NovelToon NovelToon
Unexpected Love

Unexpected Love

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Yes.im'emil

Natasya Callissa Atmadja seorang mahasiswi cantik semester enam berusia dua puluh tahun berpacaran dengan Richo Sbastian, mahasiswa tampan dan sangat populer tapi sayang Richo malah mengkhianatinya. Pengkhianatan yang dilakukan Richo membuat Callissa trauma untuk berpacaran dengan lelaki yang populer.

"Ca tampan banget sumpah, katanya dia itu cowok paling tampan dan populer di Universitas Tunas Bangsa" ucap Olivia sahabat Callissa.

"Ga perduli, udah jangan mau sama yang terkenal. Pacarnya dimana-dimana" ucap Callissa pergi.

Tapi tanpa diduga Callissa telah kembali jatuh hati pada sosok pria tampan dan juga populer yang tak lain adalah sahabat kakaknya sendiri. Akankah Callissa kembali menjalin asmara dengan sosok laki-laki yang selalu ingin dia hindari?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yes.im'emil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UNEXPTDL BAB 22

Dava kini sudah berada di apotek yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Saat masuk, di dalam apotek itu ada beberapa pembeli. Dava menjadi ragu untuk membeli alat tes kehamilan tersebut.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Mas?." tanya karyawan apotek pada Dava yang terlihat kebingungan.

"Eum-anu, itu." jawab Dava dengan gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Itu apa Mas?." jawab karyawan tersebut bingung.

"Itu loh, alat tes kehamilan." ucap Dava pelan.

"Oh test pack , bilang dong Mas dari tadi." ucap karyawan tersebut kencang sehingga beberapa orang yang ada disana melihat ke arah Dava.

"Duh Mbak lemes amat sih mulutnya, saya udah pelan. Mbak nya malah teriak." ucap Dava gemas.

"Maaf Mas, ga sengaja." ucap karyawan tersebut sambil tersenyum.

"Yaudah ga apa-apa, cepetan deh Mbak. Saya lagi buru-buru." Sebenarnya bukan karena terburu-buru hanya saja Dava ingin segera keluar dari tempat itu karena orang- orang yang ada disana terus menatapnya, membuatnya tidak nyaman.

"Mau yang merk apa Mas?."

"Apa aja, semuanya juga ga apa-apa." ucap Dava yang memang tidak tau menau soal merk alat tes kehamilan.

"Baik, tunggu sebentar ya, Mas." ucap karyawan itu pergi. Lalu beberapa menit kemudian, karyawan itu datang dengan membawa beberapa barang ditangannya.

"Ini, Mas. Nanti petunjuk penggunaannya ada disini ko, nanti bisa di baca aja Mas, biar lebih paham dan jelas. Kalau menunjukkan dua garis atau simbol tambah, itu tandanya positif."

Dava pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban jika dia mengerti, setelah itu dia membayarnya dan pergi kembali menuju rumah dengan hati yang tidak tenang.

Sesampainya di rumah, Dava dengan tergesa-gesa menaiki anak tangga dan menuju kamar Callissa. "Cepet pake itu." ucapnya melemparkan plastik berisi test pack pada Callissa yang sedang duduk memainkan ponselnya.

"Apaan Kak?." tanya Callissa bingung.

"Buka aja sendiri."

Callissa pun membuka isi plastik hitam tersebut, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada ketakutan di dalam hatinya. "Maksud Kakak apa?." ucap Callissa mencoba untuk tenang dan berpura-pura tidak mengerti dengan maksud kakaknya.

"Gue yakin loe pasti tau, Ca, itu alat apaan. Karena loe udah dewasa. Gue minta sekarang loe cepet pake alat itu." ucapnya sambil menarik tangan Callissa.

"Apaan sih Kak? Ga mau ah." tolak Callissa menepis tangan Dava.

