Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
"Nah, gitu dong! Meja pojok sini emang paling pas, nggak langsung kena embusan AC," ujar Bang Edward riang seraya menarik dua kursi tambahan dan langsung mendaratkan bokongnya tepat di ujung meja panjang tersebut.
Senior itu bergerak sigap, melingkarkan jaket tebalnya ke sekeliling bahu Kak Anita dengan penuh perhatian. "Masih dingin nggak, Sayang? Kalau masih, biar gue pesenin teh jahe hangat sekarang," bisik Bang Edward dengan nada suara yang melembut drastis—sebuah perlakuan eksklusif yang hanya ia tunjukkan pada wanita pilihan hatinya.
Kak Anita membalas dengan senyuman termanisnya, menyentuh punggung tangan Bang Edward sekilas. "Udah pas kok, Edward. Makasih, ya."
Melihat pemandangan romantis yang tersaji dalam jarak sedekat ini, dada Aurel seketika terasa bagai dihantam benda tumpul. Rasa sesak yang teramat besar dan rasa sakit yang menusuk kembali bergejolak hebat di dalam dadanya. Ia hanya bisa meremas garpu di tangannya dengan sangat erat di bawah meja, menatap kosong pada potongan kentang goreng yang mulai mendingin.
"Kenapa setiap kali melihat mereka berdua, rasanya sesakit ini? batin Aurel dengan pilu.
Aturan dan larangan posesif Bang Edward kepada dirinya kemarin di kampus agar tidak pacar-pacaran kini bergaung kembali di kepalanya, terasa begitu tidak adil dan ironis. Bang Edward bebas sebahagia itu memanjakan kekasihnya di depan matanya, sementara dirinya selamanya harus puas terkunci di dalam kotak berlabel "Adik Kecil yang Berisik". Cinta sepihak ini benar-benar menyiksanya hingga ke hulu hati.
Gino yang tidak peka dengan dinamika emosional tersebut langsung menyenggol lengan Bang Edward, menyalakan mode kompornya. "Wah, datang-datang langsung pamer visual drakor ya, Bang. Nggak kasihan apa sama maba jomblo di depan lo?"
Bang Edward terkekeh lepas, lalu melirik tajam ke arah sepasang maba di seberangnya. "Yee, makanya lo pada cepetan cari pacar. Tapi khusus buat lo, Reyhan... radar pengawasan gue tetap siaga satu ya. Jarak aman harus tetap dijaga dari adek gue!"
Aurel menahan napasnya, menanti bagaimana respons dari cowok berjaket denim di sebelahnya. Biasanya, jika Bang Edward mulai memprovokasi, Reyhan akan langsung memotong jarak atau melontarkan pembelaan taktis yang membuatnya salah tingkah.
Namun malam ini, keajaiban itu tidak terjadi.
Reyhan hanya meletakkan ponselnya perlahan, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat hambar dan lempeng ke arah Bang Edward. "Tenang aja, Bang. Jarak aman kelompok kami selalu fiks dan terkendali kok," sahut Reyhan santai dengan nada suara beratnya yang sangat datar—sebuah jawaban profesional murni dari seorang partner tugas kuliah tanpa ada getaran asmara sedikit pun di dalamnya.
Aurel perlahan melirik Reyhan dari sudut matanya, merasakan ada embusan angin dingin yang asing dari perubahan sikap cowok di sebelahnya itu. Tidak ada lagi kotak tisu yang digeser diam-diam, tidak ada lagi pasang badan secara tersirat, dan tidak ada lagi tameng pelindung sunyi yang menenangkannya dari rasa sakit hati.
Di tengah pusaran cemburu yang menyiksanya akibat kemesraan Bang Edward dan Kak Anita malam itu, Aurel mendadak tersadar akan satu hal yang getir; jalan buntu masa lalunya memang belum runtuh, namun kini, ia benar-benar harus berjuang sendirian di dalam labirin itu karena sosok pelindung sunyinya telah resmi melangkah mundur secara teratur.
Suasana ruang makan di kediaman keluarga Aurel malam itu terasa begitu sejuk dan tenang. Aroma harum gurih dari semur daging sapi dan sup jagung manis buatan Mommy Zeline mengepul hangat di atas meja makan marmer, berpadu dengan pendar lampu gantung yang temaram.
