidak berani membantah.

Arjuna menunggu di ruang dalam.

Ia tidak bertanya apakah Anindya baik-baik saja. Matanya sudah menjawab bahwa ia melihat semuanya, dari wajah pucat sampai langkah yang sedikit lebih lambat.

"Duduk dulu," katanya.

Anindya duduk. Baru setelah tubuhnya menyentuh bantalan, ia menyadari punggungnya basah oleh keringat dingin.

Arjuna mengambil mangkuk kecil berisi bubur hangat dari meja. "Makan sedikit."

"Kakanda menyuruh Tabib Suradi masuk tepat pada waktunya."

"Aku menyuruhnya menunggu di dekat pendopo sejak pagi."

"Dan benang hitam itu?"

Arjuna mengaduk bubur perlahan agar uapnya turun. "Tanda dari orang kita di belakang istana."

"Selir Ningrum?"

Gerakan tangan Arjuna berhenti sekejap.

Anindya melihatnya. "Aku membaca nama-nama selir sejak masuk Puri Timur. Di antara mereka, hanya Selir Ningrum yang cukup dekat dengan Puri Ratih untuk melihat dapur, tetapi cukup jauh dari Ratih untuk tidak selalu dicurigai."

Arjuna menatap istrinya. Di wajahnya muncul sesuatu yang hampir seperti bangga, tetapi bercampur cemas.

"Kau seharusnya beristirahat, bukan menebak jaringan rahasia."

"Kalau aku tidak menebak, Kakanda akan menyimpan semuanya sendiri."

Ucapan itu pelan, tetapi mengenai tempat yang paling sakit.

Arjuna meletakkan mangkuk di tangan Anindya. Jari mereka bersentuhan. Ia tidak langsung menarik diri.

"Aku tidak ingin membuatmu memikul terlalu banyak."

"Aku tahu." Anindya menunduk pada bubur hangat itu. "Tapi aku juga tidak ingin orang yang melindungiku mati satu per satu karena aku tidak tahu apa-apa."

Ruangan menjadi hening.

Arjuna mengingat kehidupan sebelumnya. Terlalu banyak orang mati tanpa sempat ia jelaskan alasan perang mereka. Anindya adalah salah satunya, meskipun ia masih bernapas lama setelah hatinya ditinggalkan.

"Baik," katanya akhirnya. "Mulai sekarang, jika menyangkut tubuhmu dan Puri Timur, aku akan memberitahumu sebelum bergerak."

Anindya mengangkat mata. "Janji?"

"Janji."

Untuk sesaat, perang di luar terasa jauh.

Lalu Garuda masuk tanpa suara dan berlutut di dekat pintu.

"Yang Mulia," katanya, "dayang pembawa bubuk tidak kembali ke dapur Puri Ratih."

Arjuna menoleh. "Ke mana?"

"Ia mencoba menuju halaman belakang tempat pelayan Selir Melati biasa menerima kiriman."

Anindya menggenggam mangkuknya lebih erat.

Nama Selir Melati terdengar asing di bibir banyak orang, tetapi di istana, nama asing sering dipilih justru karena mudah dikorbankan.

Garuda menundukkan kepala lebih rendah.

"Sepertinya seseorang ingin membuat semua jejak berhenti pada Selir Melati."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!