NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Disuruh Menemani Perjodohan

Sekar

Empat hari setelah Den Nara menolak perjodohan di meja makan, rumah itu seolah kembali tenang. Namun ketenangan di Rumah Adiwijaya selalu punya bunyi kecil yang membuatku waspada: bisikan yang berhenti ketika aku lewat, pintu yang ditutup terlalu cepat, dan tatapan Ratih yang terasa seperti ujung jarum.

Sabtu siang, Bu Retno memanggil semua pekerja ke dapur.

"Nanti ada tamu," katanya. "Bu Marlina dan putrinya. Hanya silaturahmi biasa. Siapkan teh, kudapan, dan teras belakang."

Bu Nah melirikku. Kami sama-sama tahu tidak ada yang biasa dari kunjungan seorang ibu bersama putrinya, empat hari setelah map calon istri ditutup dengan kemarahan.

"Saya yang layani, Bu," kata Bu Nah.

"Kau jaga Arka. Dia sedang rewel sejak pagi." Bu Retno menoleh kepadaku. "Sekar yang ke depan."

Aku menunduk. "Baik, Bu."

Ratih bersandar di kusen pintu sambil menyilangkan tangan. Senyumnya terlalu manis.

"Baju kerjamu kusam sekali kalau dipakai menerima tamu," katanya. "Untung aku punya kebaya yang sudah tidak terpakai."

"Tidak perlu, Mbak. Seragam ini bersih."

"Ibu meminta semuanya rapi." Ratih menekankan kata ibu, seolah penolakanku berarti menentang Bu Retno. "Jangan bikin keluarga malu lagi."

Bu Retno sudah berjalan keluar sebelum mendengar percakapan itu. Ratih menyodorkan sebuah kantong pakaian ke dadaku. Aku terpaksa menerimanya.

Di kamar, aku mengerti maksudnya.

Kebaya bermotif bunga kecil itu satu ukuran lebih sempit daripada tubuhku. Kancing depannya masih bisa ditutup, tetapi kainnya menegang di dada dan pinggang. Ketika aku mengangkat tangan, jahitan di bawah lengan berderit halus.

Aku menatap bayanganku di cermin. Wajahku panas, bukan karena aku merasa cantik. Aku merasa ditelanjangi oleh pakaian yang sengaja dipilih agar setiap mata menilai tubuhku sebelum mengenal namaku.

Aku hendak menggantinya ketika Ratih membuka pintu tanpa mengetuk.

"Cocok," katanya, matanya menyapu tubuhku. Ada kilat kecewa yang cepat sekali hilang. Mungkin dia mengira kebaya itu akan membuatku tampak lucu. "Jangan lama. Mereka sudah datang."

"Mbak, ini terlalu sempit."

"Kancingnya tertutup, kan? Jangan manja."

Dia pergi sambil membiarkan pintu terbuka. Aku menarik napas panjang, lalu menutup jilbab tipis lebih lebar di bagian dada. Setidaknya kain itu memberiku sedikit perlindungan.

Di dapur, Bu Nah langsung berhenti mengaduk kuah.

"Ya Allah, siapa yang menyuruhmu pakai itu?"

Aku tidak perlu menjawab. Tatapannya bergerak ke arah koridor tempat Ratih menghilang.

"Ganti saja. Biar saya yang bilang bajunya sobek."

"Kalau saya ganti, dia akan bilang saya sengaja membangkang di depan Bu Retno."

Bu Nah menghela napas keras. "Pegang baki dengan dua tangan. Jangan membungkuk. Kalau ada yang macam-macam, taruh tehnya lalu keluar."

Nasihat sederhana itu membuat tenggorokanku mengencang. Bu Nah tidak bisa mengganti kedudukanku, tetapi dia selalu menemukan cara kecil agar aku tidak merasa sendirian.

Arka merengek dari ruang belakang. Bu Nah menoleh gelisah.

"Pergilah," kataku. "Saya bisa."

Aku menyusun empat cangkir teh melati, piring pastel, dan kue lapis di atas baki. Dari ruang tamu terdengar tawa perempuan. Bu Marlina bicara tentang arisan, rencana liburan, lalu dengan sengaja menyebut putrinya baru menyelesaikan program magister.

