NovelToon NovelToon
Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:324.7k
Nilai: 5
Nama Author: Revolusi Rindu

Arabella Qaseema, wanita dewasa berumur 24 tahun. Sesuai dengan namanya yang cantik, Arabella memiliki paras yang cantik dan imut. Tapi sayang, ia sulit mendapatkan pasangan. Setiap bulan yang berganti, bergulir disetiap harinya. Arabella, selalu berharap akan ada seorang pria yang akan datang untuk melamar.

"Hilal jodoh belum terlihat. Jadi nunggu hilal dulu. Nanti ya, kalau enggak Sabtu, ya Minggu,"

"Kalau diundang, aku gak mau ngasih kado. Hari minggu gini KUA-nya tutup,"

"Memang mau nyariin calon buat aku?"

"Besok ya, kalau enggak hujan. Aku cariin satu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revolusi Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Perjodohan

Rumah besar bak istana kerajan, terlihat begitu besar dan mewah. Bercat putih dengan barang berkelas yang terkesan mahal. Gerbang depan rumah yang menjulang tinggi dibuka oleh seorang satpam, saat mobil BMW hitam Haafizh masuk kedalam area halaman rumah.

Mobil langsung melesat kedalam garasi rumah. Terparkir rapi dengan deretan mobil lainnya. Haafizh turun dari mobil, dengan raut wajah masam. Pasalnya ia tidak jadi menemui ayah Arabella.

Ada apa dengan bunda, saat menelpon tadi bunda sangat cerewet sekali menyuruhnya untuk segera pulang. Sebenarnya ada apa dirumah? Hah, Haafizh mendesah kesal. Karena bunda rencananya jadi gagal.

Kaki panjang Haafizh melangkah masuk kedalam rumah, hingga pintu besar itu ia buka. Saat masuk retina tajam Haafizh menangkap sosok seorang pria paruh baya tengah duduk diruang tamu bersama ayahnya.

Terlihat keduanya seperti sedang menikmati secangkir kopi panas, terdengar suara ayahnya yang tertawa terbahak seraya geleng-geleng kepala.

"Anakku itu ternyata sangat nakal, dia bergerak cepat rupanya" Suara Pak Abian dengan tertawa-tawa.

Haafizh yang sedari diam mematung memperhatikan tingkah keduanya segera berjalan mendekat.

Suara derap langkah kaki Haafizh cukup keras, sehingga mengalihkan perhatian kedua pria itu untuk segera mengetahui siapa pemilik suara derap langkah kaki itu.

"Nah ini dia anakku yang nakal. Haha, dia sangat tampan bukan, sama seperti ayahnya" Ucap Pak Abian dengan bangga.

"Benar dia sangat tampan sama sepertimu, Bian"

Haafizh hanya tersenyum lalu mencium tangan ayahnya dengan penuh kepatuhan. Saat mencium punggung tangan teman ayahnya, pundak Haafizh ditepuk olehnya hingga Haafizh mendongak untuk melihat wajah pria tua yang ada dihadapan nya.

"Tidak salah kalau sang Maha Kuasa telah berkehendak dan mempertemukan kamu dengan anak saya lebih dulu" Ucapnya seraya tersenyum hangat.

Haafizh terdiam seraya mencerna setiap perkataan teman ayahnya tadi. Apa maksudnya? Memangnya Haafizh kenal dengan anak dari teman ayahnya ini. Seingat Haafizh bertemu saja belum apalagi kenal dengan anaknya.

Setelah mencium punggung tangan teman ayahnya Haafizh segera ikut duduk disebelah ayahnya. Sehingga keduanya saling berhadapan dengan pria paruh baya itu.

"Ini teman ayah. Sudah lama kami tidak bertemu." Ucap Pak Abian membuka obrolan.

"Bian anakmu seorang abdi negara, dia terlihat begitu gagah dan berwibawa"

Haafizh yang mendapat pujian seperti itu lantas hanya bisa tersenyum ramah. Berbeda dengan ayahnya yang begitu terlihat jumawa.

