NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:148
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Aib yang Direkayasa

Seminggu setelah Tuti dibawa pergi, Wida menyuruh Sekar menghadiri jamuan keluarga di hotel milik Danuwijaya.

"Banyak mitra yayasan datang," katanya. "Jangan membuat orang mengira keluarga kita sedang pecah."

Sekar hampir menolak. Namun ia membutuhkan akses ke daftar tamu, kamera hotel, dan orang-orang yang mungkin mengetahui ke mana Tuti dibawa. Ia memilih gaun tertutup berwarna gelap, menyimpan ponsel cadangan di tas, lalu berangkat sendiri.

Ballroom di lantai dua dipenuhi cahaya keemasan. Eyang Sri duduk di meja utama, menerima salam seolah tidak pernah memerintahkan seorang perempuan diseret dari rumahnya. Wida bergerak dari meja ke meja. Kirana berada di sisi kanan panggung, perut besarnya dibalut gaun longgar, sementara Yanti tidak pernah jauh darinya.

"Mbak Sekar akhirnya datang," sapa Kirana. "Saya kira Mbak masih marah soal Tuti."

"Aku sedang mencarinya."

Senyum Kirana tidak berubah. "Semoga ditemukan. Orang yang bersalah kadang pergi karena takut bertanggung jawab."

"Orang yang membuat jebakan juga biasanya takut pada penyelidikan."

Yanti memotong sebelum Kirana menjawab. "Bu Wida memanggil Mbak Sekar ke meja utama."

Sepanjang makan malam, Sekar tidak menyentuh minuman yang ditinggalkan tanpa pengawasan. Ia membuka botol air sendiri dan menolak dua gelas jus yang ditawarkan pelayan. Namun menjelang sambutan Eyang Sri, Wida datang membawa cangkir kecil.

"Madu jahe," katanya. "Suaramu terdengar serak. Minumlah sebelum ikut menyambut tamu."

Sekar menatap permukaan minuman. "Saya tidak haus."

"Mama mengambilnya sendiri dari dapur. Kamu masih menuduh semua orang ingin mencelakaimu?"

Beberapa kerabat sudah memperhatikan. Wida mengangkat cangkir sedikit lebih tinggi, menciptakan pilihan yang sama seperti surat persetujuan: menerima atau dianggap membuat keributan.

Sekar meminum dua teguk.

Rasanya manis, lalu pahit samar di pangkal lidah.

Ia meletakkan cangkir dan mengirim pesan singkat ke ponsel cadangannya sendiri: `Madu jahe dari Wida, 20.43.`

Lima belas menit kemudian, huruf di layar panggung mulai berbayang.

Sekar berdiri, tetapi lantai seperti bergeser. Yanti segera muncul di sampingnya.

"Mbak kelihatan pucat. Saya antar istirahat."

"Jangan sentuh aku."

Suara Sekar terdengar jauh. Ia berusaha mengambil ponsel, tetapi jari-jarinya tidak mampu membuka kunci layar.

Wida merangkul bahunya dari sisi lain. "Jangan keras kepala. Ada kamar keluarga di lantai atas."

Di meja utama, Kirana menatap mereka sambil mengusap perut. Eyang Sri sedang berbicara dengan tamu dan tidak menoleh.

Sekar mencatat apa yang masih bisa ditangkap pikirannya. Lift naik ke lantai sebelas. Karpet lorong bermotif biru. Wida tidak ikut keluar dari lift. Yanti menempelkan kartu akses ke kamar 1108.

Lampu hijau menyala.

Sekar didudukkan di tepi ranjang. Kepalanya jatuh ke samping, tetapi kesadarannya belum sepenuhnya hilang.

"Tidur saja," bisik Yanti.

Pintu menutup.

Beberapa menit kemudian, terdengar bunyi kartu ditempelkan lagi. Seorang lelaki asing masuk. Ia memakai kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka dan tampak sama gugupnya dengan Sekar.

"Saya cuma disuruh masuk dan difoto," katanya kepada Yanti. "Tidak lebih."

"Lakukan sesuai kesepakatan. Duduk dekat dia."

Yanti menarik selimut, mengacak rambut Sekar, lalu membuka satu kancing luar gaunnya tanpa menyingkap tubuh. Lelaki itu duduk di sisi ranjang. Kilatan kamera muncul berkali-kali.

Sekar mencoba mengangkat tangan. Tubuhnya hanya bergerak sedikit.

"Jangan sentuh saya," katanya terbata.

Lelaki asing itu menjauh. "Saya tidak menyentuh. Cepat ambil fotonya."

