Felicya adalah perempuan yang mempunya jiwa yang tenang. Ia memegang prinsip stoik; tidak semua hal harus dilawan, dan tidak semua luka harus dibalas.
Namun prinsip itu diuji ketika ia bertemu seorang laki-laki Machiavellian-cerdas, manipulatif, dan terbiasa memainkan manusia seperti bidak dalam permainan.
Di saat yang sama, Felicya harus berhadapan dengan perselingkuhan suaminya bersama seorang perempuan NPD.
Di antara kebohongan, manipulasi, dan permainan ego, Felicya perlahan menyadari bahwa membalas dengan elegan, bukan berarti jahat. karena mempertahankan boundariesnya dan tidak kehilangan jati dirinya, hanya perbuatan 2 orang yang mempunyai 2 sifat Dark Psichology.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Kepulangan Sang Bunda
Sudah lima hari ibu Felicya dirawat di rumah sakit akhirnya mereka bisa pulang ke rumahnya lagi. Ibu Felicya sangat tidak sabar ingin pulang kerumah.
"Neng, ibun udah gak sabar banget ini pulang ke rumah. Ibun boring di kamar terus, gak ngelihat matahari, ibun kaya disekap jadinya," ucap Ibunya pada. Felicya
Felicya yang mendengar ibunya berceloteh seperti itu, lalu matanya melirik ke arah ibunya dan berbicara.
"Ibun namanya juga lagi sakit, ibun juga dirawat jadi gak mungkin bisa jalan-jalan. Ibun kan baru mendingan," ucap Felicya lembut dengan ibunya.
Felicya masih membereskan baju kotor ibu dan punya dirinya selama di rumah sakit dan memasukinya ke dalam koper dengan plastik packing. Ibunya melihat betapa sayangnya anaknya pada dirinya. Tatapannya tidak lepas dari sang putri.
"Neng, sini-sini dulu duduk samping ibun," panggil ibunya.
Felicya yang sedang merapikan pakaian langsung menoleh. "Iya, ibun. Kenapa?" ucap Felicya langsung duduk di samping ibunya.
"Ibun kan sudah sehat nih neng, kamu kalau mau liburan bulan madu sama Galang, ibu kasih izin."
Felicya tersenyum kecil, lalu menggenggam tangan ibunya dengan halus.
"Masalah bulan madu itu urusan belakangan ibun, yang terpenting ibun benar-benar sehat dulu."
Ibunya mengusap lembut pipi Felicya. "Anaknya ibun yang cantik dan manis. Ibun jadi nggak mau melihat neng fokus urusin ibun terus, ibun tau kamu butuh refreshing dengan suami kamu neng."
Lalu Felicya tersenyum dan menjawab perkataan ibunya.
"Ibun dengerin neng dulu yah, Neng tuh belum mau bulan madu, ibun. Yang penting Ibun sudah sehat dan bisa pulang ke rumah hari ini. Neng tuh gak mau kalau pergi bulan madu tapi ibun belum begitu sehat, aku harus tetap check kondisi ibun sampai minggu depan, neng tuh sayang sama ibun. Jadi tolong ibun ikuti kemauan neng yah" jawab Felicya tersenyum manis di bibirnya.
Ibunya tersenyum mendengar jawaban putri semata wayangnya. Ia tahu Felicya memang selalu khawatir dengan keadaan ibunya dan selalu jarang mengeluh meskipun sedang menghadapi banyak masalah di hidupnya. Bahkan ketika dirinya sakit, Felicya tetap berusaha terlihat baik-baik saja di depan ibu tercinta.
Ketika ibunya baru selesai bicara dengan Felicya, ponsel ibunya berdering, ketika ibunya membuka layar ponselnya. Ternyata menantunya menelepon dirinya
Galang:
"Assalamu'alaikum bunda," salam Galang.
Ibu Felicya menjawab salam dari mantunya.
"Wa'alaikumsalam Galang, iya kenapa nelepon bunda?" tanya ibu Felicya.
"Gini bun, aku nanti mau kerumah sakit, mau bantu bawa barang-barang punya bunda sama punya Neng Feli, ibun sama neng Feli tunggu ke datengan Galang dulu yah, jangan pulang sendiri" ucap Galang ramah ditelepon.
