NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Malam itu, suasana di mansion utama terasa lebih sunyi dari biasanya. Elara duduk di depan meja riasnya, menyisir rambut panjangnya dengan gerakan lambat. Pikirannya masih dipenuhi percakapan di taman tadi—tentang kepercayaan, tentang kesepakatan mereka, dan tentang tatapan Dreven yang aneh saat dia mengatakan bahwa dia akan berada di sisinya.

"Kenapa dia harus mengatakan hal seperti itu?" gumam Elara pelan, meletakkan sisir di atas meja.

Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tetap datar, tapi ada sesuatu di matanya yang sulit dia jelaskan. Sudah lama sekali sejak terakhir kali seseorang mengatakan bahwa mereka akan tinggal di sisinya. Bahkan Leo, yang telah membantunya selama bertahun-tahun, tidak pernah mengatakan hal seperti itu.

Tok! Tok!

"Nyonya, ini saya membawa teh hangat untuk anda." Suara Emma terdengar dari luar.

"Masuk."

Emma masuk dengan membawa nampan berisi secangkir teh dan beberapa kue kering. Dia meletakkannya di meja kecil dekat jendela, lalu menatap Elara dengan hati-hati.

"Nyonya terlihat sedang memikirkan sesuatu."

Elara tidak menjawab, hanya berdiri dan berjalan ke arah jendela. Di luar, taman mansion terlihat gelap dengan hanya beberapa lampu taman yang menyala. Angin malam bertiup pelan, menggoyangkan dedaunan.

"Emma, kau sudah lama bekerja di keluarga Dastan, kan?"

Emma mengangguk pelan. "Hampir dua puluh tahun, Nyonya."

"Kau pernah melihat Dreven sebelum kecelakaan?"

Emma terdiam sejenak, seolah mengingat-ingat sesuatu. "Pernah, Nyonya. Tuan Dreven dulu sangat berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

Emma menghela napas, lalu duduk di kursi dekat meja setelah Elara memberi isyarat. "Tuan Dreven dulu... sangat aktif. Dia suka berolahraga, terutama golf dan tenis. Dia juga sering mengajak teman-temannya berkemah di gunung. Bahkan tuan besar sering memuji dia karena energinya yang tak pernah habis."

Elara menoleh, sedikit terkejut. "Dia suka golf?"

Emma mengangguk. "Sangat suka, Nyonya. Bahkan ada trofi-trofi kemenangannya yang masih disimpan di ruang penyimpanan mansion lama. Tapi setelah kecelakaan itu..." Emma berhenti, seolah tidak tega melanjutkan.

"Setelah kecelakaan itu apa?"

"Setelah kecelakaan itu, tuan Dreven berubah total. Dia tidak mau keluar kamar selama berbulan-bulan. Bahkan saat pertama kali harus menggunakan kursi roda, dia menolak untuk berbicara dengan siapapun kecuali tuan Galileo dan dokter. Semua trofi dan peralatan olahraganya dia suruh buang."

Elara mengepalkan tangannya di balik gaun tidurnya. Jadi, pria yang selalu menyebalkan dan keras kepala itu dulunya adalah seseorang yang penuh energi. Dan sekarang, dia harus duduk di kursi roda dan bergantung pada orang lain bahkan untuk hal-hal dasar.

"Mengapa kau memberitahukan se banyak itu pada ku?" tanya Elara curiga.

Emma tersenyum tipis. "Karena saya melihat perubahan pada tuan Dreven sejak menikah dengan anda, Nyonya. Dia mulai tersenyum lagi. Dia mulai keluar dari kamarnya tanpa dipaksa. Dan tadi, saya melihatnya pergi ke taman hanya untuk menemani anda."

Elara memalingkan wajahnya ke jendela. "Kau salah. Dia hanya mengikutiku karena perintah ayahnya."

"Mungkin, Nyonya. Tapi tuan Dreven tidak pernah mematuhi perintah tuan besar soal hal-hal seperti ini. Dulu, tuan besar harus memaksanya berkali-kali hanya untuk makan bersama keluarga."

Elara tidak menjawab. Dia mengambil cangkir teh dan menyesapnya pelan, mencoba mengabaikan kata-kata Emma yang terus bergema di kepalanya.

---

Di sayap lain mansion, Dreven terbaring di ranjangnya dengan kursi roda terparkir di samping. Matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar. Dia tidak bisa tidur.

Pikirannya dipenuhi kata-kata Elara di taman tadi.

"Aku tak percaya siapapun."

"Aku hanya punya diriku sendiri."

"Jangan lupa kita sudah membuat kesepakatan."

"Kenapa dia begitu keras kepala?" gumam Dreven pelan.

Dia memutar tubuhnya dengan susah payah, meraih ponsel di meja samping ranjang. Jarinya bergerak membuka galeri foto. Ada beberapa foto lama yang masih dia simpan—foto-foto dari masa sebelum kecelakaan.