"Kau ini seperti tidak tahu saja, dia inikan titisanku ya jadinya menurunlah"

"Kau terlalu percaya diri Bian, lihatlah wajah anakmu itu, dia terlihat risih karena harus mirip dengan ayahnya. Hahaha" Candanya diakhiri tawa yang begitu menggelegar.

Sontak Pak Abian ikut tertawa seraya menepuk punggung Haafizh dengan cukup kencang. Haafizh hanya diam dengan obrolan yang ia tidak mengerti sama sekali.

"Haafizh pasti kamu bingungkan dengan kedatangan teman ayah kesini" Tanya Pak Abian saat berhenti tertawa.

Haafizh lantas menganggukkan kepala.

"Karena dia ingin meminta pertanggung jawaban"

"Pertanggung jawaban apa?" Tanya Haafizh seraya menatap ayahnya dengan bingung.

"Karena kamu telah mendekati anak saya" Sahut pria tua itu.

Mendekati anaknya?! Lagi pula anaknya yang mana, Haafizh tidak pernah mendekati siapapun kecuali Arabella. Dari zaman Haafizh masih sekolah hingga mengemban pendidikan kemiliteran, Haafizh tidak pernah berpacaran, apalagi mendekati para wanita.

"Maaf, sebelumnya saya tidak pernah mengenal bapak, jadi saya juga tidak mengenal anak bapak"

Lantas pria paruh baya itu tersenyum saat mendengar ucapan Haafizh.

"Tidak masalah kalau kamu tidak mengenal saya. Tapi apa nak Haafizh yakin, tidak mengenal putri saya"

Haafizh kembali berpikir seraya mengingat kembali, tapi ia sangat yakin kalau Haafizh tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali dengan Arabella.

"Saya sangat yakin. Lagi pula saya tidak kenal siapa putri bapak"

Tiba-tiba tawa Pak Abian dan temannya meledak, keduanya seperti tengah menertawakan Haafizh.

"Kamu yakin Haafizh? Lalu wanita yang selalu kau antar pulang sehabis ia bekerja itu siapa" Ucap Pak Abian, kali ini ia bertanya dengan cukup serius. Sengaja ingin melihat reaksi Haafizh.

Kedua mata tajam Haafizh langsung menatap ayahnya dengan tajam. Pikirannya langsung terpusat pada satu nama, yaitu Arabella. Wanita cantik dengan tatapan teduh. Bukannya setiap habis bekerja Haafizh selalu mengantar Arabella pulang sampai kedepan rumah.

"Kenapa diam? Apa kamu mengingat sesuatu nak Haafizh"

Haafizh langsung terkejut karena ia menyadari sesuatu. Apa pria paruh baya yang ada dihadapannya ini adalah ayahnya Arabella.

Seolah-olah mengetahui isi pikiran Haafizh pria paruh baya itu langsung tersenyum seraya berkata. "Kamu benar, saya adalah ayahnya Arabella. Terimakasih banyak telah menjaga putri saya selama ini dengan baik"

"Jadi Arabella... "

"Iya nak Haafizh, Arabella adalah anak saya. Sebenarnya Arabella belum bicara apapun pada saya tentang kedekatan kalian berdua selama ini."

"Malam itu saya sedang menunggu pulang kerja Arabella. Tidak biasanya ada suara mesin mobil yang berhenti didepan rumah saya, karena saya penasaran saya melihat dari balik jendela. Saat itu saat melihat Arabella turun dari mobil kamu. Awalnya saya ingin marah karena Ara telah berani berdekatan dengan seorang pria. Tapi saat saya melihat kamu seperti tau batasan dengan yang bukan mahramnya, saya jadi merasa lega."

"Waktu itu saya ingin bertanya pada Ara, tapi saya berniat untuk mendiamkan dulu. Sampai pada akhirnya kamu selalu mengantar anak saya pulang dengan selamat. Semakin hari kedekatan kalian berdua semakin terlihat dekat. Saya juga dapat melihat semenjak dia bersamamu, Ara jadi terlihat bahagia."

"Maafkan saya! Saya telah lancang mendekati putri bapak tanpa meminta izin terlebih dahulu" Ucap Haafizh disela perkataan Pak Haidar.