Ketika aku memasuki ruangan, percakapan berhenti sepersekian detik.

Bu Retno duduk tegak di sofa utama. Di sampingnya, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun mengenakan bros besar pada kerudungnya. Putrinya duduk dengan tas mahal di pangkuan. Ratih mengambil kursi yang memberinya pandangan langsung ke arahku.

Den Nara berdiri di dekat pintu menuju ruang kerja. Kemeja putihnya tergulung sampai siku, seolah dia baru keluar karena mendengar suara tamu. Tatapannya berpindah dari baki ke wajahku, lalu turun ke kebaya yang terlalu ketat.

Rahangnya langsung mengeras.

Aku pura-pura tidak melihat.

"Ini Nara," kata Bu Retno, suaranya lebih ringan daripada beberapa hari terakhir. "Kebetulan hari ini dia bekerja dari rumah."

"Kebetulan yang bagus," jawab Bu Marlina. "Kami cuma mampir. Tidak ada acara resmi."

Putrinya tersenyum kepada Den Nara. "Saya sering dengar tentang proyek kantor Mas."

Den Nara tidak duduk. "Dari siapa?"

Pertanyaan itu begitu datar sampai senyum perempuan itu goyah.

Bu Retno cepat menyela. "Nara memang kalau sedang bekerja begini. Duduklah sebentar."

"Saya masih punya panggilan."

"Lima menit saja."

Aku mulai menuang teh agar tidak perlu menyaksikan tarik-menarik halus itu. Saat membungkuk sedikit, kain di pinggangku menegang. Aku merasakan tatapan Bu Marlina berhenti terlalu lama. Putrinya juga memandang, lalu menyembunyikan ekspresi tidak nyaman dengan mengambil ponsel.

Ratih menyentuh bibir cangkirnya tanpa minum. Dia menikmati setiap detik.

"Kebayanya cantik," kata Bu Marlina.

Aku tidak tahu apakah itu pujian atau sindiran. "Terima kasih, Bu."

"Punya Ratih dulu," sahut Ratih. "Saya pinjamkan supaya dia kelihatan pantas di depan tamu."

Den Nara menoleh tajam. "Sekar punya seragam."

"Aku cuma membantu. Masa menerima tamu penting pakai pakaian dapur?"

"Dia bekerja. Tidak sedang dipamerkan."

Suasana di ruangan menipis seperti kaca. Bu Retno meletakkan cangkirnya dengan hati-hati.

Bu Marlina terkekeh, mencoba mengubah teguran itu menjadi gurauan. "Anak muda sekarang perhatian sekali pada pegawai. Bagus juga. Kalau pekerja betah, rumah jadi terurus."

"Perhatian dan penghormatan bukan hal yang sama," jawab Den Nara. "Semua orang di rumah ini berhak dihormati."

Bu Retno menatap putranya cukup lama. Di balik ketenangannya, aku melihat peringatan yang sama seperti di meja makan empat hari lalu. Jangan membuat keributan lagi. Jangan membuat keluarga kehilangan muka di depan tamu.

Den Nara pasti melihatnya juga. Dia menarik kursi, lalu duduk tanpa menyentuh teh. Sikap patuh itu hanya bentuk luarnya. Kedua tangannya bertaut begitu kuat sampai buku-buku jarinya pucat.

"Ratih bermaksud baik," katanya. "Sekar, lanjutkan."

Aku menuang teh untuk putri Bu Marlina. Tanganku tetap stabil, tetapi bahuku kaku. Aku bisa merasakan Den Nara memandangku dari seberang ruangan. Bukan tatapan yang membuatku malu, melainkan tatapan seseorang yang sedang menahan diri agar tidak membalik meja.

Setelah semua cangkir terisi, aku menyajikan kudapan. Bu Marlina bertanya kepada Den Nara tentang pekerjaannya, kota yang sering ia kunjungi, dan apakah ia suka bepergian bersama keluarga. Putrinya beberapa kali mencoba masuk ke percakapan. Den Nara menjawab seperlunya, tidak kasar, tetapi tidak memberi satu celah pun.

