Nyaris diperkosa oleh teman suaminya, membuat Syma mengalami trauma yang mendalam. Sang suami sendiri, bukannya merangkul sang istri. malah menuduhnya melakukan perselingkuhan dan dengan kejamnya merampas hak asuh anaknya. Memisahkan sang anak dari ibunya.
hal itulah yang menyebabkan Syma terpaksa menjadi simpanan pria kaya yang memiliki kekuasaan tinggi agar bisa mengambil kembali hak asuh atas anaknya.
"Tidak ada yang menyayangi anakku, melebihi aku sendiri !
aku mungkin bisa kehilangan suami, tapi tidak dengan anakku. Akan kuperjuangkan sampai mati."
"Jadilah simpananku, maka aku akan membuatmu mendapatkan kembali hak asuh anakmu."
Tentu saja Syma menerimanya meski ada rasa berat dihatinya. Namun demi anaknya, dia rela menerima tawaran itu.
Dari tawaran itu juga Syma meminta agar Ersad menikahinya sah secara agama.
Ersad menyetujui keinginan Syma.
Kehidupan rumah tangga mereka awalnya harmonis. Ersad juga mulai terbuka dengan istri barunya itu. Dan perlahan... rasa itu mulai tumbuh.
Semuanya berubah ketika istri pertama Ersad meninggal. Syma harus menghadapi kebencian suaminya karena tuduhan atas pembunuhan istri pertamanya yang bernama Erika.
Lalu bagaimana cara Syma mengembalikan cinta suaminya? akankah kebenarannya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aff18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMS EPS 21 : PERANG TEPUNG
Ersad senantiasa tersenyum, kala menyadari bahwa Syma telah melepaskan pria itu dan lebih memilihnya. Hatinya mengembang bagaikan bunga yang sedang bermekaran di musim semi. Perasaan cinta yang berbeda dengan Erika. Perasaan ini lebih murni, dan tak terhingga. Seakan rasa cintanya menyeruak keluar tanpa bisa dicegah.
Bahkan saat ini....
Sesuatu yang berat sedang menimpa tubuhnya. Syma tertidur diatas tubuhnya setelah melakukan percintaan panas mereka semalam. Ersad menumpahkan semua perasaannya pada Syma tanpa berpikir bahwa wanita itu masih dalam keadaan duka, karena baru saja kehilangan orang tua asuhnya.
Ersad memperhatikan wajah Syma yang lebih terlihat santai. Wajah sembab karena terlalu banyak menangis sudah tidak ada lagi. Dalam keadaan dekat seperti ini. Ersad menyadari bahwa Syma begitu cantik. Dia masih terlihat sangat muda dan segar. Meski sudah memiliki seorang anak. Wajahnya terlihat bercahaya dan bibirnya... dimana tempat yang menjadi favoritnya itu selalu saja menggoda.
Ersad menggerakkan tangannya untuk memeluk wanitanya itu dengan penuh kehangatan. Sesekali kecupan ringan dia daratkan dipipi wanita itu.
Syma mengerjapkan matanya dan mengerutkan kening. Merasakan tubuhnya yang kaku. Syma berusaha menggerakan tubuhnya dan pada saat mengangkat wajahnya, dia baru sadar bahwa saat ini dia masih berada diatas tubuh suaminya.
Mata mereka langsung bertemu. "Selamat pagi," ucap Ersad dengan senyuman hangat yang terbit diwajahnya.
Syma segera memalingkan wajahnya. Dia tidak percaya diri dengan kondisi wajahnya saat ini. Apakah terlihat kusam? atau apa....
Syma segera bangkit. "Astaga sudah jam berapa sekarang? apa aku terlambat sholat subuh. Kenapa Mas tidak membangunkanku?" rengek Syma yang langsung bergegas kekamar mandi.
Ersad hanya terkekeh melihatnya. Dia tahu Syma seperti itu, karena ingin mengalihkan kegugupan nya.
******
"Kau sedang masak apa?" tanya Ersad lembut dan sengaja didekat telinga. Dimana sebuah area sensitif bagi Syma.
"Aku sedang membuat Pastry panggang." Syma berucap sembari menahan geli karena Ersad terus saja menggodanya.
"Mas hentikan. Aku tidak masak jika kau seperti ini terus."
"Kalau begitu tidak usah masak," sautnya masih dengan tangan memeluknya dari belakang dengan begitu mesra.
"Lalu bagaimana kita makan?" ucap Syma berusaha melepaskan dirinya.
"Kita bisa memesannya."
Syma membalikan tubuhnya. Memandang lembut wajah suaminya yang nampak begitu segar di pagi hari. "Makanan dari luar, belum tentu higienis. Apalagi sehat. Sementara masakanku, bukan hanya kebersihannya yang terjamin, namun juga dapat dipastikan bahwa aku selalu menyelipkan doa dan sholawat didalamnya. Agar apa yang kita makan menjadi berkah. Dan tentunya sehat untuk jasmani dan rohani kita," ujarnya dengan senyuman lembut.
"Jadi kau tidak mau mendengarkan ucapan suamimu? bukankah dalam islam, seorang istri tidak diperbolehkan membantah suaminya?"
"Mas benar. Aku juga tidak bermaksud membantah. Jika Mas tidak ingin aku masak, maka aku tidak akan melakukannya," ucap Syma melepaskan apron nya.
