Secara perlahan, setelah kepahitan bahkan kehancuran yang dialaminya karena J King. Juliet mulai mengerti dan memahami sisi lain kehidupan J yang membuatnya merasakan sesuatu untuk pria itu.
Diamnya seorang J King menunjukkan sisi lain J yang sebenarnya. Pria dengan masa lalu kelam yang tidak pernah terbayangkan oleh Juliet.
...
Romeo dan Juliet tidak pernah menemukan akhir yang bahagia. Kematian adalah akhir cerita cinta mereka.
Aku, J King tidak akan membiarkan Juliet kembali pada Romeo karena dia hanya milikku.
Bahkan jika nyawaku juga terancam, aku tidak peduli.
Aku tidak peduli jika Juliet menderita, selama bayangannya masih tertangkap dalam pandanganku, itu sudah cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heart Breaker
Hati yang patah, bagaimana cara mengembalikan dan memulihkannya? Saat potongan kecil semakin hancur dan tergerus luka hati yang menganga.
…
Rencana hanya tinggal rencana, maksud hati Juliet pulang ke rumah J untuk berkemas karena ingin menginap di rumah keluarganya.
Juliet merasa geram sendiri karena tiba-tiba rumah J seolah menjadi penampungan dari anggota keluarga King.
Apakah mereka akan mengadakan reuni keluarga, atau kunjungan rutin pada anggota keluarga yang terbuang?
Setelah kedatangan Diaval dan ayahnya Antonio Bowers, sekarang satu orang wanita cantik datang untuk mengejutkan Juliet.
Daisy Smith, seorang wanita cantik, bertubuh indah dan seksi merangkul dan memeluk J di hadapan Juliet. Apakah karena udara panas atau hal lain yang menyebabkan dada Juliet terasa memanas, terlebih ketika melihat tangan J terulur menyambut dengan senang hati dan membalas rangkulan atau pelukan wanita tersebut.
"J, lama tidak berjumpa, Sayang!" seru wanita bernama Daisy tanpa menghiraukan atensi Juliet yang berada di sisi suaminya.
"Daisy!" Suara J terdengar seperti sebuah bisikan, iya bisikan rindu seorang pria.
Juliet bersumpah melihat senyum di bibir J walaupun begitu tipis, dan itu membuat dirinya sedikit … cemburu. Juliet mengibaskan tangan di wajahnya karena hawa panas membuatnya kegerahan.
…
Langkah Juliet sedikit berat saat menuju kamar, dia memutuskan untuk meninggalkan J bersama tamu istimewanya karena dia tidak ingin mengganggu.
Itu adalah sebuah alasan untuk membohongi diri, Juliet sakit hati karena merasa seperti diabaikan di ruangan tersebut.
Daisy yang mendominasi percakapan seperti sesuatu yang menghilangkan kesepian. Juliet berpikir, hanya wanita seperti Daisy yang bisa mengubah dunia pria itu.
Helaian rambut Juliet terbang tertiup angin saat ia berjalan, wanita itu melangkah dalam gerakan lambat, suara sepatu dengan hak pendek menjadi irama tunggal tersendiri yang terdengar di lorong menuju kamar.
Sebuah keributan kecil terdengar di sebuah ruangan tepat di seberang kamarnya dan J. Sebuah kamar yang pernah ditempatinya saat pertama kali datang ke rumah J.
Juliet melangkah untuk melihat ke dalam, dan matanya berbinar indah saat melihat ruangan tersebut. Apakah sekarang dia lupa pada kekesalannya?
"Selamat datang, Nyonyaaa!!" seru Marive, sedangkan Corina hanya membungkuk sopan pada sang majikan.
"Bagaimana, apa Anda menyukainya?" tanya Marive dengan sumringah.
"Ini … ini indah sekali … lucu dan menggemaskan!" seru Juliet terlihat senang, wanita itu menelisik seisi kamar yang sudah disulap dari kamar mewah menjadi sebuah kamar bayi yang indah.
Setengah dari ruangan diberi warna biru dan setengah warna merah muda, tidak lupa dua ranjang bayi di masing-masing batas warna tesebut.
Juliet mengusap bagian sisi ranjang bayi di bagian yang diberi warna merah muda kemudian bergantian pada ruangan dengan warna lainnya.
"Begitu Tuan J menghubungi, kami langsung menyiapkan ini semua! Wah jadi tidak sabar menunggu si kembar lahir!" Marive terus berbicara.
