Dijodohkan dengan lelaki yang lebih muda 5 tahun darimu, apa kamu mau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon athania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 Ronde
"Apa yang ingin si cebol ini lakukan?"
Olivia merasa sangat penasaran, hingga ia hanya termangu dan terpaku dengan nyaman duduk di atas pangkuan Rey sedangkan lelaki itu belum jelas berniat akan melakukan apa, dia hanya merasa kedua kakinya mulai kesemutan.
"Bisakah kau turun dulu, aliran darah di kakiku tidak jalan!" ucap Rey mengusir Olivia secara terang-terangan, ternyata bukan moment romantis yang Olivia dapatkan sungguh tidak sesuai dugaan. Gadis itu segera membangunkan dirinya perlahan.
"Kenapa tadi kau malah menarikku saat aku akan masuk ke kamar?"
"Aku hanya minta untuk di temani, jadi kau jangan kemana-mana. Sampai pagi pokoknya kau jangan sampai tertidur!" perintahnya membuat Olivia membuang napasnya kasar.
Awalnya Olivia berpikir Rey akan bersikap dewasa berhubung dengan penambahan usianya, rupanya untuk saat ini hal itu belum terjadi. Rey dengan polosnya mengeluarkan satu kotak kecil kartu remi dan mengajak Olivia memainkannya, atas dasar menghargai Rey akhirnya Olivia bersedia meladeni dan menerima tantangannya. Seperti sedang momong anak, pikiran itulah yang tersirat dalam otak Olivia.
"Iklaskan" gumamnya dalam hati.
Pemuda tersebut mulai mengocok kartu-kartu yang sudah tersusun rapi di dalam kepalan tangannya.
"Kalau bermain kartu seperti ini anak SD juga bisa, jadi ini yang kau maksud melakukan suatu hal saat usiamu sudah 17 tahun?" tanya Olivia sembari mengambil kartu yang di berikan Rey.
"Iya, memangnya saat usia 17 tahun mau melakukan apa? apa kau tahu di keluargaku itu peraturan dan kedisiplinan adalah no.1, anak SD mana yang kau maksud bermain kartu remi? apa itu dirimu?" Rey melempar satu kartunya ke tengah.
"Iisshhh, memang iya aku dan teman-temanku saat kecil pernah beberapa kali memainkannya!" Olivia memicingkan matanya menatap Rey tajam.
"Wah hebat, masih kecil kau sudah bermain judi" ledek Rey sambil tertawa.
"Aku tidak bermain judi! kau pikir anak SD punya uang berapa!" mereka sama-sama masih melempar dan mengambil kartu secara bergantian.
"Agar lebih menarik bagaimana jika kita taruhan kakak pemain remi yang jago?" ucap Rey sambil mengangkat-angkat alisnya.
"Kau baru saja mengataiku karena bermain kartu seperti berjudi!"
"Kita tidak taruhan uang"
"Lalu?" Olivia merasa penasaran permainan apa yang di inginkan oleh calon suami kecilnya ini.
"Yang kalah harus mencium pemenangnya" senyum penuh sirangai nampak jelas dari wajah Rey, Olivia kini memutar bola matanya, sudah salah sejak awal jika ia menganggap Rey hanya bermain-main biasa.
"Tidak! aku tidak mau!" tegasnya menolak.
"Kenapa?"
"Ya itu taruhan yang tidak logis!" kilahnya mencari alasan.
"Bilang saja kalau kau itu penakut, atau kau ini seorang penyuka sesama jenis sehingga tidak berani menciumku" goda Rey memanas-manasi.
"Haaahhh" Olivia memang berhadapan dengan seorang anak yang baru beranjak gede, ia tak bisa membayangkan akan bagaimana jadinya mahligai rumah tangganya bersama Rey nanti, mungkin setiap hari mereka akan selalu bermain.
"Bagaimana? apa kau benar-benar takut? pemenang boleh menunjuk benda atau bagian tubuh manapun untuk di cium oleh yang kalah"
"Benda?"
"Iya"
"Hhmmm, kalau aku menyuruhmu mencium pantat panci di sana apa kau juga akan menurut?" tunjuknya pada sebuah panci hitam yang tergantung di dapur.
"Iya boleh" jawab Rey mantap sambil mengangguk.
"Baiklah ini baru menarik!" seru Olivia bersemangat, ia mulai memikirkan ide jahil untuk mengerjai calon suaminya.
Ronde pertama pun di mulai, cukup sengit untuk mereka karena keduanya sama-sama bermain dengan serius namun kemudian. .
"Kau kalah!" pekik Rey melempar kartu pamungkasnya. Dia mengangkat kedua tangannya seolah sedang berselebrasi.
"Haaahhh" Olivia mendengus untuk kesekian kalinya.
