Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia juga Cantik
"Rey, aku ing–oh! apa ... aku mengganggu kalian?" tanya seorang wanita cantik yang baru saja masuk ke ruangan Reyhan. Alina sedikit terpana dengan wanita yang di depannya, dia begitu cantik dan anggun saat dilihat dengan seksama dan dari jarak dekat.
Citra, masih berdiri di ambang pintu menatap Alina dan Reyhan bergantian.
"Tidak! kami sudah selesai, masuklah!" jawab Reyhan datar.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak." Alina menunduk tersenyum ramah pada Citra yang juga membalas senyumannya, kemudian Alina melangkah meninggalkan ruangan Reyhan.
"wahh ... dia cantik sekali Rey." Sinta masih memandangi Alina yang sudah hilang di balik pintu.
"Ada apa kamu mencariku kesini?"
"Aku ingin makan siang bersama mu," jawab Citra dengan memajukan bibirnya.
"hmm, tunggulah sampai pekerjaanku selesai."
Alina berjalan bersama Sinta keluar kantor, mereka ingin makan siang di cafe dekat kantor siang ini. Kehamilan Alina yang sudah 3 bulan lebih itu, membuat tubuhnya sedikit mengembang dan perutnya akan sedikit membuncit jika duduk. Dia tidak ingin karyawan lain menyadari perubahan tubuhnya, jadi dia lebih memilih menghindar untuk berkumpul terlalu lama.
"Ra itu pak Reyhan sama siapa dalem mobil?" tanya Sinta penasaran karena melihat seorang wanita didalam mobil Reyhan dan terlihat akrab.
"Mantan pacarnya kali, gue pernah liat photo mereka pelukan," jawab Alina santai.
"Waahh, gila itu bos! masih nikah bisa-bisanya kayak gitu. Gue pengen banget nampol mukanya pake sepatu," ucap Sinta emosi.
"udah ayuk makan, keburu jam makan siang habis."
"Al, gue nanti harus pulang awal. Lo nggak apa-apa kan pulang sendiri?"
"Udah nyantai aja, Lo harus segera ke RS yang penting."
Sinta segera menyelesaikan makan siangnya, dia harus segera mengerjakan tugasnya hari ini. Kakak iparnya siang ini melahirkan dia ingin segera melihat keponakannya, jadi Sinta meminta ijin untuk pulang lebih cepat dari jadwal biasanya.
Alina sangat senang sore ini akhirnya setelah sekian bulan dia bisa pulang tepat waktu, pekerjaan yang tidak ada habisnya itu sudah membuat Alina mengabaikan kehamilannya. Alina memutuskan mampir ke sebuah toko kue di dekat perusahaan, dia sudah lama sekali ngidam kue disana.
"mbak, mau kue yang ini ya di bungkus," pinta Alina dengan antusias menunjuk salah satu kue yang berjajar di etalase, dia sangat menyukai kue vanilla dari kecil. Air liurnya hampir saja menetes karena kue-kue disana terlihat begitu lezat.
Alina yang berjalan keluar tidak menyadari jika sedari tadi seorang pria mengikutinya.
"Aah, sial! kenapa harus hujan sih. Padahal gue udah nggak sabar banget pengen rebahan," runtuk Alina kesal karena dia ingin sekali segera menikmati kuenya
Alina berteduh didepan toko, dia ingin melanjutkan perjalanan tapi hujan terlalu deras, tentu saja dia takut masuk angin akhirnya dia memutuskan menunggu hujan agar sedikit reda. Alina merasa ada seseorang yang ikut berdiri disampingnya, akhirnya dia memberanikan diri menoleh.
"Pak Reyhan! kenapa kamu disini?" tanya Alina menyelidik dengan memicingkan matanya.
"Aku sedang lewat dan melihatmu masuk jadi aku ikut masuk," jawab Reyhan santai.
"Oow." Alina kembali mengalihkan pandangannya kedepan, menatap hujan yang begitu deras mengguyur tanah dibawahnya.
Reyhan memandang Alina, dia melihat percikkan air hujan mengenai wajah Alina, sesekali Alina menyeka wajahnya yang sedikit basah. Reyhan mengarahkan satu tangannya ke atas kepala Alina, tangan kekar itu menghalangi air yang mengarah ke wajah Alina.
"Hujannya reda, aku mau pulang!" seru Alina antusias akan melangkah pergi, Reyhan segera menurunkan tangannya.
"Ayo kita pulang bersama!" ajak Reyhan menarik lengan Alina menuju mobilnya.
Alina terkejut dengan apa yang Reyhan lakukan, ini pertama kalinya Reyhan mau menyentuhnya secara sadar. Dia baru menyadari Reyhan juga tidak pernah berbicara buruk lagi padanya beberapa hari ini. Hati Alina berdebar tak karuan rasanya begitu aneh, pandangannya tak lepas dari tangan Reyhan.
Apakah Reyhan sudah mau menerimanya? Apakah Reyhan benar-benar berubah? semua pertanyaan bergelayut manja dipikiran Alina.
"tidak mungkin, dia tidak akan mungkin menerimaku bahkan aku melihatnya sendiri dia bersama kekasihnya hari ini. Aku terlalu bodoh jika aku memikirkan itu, ini sudah pasti hanya tindakan refleknya saja."
********
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