NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 PAGAR GAIB SEMENTARA
Jalan raya membelah kota Yogyakarta di pagi hari itu seolah berubah menjadi sirkuit balap kematian bagi Zaki. Pria paruh baya itu mencengkeram kemudi mobil SUV-nya hingga buku-buku jarinya memutih pucat. Kakinya menginjak pedal gas dalam-dalam, memaksa mesin mobil mengaum membelah kemacetan pagi. Klakson ditekan tanpa henti, membelah lautan sepeda motor dan mobil lain yang terpaksa menepi saat melihat SUV Zaki melaju ugal-ugalan menembus lampu merah.
Di bangku penumpang sebelah kiri, Nisa tak henti-hentinya terisak sambil merapalkan doa. Wajahnya bersimbah air mata, tangannya gemetar memegangi pinggiran dashboard. Setiap detik yang berlalu terasa bagaikan sayatan sembilu di jantungnya.
Kabar dari Yuda melalui telepon tadi telah menghancurkan secercah harapan yang baru saja tumbuh semalam. Putri sulungnya, Haruma, yang baru saja berhasil melewati masa kritis operasi, kini kembali diintai oleh maut, diserang langsung oleh tangan tak kasatmata.
Di bangku belakang, Pak Rusdi duduk dengan mata terpejam dan raut wajah tegang. Tangan kanannya dengan cepat memutar butiran tasbih kayu gaharu, bibirnya berkomat-kamit melafalkan ayat-ayat suci perlindungan tanpa henti.
Pria tua itu sedang mempersiapkan energi batinnya, menyadari bahwa apa yang akan mereka hadapi di rumah sakit bukanlah sekadar penyakit medis, melainkan manifestasi langsung dari kemurkaan iblis Prambanan.
Hanya mereka bertiga yang berada di dalam mobil itu. Harumi terpaksa ditinggalkan di rumah.
Gadis malang itu menangis histeris, meronta ingin ikut melihat keadaan kakaknya, namun Zaki dan Pak Rusdi melarangnya dengan sangat keras. Selain karena status bebas bersyarat dari kepolisian yang mengharuskan Harumi menjalani wajib lapor dan membatasi mobilitasnya agar tidak memicu kecurigaan aparat, membawa Harumi ke rumah sakit saat ini sama saja dengan mengantarkan wadah persembahan ke hadapan iblis itu sendiri.
Zaki telah mengunci semua pintu rumah dan meminta bantuan satpam kompleks untuk berjaga di depan pagar, memastikan Harumi tetap aman di dalam rumah dan tidak ada pihak luar—termasuk polisi atau wartawan—yang bisa mengganggunya.
"Mas, lebih cepat, Mas! Haruma, Ya Allah... anakku..." isak Nisa saat mobil mereka akhirnya berbelok tajam memasuki pelataran rumah sakit dengan bunyi decit ban yang beradu keras dengan aspal.
Bahkan sebelum mobil itu berhenti sempurna di area lobi IGD, Zaki sudah menekan rem tangan. Ketiganya berhamburan keluar dari mobil, mengabaikan teriakan petugas parkir yang memprotes posisi kendaraan mereka.
Zaki memapah Pak Rusdi yang berlari dengan sisa tenaga tuanya, sementara Nisa berlari mendahului mereka menembus pintu kaca otomatis rumah sakit. Mereka berlari menyusuri lorong-lorong panjang, mengabaikan tatapan heran dari pengunjung dan pasien lain.
Begitu mereka tiba di depan lorong ruang rawat inap VIP, kepanikan yang tergambar jelas di depan mata mereka seolah membekukan darah di nadi.
Pintu kamar perawatan Haruma terbuka lebar. Dari luar, terdengar suara mesin monitor EKG yang menjerit panjang dan tak beraturan.
TIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTT...
Suara kepanikan para perawat dan instruksi Dokter Surya yang berteriak meminta alat resusitasi saling bersahutan, menciptakan simfoni kematian yang mengerikan.
Nisa menjerit tertahan dan langsung menerobos masuk. Zaki dan Pak Rusdi menyusul di belakangnya.
Pemandangan di dalam ruangan itu benar-benar mengoyak kewarasan manusia normal mana pun. Haruma terbaring di atas ranjang dengan posisi yang sangat tidak wajar.