Rupanya pria itu sudah memberitahukan para pelayan sebelum mereka pulang. Juliet menatap haru pada benda-benda khas bayi di ruangan tersebut. Benar kata Marive, rasanya dia juga tidak sabar menantikan bagaimana dua malaikat kecilnya terlahir ke dunia.
Wanita itu mengusap perutnya yang sudah sedikit meunjukkan perubahan. Tanpa dia sadari seseorang sudah menatapnya sejak Juliet masuk ke kamar tersebut.
"Nyonya, kami permisi!" Ucapan Marive tidak didengar baik oleh Juliet, sehingga dia tidak memperhatikan bahwa dua pelayan dan pegawai yang mendekorasi kamar sudah meninggalkanya.
…
J sangat terkejut saat sepupunya yang punya sikap cukup baik datang mengunjunginya. Dia juga tidak mengerti secara mendadak banyak orang datang ke rumahnya.
Sejujurnya dia menyadari ketidak nyamanan Juliet pada sikap Daisy, saat wanita itu pergi J segera mengikuti dan berpamitan pada Daisy dengan alasan ingin berustirahat dan dia membiarkan Daisy dilayani oleh para pelayan.
J hanya mengikuti langkah Juliet di belakangnya, rambut panjang wanita itu hampir menutupi bagian punggung sampai batas pinggang, kakinya terlihat jenjang karena Juliet punya tinggi tubuh yang ideal.
J terus mengikuti dan memperhatikan sampai Juliet masuk ke kamar calon bayi mereka. Sejujurnya dia tidak memahami tentang dekorasi untuk kamar anak kecil, maka dari itu sebelum pulang J meminta Corina untuk memanggil seorang pegawai dan perangcang untuk mendekorasi kamar tamu.
Melihat ekspresi wajah Juliet yang senang, dadanya terasa menghangat bahkan berdebar kencang tidak karuan. J melangkah masuk dan dia bersyukur dua pelayan Corina dan Marive sangat pengertian memberi dirinya ruang untuk bicara dengan Juliet.
…
Juliet sangat terkejut karena J berada di kamar yang sama dengan dirinya, dia pikir J betah bersama Daisy. Dia hanya menatap pergerakan J yang berjalan ke arahnya.
Mereka saling berhadapan sekarang, tetapi tidak ada satupun yang terlihat akan membuka percakapan. Wajah Juliet terasa memanas karena J terus menatapnya.
"Mm, terima kasih," ucap Juliet dengan gugup, dia mencoba untuk mengakhiri kecanggungan diantara mereka.
"Kenapa mereka bersikap seolah bayinya kembar pasangan, aku hanya mengatakan bayinya kembar," ucap J panjang lebar sambil melihat ke sekeliling kamar.
Juliet tidak bisa menahan tawa, tetapi dia tidak mungkin tertawa keras di hadapan J. Percayalah Juliet benar-benar menahannya.
"Tidak ada salahnya berharap," ucap Juliet sambil mengalihkan kembali tatapan pada J, tetapi sepertinya itu adalah kesalahan besar karena dia malah terperangkap oleh tatapan hangat pria itu walaupun tidak benar-benar diperlihatkan.
"Apa kita perlu mengatur ulang perjanjian? Aku akan memberi kelonggaran padamu," ucap J yang mengundang senyum di bibir Juliet.
"Aku akan memberimu beberapa poin untuk menuliskan keinginanmu pada surat perjanjian," lanjut J.
Juliet merasa senang mendengar itu, dan dia berpikir itu adalah kesempatan terbaik supaya dia bisa mengubah segalanya menjadi lebih baik.
"Aku punya banyak keinginan," jawab Juliet dengan cepat. J terlihat terkejut tetapi dia mengangguk kemudian sebagai jawaban.
"Sepuluh!" ucap J singkat.
"Apa?" tanya Juliet penasaran karena seperti biasa ucapan J selalu ambigu.
"Sepuluh keinginan!" jawab J, dan itu membuat Juliet kembali mengukir senyum, setidaknya sekarang J memperjelas ucapannya.
Juliet mengangguk setuju sebagai sebuah kesepakatan baru. "Aku akan benar-benar memikirkannya," jawabnya.
"Ah- …." Belum selesai dia berkata, perutnya terasa berdenyut seperti tersengat listrik.
"Ada apa kau baik-baik saja?" J segera merangkul tubuh Juliet, karena Juliet hampir jatuh terduduk.
"Entahlah, aku hanya terkejut." Juliet menjawab. "Kakiku juga terasa pegal sekali," keluhnya.
Greb …
Juliet berkedip beberapa kali, J menggendongnya seperti tempo hari. Tatapan mereka bertemu, Juliet segera mengalungkan kedua tangan di leher sang suami.