"Tidak apa nak Haafizh. Karena setelah saya bertemu ayahmu beberapa bulan lalu tepatnya saat kamu pergi bertugas. Saya bercerita tentang kedekatan kalian berdua, dan kata ayahmu bahwa itu adalah Haafizh anaknya. Disana saya sangat bahagia karena Arabella bisa dekat dengan orang baik seperti kamu"

"Tapi saya lebih bahagia lagi, karena saya telah dipertemukan dengan putri bapak yaitu Arabella." Wajah Haafizh tampak berseri-seri sekali. Tidak disangka ia bisa bertemu ayahnya Arabella dirumahnya sendiri, apalagi ayahnya berteman baik dengan ayah Arabella.

"Tapi nak, saya sangat menyesal." Ucap Pak Haidar dengan lirih, ia menundukkan kepalanya. Menyesali karena telah terlanjur mengatakan perjodohan ini pada Ana.

Akhirnya Pak Haidar dan Pak Abian menceritakan segalanya pada Haafizh, dari mulai perjodohan keinginan mendiang istrinya Pak Haidar hingga perjodohan ini akan dilangsungkan besok oleh dinda.

"Haafizh jika perjodohan ini batal, bundamu akan marah besar. Karena dia sangat menyayangi sahabatnya yaitu istrinya teman ayah ini. Apalagi bundamu itu sangat menginginkan perjodohan ini terjadi secepatnya tanpa ada penolakan" Ucap Pak Abian seraya menatap Haafizh.

"Lalu dimana bunda sekarang?" Tanya Haafizh.

"Bunda sedang keluar, sengaja ayah suruh kerumah nenekmu agar dia tidak mengetahui hal ini. Sebelum berangkat, ayah sempat menyuruh bunda untuk menelponmu untuk segera pulang"

"Lalu bagaimana dengan rencana perjodohan besok?" Tanya Pak Haidar.

"Serahkan urusan itu pada saya" Sahut Pak Abian seraya memikirkan sesuatu.

"Nak Haafizh saya tidak ingin membuat Arabella bersedih. Saya mohon bertanggung jawablah atas kedekatan kalian selama ini. Nikahilah putri saya secepatnya, sebelum Ana mengetahui siapa pria yang sebenarnya akan dijodohkan dengannya." Tegas Pak Haidar dengan serius.

"Saya sangat siap untuk segera menghalalkan putri bapak. Karena saya mencitai Arabella!" Jawab Haafizh dengan mantap.

1
Tata google
trus apa ana juga bukan gadis miskin dan rendahan.. apalagi anak seorang pela**r kok bisa2 ngomg ke ara kayak gitu..
Rachma Linggar
deg deg an dapet,, endingnya happy semangat berkarya terus 😍
Tamirah
cerita sampai episode ini keren.
tinggal menunggu prahara sang bunda nya hafiz lanjut....!
Tamirah
ceritanya.menarik yg diharap dr pembaca novel tentu happy ending
Lala Japoung
sabarrr
Dewi Susanti
lumayan menghibur
Marwa
assalamualaikum kak, bagus ceritanya semangat up ya,jgn lupa mampir di novelku juga ya.
~``Miss you
haisssh Sampek merinding baca ny

Masya Allah...
~``Miss you
gemeshhhh bangeeet
~``Miss you
haisshhhh
~``Miss you
Masya Allah, huhu mau banget kek gini ya Allah...😭🤣
~``Miss you
Masya Allah... langka bat yg kek beginian hiks
~``Miss you
huhu Masya Allah... Masya Allah...😭🤧
~``Miss you
melamar kyamuuu

🤣
~``Miss you
ciaaah kesempatan ae nih babang kapten wkwk
~``Miss you
huhu semoga lancar rencananya hiks
~``Miss you
dan saya takut akan rasa sakit ny hiks
~``Miss you
cocok sangaaaat 🔥
~``Miss you
gk bisa, halal kan dulu🤭😆🤣
~``Miss you
yaaaah huhu, dahlah hiks
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!