Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sampai ke dasar
Setahun kemudian....
Suara dentingan sendok, garpu, dan riuh rendah obrolan pengunjung restoran terdengar samar dari balik dinding dapur yang pengap. Uap panas dari air rebusan dan aroma sisa makanan bercampur menjadi satu, menciptakan udara yang menyesakkan dada. Ruangan yang sempit itu terasa seperti tungku pembakaran yang tidak pernah dingin, menguras energi siapa pun yang berada di dalamnya sejak pagi buta. Hawa panas seolah mengepung dari segala penjuru, membuat atmosfer kerja terasa kian berat dan menekan.
"Gimana? Apa semua piring dan mangkuk sudah selesai?!"
teriak sebuah suara berat dari ambang pintu dapur. Itu adalah suara sang pemilik restoran, menatap tajam ke arah sudut wastafel. Tatapannya menuntut kecepatan yang mutlak, tidak peduli pada peluh pegawainya yang terus bercucuran deras.
Bayu yang sedang membungkuk di depan bak cuci piring besar langsung menoleh. Peluh membanjiri kening dan lehernya, membuat kaus kumal yang dikenakannya basah kuyup hingga melekat erat di kulit. "Bentar, Pak... masih ada satu tumpuk lagi," sahut Bayu dengan napas sedikit terengah.
"Cepat ya, Bay! Kami perlu segera. Hari ini pengunjung lumayan ramai, jangan sampai pelayan di depan kekurangan piring bersih!" tegas pemilik restoran itu sebelum kembali berlalu ke area depan.
"Baik, Pak."
Bayu pun langsung mempercepat ritme tangannya. Jemarinya yang setahun lalu terbiasa memegang kemudi supercar dan MacBook mahal, kini terlihat kasar, memutih, dan keriput karena terlalu lama terendam air sabun kimia. Kulit di sekitar buku-buku jarinya bahkan mulai pecah-pecah dan terasa perih yang menyengat setiap kali terkena cairan pembersih pekat, namun rasa sakit itu terpaksa dia abaikan dalam-dalam. Dengan gerakan yang sudah terlatih selama setahun terakhir, dia menggosok setiap mangkuk dengan cepat dan membilasnya hingga kesat di bawah kucuran air yang dingin.
Dengan ritme kerja yang dipercepat seperti itu, dia bisa segera menyelesaikan tumpukan terakhir dengan cepat. Setiap gerakan lengannya kini dipacu oleh sisa-sisa tenaga dan rasa takut yang konstan akan kehilangan satu-satunya pekerjaan yang menopang hidupnya saat ini.
Begitu piring bersih terakhir ditata di rak, kekuatan di tubuh Bayu seolah menguap tanpa bekas. Seluruh persendian dan ototnya mendadak terasa lemas, tidak lagi mampu menahan beban tubuhnya sendiri setelah berjam-jam diperas tanpa jeda.
Dan yah... Bayu pun tersandar pada dinding keramik dapur yang dingin, lalu tubuhnya merosot sampai terduduk ke lantai semen yang lembap. Dia meluruskan kedua kakinya yang terasa kaku bagaikan batu. Kakinya sedikit kram karena terlalu lama berdiri tanpa henti sejak restoran dibuka pagi tadi.
Bayu memejamkan mata, memijat betisnya yang menegang dengan tangan yang gemetar hebat. Setahun telah berlalu sejak badai besar yang menghancurkan keluarganya secara total. Kejayaan dan kemewahan yang dibangun selama bertahun-tahun runtuh berantakan dalam semalam, menyisakan puing-puing kemiskinan serta nasib yang harus dia tanggung seorang diri. Dia terpaksa putus kuliah karena tidak ada lagi biaya yang tersisa, dan semua teman kampus yang dulu selalu memuja dan menyanjungnya kini menghilang entah ke mana setelah tahu dia jatuh miskin. Tidak ada lagi sapaan ramah di lorong kelas, tidak ada lagi dering telepon dari mereka yang dulu dengan bangga mengaku sebagai sahabat sejati.
Di tengah rasa lelah yang mendera dan lantai dapur yang kotor, Bayu tersenyum getir. Dunia benar-benar berputar dengan sangat kejam, menjatuhkannya dari puncak tertinggi langsung ke dasar bumi yang paling kelam dan berlumpur. Namun, di tengah keterpurukan yang nyaris tanpa harapan ini, dia tidak pernah menyesali satu hal: keputusannya untuk tetap bertahan hidup,