"Kalau loe ga mau, berarti apa yang dikatakan Dokter Mia benar, loe hamil." ucap Dava yang membuat Callissa terkejut.

"Hamil apaan Kak? Siapa yang hamil?." jawabnya sambil tertawa hambar, menghindar dari kebenaran yang diucapkan Dava.

"Masa iya gue beneran hamil?." ucapnya dalam hati.

"Ca, gue ini Kakak loe. Gue bisa liat ketakutan dan kegugupan dari wajah loe." ucapnya menatap Callissa.

"Takut karena apa Kak? Aku ga takut, aku gugup karena Kak Dava bilang yang engga masuk akal." elak Callissa yang kini sudah mulai berkeringat dingin.

"Ga usah banyak alasan, gue bilang cepat sekarang pake itu, Ca." ucapnya menarik Callissa ke kamar mandi.

"Kak lepasin, sakit. Aku ga mau." jawab Callissa menangis karena merasakan sakit di pergelangan tangannya.

"Kalau gituh turutin apa yang Kakak suruh, Ca." ucap Dava menatap tajam adiknya.

Dengan terpaksa Callissa pun masuk ke dalam kamar mandi dan membawa plastik yang berisikan lima test pack. Callissa tidak langsung memakainya tapi dia malah mondar mandi di dalam kamar mandi.

Dia menyalakan shower, lalu menangis. "Ya Tuhan, apa dia beneran tumbuh di dalam rahim aku?." ucapnya sambil mengelus perut ratanya sendiri.

"Aku ga mau, aku takut. Aku harus gimana kalau dia beneran ada? Gimana aku ngadepin Kak Dava, Papah sama Mamah?." ucap Callissa menangis dengan penuh ketakutan.

"Ca, cepetan, udah belum?." tanya Dava sambil mengetuk pintu kamar mandi.

Dengan cepat Callissa menghapus air matanya lalu mencuci muka. "Belum Kak, lagian udah deh hasilnya juga bakalan negatif." jawabnya.

"Udah cepetan pake. Kakak ga bakalan percaya sebelum liat hasilnya." ucap Dava.

"Semoga hasilnya negatif ya Tuhan." ucap Dava dalam hati.

Callissa pun dengan segera membuka semua test pack itu lalu mengikuti petunjuk yang ada disana. "Cepetan keluar, Ca." ucap Dava mengetuk pintu dengan tak sabar.

Alat tes kehamilan yang baru digunakan Callissa belum ada yang menunjukkan hasilnya karena memang dia baru saja menggunakannya dan harus menunggu beberapa menit untuk mengetahui hasilnya.

"Aku harus gimana? Aku ga bisa menghindar dari Kak Dava. Tapi aku takut, aku takut hasilnya positif." ucap Callissa mondar mandir.

"Ca, cepetan bukan pintunya. Kakak tau kamu udah selesai."

"Aku harus hadapin ini. Semoga aja hasilnya negatif, aku mohon ya Allah." ucapnya dalam hati. Dengan terpaksa Callissa pun keluar.

"Iya iya Kak." jawab Callissa sambil membuka pintu kamar mandi.

Dengan segera Dava mengambil alat tes kehamilan tanpa jijik yang sekarang berada di tangan Callissa. "Mana hasilnya? Ko belum ada apapun sih?." ucapnya sambil melihat tes kehamilan tersebut.

"Itu kan butuh beberapa menit Kak, udah deh sini. Lagian tetap aja hasilnya negatif Kak." ucapnya sambil merebut kembali alat tes kehamilan yang ada ditangan Dava agar dia bisa membuangnya sebelum test pack itu menunjukkan hasilnya.

Karena Callissa merebutnya dengan kasar, satu alat tes kehamilan itu terjatuh. Callissa pun membungkukkan badannya untuk mengambilnya, tapi sayangnya dia kalah cepat dengan Dava.