"Tidak sayang, bukan seperti itu."
Ersad menahan tangan Syma yang ingin melepaskan apron nya.
Sedangkan Syma sendiri membeku mendengar ucapan yang baru saja dia dengar. Ada rasa hangat bercampur bahagia, melebihi apapun. 'Sayang?'
Hanya ucapan sederhana seperti itu, sudah membuatnya begitu bahagia. Wajahnya merona dan sedikit berpaling agar Ersad tidak menyadarinya.
"Kau kenapa?" tanya Ersad penuh selidik.
"Em tidak. Jadi.... Mas maunya bagaimana?"
"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Tapi aku akan tetap disini menemanimu. Bukankah ini romantis?"
Lagi-lagi Syma bersemu malu. Dia sendiri tidak kuasa menolak permintaan suaminya itu.
Mereka akhirnya berada disana berdua. Selama Syma sedang disibukkan dengan masakkannya. Ersad sedikit mengganggunya dengan memeluk wanita itu dari belakang. Dan menghadiahi nya kecupan ringan. Tentu saja hal itu tidak membuat Syma menjadi fokus.
Bahkan Ersad dengan sengaja mencolek pipi Shma dengan adonan roti itu ke wajahnya. Syma terbelalak kaget. Dan secara reflek menyerang balik suaminya itu. Sampai akhirnya dapur itu menjadi berantakan akibat ulah mereka.
Zea yang mendengar suara gaduh bercampur tawa. Segera kedapur untuk menuntaskan rasa penasarannya. Matanya berbinar kala melihat Bundanya dan Ersad sedang berperang tepung. Zea segera berlari mendekati mereka.
"Kenapa kalian bermain tidak mengajak Ze.... " ucap Zea menghentakkan kakinya kesal.
Kedua orang tuanya itupun menoleh dengan tertawa riang.
"Astaga kasihan sekali Ze, Bunda sampai lupa kalau Bunda punya anak," ucap Syma sengaja menggoda anaknya itu. Tentu saja Ze langsung mengerucutkan bibirnya.
"Wah... sepertinya Bunda nakal pada Ze. Ayo kita beri Bunda pelajaran."
Zea bersorak girang ketika Ersad mengajaknya untuk menyerang Syma menggunakan tepung. Syma berlari mengitari meja panjang yang ada disana. Mereka tertawa riang sesekali saling berkejaran yang membuat Syma akhirnya tertangkap dan mendapatkan gelitikan ditelapak kakinya dari Ersad.
Syma tertawa geli sampai mengeluarkan air mata. Sembari terus memohon agar Ersad menghentikan perbuatannya itu. Karena dia sudah tidak tahan lagi.
Kehangatan di antara mereka begitu sempurna. Tanpa mereka sadari, seseorang telah menyaksikan mereka. Dan kebahagiaan mereka membuat orang tersebut iri dengki. Matanya berkilat tajam penuh dengan amarah yang menyeruak. Tangannya terkepal, ingin sekali menghancurkan Syma saat itu juga. Namun keadaan tidak berpihak padanya saat ini.
Dia hanya bisa menyaksikan adegan yang membuat matanya dan hatinya terasa sakit. Namun tubuhnya terlalu kaku untuk beranjak dari sana.
Mata Syma akhirnya menangkap sosok yang telah memperhatikan mereka itu. Dengan tatapan kebencian yang terlihat jelas. Ersad sendiri terdiam, dan mengikuti arah pandangan Syma.
Dia begitu kaget melihat siapa yang datang dan tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka.
"Nora?" lirih Ersad sedikit kaget.
Sementara Nora hanya menatapnya penuh kesinisan. Dengan tangan menyilang didada. "Sepertinya Kakak iparku sedang bersenang-senang,"
"Apa yang membuatmu datang kesini?" Ersad merubah seketika raut wajahnya menjadi begitu dingin. Dia sangat tidak suka, Nora masuk kedalam area pribadinya seenaknya. Bahkan tanpa permisi. Setelah ini dia sempat berpikir ingin memperketat keamanan di apartemennya.
"Aku hanya ingin memberi kabar baik untuk Kakak. Kak Erika sudah ada perkembangan baik. Dia sedang dalam masa pemulihan," ucap Nora sembari menatap Syma dengan pandangan merendahkan.
Sontak Ersad menegang. Dia begitu senang mendengarnya. Akhirnya, wanita yang begitu sabar dia tunggu telah membaik. Ersad tidak sabar untuk menemuinya.
"Kalau begitu aku akan menemuinya sekarang juga,"
Ersad segera berlari mengganti pakaiannya, tanpa memperdulikan Syma dan Zea yang masih disana. Sementara Nora mendekatinya dengan tampang sinis dan aura mengerikan yang terlihat jelas, bahwa Nora sangat membenci Syma.
"Kau dengar apa yang aku katakan tadi. Kak Erika sudah dalam masa pemulihan. Dan tidak lama lagi dia akan sadar.
Pikirkanlah nasibmu setelah ini. Kau sepertinya terlalu besar kepala menjadi jal*ang simpanannya Kak Ersad.
Bersiaplah untuk ditendang dari sini !" ucap Nora tanpa perasaan.
Namun diluar dugaannya. Syma justru tersenyum menanggapi ucapannya. Tentu hal itu membuat Nora semakin kesal. Syma sepertinya wanita tahan banting yang tidak mumpan dihina.