Tubuh bagian atasnya, dari dada hingga kepala, terangkat mengambang beberapa sentimeter dari bantal. Wajah gadis itu sudah berubah warna menjadi merah keunguan, nyaris membiru pekat. Mata Haruma melotot ke atas, mulutnya terbuka lebar berusaha meraup oksigen yang tak kunjung masuk, sementara kedua tangannya mencakar-cakar lehernya sendiri dengan putus asa.
Di sekeliling ranjang, Dokter Surya dan tiga orang perawat tampak kewalahan luar biasa.
Dokter Surya berusaha memasukkan selang intubasi untuk memberikan napas buatan, namun rahang Haruma terkunci begitu rapat. Suster Ratna menekan dada Haruma untuk melakukan kompresi jantung, sementara perawat lain mencoba menyuntikkan obat pemicu jantung ke dalam saluran infusnya.
Dan di sudut ruangan, Yuda terduduk di lantai dengan wajah penuh keputusasaan, air mata membanjiri pipinya saat ia menatap keluarga Zaki yang baru saja tiba.
"Pak... Pak... tolong..." rintih Yuda, suaranya habis karena terlalu banyak berteriak.
Mata batin Pak Rusdi yang telah terbuka lebar sejak turun dari mobil, kini menangkap pemandangan yang jauh lebih mengerikan dari apa yang dilihat oleh Zaki, Nisa, dan para dokter.
Di mata Pak Rusdi, Dokter Surya tidak sedang bertarung melawan kegagalan fungsi organ.
Di atas ranjang itu, berdiri sesosok raksasa hitam legam berbulu lebat. Makhluk gaib itu memiliki dua tanduk melengkung, dengan sepasang mata merah menyala yang memancarkan kebencian.
Itulah Jin Pengikut, algojo dari Candi Prambanan.
Kedua tangan raksasa berbulu itu sedang mencekik leher Haruma dengan kekuatan penuh, mengangkat tubuh gadis itu, dan dengan sengaja membiarkan para dokter panik karena tak ada satu pun alat medis yang bisa menembus dinding energi gaib makhluk tersebut.
Makhluk itu menoleh saat merasakan energi spiritual yang besar dari kedatangan Pak Rusdi. Sepasang mata merah menyala itu menatap sang kakek, menyeringai memamerkan taring-taring yang meneteskan liur kehitaman.
Suhu ruangan yang sudah sedingin es terasa semakin menusuk tulang. Lampu neon di atas mereka meledak dengan suara PRAAANG, menyisakan keremangan dari cahaya matahari yang menembus jendela. Para perawat menjerit ketakutan, menutupi kepala mereka dari pecahan kaca.
"Minggir! Semuanya mundur dari ranjang itu!" bentak Pak Rusdi dengan suara yang menggelegar, sangat kontras dengan perawakannya yang tua dan ringkih. Suara itu mengandung tenaga dalam yang seketika membuat seluruh orang di ruangan itu membeku.
"Pak, Bapak siapa?! Pasien sedang henti napas! Jangan mengganggu tindakan medis!" teriak Dokter Surya dengan wajah memerah, menolak untuk menyingkir dari pasiennya.
"Zaki! Yuda! Singkirkan dokter dan perawat itu! Sekarang!" perintah Pak Rusdi tanpa memedulikan protes sang dokter. Pria tua itu melangkah maju, melepaskan tasbih dari genggamannya dan melilitkannya di pergelangan tangan kanannya.
Zaki, yang tahu betul kapasitas mertuanya, langsung bertindak. Ia menarik lengan Dokter Surya dengan paksa. "Maaf, Dok! Mundur, Dok! Kalian tidak bisa menyelamatkannya dengan cara medis! Anak saya dicekik!"
Yuda yang mendapat suntikan semangat dari kedatangan Pak Rusdi ikut melompat bangun. Ia membantu Zaki mendorong mundur para perawat yang masih kebingungan dan ketakutan.
"Bapak mau membunuh anak Bapak sendiri?! Ini pelanggaran medis!" teriak Dokter Surya meronta, namun tenaga Zaki yang didorong oleh adrenalin kepanikan jauh lebih besar.
Begitu area di sekitar ranjang kosong, Pak Rusdi berdiri tepat di hadapan sosok raksasa hitam yang masih mencekik leher cucunya. Mata kakek tua itu memancarkan keberanian yang mutlak, tak sedikit pun gentar menghadapi manifestasi iblis di hadapannya.