Felicya melirik sebentar ke arah ibunya, ia mendengar suara suaminya di ponsel ibunya. Lalu Felicya kembali merapikan pakaian ibu dan dirinya di dalam koper miliknya.
"Ibu jadi gak enak sama kamu Lang, kamu sudah banyak bantu bunda dari kemarin" ujar ibu mertuanya.
Galang tersenyum dibalik layar ponselnya.
"Ihhh... Bunda jangan bilang begitu sama Galang. Sudah seharusnya Galang membantu Bunda. Bunda kan orang tua Felicya, berarti Bunda juga orang tuanya Galang."
Ibu Felicya tersenyum dan senang mendengar perkataan menantunya di telepon. Ia merasa beruntung memiliki menantu yang perhatian dan sigap saat membantunya selama dirawat dan juga mencintai putrinya dengan tulus.
"Alhamdulillah. oke deh kalau nak galang memang merasa gak keberatan, sekali lagi lagi maaf yah bunda jadi repotin kamu, semoga rumah tangga kamu rukun sama anak saya yah lang. Aamiin..." jawab ibu Felicya penuh harapan
"Aamiin, Bunda. Yasudah Galang mau bergegas berangkat ke rumah sakit sekarang yah bun. Tunggu Galang sampai di rumah sakit, jangan pulang sendiri sebelum galang sampai," jawab Galang.
...****************...
Galang kemudian melangkah keluar membawa mobil sewaan yang sudah ia sewa kemarin. Galang masuk ke dalam mobil dan menyalakan mobilnya.
Galang melajukan mobilnya dengan kimo meter yang sedang. Di sepanjang jalan Galang sangat tidak sabar menanti Felicya pulang. Selama Felicya di rumah sakit, ia merasa kesepian di rumah, bahkan tidak ada yang bisa dia usilkan. Sesekali Galang tersenyum mengingat tingkah polos istrinya itu. "Aku gak sabar ketemu kamu sayang, kita sudah empat hari gak ketemu," gumamnya. Galang tidak sadar bahwa dirinya tersenyum mengingat Felicya dan bilang Felicya sebutan "sayang". Bahkan untuk perasaannya sendiri pun ia belum sadar. sesampainya di rumah sakit Galang memarkiran mobilnya di pintu parkir depan dan lalu ia turun dari mobil, dan masuk ke dalam lift ke lantai 132 kamar rawat inap mertuanya. Saat ia sudah membuka pintu kamar. Galang langsung menghampiri Felicya yang masih sibuk dengan koper. Ia mengambil beberapa pakaian dari tangan istrinya.
"Sini Ayyy.... Biar Mas saja yang bereskan. Kamu dari tadi belum berhenti juga." ucap Galang yang perhatian pada istrinya.
Felicya menyerahkan pakaiannya dan kopernya kepada Galang. Felicya tidak ingin banyak bicara pada suaminya. Perasaannya masih kesal atas kelakuan suaminya saat Felicya masih di rumah untuk packing pakaian. Felicya sama sekali tidak menatap suaminya, ia hanya menundukan wajahnya. Jika Felicya harus menatapnya suaminya, ia takut akan membenci suaminya yaitu Galang.
Galang tidak menyadari sikap Felicya yang hanya diam saja. Bahkan sama sekali tidak menatap wajahnya. Di pikiran Galang Felicya memang wanita pendiam, dan tidak cerewet seperti wanita lain. Apalagi ada ibunya, di pikirannya Felicya pasti sedang malu sekarang.
"Nah sudah beres sayang," ujarnya yang sudah menutup kopernya.
Lalu Felicya bergegas membantu ibunya berdiri. Begitu juga dengan Galang yang sigap membopong ibu mertuanya untuk berdiri dari bed.
"Hati-hati ibun jalannya, ibun masih lemas pasti," ucap Felicya perhatian dengan ibu tercinta.
Galang membopongnya juga hati-hati sembari menyeret koper di tangan kirinya itu.
