NovelToon NovelToon
The Radiant Fool: Immortal Prince In Disguise

The Radiant Fool: Immortal Prince In Disguise

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.

Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9: The Flamboyant Master of Brothel

Fajar menyingsing di atas ibu kota Kekaisaran Tianming. Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh anggota keluarga kerajaan akhirnya tiba: Ujian Perburuan Musim Semi. Alun-alun istana luar dipenuhi oleh deretan kereta kuda megah, bendera-bendera kerajaan yang berkibar megah, serta ratusan prajurit berzirah emas yang bersiap mengawal rombongan kerajaan menuju Hutan Kabut Abadi.

Di tengah kehebohan para pangeran yang sibuk memamerkan senjata spiritual, kuda tunggangan langka, dan kelompok pengawal elit mereka, Mu Xuanyuan melangkah santai menuju deretan kereta paling belakang.

Ia mengenakan jubah berburu berwarna hijau pudar yang sengaja dibuat agak kebesaran. Di tangannya, bukannya membawa busur panah pusaka atau pedang bertuah seperti pangeran lainnya, Xuanyuan justru memegang sebuah keranjang bambu kecil berisi beberapa buah apel biasa dan mainan burung kayunya yang setia.

"Lihat itu, Pangeran Ke-14 benar-benar ikut!" bisik seorang bangsawan di barisan penonton.

"Untuk apa dia ikut? Hutan Kabut Abadi penuh dengan binatang buas tingkat tinggi. Orang gila sepertinya hanya akan menjadi umpan monster jika tidak dijaga ketat!" balas bangsawan lainnya seraya menggelengkan kepala.

Di sudut lain alun-alun, Lu Cangqiong—Pangeran Ke-3—sedang menunggangi seekor Kuda Spirituelle berbulu perak yang memancarkan aura kegagahan. Matanya melirik tajam ke arah Xuanyuan. Kegagalan di balai lelang semalam masih membakar emosinya, dan melihat senyum polos tak berdosa di wajah Xuanyuan membuat urat di dahinya menegang seketika.

"Nikmatilah senyuman bodohmu itu selagi bisa, Xuanyuan," gumam Lu Cangqiong dengan senyuman penuh racun dari atas kudanya. "Begitu kita melintasi batas Hutan Kabut Abadi, tidak akan ada pengawal yang bisa menyelamatkanmu dari 'kecelakaan' yang sudah kusiapkan."

Xuanyuan, yang dapat merasakan tatapan membunuh itu dari jarak puluhan meter, hanya memiringkan kepala dan melambaikan tangan dengan wajah jahil yang teramat polos. "Halo, Kakak Ke-3! Kudamu baunya sangat harum!"

Lu Cangqiong meludah ke tanah dan membuang muka dengan gusar.

Rombongan kerajaan bergerak meninggalkan ibu kota dan tiba di pinggiran Hutan Kabut Abadi saat matahari mulai meninggi. Hutan ini terkenal dengan kabut tipis kebiruan yang menyelimuti perpohonan purba raksasa, menyimpan ribuan monster spiritual dan jebakan alam yang mematikan.

Sesuai aturan ujian, para pangeran diberi waktu tiga hari untuk berburu binatang buas dan mengumpulkan inti kristal mereka. Pangeran yang mengumpulkan kristal terbanyak dan tersakti akan mendapatkan penghargaan khusus dari Baginda Raja serta bobot nilai yang tinggi untuk kandidat Putra Mahkota.

Begitu seruan terompet perburuan dibunyikan, para pangeran melesat masuk ke dalam hutan bersama kelompok pengawal mereka dengan kecepatan tinggi, berlomba-lomba mencari mangsa terbaik.

Sementara itu, Xuanyuan justru melangkah santai seperti sedang jalan-jalan sore di taman belakang rumah. Feng Wuchen dan Gu Juechen berjalan dengan tenang di kiri dan kanannya, membawa tas perbekalan yang sebenarnya hampir kosong—karena seluruh persediaan mewah mereka ada di dalam ruang dimensi pribadi Xuanyuan.

"Yang Mulia," ujar Gu Juechen pelan seraya melirik ke sekeliling semak-semak yang diselimuti kabut. "Ada setidaknya tiga kelompok pemburu liar yang membuntut kita sejak kita memasuki perbatasan hutan. Mereka jelas diutus oleh Pangeran Ke-3."

"Tiga kelompok?" Xuanyuan mengunyah apel di tangannya dengan santai, menghembuskan napas lelah. "Cangqiong benar-benar terlalu berlebihan. Memakai tiga kelompok pemburu hanya untuk menangkap satu 'pangeran gila'?"

"Apakah hamba perlu membereskan mereka sekarang, Yang Mulia?" tanya Feng Wuchen dingin, tangannya sudah memegang gagang pedang.

"Jangan dulu," Xuanyuan tersenyum jahil. "Biarkan mereka menikmati jalan-jalan di hutan. Ah, lihat... di depan sana ada kliring rumput yang sangat bagus untuk memasang tenda."

Mereka bertiga melangkah menuju sebuah area terbuka di tepi sungai kecil berair jernih. Tanpa memedulikan ujian perburuan kekaisaran yang sedang berlangsung sengit di seluruh penjuru hutan, Gu Juechen dengan cekatan mulai mendirikan tenda lipat mewah yang diambil dari celah dimensi, lengkap dengan kursi lipat empuk dan meja kayu.

