Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Panggilan, Hadiah, dan Nama yang Terlarang
Raka mengangkat kepala. “Sekarang?”
“Sekarang.” Keenan menatap Aira. “Jangan bandel. Minum obat tepat waktu. Kalau nyeri bertambah, tekan bel.”
Aira mengangguk pelan. “Hati-hati. Tagihan overtime dokter mahal.”
Keenan tersenyum tipis, lalu keluar cepat.
Belum lima menit, ponsel Raka bergetar hebat. Dia melihat layar dan langsung mengerutkan kening. “Manajer saya.”
Dia mengangkat. Suara di seberang terdengar mendesak. Raka menjawab singkat beberapa kali, lalu terdiam lama. “Berapa total hadiahnya?”
Aira dan Reza sama-sama menoleh.
Raka menghembuskan napas. “Saya tidak bisa. Ada urusan—”
Dia terdiam lagi, mendengarkan. Akhirnya bilang, “Kirim kontraknya. Saya pertimbangkan.”
Setelah mematikan telepon, Raka mengusap wajah. “Ada balapan dadakan di sirkuit utama. Pembalap utama cedera. Mereka minta saya gantikan. Hadiah juara… cukup untuk bayar tagihan rumah sakit ini tiga kali lipat plus utang karpet.”
Aira menatapnya datar. “Lalu?”
“Saya tidak mau pergi.”
“Tapi kamu tergiur.”
Raka tidak membantah. “Kalau saya menang, uangnya masuk ke rekening kamu. Semua.”
Reza berbicara dari dekat pintu. “Balapan itu disiarkan langsung. Wajahmu akan muncul di mana-mana. Berbahaya.”
“Saya tahu.” Raka menatap Aira. “Tapi kalau saya menang, kamu tidak perlu khawatir soal uang untuk beberapa bulan.”
Aira terdiam cukup lama. “Pergilah... Menangkan balapannya... Lalu kembali dengan selamat. Jangan mati di sirkuit.”
Raka berdiri, mendekat, lalu menunduk dan menempelkan keningnya sebentar di kening Aira. “Saya kembali sebelum malam. Janji.”
Dia keluar dan pintu tertutup. Di ruangan tinggal Aira dan Reza.
Reza menarik kursi dan duduk. “Akhirnya sepi.”
“Terlalu sepi,” sahut Aira. “Kamu tidak perlu menjaga di dalam terus. Di luar saja.”
“Perintah atasan. Dan permintaan pribadi.”
Aira menatap langit-langit. “Kakekmu sudah telepon lagi?”
“Belum. Tapi saya rasa sebentar lagi.”
Belum sempat Reza menyelesaikan kalimat, ada ketukan di pintu. Bukan ketukan perawat. Ketukan yang rapi dan penuh wibawa. Reza berdiri tegang. Dia membuka pintu sedikit, lalu tubuhnya langsung kaku.
Seorang pria tua berusia sekitar tujuh puluhan masuk. Rambut putih disisir rapi, jas gelap mahal, tongkat kayu di tangan kanan. Matanya tajam meski sudah berkerut. Dua pengawal berpakaian sipil berdiri di belakangnya.
“Kakek,” kata Reza kaku. “Kenapa Kakek ke sini?”
Pria tua itu tidak langsung menjawab. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti total pada Aira.
Waktu seolah berhenti. Pria itu memiringkan kepala, langkahnya melambat. Tongkatnya mengetuk lantai pelan. “Aira?”
Aira yang sedang duduk tegak menatapnya bingung. “Saya tidak—”
“Aira.” Suara pria tua itu bergetar untuk pertama kalinya. “Itu benar kamu?”
Reza membeku. “Kakek… Kakek kenal dengannya?”
Aira mengerutkan kening. Dia memeriksa wajah pria tua itu dengan seksama. Tidak ada yang familiar. Bukan dari organisasi lama, arena atau dari masa kecil yang dia ingat.
“Saya tidak mengenal Anda,” kata Aira datar. “Anda salah orang.”
Pria tua itu berdiri di kaki tempat tidur, menatap wajah Aira seolah melihat hantu. “Tidak. Tidak salah. Mata itu. Cara kamu menatap. Bahkan cara kamu duduk… sama.”
Reza melangkah maju. “Kakek, maksud Kakek apa?”
Pria tua itu tidak menjawab cucunya. Dia hanya terus menatap Aira dengan ekspresi yang berubah-ubah—syok, sedih, lalu sesuatu yang mirip lega. “Kamu masih hidup. Setelah semua ini…”
Aira menekan tombol bel di sisi tempat tidur. “Reza. Suruh kakekmu keluar. Saya tidak nyaman.”
Reza memegang lengan kakeknya. “Kakek, kita bicara di luar.”
Pria tua itu akhirnya mengalihkan pandangan. Dia membiarkan Reza menggiringnya keluar ruangan dan pintu kembali tertutup.
Di koridor, Reza menatap kakeknya tajam. “Kakek kenal Aira? Sejak kapan? Bagaimana?”
Pria tua itu tidak langsung menjawab. Dia berjalan pelan menyusuri koridor, seolah butuh waktu untuk menyusun kata. Ketika akhirnya bicara, suaranya berubah total—lebih ringan, hampir senang.
“Reza. Dengar baik-baik.” Dia berhenti dan menatap cucunya dalam-dalam. “Gadis itu… jangan sampai apa-apa terjadi padanya. Jaga dia dengan nyawamu. Apa pun perintah atasan, apa pun risiko keluarganya, kamu jaga dia.”
Reza terkejut. “Kakek baru saja bilang dia berbahaya. Kakek menyuruh saya menetralkan—”
“Saya berubah pikiran.” Pria tua itu tersenyum tipis, sesuatu yang jarang Reza lihat. “Sangat berubah. Pindahkan dia ke rumah tua di daerah bukit. Yang tidak pernah dipakai sejak nenekmu meninggal. Tempat itu tersembunyi. Hanya keluarga yang tahu. Amankan dia di sana.”
“Kakek—”
“Lakukan.” Suaranya kembali tegas. “Dan jangan biarkan siapa pun tahu, termasuk orang-orang di unitmu. Ini perintah pribadi dari kakekmu.”
Reza berdiri kaku. “Kenapa? Siapa Aira sebenarnya sampai Kakek bereaksi seperti ini?”
Pria tua itu menatap pintu ruang rawat yang tertutup. Matanya berkaca-kaca sesaat, lalu kembali datar. “Suatu hari nanti kamu akan tahu. Sekarang, lakukan apa yang saya bilang. Jaga dia seperti kamu menjaga nyawamu sendiri.”
Dia berbalik dan berjalan menjauh, diikuti dua pengawal. Langkahnya lebih ringan dari saat tiba. Reza berdiri sendirian di koridor untuk waktu yang lama. Kepalanya penuh dengan pertanyaan. Ketika akhirnya dia memutuskan masuk kembali ke ruangan, Aira langsung menatapnya.
“Dia siapa?” tanya Aira.
“Kakek saya.”
“Saya tidak pernah bertemu dengannya.”
“Dia panggil nama kamu... padahal saya tidak pernah menceritakannya.”
Aira menggeleng. “Saya tidak punya kakek. Tidak punya keluarga yang saya ingat. Orang itu salah.”
Reza duduk di kursi, menatap lantai. “Dia memerintahkan saya untuk memindahkanmu ke tempat milik keluarga. Tempat yang sangat tersembunyi. Dan… dia bilang saya harus menjagamu dengan nyawa saya.”
Aira terdiam. “Tadi malam dia menyuruhmu menangkap saya. Sekarang menyuruhmu melindungi saya sampai mati. Orang tua itu tidak stabil.”
“Atau dia tahu sesuatu yang kita tidak tahu.”
Aira menatap jendela yang tertutup tirai. “Saya tidak suka ini. Terlalu banyak rahasia. Banyak orang yang tiba-tiba merasa berhak atas hidup saya.”
Reza mengangkat wajah. “Saya juga tidak suka. Tapi untuk sementara… saya akan ikuti perintahnya. Karena tempat itu memang lebih aman dari tempat ini.”
Aira menghela napas panjang. “Kalau saya setuju pindah, syaratnya sama. Tidak dikunci. Boleh bawa pisau. Dan semua biaya tetap dicatat.”
Reza tersenyum kecil untuk pertama kalinya hari itu. “Deal.”
Di luar rumah sakit, di dalam mobil hitam yang baru saja meninggalkan area parkir, pria tua itu duduk di kursi belakang dengan senyum yang belum hilang. Dia mengeluarkan ponsel dan menekan satu nomor yang sudah tidak dia hubungi selama bertahun-tahun.
“Dia masih hidup,” bisiknya. “Aira masih hidup. Siapkan rumah bukit. Dan jangan biarkan siapa pun mendekat tanpa sepengetahuan saya.”
Aira dibawa pergi sebelum matahari sepenuhnya tinggi. Reza tidak memberi tahu siapa pun termasuk Raka dan Keenan. Hanya dua orang kepercayaan kakeknya yang mengemudikan mobil gelap tanpa plat. Mereka meninggAlkan rumah sakit militer lewat jalur belakang, lalu berbelok berkali-kali sampai Aira kehilangan arah.