Bukan tanpa alasan, dia memang sengaja melakukan itu karena melihat si tamu wanita yang berada di ambang pintu.
"J? Apa yang kau lakukan di sini?" Wanita itu--Daisy berkata dan bertanya seolah tidak melihat orang yang ia ajak bicara sedang menggendong istrinya.
"Sedang apa kau di sini, Daisy?" tanya J tanpa melepaskan Juliet dari pangkuannya.
"Aku ingin kau mengajakku jalan-jalan!" Daisy menjawab sambil menyilang tangan di dadanya.
Sungguh Juliet merasa sebal dibuatnya, wanita itu terang-terangan mengabaikan keberadaan Juliet.
"J, aku lelah, aku ingin ke kamar!" ucap Juliet dengan nada suara yang dibuat sedikit merajuk.
"Iya, aku akan mengantarmu," jawab J dan itu membuat Juliet tersenyum karena melihat wajah kecewa Daisy. Lagipula tidak ada yang salah, dia lebih berhak atas diri J.
Untuk apa Juliet melakukan itu? Apakah dia sedang bersaing dengan Daisy untuk mendapat perhatian dari J? Juliet tidak mau mengakui hal itu walaupun kenyataannya memang seperti itu.
Saat mereka berlalu, Juliet dapat melihat tatapan tidak suka Daisy padanya. Jika di kampus ada Cherry, sekarang di rumah ada wanita itu.
Tantangan Juliet semakin besar untuk mengubah kehidupan J. Apakah dia bisa melewati semua tanpa kendala yang berarti.
"Jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu, jaga kesehatanmu dengan baik!" ucap J sambil menurunkan tubuh Juliet di pinggiran tempat tidur. "Aku akan menemani Daisy berjalan-jalan sebentar."
Juliet merasa terhempas dari tempat yang tinggi, baru saja dia melayang tinggi karena perlakuan J, dan sekarang dia merasa sakit karena terjatuh.
Juliet terdiam tidak menjawab pun mengiyakan ucapan J, ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanya sampai bicara pun dia tidak mampu.
J meninggalkan Juliet sendiri dengan rasa kecewa untuk kesekian kalinya. Kenapa Juliet merasa begitu sakit dan tidak rela jika pria itu pergi dengan wanita lain?
Juliet merasa bodoh karena terlalu banyak berharap. Memangnya siapa dirinya? J punya banyak pilihan dalam hidupnya. Terlepas dari masa lalu yang buruk, pria itu bisa mendapatkan kebahagiaan di masa depan.
"Bodoh, kau memang bodoh, Juliet!" Juliet menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. tetapi justru air mata yang keluar dari matanya.
Dia tidak suka perasaan itu, perasaan yang bahkan tidak dia rasakan pada Toddy Muller si pria cinta pertamanya. Juliet masih berusaha menyangkal bahwa yang dia rasakan pada J bukanlah perasaan murni dari dalam hatinya.
…
J merasa gelisah, sepanjang perjalanan bersama Daisy, tidak sedikitpun dia melupakan Juliet yang dia tinggalkan. Dia bahkan tidak bisa mendengar perkataan Daisy dengan baik.
"J, aku rindu sekali!" Daisy merangkul J saat pria itu mengemudi.
"Apa yang kau lakukan, Daisy?" J melepaskan rangkulan Daisy secara paksa membuat wanita muda itu mengerucutkan bibirnya karena kecewa.
"Kita pulang sekarang!" tegas J.
"Memangnya kenapa?" tanya Daisy masih dengan rasa kesalnya.
"Aku punya istri yang kutinggalkan, jika masih ingin berjalan-jalan kau bisa mengajak Diaval!" tegas J.
"Tenanglah, J! Kita tidak sedang berselingkuh … mungkin belum!" J memutar mata dengan bosan mendengar ucapan Daisy.
"Hargailah istriku, Daisy!" geram J. Tatapan J berubah tajam pada wanita itu.
"Baiklah! Baiklah, sabtu malam ada pesta peresmian perusahaan ayahku di Los-Angeles, kau harus hadir tanpa wanita itu, kau paham, J!" ucap Daisy dengan santai.
"Bukankah kau tahu hanya para bangsawan yang bisa masuk ke Smith Corporation?" tanya Daisy.
Demi Tuhan J ingin sekali menghancurkan sesuatu saat ini, apakah Daisy sedang menyinggung status sosial dirinya dan Juliet yang jelas jauh berbeda?