“A’udzu billahi minasy syaithanir rajiim...” Pak Rusdi mulai merapalkan ayat-ayat suci perlindungan (ruqyah) dengan suara yang sangat lantang dan bertenaga. Setiap lantunan ayat yang keluar dari mulutnya seakan memancarkan gelombang kejut di udara ruangan tersebut.
Mendengar lantunan ayat suci itu, Jin raksasa itu menggeram marah. Suara geramannya tidak terdengar secara fisik, namun menciptakan tekanan udara yang memekakkan telinga batin semua orang di ruangan itu.
Angin kencang tiba-tiba berpusar di dalam kamar rawat inap yang tertutup rapat, menerbangkan kertas-kertas laporan medis, obat-obatan, hingga menjatuhkan tiang infus.
"Keluar kau dari raga cucuku, Iblis Laknat!" bentak Pak Rusdi.
Pak Rusdi mengangkat tangan kanannya yang terlilit tasbih kayu gaharu. Ia memejamkan mata, memfokuskan seluruh energi batin dan keyakinannya kepada Sang Pencipta, lalu dengan satu gerakan cepat dan keras, ia menghantamkan telapak tangannya tepat ke arah lengan tak kasatmata yang sedang mencekik leher Haruma.
DHAAARRR!!!
Sebuah suara dentuman yang sangat keras bergema di dalam ruangan, seolah-olah ada petir yang menyambar di siang bolong.
Hantaman energi batin Pak Rusdi beradu dengan kekuatan sihir kuno dari Jin Pengikut tersebut. Percikan cahaya biru tak kasatmata meledak di udara. Makhluk raksasa itu meraung kesakitan. Cengkeramannya pada leher Haruma seketika terlepas seiring dengan hancurnya energi gelap di lengannya.
Tubuh Haruma yang sedari tadi mengambang kaku, langsung jatuh terhempas ke atas kasur dengan suara berdebum.
"UHUK! UHUK! HAAAHH... HAAAHH..."
Haruma tersedak dengan sangat keras, meraup oksigen dengan rakus bagaikan orang yang baru saja ditarik dari dasar lautan. Dada gadis itu naik turun dengan sangat cepat, batuk-batuk mengeluarkan cairan bening dari tenggorokannya.
Garis di layar monitor EKG yang sebelumnya menukik tajam, perlahan-lahan merangkak naik, kembali membentuk ritme kurva kehidupan meskipun masih sangat lemah.
Jin Pengikut itu terhuyung mundur, memegang lengannya yang terbakar oleh energi ayat suci. Makhluk itu menatap Pak Rusdi dengan sorot mata penuh dendam, menyadari bahwa kakek tua ini bukanlah lawan sembarangan yang bisa ia singkirkan dengan mudah. Kabut hitam mulai menyelimuti tubuh raksasa itu.
"Kalian hanya menunda kematian... Waktunya akan tiba..."
Bisikan parau yang sangat menyeramkan itu menggema di telinga Pak Rusdi, Zaki, Nisa, dan Yuda, sebelum akhirnya sosok hitam legam itu menguap sepenuhnya menembus dinding ruangan, meninggalkan hawa dingin dan bau kemenyan yang perlahan memudar.
Pak Rusdi langsung terhuyung ke belakang. Tenaganya terkuras habis. Zaki dengan cepat menangkap tubuh mertuanya sebelum pria tua itu jatuh ke lantai, memapahnya dan mendudukkannya di atas kursi tamu. Pak Rusdi bernapas terengah-engah, wajahnya sepucat kertas, keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri dahinya.
"Haruma! Anakku!" Nisa langsung menerjang ke sisi ranjang, menangis histeris memeluk putrinya yang masih terbatuk-batuk memegangi lehernya.
Di leher Haruma, kini tercetak dengan sangat jelas dan mengerikan, bekas memar biru kehitaman berbentuk dua tangan raksasa. Bukti mutlak bahwa ilmu medis tidak akan bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
Dokter Surya dan para perawat yang sedari tadi terdorong ke sudut ruangan, hanya bisa mematung. Logika sains dan ilmu kedokteran yang mereka pelajari selama puluhan tahun runtuh tak tersisa dalam lima menit terakhir. Mereka melihat sendiri bagaimana memar itu muncul, bagaimana pasien yang sudah nyaris mati tiba-tiba hidup kembali hanya dengan hantaman tangan kosong dari seorang kakek tua.
"Dok... tolong... tolong oksigennya..." rintih Yuda yang segera menyadarkan Dokter Surya.