Kilatan terakhir menyala. Setelah itu mereka pergi dan meninggalkan pintu tidak terkunci.

Sekar memaksa jarinya bergerak menuju tas. Ia tidak mampu bangun, tetapi berhasil menekan tombol rekam pada ponsel cadangan yang tersembunyi di saku dalam. Suara langkah dan kalimat terakhir Yanti tersimpan samar.

"Sebelum pagi, semua orang akan tahu istri terhormat itu sebenarnya seperti apa."

***

Sekar terbangun menjelang subuh dengan mulut kering dan kepala berdenyut. Gaunnya kusut. Kamar kosong.

Ponsel utamanya tergeletak di lantai dan dipenuhi ratusan notifikasi.

Sebuah akun gosip mengunggah foto dirinya di ranjang bersama lelaki asing. Sudut pengambilan gambar membuat kancing terbuka dan bahu lelaki itu tampak lebih dekat daripada kenyataan.

Judulnya berbunyi, `Istri pejabat muda kepergok di kamar hotel.`

Unggahan itu sudah disalin ke Instagram, TikTok, dan beberapa akun infotainment. Kolom komentar bergerak terlalu cepat untuk dibaca.

`Mandul tapi kelakuannya begini.`

`Pantas suaminya cari perempuan lain.`

`Keluarga besar pasti malu.`

Sekar berlari ke kamar mandi dan muntah. Tidak banyak yang keluar selain cairan pahit. Tangannya gemetar saat membasuh wajah.

Ketukan keras terdengar dari pintu.

Rendra masuk bersama Wida. Ia hanya melihat kamar, gaun Sekar yang kusut, lalu foto di ponselnya.

"Kamu sudah keterlaluan," katanya.

Sekar menahan tepi wastafel. "Aku dijebak."

"Semua orang selalu menjebakmu sekarang? Tuti dijebak. Kamu dijebak. Hanya kamu yang tidak pernah salah?"

"Minuman dari Mama mengandung sesuatu. Yanti membawaku ke sini. Periksa CCTV dan kartu akses."

Wida memegangi dada. "Kamu menuduh Mama meracunimu?"

"Aku meminta penyelidikan."

Rendra menunjukkan foto itu. "Apa lagi yang mau diselidiki?"

Sekar menatap lelaki yang pernah berjanji melindunginya. Ia bahkan tidak bertanya apakah seseorang menyentuhnya, apakah ia terluka, atau mengapa istrinya hampir tidak mampu berdiri.

"Beri aku kesempatan menjelaskan."

"Jelaskan kepada keluargamu sendiri. Aku muak."

Rendra berbalik dan mengantar Wida keluar. Sekar tidak mengejar.

Ia mengunci pintu, mengambil gelas air yang belum disentuh dari minibar, lalu mengumpulkan benda-benda yang masih ada. Nomor kamar. Waktu unggahan pertama. Dua teguk madu jahe. Lantai sebelas. Kartu akses yang dipegang Yanti. Lelaki asing yang menolak menyentuhnya.

Ponsel cadangan masih merekam.

Sekar menghentikannya dan mengirim file suara ke surel pribadinya. Setelah itu ia menghubungi layanan laboratorium yang buka dua puluh empat jam untuk menanyakan pemeriksaan toksikologi secepat mungkin.

Petugas di telepon memintanya tidak mandi dulu jika ingin mendokumentasikan keadaan pakaian, serta membawa sisa minuman bila ada. Cangkir madu jahe sudah tidak berada di ballroom, tetapi Sekar masih mengenakan gaun yang sama dan mengetahui waktunya. Ia memesan kendaraan melalui aplikasi dengan akun lain, lalu memotret kamar dari empat sudut sebelum pergi.

Di meja resepsionis, seorang pegawai hotel mencoba menahannya.

"Bu Wida berpesan agar Ibu menunggu keluarga."

"Saya tamu hotel atau tahanan keluarga?"

Pegawai itu terdiam.

"Tolong catat bahwa saya meminta salinan data kartu akses kamar 1108 dan rekaman lorong antara pukul delapan malam sampai lima pagi. Jangan hapus sebelum ada permintaan resmi."

Sekar mengirim permintaan yang sama melalui surel layanan pelanggan hotel. Sekalipun mereka menolak, cap waktu pengiriman akan membuktikan bahwa sejak pagi pertama ia sudah menyatakan ada jebakan.

Air matanya akhirnya jatuh, tetapi tangannya tidak berhenti bekerja.

Mereka mengira telah menciptakan aib.

Tanpa sadar, mereka juga meninggalkan jejak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!