Perawat dan dokter melihatnya seperti pasangan suami istri yang kompak, saling menjaga dan saling membantu. Namun, tak ada satupun yang tahu bagaimana rumah tangga mereka berdua. Bahkan ibu Felicya hanya tahu rumah tangga anaknya harmonis.
Sedangkan Felicya hanya memendamnya sendiri, dan ikut bersikap seperti biasa agar ibunya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Sesampai di depan lift. Galang mengambil kursi roda yang ada di deket security.
"Sayang kamu sama Bunda tunggu sini. Aku mau bawa kursi roda untuk bunda, takut bunda gak kuat jalan," ucapnya langsung mengambil kursi roda.
Felicya menjawab dengan anggukan.
Ibunya memperhatikan gerak gerik anaknya hanya diam saja, ibunya merasa ada yang tidak baik-baik saja dengan putri semata wayangnya.
Ibu Felicya bertanya padanya.
"Neng, kok ibu perhatikan dari tadi neng diam saja, neng baik-baik sajakan?" tanya ibunya mulai khawatir.
Felicya yang ditanya dengan ibunya seperti itu. Lalu ia menjawab.
"Aku baik-baik saja ibun, aku cuma sedikit ngantuk dan lelah." jawabnya dengan berpura-pura.
"Oh yasudah atuh neng, kalau memang baik-baik saja," Ibunya merasa lega.
Galang dan security sudah membawa kursi rodanya di hadapan mertuanya.
"Sini bun naik aja. Nanti biar security yang dorong bunda dari belakang," ujarnya
"Iya nak, terimakasih yah, makasih juga yah Pak security," ucap ibu felicya sopan.
Galang lalu membawa kopernya lagi dan menyuruh istrinya duduk di atas kopernya. Felicya yang di suruh duduk di atas koper sekilas melirik suaminya. Ia kaget dan malu jika harus duduk di atas koper.
Galang yang mengerti maksud tatapan istrinya. Lalu menggendong istrinya ke atas koper dan Galang mendorong koper itu. Felicya hanya terduduk diam.
Mereka yang melihat sikap Galang yang begitu perhatian dengan istrinya. mata mereka semua tertuju pada Galang dan Felicya. Security yang tadi hanya mendorong kursi roda ibu mertuanya. Ikutan merasa senang melihat perhatian seorang suami kepada istrinya.
Felicya yang di perhatikan banyak orang di rumah sakit, ia merasa malu. Jika bukan karena ada ibunya. Felicya sudah jalan duluan meninggalkan Galang suaminya.
Sesampai di bawah. Galang menuju ke tempat parkiran mengambil mobil sewanya.Galang menyuruh ibu mertuanya dan istrinya untuk duduk di ruang administrasi.
"Bunda sama Neng Feli. Tunggu di sini yah, Galang mau ambil mobil di parkiran."
"Iya Mas aku tunggu di sini," ujar Felicya baru bicara.
Galang langsung keluar pintu menuju lobby basement di depan.
Ibunya ngerasa senang akhirnya anaknya bicara, ia pikir anaknya kesal mengurusnya lima hari di rumah, ternyata benar hanya lelah saja. Ibunya tersenyum dan menggenggam tangan Felicya. Felicya pun membalas senyuman ibunya.
Setelah tiga menit Galang langsung masuk dan ambil koper di tangan Felicya. Lalu Security tadi masih membantu mendorong kursi rodanya ke mobil Galang.
Sesudah ibunya masuk, Galang memberi imbalan kepada securitynya.
"Ini untuk bapak sudah bantu mertua saya," Galang mengkepalkan uang pada securitynya.
"Wah makasih yah Pak," ucapnya sopan lalu Security itu kembali kedalam.
Felicya pun ikut masuk ke dalam, duduk di samping kursi Galang. Galang sedang mengangkat kopernya ke begasi.
Mobilnya pun jalan keluar dari parkiran.
Sepanjang perjalanan Felicya akhirnya tertidur, begitupula dengan ibunya Felicya juga ikut tertidur.
Galang yang melihat istri dan ibu mertuanya tidur ia hanya tersenyum dan kembali fokus pada jalanan.