Aurel duduk di kursinya, mengaduk-aduk nasi di piringnya dengan gerakan lambat. Pikirannya masih tertinggal di kafe rooftop tadi—terjebak di antara rasa sesak akibat kemesraan Bang Edward dan dinginnya perubahan sikap Reyhan yang mendadak melangkah mundur.
Daddy Wira yang duduk di ujung meja langsung menyadari ada yang berbeda dari putri kesayangannya. Pria paruh baya itu meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Aurel penuh perhatian.
"Putri kesayangan Daddy kok lesu amat malam ini?" tanya Daddy Wira lembut, memecah keheningan meja makan. "Biasanya kalau habis pulang nongkrong sama Gino dan Shirin, anak Daddy ini paling berisik ceritain menu kafe atau keisengan abangnya. Kok sekarang nasinya cuma diaduk-aduk begitu? Kamu sakit, Sayang?"
Aurel tersentak dari lamunannya. Ia buru-buru menegakkan punggung dan memaksakan sebuah senyuman ceria yang biasa agar kedua orang tuanya tidak cemas. "Eh? Enggak kok, Dad. Aurel enggak apa-apa, cuma agak capek aja tadi di kampus padat banget kegiatannya."
Mommy Zeline yang sedang menuangkan air putih ke cangkir suaminya ikut melirik Aurel dengan senyum penuh arti. "Capek karena kuliah, atau capek karena habis jalan sama maba denim yang kemarin sore anterin kamu pulang, hm?" goda Mommy Zeline lembut, sukses membuat gerakan sendok Aurel terhenti di udara.
Daddy Wira yang mendengar nama Reyhan disinggung, langsung menaikkan sebelah alisnya. Radar protektif seorang ayah kandung seketika menyala, namun kali ini bercampur dengan rasa penasaran yang besar. "Oh, iya! Si Reyhan denim itu ikut nongkrong juga sore tadi? Gimana, dia nggak macem-macem kan sama kamu di kafe?"
Aurel mengembuskan napas pendek, wajahnya menghangat bukan karena kasmaran, melainkan karena bingung harus menjelaskan situasi rumit ini dari mana. "Enggak macem-macem kok, Daddy. Reyhan itu orangnya lempeng banget, tadi di kafe dia juga cuma fokus minum kopi sama bahas tugas."
"Bagus kalau begitu," sahut Daddy Wira, manggut-manggut puas sembari mengambilkan sepotong daging semur yang paling empuk dan menaruhnya ke atas piring Aurel—sebuah perlakuan manja yang selalu ia berikan pada putri bungsunya. "Cowok itu yang penting sopan dan tahu batasan. Daddy kemarin suka sama pembawaannya yang tegas waktu salaman sama Daddy. Nggak kayak cowok maba kebanyakan yang gemeteran kalau diinterogasi orang tua."
"Iya, Daddy bener. Reyhan anaknya kelihatan dewasa banget untuk ukuran maba," timpal Mommy Zeline ikut memuji, membuat Aurel hanya bisa tersenyum kaku dan kembali menunduk menatap piringnya.
Suapan semur daging hangat dari Daddy Wira malam itu terasa begitu nikmat, namun tidak mampu mengusir rasa hampa yang perlahan merayap di hulu hati Aurel. Di meja makan ini, di tengah besarnya limpahan kasih sayang dan sanjungan kedua orang tuanya untuk orang baru seperti Reyhan, Aurel justru merasa semakin tersesat. Semua orang mengira jalannya sudah terbuka lebar bersama Reyhan, tanpa tahu bahwa di dalam hatinya yang terdalam, ia masih berdiri sendirian mendekap cinta sepihak yang patah dan terluka akibat Bang Edward.
Suasana hangat di ruang makan sempat hening beberapa saat sewaktu mereka menikmati hidangan semur daging sapi. Namun, keheningan itu terputus ketika Daddy Wira meletakkan garpunya, lalu menatap Mommy Zeline dan Aurel secara bergantian seperti baru mengingat sesuatu
"Oh, iya. Ngomong-ngomong soal nongkrong di kafe sore tadi, si Edward ke mana, Rel? Kok tumben anak itu nggak ikutan gabung meja sama kalian?" tanya Daddy Wira santai, mengambil cangkir teh hangatnya. "Biasanya kan kalau ada kamu sama Gino, dia paling heboh ikut nimbrung. Apalagi kan si Reyhan itu sepupunya Anita, pacarnya Edward sendiri."
Deg.