Foto pertama: Dreven berdiri di atas podium dengan trofi golf di tangan, senyum lebar menghiasi wajahnya.

Foto kedua: Dreven bersama Galileo dan beberapa teman, tertawa di depan tenda kemah.

Foto ketiga: Dreven berdiri di samping ayahnya, dengan setelan jas rapi, siap untuk presentasi bisnis pertamanya.

Dia menatap foto-foto itu lama sebelum akhirnya mematikan ponselnya dengan kasar.

"Apa gunanya mengingat semua itu?" gumamnya getir.

Dia menatap kursi roda di samping ranjangnya. Kursi itu, meskipun elektronik dan canggih, tetap saja sebuah pengingat bahwa dia tidak bisa berjalan. Tidak bisa berlari. Tidak bisa melakukan apapun yang dulu dia nikmati.

"Bahkan untuk tidur pun aku harus repot-repot memindahkan tubuhku sendiri," gumamnya sambil menutup matanya.

Namun di tengah kegelapan, wajah Elara muncul di pikirannya. Wajah dingin dengan tatapan tajam, tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang dia kenali—karena dia juga pernah merasakannya.

Kesepian.

Elara mungkin tidak sadar, tapi mata mereka berbicara hal yang sama. Sama-sama terluka. Sama-sama tidak percaya. Sama-sama mencoba bertahan dengan cara mereka sendiri.

"Kau bilang kau hanya punya dirimu sendiri," bisik Dreven di kegelapan. "Tapi sekarang kau punya aku, meskipun kau tidak mengakuinya."

Dia membalikkan tubuhnya dengan susah payah, meringis saat luka di bahunya tersentuh ranjang. Tapi dia tidak peduli.

"Aku tidak akan menyerah, Elara. Bukan soal kesepakatan. Bukan soal perceraian. Aku akan membuatmu percaya bahwa ada orang yang bisa tinggal."

Dia menutup matanya, tapi sebelum tidur, satu pikiran terakhir melintas di benaknya.

"Besok, aku akan minta Tony menyelidiki Leandro. Kalau benar dia mengkhianatiku... setidaknya aku bisa membuktikan pada Elara bahwa aku bisa berubah."

---

Pagi berikutnya, Elara terbangun oleh suara ketukan di pintu.

"Nyonya, tuan muda ingin bertemu anda di ruang makan. Katanya ada yang ingin dia bicarakan."

Elara mengerjapkan matanya, melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia bangun dengan malas, mencuci muka, lalu berganti pakaian dengan blouse putih sederhana dan rok panjang.

Begitu sampai di ruang makan, dia melihat Dreven sudah duduk di kursi rodanya di ujung meja. Wajahnya terlihat lebih segar dari kemarin, meskipun kantung matanya masih terlihat gelap.

"Duduk," katanya sambil menunjuk kursi di sebelahnya.

Elara menaikkan alis, tapi menurut. Dia duduk dengan anggun, lalu menatap Dreven. "Ada apa? Kau tidak biasanya bangun sepagi ini."

Dreven tidak menjawab, hanya memberi isyarat pada pelayan untuk menyajikan sarapan. Setelah pelayan pergi, dia menatap Elara dengan serius.

"Aku akan menyelidiki Leandro."

Elara menaikkan alis. "Oh? Jadi kau akhirnya mendengarkanku?"

"Aku tidak mendengarkanmu," balas Dreven cepat. "Aku hanya... memastikan."

Elara terkekeh kecil. "Terserah kau mau bilang apa. Yang penting kau akhirnya melakukan hal yang benar."

Dreven mendecak pelan, lalu mengambil cangkir kopinya. "Dan satu hal lagi."

"Apa?"

"Aku akan berhenti bertanya soal rahasiamu. Untuk sekarang."

Elara menoleh, sedikit terkejut. "Kenapa?"

"Karena kau belum siap untuk memberitahuku. Dan aku... tidak mau memaksamu." Dreven menatapnya dalam-dalam. "Tapi kalau kau siap, aku akan mendengarkan. Tanpa menghakimi."

Elara terdiam. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, dia melihat sesuatu yang berbeda di mata Dreven. Bukan ejekan, bukan godaan, bukan kemarahan.

Ketulusan.

Dia mengalihkan pandangannya ke piringnya, mencoba menyembunyikan sesuatu yang aneh di dadanya. "Kau ini kenapa? Tiba-tiba bicara seperti orang waras."

"Karena tadi malam aku tidak bisa tidur," jawab Dreven santai. "Dan saat tidak bisa tidur, aku jadi berpikir."

"Bahaya," komentar Elara datar.

Dreven tertawa kecil, lalu menyesap kopinya. "Kau tidak pernah berhenti menyindir, ya?"

"Kau yang mulai," balas Elara sambil mengambil potongan roti.

Mereka sarapan dalam keheningan yang aneh—tidak canggung, tapi juga tidak nyaman. Seperti dua orang yang sedang mencoba mencari posisi di antara satu sama lain.