Namun, baru saja Xuanyuan hendak merebahkan tubuhnya di kursi lipat, aroma wangi bunga peony dan melati yang amat pekat mendadak berembus tertiup angin hutan.

Wusss!

Kelopak-kelopak bunga merah berguguran dari udara, dan di atas dahan pohon tertinggi di tepi sungai, sesosok pria berbalut jubah sutra merah terang tampak berdiri dengan pose yang sangat dramatis. Kipas emasnya terkembang, menepis kabut biru hutan dengan keanggunan yang tiada tanding.

"Oho~ Betapa indahnya pemandangan ini!" suara mendayu-dayu Leng Yan menggema di antara pepohonan purba. "Di saat para pangeran lain bersusah payah berdarah-darah mengejar monster, Pangeranku yang tampan justru mendirikan kemah santai di tepi sungai. Sungguh ketenangan seorang penguasa sejati!"

Xuanyuan memijat pelipisnya seraya mendesah panjang. "Leng Yan... bahkan di tengah hutan terpencil seperti ini kau masih bisa menemuiku?"

Leng Yan melompat turun dari dahan pohon bagaikan selembar bulu burung yang melayang, mendarat tepat tiga langkah di hadapan Xuanyuan. Wajahnya yang sangat tampan memancarkan pendar kebahagiaan saat menatap Xuanyuan.

"Tentu saja, Pangeranku!" ujar Leng Yan seraya meletakkan satu tangannya di dada dengan nada puitis. "Di mana pun ada keindahan sejati di dunia ini, ke situlah hatiku akan selalu menuntun jalanku! Lagipula, aku tidak bisa membiarkan Pangeran kesayanganku tidur di hutan tanpa kenyamanan terbaik!"

Leng Yan mengibaskan kipasnya, dan secara ajaib, empat orang pelayan wanita dari Paviliun Redup keluar dari balik semak-semak membawa nampan berisi kue-kue manis, buah-buahan es, serta karpet sutra tebal untuk dilapisi di bawah tenda Xuanyuan.

Xuanyuan menatap tumpukan makanan dan kenyamanan ekstra itu dengan sudut mata berkedut. "Kau... membawa pelayan rumah bordil untuk berkemah di hutan perburuan kerajaan?"

"Tentu saja!" sahut Leng Yan bangga dengan mata berbinar-binar. "Seorang keindahan sepertimu tidak boleh mengalami kesulitan sedikit pun!"

Tetapi sebelum Leng Yan sempat melangkah lebih dekat untuk mendudukkan dirinya di samping Xuanyuan, sebuah anak panah berujung tumpul melesat cepat dari balik semak-semak dan menancap tepat di antara kedua kaki Leng Yan.

Tuk!

"KAKAK BODOH! HENTIKAN KELAKUAN GILA INI SEKARANG JUGA!"

Leng Shuang keluar dari balik rimbun pepohonan dengan busur panah di tangannya dan wajah yang memerah padam karena murka. Ia melangkah lebar-lebar, langsung menjambak bagian belakang jubah merah Leng Yan dan menariknya menjauh dari tempat duduk Xuanyuan.

"Aduh, Shuang'er! Kenapa kau selalu memanah di dekat area sensitif kakakmu?!" jerit Leng Yan seraya menepis tangan adiknya.

"Karena kau benar-benar membuat malu Paviliun Redup!" bentak Leng Shuang penuh emosi seraya menunjuk ke arah tumpukan karpet sutra dan pelayan wanita. "Kita ke sini untuk mengawasi pergerakan Sekte Iblis Darah dan perburuan pangeran lain! Bukan untuk membuka cabang rumah bordil di tengah hutan!"

Gu Juechen dan Feng Wuchen hanya bisa menghela napas pasrah menyaksikan drama komedi kakak-beradik itu kembali terjadi di tempat terbuka.

Xuanyuan terkekeh pelan, meraih sebuah apel dari nampan yang dibawakan pelayan Leng Yan dan menggigitnya renyah. "Nona Leng Shuang ada benarnya, Leng Yan. Lagipula, jika kau terus di sini, para pemburu liar suruhan Pangeran Ke-3 di semak-semak sana akan terlalu takut untuk menyerangku."

Mendengar ucapan Xuanyuan, raut wajah flamboyan Leng Yan mendadak berubah sedikit tajam, sementara Leng Shuang memegang gagang pedangnya. Mereka berdua melirik ke arah rimbun pepohonan di seberang sungai tempat tiga kelompok pemburu liar tersembunyi.

"Oh?" Leng Yan menyunggingkan senyum dingin yang sangat memikat dari balik kipas emasnya. "Tikus-tikus kecil suruhan Pangeran Ke-3 itu masih berani mengintai? Pangeran Xuanyuan... apakah kau ingin aku mengubah mereka menjadi pupuk tanaman di hutan ini?"

1
Pecinta Gratisan
sampai tamat thor updatenya💞
Hadi Hadi
is good
irawan muhdi
lanjut Thor 👍
irawan muhdi
lanjut
irawan muhdi
lanjut Thor
irawan muhdi
mantap lanjut Thor 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!