Pertanyaan yang telanjur meluncur dari mulut sang ayah seketika memicu denyut perih yang teramat tajam di hulu hati Aurel. Jantungnya terasa seperti diremas kuat. Pegangan tangannya pada sendok langsung mengeras, dan suapan sup jagungnya tertahan begitu saja di atas piring.
"Bang Edward tadi ikutan gabung kok, Dad," jawab Mommy Zeline mendahului, seraya mengulas senyum tipis ke arah suaminya tanpa menyadari perubahan raut wajah putrinya. "Tadi Aurel kan sempat cerita kalau Edward sempat nyusul ke kafe itu sama Anita."
"Oh, datang juga dia akhirnya? Daddy kira dia masih kejebak di pasar sayur gara-gara buntutin kalian kemarin," kekeh Daddy Wira santai, mengingat kembali kisah komedi "Intel Sayur" yang diceritakan putrinya semalam. "Terus pas di kafe dia gimana? Masih posesif kayak sipir penjara jagain kamu dari Reyhan?"
Aurel menelan ludahnya yang terasa menyumbat tenggorokan. Ia terpaksa memasang topeng tawa renyah yang hambar agar kedua orang tuanya tidak menangkap basah luka hatinya.
"I-iya, Dad. Bang Edward tadi datangnya agak telatan sama Kak Anita," sahut Aurel dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meski dadanya terasa begitu sesak. "Dia... dia tetep sama kayak biasanya, sibuk ngebenteng jarak aman satu meter antara Aurel sama Reyhan."
Aurel sengaja menggantung kalimatnya, memilih untuk kembali menunduk dalam-dalam menatap butiran nasi di piringnya. Di balik senyum palsunya, ingatan Aurel justru terlempar kembali pada visual menyakitkan sore tadi di kafe rooftop. Bayangan saat Bang Edward dengan penuh perhatian menyelimutkan jaket tebalnya ke bahu Kak Anita, menatap wanita itu dengan binar cinta yang teramat eksklusif, dan menggenggam jemarinya erat-erat, kembali berputar kejam di dalam benaknya.
Bang Edward emang dateng, Dad... batin Aurel pilu, air matanya hampir saja mendesak keluar dari sudut kelopak mata. Tapi dia dateng bukan buat jagain Aurel sebagai seorang wanita. Dia dateng murni demi memanjakan kekasih pilihan hatinya, sementara Aurel... selamanya cuma dianggap sebagai mainan bocil yang harus dia awasi.
Denyut perih akibat cinta sepihak itu kini terasa melipatgandakan rasa hampanya. Di meja makan yang dipenuhi limpahan kasih sayang kedua orang tuanya malam itu, Aurel justru merasa semakin terasing dan terkunci rapat di dalam labirin buntu yang ia bangun sendiri.
Setelah makan malam yang terasa begitu panjang dan melelahkan berlalu, Aurel buru-buru pamit ke kamarnya dengan alasan ingin segera beristirahat karena mengantuk. Begitu pintu kayu kamarnya tertutup rapat dan dikunci, pertahanan yang sejak siang tadi ia bangun dengan susah payah langsung runtuh tanpa sisa.
Aurel melempar tas ranselnya ke lantai, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia langsung menarik bantal besar berwarna putih, mendekapnya erat-erat, dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Seketika itu juga, tangisnya pecah.
Isak tangis yang sejak tadi ia tahan di tenggorokan kini keluar menjadi sebuah suara tangisan yang teredam dan menyayat hati. Bahunya berguncang hebat di balik piama katunnya. Seluruh rasa sesak, cemburu, dan luka terpendam akibat cinta sepihak kepada Bang Edward menumpuk menjadi satu beban yang teramat berat, menghimpit dadanya hingga ia merasa kesulitan untuk sekadar bernapas.
Kenapa harus sesakit ini? batin Aurel pilu di tengah tangisnya.
Setiap memori tentang perlakuan manis Bang Edward kepada Kak Anita sore tadi di kafe rooftop kembali berputar kejam di dalam ingatannya. Cara Bang Edward menyelimutkan jaket, tatapan matanya yang penuh cinta, hingga genggaman erat jemari tangan mereka—semua itu adalah perlakuan eksklusif yang tidak akan pernah, dan tidak akan pernah bisa, menjadi miliknya. Bang Edward adalah rumah yang paling nyaman baginya, namun sekaligus menjadi tempat yang paling menyakitkan karena ia selamanya terkunci di dalam kotak berlabel "Adik Kecil yang Paling Disayang".
Di tengah kegelapan kamarnya yang sunyi, Aurel juga mendadak teringat akan perubahan sikap Reyhan. Embusan angin dingin dari sikap cowok denim yang mendadak melangkah mundur dan bersikap sangat formal murni sebagai partner tugas itu kini justru terasa seperti kehilangan yang baru. Di saat ia harus menanggung cemburu sendirian, tameng pelindung sunyinya telah pergi, meninggalkannya terdampar di dalam labirin buntu ini tanpa ada siapa pun yang menemani.
Aurel meremas kain bantalnya dengan jari-jemari yang bergetar. Ia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan seluruh air mata dan rasa lelahnya malam itu hingga dadanya terasa kosong dan mati rasa. Di bawah pendar lampu kamar yang temaram, Aurel tahu bahwa esok ia harus kembali memasang topeng cerianya di kampus, meskipun malam ini hatinya telah hancur berkeping-keping di balik bantal tidurnya sendiri.
Di tengah isak tangisnya yang masih teredam di balik bantal, suara getaran pendek dari atas kasur mendadak memecahkan keheningan kamar. Bzzzt.
Aurel perlahan mengangkat wajahnya yang sudah sembap dan basah oleh air mata. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia meraih ponselnya yang tergeletak di dekat sudut kasur. Di layar yang menyala terang, sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari nama 'Bang Edward' mendadak mencuat di barisan paling atas.
Bang Edward: Rel, lo udah tidur? Jangan tidur dulu woi. Tugas analisis data dari Pak Baskoro buat minggu depan kan bab tiganya udah dibagirin teorinya tadi sore.
Bang Edward: Buruan belajar! Buka laptop lo sekarang, pelajarin variabel barunya. Awas ya kalau besok Senin IPK lo turun gara-gara kebanyakan nongkrong di kafe. Fokus kuliah!
Mendengar rentetan kalimat perintah dari abangnya yang mencuat secara tiba-tiba di layar ponsel, tangis Aurel seketika terhenti di tenggorokan. Ia tertegun menatap layar itu selama beberapa detik. Rasa sesak yang tadinya merajai dadanya mendadak terasa ganjil, berbaur dengan helaan napas panjang yang ia embuskan ke udara.
Lagi-lagi fokus kuliah... lagi-lagi dilarang pacaran... batin Aurel dengan senyum kecut yang getir di bibirnya.
Aurel menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu mengetik balasan singkat demi menjaga penyamaran topengnya: Iya, Bang. Ini gue lagi buka buku. Cerewet bener.
Setelah menekan tombol kirim, Aurel melempar kembali ponselnya ke samping kasur, lalu menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur sembari menatap langit-langit kamar yang meremang. Perhatian tegas dari Bang Edward barusan terasa begitu ironis di hatinya. Di satu sisi, ia tahu abangnya mengirim pesan itu murni karena rasa sayang dan tanggung jawab seorang kakak yang ingin menjaganya agar tetap berprestasi. Namun di sisi lain, perintah "suruh belajar" itu justru semakin mempertegas batas tak kasatmata yang kejam; bahwa di hidup Bang Edward, dirinya selamanya hanya akan menjadi adik kecil yang harus didikte dan diawasi perkuliahannya, sementara ruang asmara di hati senior itu sepenuhnya telah digenggam erat oleh Kak Anita.
Setitik air mata kembali meluncur samar di pipinya yang menghangat. Larangan abangnya agar ia tidak memikirkan cinta murni karena kewajiban akademis, tanpa tahu bahwa hati adik kecilnya ini justru sudah hancur berkeping-keping akibat harus menonton kemesraan sang abang di depan matanya sendiri.
Sementara itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Reyhan sedang duduk di tepi tempat tidur sembari menatap langit-langit yang meremang. Ia baru saja meletakkan jaket denimnya di sandaran kursi. Pikirannya berputar kembali pada kejadian di kafe rooftop sore tadi—terutama pada perubahan sikapnya yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan formal setelah mendengar pengakuan jujur Aurel.
Reyhan mengembuskan napas panjang. Penyesalan perlahan mulai merayap di dadanya.
Gue salah, batin Reyhan pilu, merutuki kebodohannya sendiri. Nggak seharusnya gue berubah mendiami dia kayak tadi.
Reyhan memejamkan matanya erat-earat. Logikanya yang dingin perlahan mulai menuntunnya untuk berpikir lebih jernih. Sebagai cowok yang dewasa, ia sadar bahwa ia harus memaklumi alasan kenapa Aurel begitu mencintai Bang Edward. Perasaan tidak bisa dipaksa, dan sejarah masa kecil mereka berdua terlalu kokoh untuk runtuh hanya dalam waktu dua hari.
Aurel sama sekali tidak salah dalam hal ini. Gadis itu tidak bermaksud memberikan harapan palsu, karena perasaannya pada Bang Edward datang tanpa sebab. Terlebih lagi, Aurel bahkan tidak pernah tahu kalau dirinya diam-diam menaruh hati sejak awal kelompok mereka terbentuk.
Reyhan membuka matanya, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis—senyuman yang kali ini tidak lagi hambar, melainkan penuh dengan ketulusan dan keikhlasan yang besar. Di dalam hatinya, Reyhan berjanji teguh. Ia tidak akan menjauhi Aurel. Sifat jahil, perhatian sunyi, dan gombalan taktisnya yang biasa akan tetap ia tunjukkan seperti sedia kala. Jika ia belum bisa menjadi pilihan utama di hati Aurel, maka setidaknya ia ingin tetap menjadi partner terbaik yang bisa membuat gadis itu tersenyum lepas dan merasa aman di dalam labirin buntu hatinya sendiri.
Reyhan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas. Ia membuka kembali kolom obrolan dengan kontak bernama 'Aurel', lalu mengetikkan sebuah pesan baru dengan binar mata yang kini telah kembali teduh sepenuhnya.
Reyhan: Partner, Bang Edward barusan nge-share variabel bab tiga di grup angkatan. Kata intel sayur lo itu, kita disuruh belajar dan dilarang pacaran. Laptop lo udah nyala belum? Sini draf analisisnya biar gue yang rapihin setengahnya, biar otak maba lo nggak meledak malam ini.
Aurel yang masih bersandar lesu pada kepala tempat tidur kembali terperanjat saat ponselnya di atas kasur bergetar untuk kedua kalinya. Ia mengernyitkan dahi. Siapa lagi? Apa Bang Edward mau ngomel lagi soal IPK? pikirnya tegang.
Dengan malas, Aurel meraih benda pipih itu. Namun, begitu matanya membaca nama pengirim di layar kunci, detak jantungnya mendadak melompat dari ritme normalnya. Pesan itu dari Reyhan.
Aurel membaca bait demi bait pesan tersebut dengan mata membelalak. Ia sampai harus mengucek matanya sekali lagi demi memastikan bahwa ia tidak salah membaca.
Detik berikutnya, sebuah helaan napas panjang yang sarat akan rasa lega langsung lolos dari bibirnya. Sudut-sudut bibir Aurel yang tadinya layu dan kaku akibat sisa tangisannya, perlahan melengkung membentuk senyuman tulus yang sangat lebar.
Dia nggak mendiami gue... batin Aurel dengan perasaan yang mendadak terasa begitu ringan, seolah beban berat yang menghimpit dadanya sejak di kafe tadi telah diangkat secara ajaib.
Ketakutan terbesar Aurel semenjak pulang nongkrong tadi adalah ia telah merusak pertemanan kelompok mereka. Ia sempat mengira perubahan sikap dingin Reyhan di kafe disebabkan karena cowok itu risi atau terganggu dengan kehadiran dan sifat berisiknya. Namun melihat gaya ketikan di chat ini—lengkap dengan sebutan "Partner", ledekan "Intel Sayur" untuk Bang Edward, hingga kebiasaan menawarkan bantuan taktis demi menyelamatkan otak mabanya—Aurel tahu sifat jahil dan pembawaan tenang Reyhan telah kembali sepenuhnya.
Rasa asing dan canggung yang sempat membuatnya tidak nyaman tadi siang mendadak mencair, berganti dengan kehangatan familier yang menenangkan. Aurel buru-buru mengetik balasan dengan jari-jemari yang kini sudah tidak lagi gemetar.
Aurel: Reyhaaan! Lo sama Bang Edward tuh sama aja ya, kompakan bener kalau masalah bikin otak gue mau meledak malam-malam!
Aurel: Tapi... serius lo mau bantuin rapihin setengah drafnya? Nggak bohong kan? Kalau beneran, ini filenya langsung gue kirim lewat WhatsApp sekarang! Makasih ya, Partner terbaik emang lo!
Setelah menekan tombol kirim, Aurel memeluk ponselnya di dada sembari menatap langit-langit kamarnya yang meremang. Air matanya sudah kering. Meskipun labirin buntu hatinya yang dihuni oleh cinta sepihak kepada Bang Edward belum sepenuhnya runtuh, kehadiran pesan dari Reyhan malam ini terbukti menjadi oase yang sangat menyejukkan. Setidaknya, malam ini ia tidak harus menanggung sepi sendirian, karena si cowok jaket denim itu memilih untuk tetap tinggal di sisinya sebagai partner yang selalu siap pasang badan.
Aroma harum nasi goreng mentega dan telur mata sapi yang baru diangkat dari wajan seketika memadati ruang makan kediaman keluarga Reyhan. Cahaya fajar yang cerah menerobos masuk lewat celah gorden, memantulkan pendar hangat di atas meja makan kayu jati yang tertata rapi.
Reyhan turun dari lantai dua dengan kemeja kasual yang dilapisi jaket denim andalannya. Tas ranselnya disampirkan di satu bahu. Pembawaannya tetap terlihat tenang dan lempeng seperti biasa.
"Pagi, Pa, Ma," sapa Reyhan sembari menarik kursi dan langsung duduk di hadapan kedua orang tuanya.
"Pagi, Jagoan," sahut papanya yang sedang melipat koran pagi, sementara mamanya tersenyum hangat sembari menyodorkan piring berisi nasi goreng hangat untuk anak bujangnya.
"Gimana tugas kelompok kuliah kamu kemarin, Rey? Kak Anita cerita ke Mama kalau tugas kelompok maba kamu dapet nilai sempurna ya dari Pak Baskoro?" tanya sang mama penuh rasa bangga sembari menuangkan teh hangat ke cangkir Reyhan.
Reyhan manggut-manggut tenang, mengunyah suapan pertamanya dengan santai. "Iya, Ma. Kebetulan draf analisisnya klop sama studi kasus yang dibagi di kelas."Papanya terkekeh pelan, melirik anak laki-lakinya dengan pandangan penuh arti. "Papa juga denger dari Edward semalam lewat telepon, katanya anak Papa ini lagi gencar banget ngedeketin adik asuhnya yang namanya Aurel itu? Sampe si Edward pasang mode intel siaga satu di kantin?"
Mendengar nama Aurel disebut oleh papanya di meja makan, gerakan sendok Reyhan sempat terhenti sesaat di udara. Namun, sedetik kemudian ia berhasil menguasai ekspresi wajahnya kembali menjadi luar biasa lempeng tanpa dosa.
Reyhan mengulas senyum tipis yang sangat teduh. Mengingat kembali chat semalam suntuk bersama Aurel yang akhirnya kembali ceria dan bersikap lepas kepadanya, ada kehangatan tulus yang mengalir di dadanya.
"Nggak ngedeketin yang gimana-gimana kok, Pa," jawab Reyhan santai dengan nada suara beratnya yang tenang. "Aurel itu partner kelompok yang baik. Memang anaknya agak berisik dan gampang panik kalau masalah rumus, tapi dia seru. Reyhan cuma mau memastikan draf tugas kelompok kami selalu aman sampai akhir semester."
Mamanya tersenyum penuh arti, bertukar pandang dengan sang suami seolah tahu ada ketulusan yang besar di balik jawaban lempeng anak laki-lakinya itu. "Ya sudah, yang penting kamu sopan dan jagain anak gadis orang dengan bener ya, Rey. Kalau berteman atau mau serius, harus tahu batasan."
"Iya, Ma. Pasti," sahut Reyhan takzim.
Di dalam hatinya yang paling dalam, janji yang ia buat semalam di kamar kini terasa semakin mantap. Di atas meja makan ini, di tengah restu dan godaan hangat dari kedua orang tuanya, Reyhan tahu posisinya. Ia tidak akan menjauh, tidak akan mendiami, dan akan tetap mempertahankan sifat jahil andalannya demi melihat tawa lepas Aurel. Baginya, menyukai Aurel tidak harus memaksakan hati gadis itu untuk berbalik arah, melainkan dengan cara tetap tinggal menjadi partner terbaik yang selalu siap pasang badan untuk menjaga senyumnya.