Aku paham sekarang. Bu Retno menyebut ini silaturahmi agar Den Nara tidak bisa menuduhnya mengatur pertemuan. Bu Marlina menyebutnya kebetulan agar putrinya tidak tampak sedang ditawarkan. Semua orang memakai kata yang lebih lembut untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya.

Hanya aku yang tidak diberi hak menyembunyikan apa pun. Tubuhku, pekerjaanku, dan tempatku di rumah ini sengaja diletakkan di tengah ruangan.

Saat aku kembali ke dapur untuk mengambil air panas, Bu Nah sedang menggendong Arka yang baru terbangun. Bayi itu mengulurkan tangan kepadaku, tetapi aku tidak berani mendekat karena takut membuat kerudung dan baki berantakan.

"Lepas kebayanya," bisik Bu Nah. "Bilang kena air."

"Belum selesai."

"Wajahmu sudah merah."

"Kalau saya menghilang sekarang, Ratih menang."

Bu Nah menatapku dengan sedih. "Bertahan bukan berarti kau harus membiarkan orang mempermalukanmu."

Aku menelan rasa perih di tenggorokan. "Saya tahu. Saya hanya ingin keluar dengan keputusan saya sendiri, bukan karena dia berhasil mengusir saya dari ruangan."

Arka meraih jariku. Genggaman kecilnya memberi alasan sederhana untuk mengatur napas. Aku menyentuh punggung tangannya, lalu mengangkat teko baru.

"Kalau jahitannya sobek, panggil saya," kata Bu Nah. "Saya akan tumpahkan satu panci kuah supaya semua orang punya masalah yang lebih besar."

Aku hampir tertawa. Hampir.

Ketika kembali ke ruang tamu, Den Nara menatap wajahku, seolah menghitung berapa lama aku pergi. Aku menaruh teko tanpa melihatnya. Bila mata kami bertemu sekarang, pertahanan yang susah payah kubangun mungkin runtuh.

"Nara jarang sekali dekat dengan perempuan," kata Bu Retno, tertawa kecil. "Terlalu serius bekerja."

"Lelaki memang begitu sebelum bertemu orang yang tepat," jawab Bu Marlina. "Anak saya juga sibuk, tapi kalau sudah cocok, waktu pasti bisa dicari."

Putrinya menunduk malu-malu. Den Nara menatap jam tangannya.

Ratih memanggilku ketika aku hendak mundur. "Sekar, tambah tehnya."

Cangkirnya masih hampir penuh.

Aku kembali mendekat. Dia menggeser cangkir tanpa melihatku sehingga tatakannya menyentuh ujung baki. Teh bergoyang. Aku cepat menyeimbangkannya sebelum tumpah ke karpet.

"Hati-hati," katanya, seolah akulah yang ceroboh.

Den Nara bergerak satu langkah. Aku menggeleng sangat kecil. Jangan. Bukan sekarang.

Dia berhenti, tetapi urat di punggung tangannya tampak jelas.

Putri Bu Marlina memperhatikanku lagi. Kali ini rasa ingin tahunya menang atas kesopanan.

"Ma, itu siapa? Saudara Ratih?"

Ratih tersenyum sebelum siapa pun menjawab.

"Bukan. Dia dari desa. Kerja di sini menjaga Arka dan membantu dapur."

"Oh." Perempuan itu tampak sedikit malu karena tadi mengira aku keluarga.

Bu Marlina mengangkat alis. Tatapannya berjalan dari jilbabku, kalung kain sederhana yang kupakai saat itu, kebaya sempit, sampai sandal datar di kakiku. Senyumnya tipis, jenis senyum yang tidak menyentuh mata.

Aku selesai mengisi teko kecil di meja dan bersiap mundur.

"Pantas saja," katanya.

Aku berhenti.

"Saya tadi pikir siapa," lanjutnya sambil tertawa pelan. "Oh, cuma pembantu toh."

Ruangan mendadak sunyi.

Jari-jariku mencengkeram sisi baki sampai memutih. Teh di dalam cangkir bergetar, hampir melimpah ke tatakan porselen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!