Sang dokter tersentak, lalu dengan ragu-ragu melangkah mendekati ranjang. Ia kembali memasangkan masker oksigen ke wajah Haruma, memeriksa detak jantung dan tekanan darahnya yang secara ajaib berangsur stabil, meskipun kondisi fisik gadis itu masih sangat lemah akibat trauma cekikan tersebut.
Setelah situasi sedikit terkendali dan para perawat membersihkan kekacauan pecahan kaca di lantai, Zaki berlutut di samping kursi Pak Rusdi.
"Bapak... Bapak tidak apa-apa?" tanya Zaki khawatir, menyodorkan segelas air putih hangat yang diambilkan oleh Yuda.
Pak Rusdi meminum air itu dengan tangan bergetar, lalu mengangguk lemah. Ia menatap wajah Zaki, Yuda, dan Nisa secara bergantian dengan sorot mata yang penuh dengan peringatan mendesak.
"Bapak baru saja mengunci auranya," ucap Pak Rusdi dengan napas yang masih tersengal. "Bapak melakukan pemagaran gaib di sekitar tubuh Haruma. Memanipulasi energi perlindungannya agar tertutup sementara, sehingga iblis itu dan jin-jin pengikutnya tidak bisa melacak keberadaan raga ini."
Yuda membuang napas lega yang luar biasa panjang. "Alhamdulillah... Berarti Haruma aman sekarang, Kek?"
Namun, jawaban Pak Rusdi menghancurkan kelegaan Yuda seketika. Pria tua itu menggelengkan kepalanya dengan raut wajah muram.
"Tidak, Nak Yuda," Pak Rusdi menyeka keringat di dahinya dengan ujung lengan bajunya. "Itu hanya pagar gaib sementara. Kekuatan iblis dari Prambanan itu terlalu besar, umurnya sudah ribuan tahun dan ia menghisap energi langsung dari karma pembuatan seribu candi. Sihir pelindung yang Bapak buat tadi hanya mampu menahan radarnya, menutupi bau 'Tulang Wangi' Haruma."
Pak Rusdi menatap lurus ke arah Haruma yang kini tertidur pulas akibat kelelahan luar biasa di bawah pengaruh obat penenang ringan dari Dokter Surya.
"Pagar gaib ini tidak akan bertahan lama. Paling lama... tiga hari. Setelah tiga hari, energi pagar ini akan hancur lebur dimakan oleh aura gelap kutukan itu, dan iblis itu akan kembali dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat untuk mencabut nyawa Haruma," lanjut Pak Rusdi, kata-katanya menggemakan hitung mundur kematian di telinga mereka.
Zaki mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras. "Tiga hari..."
"Ya, Zaki. Kita hanya punya waktu tiga hari," Pak Rusdi menegaskan, memutar pandangannya ke arah Yuda yang berdiri tegak dengan tekad membara di matanya.
"Dalam tiga hari, kalian berdua—Zaki dan Yuda—harus menemukan garis keturunan dari Darah Pembuat Candi itu. Kalian harus mencari pewaris darah Bandung Bondowoso yang tersisa di tanah Jawa ini, sebelum pagar ini runtuh dan iblis itu menelan nyawa Haruma sekaligus mengambil raga Harumi untuk selamanya."
Yuda mengangguk tegas. Ia tidak peduli betapa mustahilnya pencarian ini terdengar. Ia tidak akan membiarkan waktu tiga hari ini terbuang percuma.
"Sore ini juga, saya dan Dion akan berangkat ke Klaten, Pak, Kek," ucap Yuda, menatap Zaki dengan sorot mata yang kini setara, bukan lagi sebagai pemuda yang penuh rasa bersalah, melainkan sebagai pejuang yang siap mempertaruhkan nyawanya.
"Kami sudah punya jejak tragedi tahun 92. Kami akan temui sesepuh di sana. Kami akan cari keturunan itu sampai dapat, meskipun harus membongkar seluruh catatan silsilah tanah Jawa."
Zaki menatap Yuda lama, lalu perlahan mengangguk. Permusuhannya dengan pemuda itu telah benar-benar luntur, digantikan oleh ikatan nasib yang sama-sama ingin menyelamatkan nyawa putri-putrinya.
Hitungan mundur telah dimulai. Perburuan terhadap darah mitos yang telah terkubur ribuan tahun kini menjadi satu-satunya perlombaan melawan maut yang tidak boleh mereka kalahkan.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda