Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
Seminggu kemudian, setelah seluruh dokumen pernikahan selesai diurus, tibalah hari yang telah disepakati.
Hari ketika Areksa Dirgantara akan mengucapkan akad untuk menikahi Adira.
Pernikahan itu memang tidak digelar secara besar-besaran. Tidak ada tamu undangan dari luar keluarga, tidak ada pesta mewah, bahkan tidak ada publikasi apa pun.
Yang hadir hanyalah keluarga inti, beberapa orang kepercayaan keluarga Dirgantara, serta para pekerja yang selama ini tinggal dan bekerja di kediaman mereka.
Meski sederhana, pernikahan itu tetap dilaksanakan secara sah menurut agama dan negara.
Sejak pagi, suasana rumah Dirgantara terasa berbeda.
Bayu bahkan sudah memberikan peringatan kepada semua orang yang hadir.
“Saya ingatkan sekali lagi,” ucap Bayu dengan suara tegas. “Tidak seorang pun boleh membicarakan atau membocorkan pernikahan ini kepada siapa pun."
Semua orang mengangguk.
“Pernikahan ini akan diumumkan ketika Reksa dan Adira sendiri sudah siap. Sebelum itu, anggap saja apa yang terjadi hari ini adalah urusan keluarga.”
“Baik, Pak,” jawab beberapa orang hampir bersamaan.
Di ruangan yang telah disiapkan untuk akad, Areksa duduk berhadapan dengan wali hakim.
Tangannya sesekali mengepal di atas lutut. Ia menarik napas dalam-dalam.
Di sisi lain ruangan, Adira duduk bersama Soraya. Perempuan itu mengenakan gaun sederhana yang beberapa hari lalu dipilih oleh Areksa.
Tidak berlebihan. Namun cukup membuatnya terlihat anggun.
Adira menundukkan wajah. Hari ini ia akan kembali menyandang status sebagai seorang istri.
Hanya saja, kali ini ia tidak tau seperti apa masa depannya.
Setelah penghulu menjelaskan kembali prosesi akad dan memastikan kesediaan kedua mempelai, tibalah saat yang paling mendebarkan.
Wali hakim menatap Areksa. “Saudara Areksa Dirgantara, apakah Saudara bersedia menikahi saudari Adira Talitha Sanjaya dengan mas kawin yang telah disepakati?”
Areksa menarik napas panjang. “Saya bersedia.”
Wali hakim kemudian memegang tangan Areksa. “Saya nikahkan dan saya kawinkan saudari Adira Talitha Sanjaya kepada Saudara dengan mas kawin berupa uang tunai 500juta rupiah dibayar tunai."
Areksa menggenggam tangan wali hakim dengan mantap. “Saya terima nikahnya Adira Talitha Sanjaya dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
“SAH!” Suara Bayu terdengar paling dulu.
Disusul suara beberapa orang lainnya.
“Alhamdulillah.”
Areksa menundukkan kepalanya. Untuk beberapa detik, ia hanya diam.
Satu kalimat yang baru saja diucapkannya telah mengubah hubungan mereka.
Adira kini bukan lagi sekadar perempuan yang bekerja di rumahnya. Bukan lagi sekadar pengasuh Aretha.
Ia adalah istrinya.
Areksa mengangkat wajah dan memandang Adira.
Perempuan itu masih menundukkan kepala dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Soraya tersenyum haru. Sementara Bayu menghela napas lega.
Akad itu sederhana. Tidak ada tepuk tangan meriah. Tidak ada sorotan kamera. Tidak ada pesta.
Namun bagi dua orang yang duduk di ruangan itu, hari tersebut menjadi awal dari kehidupan yang sama sekali baru.
Sebuah pernikahan yang untuk sementara waktu hanya diketahui oleh orang-orang terdekat mereka.
Dan sampai Areksa serta Adira sendiri yang memutuskan untuk mengumumkannya kepada dunia, tidak seorang pun boleh membuka rahasia tersebut.
Setelah ucapan sah terdengar dari seluruh penjuru ruangan, Adira perlahan bangkit dari tempat duduknya.
Dengan langkah kecil, ia berjalan menuju meja akad dan berhenti di samping Areksa.
Untuk pertama kalinya, mereka duduk berdampingan sebagai suami dan istri.
Adira masih terlihat canggung.
Sementara Areksa beberapa kali melirik ke arahnya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Seorang petugas kemudian menyerahkan beberapa dokumen yang harus mereka tandatangani.
Areksa mengambil pena terlebih dahulu. Namanya tertulis jelas di atas lembar pernikahan itu.
Areksa Dirgantara.
Kemudian giliran Adira. Tangannya sedikit gemetar ketika menorehkan tanda tangan di atas kertas.
Setelah semuanya selesai, dokumen tersebut diperiksa kembali sebelum disimpan.
Soraya yang sejak tadi duduk tidak jauh dari mereka tersenyum haru.
“Sekarang tinggal satu,” katanya.
Adira menoleh. “Apa, Nyonya?”
Soraya memberi isyarat kepada salah satu orang di dekatnya.
Sebuah kotak kecil diberikan kepada Areksa.
Areksa membukanya. Di dalamnya terdapat sepasang cincin pernikahan. Ia mengambil salah satunya.
“Adira... Boleh saya pasangkan?”
Adira mengangguk kecil.
Areksa menggenggam tangan Adira dengan hati-hati, lalu memasangkan cincin itu ke jari manisnya.
Cincin tersebut terpasang sempurna.
Adira menatap benda kecil yang kini melingkar di jarinya. Rasanya aneh.
Beberapa hari lalu ia masih memanggil laki-laki di sampingnya dengan sebutan Tuan.
Hari ini, laki-laki itu sudah menjadi suaminya.
Kemudian Adira mengambil cincin milik Areksa dan memasangkannya ke jari pria tersebut.
“Alhamdulillah,” ucap Soraya.
Ia tersenyum semakin lebar. “Sekarang, Adira, coba cium tangan suamimu.”
Adira langsung menoleh. “Nyonya...”
“Tidak apa-apa. Itu suamimu.”
Adira tampak ragu. Namun akhirnya ia mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Areksa dengan singkat.
Areksa justru terlihat sedikit kaku.
Soraya kemudian berkata lagi, “Reksa, sekarang kamu cium kening istrimu.”
Adira spontan menggeleng. “Tidak perlu, Nyonya.”
Soraya terkekeh kecil. “Adira, kalian sudah sah.”
“Saya tau, tapi...” Adira menundukkan wajah. “Menurut saya itu tidak perlu.”
Soraya hendak membujuk lagi, tetapi Areksa lebih dulu berbicara.
“Kalau Adira tidak nyaman, tidak perlu, Ma.”
Soraya menatap putranya. “Reksa—”
"Biarkan dia.” Nada suara Areksa tetap lembut.
Adira sempat menatapnya.
Ada rasa lega yang tidak bisa ia sembunyikan.
Soraya akhirnya menghela napas. “Baiklah.”
Namun senyum kecil tetap terukir di wajahnya.
Ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dalam hati putranya, tetapi sebagai seorang ibu, Soraya bisa melihat sesuatu yang mungkin bahkan belum disadari Areksa sendiri.
Cara Areksa memperhatikan Adira. Cara ia selalu memastikan perempuan itu tidak merasa sendirian. Cara ia begitu cepat melindunginya ketika ada yang membuat Adira tidak nyaman.
Dan yang paling membuat Soraya yakin adalah satu hal—Areksa tidak lagi sekadar menjalankan kewajiban.
Ada perasaan yang perlahan tumbuh di sana.
Mungkin Areksa sendiri belum menyadarinya. Atau mungkin ia terlalu keras kepala untuk mengakuinya.
Sementara itu, Adira masih memandangi cincin di jarinya.
Soraya memperhatikannya dengan senyum penuh harapan. Semoga kali ini anakku benar-benar belajar mencintai perempuan yang ada di sisinya.
Bukan karena rasa bersalah. Bukan karena kewajiban.
Melainkan karena memang hatinya memilih Adira.
Di tengah suasana haru itu, terdengar suara kecil dari arah Bayu.
Aretha yang sejak tadi berada dalam gendongan sang kakek tiba-tiba menggeliat. Kedua tangan dan kakinya bergerak-gerak penuh semangat. Wajah mungilnya tampak ceria, seolah ikut merasakan kebahagiaan yang memenuhi ruangan.
Bayu tertawa kecil. “Lihat ini cucu Kakek. Ikut senang, ya?”
Bukannya tenang, Aretha justru semakin aktif bergerak. Kedua tangannya terulur ke arah Adira.
“Eh?”
Bayu mengikuti arah pandangan cucunya. “Oh... mau sama Adira rupanya.”
Adira yang mendengar namanya disebut langsung menoleh. Begitu melihat tangan kecil Aretha yang terus terulur kepadanya, senyum tipis muncul di wajahnya.
“Non Aretha mau sama saya?”
Seolah memahami perkataan itu, Aretha mengeluarkan suara kecil.
“Eeh...”
Bayu terkekeh. “Sudah, ambil saja. Dari tadi tangannya tidak berhenti minta digendong.”
Adira pun mendekat.