Dan di sudut ruangan, Emma tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Untuk pertama kalinya, dia merasa ada harapan.

---

Dua hari kemudian, di kantor Dastan Group.

"Tuan, ini hasil penyelidikan tentang Tuan Leandro." Tony meletakkan map tebal di atas meja Dreven.

Dreven membuka map itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Di dalamnya ada laporan lengkap tentang aktivitas Leandro selama tiga bulan terakhir.

Foto-foto. Rekaman percakapan. Transfer bank.

Dreven membacanya dengan wajah yang semakin gelap. Setiap halaman mengungkap kebohongan yang lebih besar dari sebelumnya.

"Jadi benar," bisiknya pelan.

Tony mengangguk dengan hati-hati. "Sepertinya Tuan Leandro bekerja sama dengan pihak lain untuk menjatuhkan beberapa proyek kita, Tuan. Termasuk proyek Sandnes."

Dreven melemparkan map itu ke meja. "Berapa lama ini terjadi?"

"Setidaknya enam bulan terakhir, Tuan."

Dreven menutup matanya sejenak. Enam bulan. Selama itu, dia mempercayai Leandro sepenuhnya. Bahkan saat proyek-proyek mulai bermasalah, dia tidak pernah mencurigai temannya.

"Elara benar," gumamnya.

"Tuan?" Tony mengerutkan kening.

"Tidak ada." Dreven membuka matanya, dan tatapannya kini dingin dan tajam. "Panggil Leandro. Katakan ada meeting darurat."

Tony terkejut. "Tuan, apakah anda yakin?"

"Aku yakin." Dreven menyandarkan tubuhnya di kursi roda. "Sudah waktunya aku berhenti jadi orang bodoh yang kau bilang, Elara."

Dia tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak hangat. Itu adalah senyum seorang pria yang baru saja menyadari bahwa dunia tidak seindah yang dia pikirkan.

"Dan Tony," panggil Dreven saat Tony hendak keluar.

"Ya, Tuan?"

"Bilang pada Elara... bahwa aku akan pulang terlambat hari ini."

Tony mengangguk dan keluar dari ruangan.

Dreven menatap map di atas mejanya, lalu mengambil ponselnya. Ada pesan dari Elara.

"Jangan lupa makan siang. Kau itu masih dalam pemulihan."

Dreven menatap pesan itu lama sebelum akhirnya tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.

"Kau juga, Elara."

Dia meletakkan ponselnya, lalu kembali menatap map di atas meja. Hari ini, dia akan menghadapi Leandro. Dan setelah itu, dia akan mulai membangun kembali apa yang telah dihancurkan—bukan hanya bisnisnya, tapi juga kepercayaan dirinya.

Dan mungkin, jika dia beruntung, dia juga akan mendapatkan kepercayaan dari wanita yang keras kepala itu.

Bersambung.....

1
Muft Smoker
hati2 elara ,, Galileo pria yg berbahaya ,,
Muft Smoker: 😱😱😱😱😱🤭🤭
total 2 replies
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
Alia Chans: siap kl🤭
total 1 replies
Muft Smoker
hihihi sbar yx dreven🤭🤭😂😂
Miranda.
kek anak kecil yang lagi bujuk emaknya wkwk
Alia Chans: Dreven nya caper🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Miranda.
akting ga sih ini? biar dapet perhatian dari sang istri?/Doge//Doge/
Miranda.
apa sih kek bocil aja lu, Ren, Ren😂😂
Miranda.
daren aja duduk dikursi. masa bisa ngebalik kursi lain ups—
Muft Smoker
lanjuut kak ,,
Miranda.
jangan bilang BU pliss. si perantara bakalan ngejual harga miring itu nantinya😭😭
Alia Chans: 🤣🤣🤣🤣 gimana ya kak..
total 1 replies
Miranda.
untung ga dikhianati sm dja/Smile/
Miranda.
agak jahat sih. memanfaatkan rasa seseorang
Miranda.
sebuah perintah, atau ramalan nih?🤔
Alia Chans: tannya orang nya langsung 🙄🙄
total 1 replies
Mingyu gf😘
bisa saja draven sebenarnya sudah bisa berjalan, tapi hanya pura pura saja
Alia Chans: bisa jadi sih🤭🤭
total 1 replies
Mingyu gf😘
nahhb semakin curiga sama draven
Mingyu gf😘
jangan jangan draven itu mafia
Mingyu gf😘
waduhhh😭😭prontal banget woyy
Muft Smoker
jgn2 ni ulah Galileo Galilei 🤔🤔🤔



🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁😁😁😁
total 2 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
emm serem tapi oke🤭🤭
Alia Chans: wow... semoga suka ya☺
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
aaaaw so sweet
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Wanita yang dia maksud adalah istrinya sendiri
Alia Chans: 🤣🤣🤣 biasa Dreven nyari kesempatan🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!