NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : Keputusan Kaisar Untuk Mengasingkan

Suasana di dalam Balai Singgasana Agung Kekaisaran Roma terasa begitu sunyi, mencekam, dan diwarnai oleh bau dupa kemenyan yang dibakar di sudut-sudut ruangan untuk menjernihkan udara. Di atas singgasana batu pualam yang megah, Kaisar Tiberius duduk dengan tubuh yang terlihat jauh lebih tua dari usia aslinya. Wajah sang penguasa tertinggi kekaisaran itu menyiratkan kelelahan yang teramat sangat, garis-garis keriput di sekitar matanya dalam, dan tatapannya tampak sayu memandangi lantai marmer yang mengilap. Di hadapannya, berdiri tegak jajaran anggota Dewan Senat yang dipimpin oleh Senator Gaius bersama Panglima Decimus, serta beberapa bangsawan tinggi faksi utara.

Sidang darurat pagi itu diselenggarakan atas permintaan khusus pihak istana menyusul kekacauan politik yang hampir meledak akibat ancaman terbuka Putra Mahkota Marcus sehari sebelumnya. Para senator menuntut agar sang kaisar segera mengambil tindakan tegas dan menjatuhkan hukuman akhir demi meredam gejolak internal kekaisaran.

"Yang Mulia Kaisar," ucap Senator Gaius membuka sidang dengan nada suara yang terdengar hormat namun menyimpan desakan terselubung yang kuat. "Kejadian kemarin membuktikan bahwa Putra Mahkota Marcus telah terbutakan oleh pesona seorang budak rendahan. Jika situasi ini dibiarkan berlarut-larut, wibawa keluarga kekaisaran akan runtuh di hadapan para panglima dan rakyat Roma. Stabilitas politik utara dan selatan berada di ujung tanduk."

Panglima Decimus melangkah maju, memberikan hormat militer singkat lalu menambahkan, "Kami telah mengamankan sang budak wanita di sel bawah tanah dan menyebarkan titah pembersihan nama baik istana. Namun, akar masalahnya tetap berada di dalam istana ini. Untuk menghentikan segala bentuk pembangkangan, keputusan mutlak harus segera dilegitimasi langsung oleh stempel kekaisaran Anda."

Di balik pilar marmer besar di sisi kiri singgasana, Putra Mahkota Marcus berdiri mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut para pengkhianat bersubah putih itu. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di wajahnya menegang. Ia mengepalkan kedua tangannya begitu kuat hingga telapak tangannya kembali berdarah. Marcus tahu bahwa ayahnya, Kaisar Tiberius, berada di bawah tekanan politik yang luar biasa besar dari dewan senat yang memegang kendali finansial dan militer provinsi.

Kaisar Tiberius menghela napas panjang, sebuah embusan napas berat yang terdengar seperti rintihan jiwa seorang ayah yang hancur. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali, menatap lurus ke arah para senator dengan sorot mata seorang kaisar yang terpaksa mengorbankan kebahagiaan demi kelangsungan takhta.

"Aku telah mendengar seluruh laporan dan tuntutan kalian," suara serak Kaisar Tiberius menggema di seluruh sudut balai singgasana yang sunyi. Suasana mendadak menjadi begitu senyap hingga suara desau angin dari jendela besar pun terdengar jelas. "Dewan Senat menginginkan kepastian hukum dan pembersihan istana dari segala noda yang mengancam legitimasi kekaisaran."

Senator Gaius menyunggingkan senyuman tipis penuh kemenangan di balik jubah ungunya.

Kaisar Tiberius mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada kasim istana untuk mendekat dan menyerahkan gulungan titah kekaisaran resmi berstempel lilin merah emas.

"Maka, demi menjaga keutuhan Roma dan kedamaian antar aliansi," Kaisar Tiberius melanjutkan dengan suara yang terdengar berat dan sarat akan rasa bersalah yang mendalam, "aku, sebagai Kaisar Roma, mengeluarkan keputusan mutlak. Callista, pelayan dari kasta terendah, secara resmi dinyatakan tidak boleh lagi menapakkan kakinya di tanah istana kekaisaran. Ia dijatuhi hukuman pengasingan permanen ke wilayah kerja paksa tambang batu terjauh di perbatasan selatan, di bawah pengawasan ketat militer."

Mendengar keputusan itu, Marcus merasakan dunia seolah runtuh menimpa kepalanya. Sekalipun ia sudah menduga arah keputusan tersebut, mendengar sang ayah—ayah kandungnya sendiri—menandatangani surat pembuangan itu terasa seperti tusukan belati beracun tepat di jantungnya.

Namun, sebelum Marcus sempat melangkah keluar dari persembunyiannya untuk menentang titah tersebut secara terbuka, Kaisar Tiberius mengangkat tangan kirinya sekali lagi, menghentikan siapapun yang ingin bersuara, dan melanjutkan kalimat terakhirnya yang membuat seluruh isi balai senat tertegun.

"Dan sebagai konsekuensi atas perlindungan yang sempat diberikan oleh putra mahkota," Kaisar Tiberius menatap tajam ke arah bayangan Marcus di balik pilar, "keputusan ini bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun, termasuk pewaris takhta. Pengawalan ketat akan diberangkatkan detik ini juga agar tahanan tersebut meninggalkan wilayah ibu kota tanpa ada penundaan sedetik pun."

Deg!

Keputusan kaisar telah jatuh. Tidak ada lagi ruang untuk tawar-menawar. Di ruang bawah tanah yang dingin, Callista yang mendengar sayup-sayup keputusan itu dari celah teralis besi hanya bisa memejamkan matanya, membiarkan air mata terakhirnya jatuh membasahi lantai batu. Ia tahu bahwa pengorbanan ini adalah satu-satunya jalan agar Marcus tetap hidup. Di balik tembok istana yang megah dan kejam itu, roda takdir kekaisaran mulai berputar kencang, membawa mereka menuju babak akhir perpisahan paling menyesakkan di kehidupan pertama mereka.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!