Begitu tubuh mungil itu berpindah ke dalam pelukannya, Aretha langsung tenang. Tangannya meraih ujung pakaian Adira, sementara kepalanya bersandar nyaman di dada perempuan itu.
Adira tersenyum lembut. “Kenapa, Sayang?”
Namun Aretha kembali menggerakkan tangannya. Kali ini pandangannya tertuju kepada Areksa.
Areksa yang menyadari tingkah putrinya ikut tersenyum. “Sepertinya dia ingin memastikan Papanya masih di sini.”
Aretha kembali bergerak-gerak sambil tersenyum lebar.
Soraya yang melihat pemandangan itu langsung tertawa kecil.
“Ya ampun... Aretha benar-benar bahagia melihat papanya sudah memberikan dia seorang mama.”
Adira langsung menoleh. “Nyonya...”
Soraya mengangkat alis. “Kenapa masih memanggil Mama dengan sebutan Nyonya?”
Adira tampak salah tingkah. “Maaf. Saya merasa kurang sopan kalau langsung memanggil Mama.”
“Kamu sekarang sudah menjadi menantu Mama, Adira.” Soraya tersenyum hangat. “Jadi mulai sekarang, panggil Mama.”
Adira terdiam sejenak. Panggilan itu terasa begitu asing di lidahnya.
“Pokoknya kamu harus mulai membiasakan diri. Panggil Mama dan panggil suami saya Papa.”
“B-baik, Nyo—”
Adira buru-buru menghentikan ucapannya sendiri. “Eh... maaf, Ma.”
Soraya langsung tersenyum puas. “Nah, begitu.”
Bayu terkekeh melihat istrinya yang baru saja mendapatkan menantu.
Soraya kemudian mengalihkan pandangannya kepada Areksa. “Mama tau Adira tidak mau pernikahan kalian diumumkan kepada orang lain. Mama akan menghargai keputusan kalian.”
Areksa mengangguk.
“Tapi Mama mau kamu tetap bertanggung jawab sebagai seorang suami, Reksa.”
“Iya, Ma.”
“Jangan hanya karena pernikahan ini dirahasiakan, kamu bersikap seolah-olah tidak ada perubahan apa pun.”
Areksa melirik Adira sekilas. “Saya mengerti.”
“Bagus.”
Soraya kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Oh iya, besok Mama dan Papa akan kembali lagi ke Singapura.”
Areksa langsung menoleh. “Secepat itu?”
“Iya.” Soraya terkekeh. “Mama mau melakukan apa lagi di sini? Semua urusan sudah selesai.”
Bayu mengangguk. “Kami juga masih punya beberapa urusan di Singapura.”
Areksa menghela napas kecil. “Baiklah. Hati-hati di jalan.”
Soraya tersenyum, lalu melirik putranya dan Adira secara bergantian. “Hitung-hitung, kalian juga harus mulai belajar mendekatkan diri satu sama lain.”
Adira langsung menundukkan wajah.
Areksa pun hanya diam.
Soraya hendak melanjutkan ucapannya, tetapi tiba-tiba mengurungkan niat.
“Lagipula, kemarin Mama dan Papa tinggal, kalian malah...” Soraya terkekeh kecil. “Ah, sudahlah. Pokoknya seperti itu.”
Suasana seketika berubah sedikit canggung.
Areksa dan Adira sama-sama tau apa yang dimaksud Soraya.
Bukan sesuatu yang bisa mereka bicarakan begitu saja.
Ingatan tentang beberapa malam sebelumnya masih terlalu jelas bagi keduanya.
Soraya akhirnya menyadari perubahan wajah mereka. Senyumnya perlahan menghilang.
“Maksud Mama, kalian tidak perlu terburu-buru,” katanya lebih lembut. “Bangun hubungan ini pelan-pelan. Saling mengenal. Saling menghargai.”
Adira mengangguk kecil. “Baik, Ma.”
Areksa pun mengangguk. “Iya, Ma.”
Soraya tersenyum kembali. “Yang penting, jangan ada yang merasa sendirian dalam pernikahan ini.”
Aretha tiba-tiba mengeluarkan suara kecil dari pelukan Adira. “Eeh...”
Semua orang langsung menoleh.
Bayu tertawa. “Sepertinya cucu Kakek juga setuju.”
Adira ikut tersenyum.
Areksa memandang keduanya untuk beberapa saat.
Hari ini, ia resmi memiliki seorang istri.
Dan Aretha akhirnya memiliki sosok yang selama ini selalu ia cari setiap kali menangis.
Entah bagaimana perjalanan mereka setelah ini, tetapi setidaknya untuk hari ini, mereka berada di tempat yang sama. Sebagai sebuah keluarga.
🤣🤣🤣
🥰🥰🥰🥰🥰🥰