Menjadi wanita single parent untuk anak laki-laki yang ditemukan di depan kosnya saat kuliah dulu membuat Hanum dijauhi oleh orang-orang terdekatnya bahkan keluarganya karena mereka mengira jika anak itu adalah anak Hanum dari hasil perbuatan di luar nikah.
Hanum hanyalah sosok figuran bagi orang di sekitarnya. Terlihat namun diabaikan begitu saja oleh mereka. Walau begitu Hanum tak mempermasalahkannya karena menurutnya cukup ada anak laki-laki itu di hidupnya itu sudah cukup membuatnya bahagia.
Menjadi sosok figuran ternyata terus berlanjut di hidup Hanum saat ia memutuskan menerima permintaan menikah dengan seorang pria anak dari Dekan fakultasnya yang telah membantunya menyelesaikan studynya saat kuliah dulu.
"Bagaimana bisa Mama memintaku menikahi wanita beranak satu itu?!" Pertanyaan berupa hinaan itu terdengar oleh telinga Hanum dari pria yang berstatus sebagai calon suaminya.
Kehidupan rumah tangga yang ia harapkan dapat bahagia ternyata justru sebaliknya karena pria yang telah menjadi suaminya itu hanya menganggapnya sosok figuran yang hanya terlihat tapi tidak dianggap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan keras
Keputusan Hanum untuk merawat bayi mungil itu sampai bertemu dengan kedua orang tuanya kembali membuat hidup Hanum berubah seratus persen selama satu bulan belakangan ini. Jika biasanya Hanum hanya mengurus dirinya sendiri dan fokus pada skripsinya, kini Hanum justru membagi waktunya untuk mengurus bayi mungil yang sudah mulai ia sayangi itu. Dan itu semua tentu saja memberikan efek pada Hanum karena skripsinya jadi sedikit terhambat untuk Hanum kerjakan.
"Bayi, kenapa sampai saat ini kedua orang tuamu belum ketemu juga?" Tanya Hanum sambil mengusap pipi bayi mungil yang sedang tertidur di atas ranjang kecilnya.
Hari ini sudah lebih satu bulan dari waktu penemuan bayi mungil itu. Namun sampai saat ini Hanum belum juga mendapatkan informasi jika kedua orang tua bayi itu sudah ditemukan. Hanum pikir dengan Pak RT meminta bantuan polisi semuanya akan cepat terungkap namun ternyata apa yang Hanum harapkan tidak terjadi. Walau pun begitu Hanum tetap mencoba sabar menantinya dan merawat bayi itu layaknya anaknya sendiri.
Karena pagi itu Hanum sudah ada janji dengan dosen pembimbingnya untuk melakukan bimbingan skripsi, akhirnya Hanum pun menitipkan bayi mungil itu di kediaman Bu Endah. Untung saja jika saat seperti ini Bu Endah mau membantunya hingga Hanum tak merasa khawatir bayi mungil itu tidak ada yang menjaganya.
Saat sore hari telah tiba, Hanum sudah nampak berada di perjalanan untuk kembali pulang ke kosannya. Selama dalam perjalanan Hanum terlihat terus tersenyum karena tak sabar untuk bertemu dengan bayi mungil yang sampai saat ini belum ia berikan nama.
Deg
Baru saja Hanum memarkirkan motornya di depan kosannya, Hanum sudah dibuat terkejut melihat pintu kosnya yang terbuka dan melihat sebuah mobil yang sangat dikenalinya terparkir tidak jauh dari motornya berada.
Hanum pun segera turun dari atas motornya dan melangkah tergesa-gesa menuju kosannya.
"Mama, Papa?" Hanum tersenyum menatap kedua sosok yang sangat dikenalinya ternyata datang untuk mengunjunginya.
Plak
Bukannya menjawab sapaan dan senyuman dari Hanum, Papa Hanum yang bernama Irfan justru melayangkan sebuah tamparan cukup keras pada pipi Hanum.
"Papa, apa-apaan ini?" Tanya Hanum sambil meringis kesakitan.
"Ternyata ini balasan untuk Mama dan Papa selama hampir empat tahun menguliahkanmu?" Tanya Papa Irfan dengan berapi-api.
"Apa maksud Papa? Hanum tidak mengerti." Tanya Hanum sambil menangis.
"Hanum, kau sudah membuat Mama dan Papa kecewa. Kau benar-benar sudah melemparkan kotoran ke wajah kami dengan perbuatan kotormu itu!" Timpal Mama Jelita dengan keras.
"Perbuatan kotor?" Hanum masih tidak mengerti dengan perkataan kedua orang tuanya itu.
"Kau jangan berpura-pura bodoh, Hanum. Papa dan Mama sudah mengetahui jika saat ini kau sudah memiliki seorang anak dari perbuatan kotormu!" Sentak Mama Jelita.
Deg
Hanum dibuat begitu tertegun mendengarnya. "Anak?" Lirih Hanum. Anak siapa yang kedua orang tuanya itu maksud? Apa bayi mungil yang baru saja ia temukan satu bulan lalu? Hanum pun mencoba bertanya anak yang dimaksud kedua orang tuanya. Namun bukannya menjawab, Papa Irfan justru melayangkan tamparan kembali di sebelah pipinya yang tidak sakit.
"Papa?" Hanum dibuat tak dapat berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir di kedua pipinya yang menandakan jika saat ini ia benar-benar terluka dengan perbuatan dan tuduhan kedua orang tuanya.
***
Kalau Cita harus diwaspadai lho Richard kau nanti terjebak ranjaunya Cita
memang selayaknya begitu kamu sedang hamil jadi hatimu damai semoga putrimu kelak mempunyai pribadi sebaik dirimu.