Plak

Satu tamparan berhasil Dava layangkan pada pipi putih adiknya, dia begitu emosi ketika test pack itu menunjukkan simbol tambah. "Kakak ini kenapa?." teriak Callissa sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan Dava.

Dava pun segera kembali mengambil keempat test pack yang ada di tangan Callissa. Dan begitu terkejutnya dia ketika kedua test pack menunjukkan dua garis dan dua lagi menunjukkan simbol tambah. Kelima test pack itu benar-benar menunjukkan jika Callissa hamil.

"Jadi ini? Ini alasan kamu takut untuk melakukan tes, Ca?." teriak Dava.

"Siapa huh? Siapa ayah dari anak haram itu?." teriak Dava emosi, sedangkan Callissa, dia hanya bisa menunduk sambil menangis di hadapan kakaknya.

Bima yang saat ini sedang tidur di kamar Dava, terbangun dari tidurnya karena merasa terusik ketika mendengar suara teriakan dari sahabatnya. "Apaan sih? Kenapa Dava pake teriak-teriak segala?." gumam Bima setengah sadar.

"Bilang Ca, siapa yang udah bikin kamu hamil ginih?." tanya Dava sambil mencengkram kedua pundak adiknya.

"Kak sakit, lepasin." isak Callissa yang merasakan sakit di pundaknya karena Dava benar-benar memegang pundaknya dengan kuat.

"Shit." ucap Dava frustasi, menjambak rambutnya.

"Loe kenapa sih Ca? Callissa, adik yang gue tau ga bakalan mungkin melakukan hal seburuk itu. Kenapa loe bisa semurahan itu, Callissa Natasya Atmadja?." ucap Dava sambil meninju dinding kamar.

"Maaf Kak, maafin aku ga bisa jadi adik yang baik." ucapnya berlutut memohon dibawah kaki Dava.

"Gue tanya siapa dia? Siapa cowok brengsek yang udah bikin loe hamil, Ca?." tanya Dava kini ikut berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Callissa.

Callissa tidak menjawab pertanyaan Dava, dia hanya menagis tanpa memberitahu siapa nama pria itu. "Callissa, gue tanya sekali lagi. Siapa cowok yang udah hamilin loe?." tanya Dava sambil memegang dagu Callissa, agar menatapnya.

***

Haiii, mau tau kelanjutannya? Ga sabar? Di vote, like dan komen dulu ya, nanti kalau like sama votenya banyak aku tambah lagi upnya hari ini hihiii

1
Rina Rina
aq suka bgt crita ini udah smpe Tah brapA x aq baca ini gk ada bosan nya makasih ya Thor
Sunny Kwok
yah ending nya kok gini ga enakin knp ga sampe calissa melahirkan
zee_
jangan2 endingnya adekaka jadian
Cica Kosmetik
Luar biasa
Cica Kosmetik
mamtap💓💓💓💓
Cica Kosmetik
perfect
bagus thor😀😀😀
Cica Kosmetik
seneng banget baca novel nya..tiap episode ada hiburannya..visual nya bikin mata enak😀😀😀🙂
cemNgat thoorrrr😀😀
Cica Kosmetik
Luar biasa
Betty Nurbaini
istri aneh menurutku...
Rosa Rosiana
hadir
Deli Momoidea Pelangiran
pon nawach
Dedew
lah Richo nya ganteng,,mana yg jadi selingkuhan nya diraba
Tuk Marul
cantikan kysanya
Mami Vanya Kaban
ini dah ending ya thor...
Mami Vanya Kaban
suka sama sifat calista yg dewasa dlm memikirkan sesuatu, masa suaminya kalah sama istrinya
Sherly Chandra
nggak seru udah berhenti
lilik
lanjut
Siti Bintang
Sinta skg memprihatinkan setelah dipecat dr kantor raynan yah
Siti Bintang
JD bener Kesya dendam ke Dava terus melampiaskan nya ke calissa
Siti Bintang
ya hapi lah ms Hanymoon sedih sih ray
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!