"Ingat hukumanmu" ledek Rey sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Iya cepat, kau mau ku cium dimana?" tantang Olivia ingin segera menuntaskan hukumannya.
"Ini" tunjuknya pada ketiak sambil tertawa.
"Cebol kau yang benar saja! aku tidak mau!" Olivia memundurkan tubuhnya berusaha untuk menghindar.
"Eh kau sudah janji, kita sudah sepakat yang kalah harus menuruti yang menang, tidak aku buka kau boleh mencium dari pakaianku saja" Rey tidak ingin permainan ini cepat selesai dan membuat Olivia kabur.
"Benar ya, aku hanya akan mengecupnya sedikit"
"Iya aku akan meringankan bebanmu pada pertarungan awal kita, sini mendekatlah" Rey mengangkat ketiaknya dan dengan terpaksa Olivia mendekatkan wajahnya. Ia dapat mengendus aroma tubuh Rey, tidak berbau malah terasa sangat menyegarkan, entah parfum apa yang di pakainya.
"Sssspppp" Olivia malah mengendus dan menyesap aroma ketiak Rey dan sesudahnya ia malah melebarkan senyumnya.
"Bagaimana? masih lanjut untuk ronde kedua?" tantang Rey lagi.
"Oke! 3 ronde saja ya, aku pastikan 2 ronde selanjutnya kau yang akan kalah" ucap Olivia penuh percaya diri, namun naas. Sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya , beberapa menit kemudian ia mengalami kekalahan kembali.
"Hahaha, sekarang cium ini" tunjuk Rey pada telapak tangannya.
"Kalau itu sih mudah" dengan sukarela Olivia mendekatkan dirinya.
"Tunggu" Rey menciumi telapak tangannya hingga sedikit basah karena air liurnya setelah itu baru dia sodorkan pada Olivia.
"Haiisshhh kau menjijikan!!" Olivia kini merengek geli sedangkan pihak pemenang malah tertawa bahagia.
"Haha! cepat nanti tanganku kering!" setengah hati Olivia mendaratkan bibirnya mencium telapak tangan yang berlendir. Pemuda nampak puas mengerjai tunangannya.
Ronde terakhir pun di mulai, Olivia terus memutar otaknya bersikeras dan berusaha untuk menang. Hingga sampai pada kartu terakhir, dengan keringat yang mengalir di pelipis matanya juga tangannya yang sedikit gemetar ia melempar kartu tersebut di susul juga oleh Rey.
"Yeesss!!"
"Akkhhh!!" Pekik Olivia meronta sambil menjambak rambutnya, bagaimana gadis dewasa sepertinya bisa kalah dengan Rey yang berusia belia juga minim pengalaman bermain kartu karena peraturan kedua orangtuanya, gadis yang bermain kartu remi sejak SD ini kalah telak oleh seorang kutu buku.
"Kau sangat payah dalam permainan ini! aku kira kau seniorku"
"Yaahh terserah kau mau berkata apa, sekarang cepat mana yang harus ku cium" Olivia terlihat pasrah, ia lelah bermain-main.
"Ini, cium ini" tunjuknya pada pipi kanannya.
"Iihhh ternyata selama ini kau modus juga!" seru Olivia tak percaya akhirnya keluarlah keinginan Rey untuk di cium dengan sungguh-sungguh.
"Eh kau tidak boleh menolak, lebih baik mencium pipiku kan daripada pantat panci itu" gadis itu berpikir dalam.
"Baiklah, hanya 3 detik. Tidak! satu detik saja"
"Terserah, cepatlah leherku akan kram" sedari tadi Rey sudah menolehkan kepalanya dan menyodorkan pipinya.
Hukuman kali ini membuat jantung Olivia berdegub kencang seperti akan keluar dari sarangnya, perlahan ia memajukan bibirnya dan mengerucutkannya.
5 centi
3 centi
2 centi
Cup
Bibir Olivia mendarat mulus pada bibir ranum Rey, ia membulatkan matanya. Sejak kapan?
Rupanya tepat sebelum bibir tipis itu mendarat Rey dengan sengaja memalingkan wajahnya sehingga bukan sebuah pipi melainkan kedua bibir itulah yang bersentuhan.
Olivia bermaksud mendorong dada Rey untuk menjauhkan wajahnya, namun kedua tangan pemuda itu mengunci tengkuk leher Olivia untuk memperdalam ciumannya.
Mmmmmhhhhhhhh
Bibir Olivia tak mampu berucap.
***
kangen sma pasangan ini
keknya seru
seru soalnya
senangnya..
see u Rey dan Oliv...🥰🥰🙏💪
cukup. Rey dan Oliv aza
Daniel di novel lain aj kak