Daisy adalah sepupu J yang masih anggota keluarga King, tetapi wanita itu menyandang nama belakang ayahnya William Smith yang juga merupakan bangsawan sekelas keluarga King.
…
Suasana makan malam di kediaman J King sedikit berbeda dari biasanya karena ada beberapa orang yang mengisi kursi di meja makan.
Selain pasangan tuan rumah, masih ada Diaval, Antonio Bowers dan tamu baru Daisy Smith. Wanita itu lebih mendominasi pembicaraan, dia sama sekali tidak menganggap kehadiran Juliet.
Bersikap seolah dialah satu-satunya perempuan di ruangan tersebut. Daisy bahkan tidak ragu bersikap manis pada J dengan mengambilkan makanan untuk pria tersebut.
Semua yang dilakukan Daisy seperti membakar hati Juliet, sehingga rasa panas membuat dadanya menggebu dengan amarah, tetapi Juliet tidak akan mempermalukan diri di hadapan semua orang jika dia terpancing emosi.
J hanya melirik sesekali pada Juliet yang terlihat tenang saat makan, apakah dia tidak terganggu pada sikap Daisy? Sementara senyum sinis terpatri di bibir pasangan ayah dan anak--Antonio juga Diaval.
"Oh iya, J jangan lupa untuk datang di pesta Papaku, sabtu malam nanti!" pinta Daisy dengan suaranya yang menggoda, "kau juga, Diaval. Tuan Bowers!" lanjutnya pada dua pria lainnya.
"Pesta itu hanya untuk kalangan kita saja, kalian semua paham, 'kan?" Daisy terus berbicara.
Juliet sangat memahami ucapan Daisy, wanita itu secara tidak langsung memberikan peringatan padanya untuk tidak datang.
"Aku selesai!" J mengakhiri segala macam ketidaknyamanan yang ia rasakan, tingkah Daisy dan diamnya Juliet menjadi sesuatu yang membuatnya merasa muak.
Pria itu segera beranjak dan meninggalkan semua orang di ruang makan. Sementara Juliet masih menghabiskan sisa makanan yang belum habis, di saat seperti itu entah kenapa dia malah ingin makan banyak. Apakah si kembar sedang kelaparan?
…
Setelah selesai dengan acara makan malam, Juliet dengan segera memasuki kamarnya, lagipula dia tidak ingin bercengkrama dengan tiga tamu spesial yang menghabiskan waktu di ruang keluarga suaminya.
Juliet melihat J yang juga berada di kamar, entah kenapa hati merasa sedikit … bahagia, ternyata J memilih untuk sendiri daripada berkumpul dengan keluarganya.
Juliet menghampiri J dan berdiri di samping pria itu yang betah menatap ke luar jendela. J bergeming, tetapi dia tahu bahwa pria itu mengetahui kehadirannya.
"Jangan dengarkan apa yang wanita itu katakan!" ucap J tanpa mengalihkan perhatian.
"Daisy?" tanya Juliet yang tidak dijawab oleh suaminya tetapi kepala J yang menunduk memberikan jawaban 'iya'.
"Dan maaf tentang- …."
"Undangan itu?" potong Juliet karena J tidak meneruskan ucapannya. "memangnya kau berpikir untuk mengajakku?" tanyanya kemudian.
J mengangguk pelan, dia tidak menyadari bahwa perasaan Juliet tengah meledak walaupun hal itu hanyalah sebuah rencana. Juliet merasa bahagia karena hal kecil tersebut. Setidaknya J masih memperhitungkan posisi Juliet sebagai istri.
"Tidak apa-apa, pergilah! Aku akan menunggu di rumah saja," ucap Juliet.
J mengalihkan perhatian dan tatapan mereka kembeli bertemu. Seiring berjalannya waktu mereka bisa bicara tanpa ada kemarahan. Mungkin salah satu dari mereka mulai berpikir lebih tenang.
"Terima kasih!" ucap J.
Perubahan sikap J membuat harapan Juliet kembali melambung, sebelumnya dia sempat pesimis untuk mengubah hidup pria itu. Sekarang dia merasakan kembali bersemangat dan menggebu.
TBC
See you next chap
I Love you all 🌺🌺🌺
terimakasih atas karya yg luar biasa ini, saya merasa terhibur, ending yg cukup membuat saya tercengang, tapi saya memahami itu, di dunia ini yg namanya masalah tidak akan pernah berhenti datang kecuali tokoh itu mati, dan sifat manusia sulit di rubah, dan dendam tidak akan bisa dilupakan begitu saja, cerita ini hidup, biarkan berkembang bebas dengan sendirinya,
terimakasih karyamu disukai banyak orang