NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Pertemuan di Lorong Uang

Sayap Utara Istana Astoria terasa seperti berada di negara yang berbeda. Jika Sayap Barat tempat para pelayan adalah rumah susun kumuh, Sayap Utara adalah Wall Street versi kerajaan.

Lantai marmer hitam yang memantulkan bayangan, pilar-pilar bersepuh emas, dan layar-layar hologram transparan yang menampilkan grafik bursa saham kekaisaran mendominasi lorong.

Aura melangkah dengan dagu terangkat tinggi, gaun pelayan hitam-putihnya yang lusuh tampak sangat kontras dengan kemewahan di sekitarnya.

"Hei, kau! Berhenti di sana!"

Seorang pengawal bertubuh besar dengan seragam zirah modern yang berkilau mencegat langkahnya. Tangannya bertumpu pada gagang pedang laser di pinggangnya.

"Area ini dilarang keras untuk staf kebersihan kelas bawah. Putar balik sekarang."

Aura berkacak pinggang, menatap pengawal itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Bapak ini satpam atau mesin penjawab otomatis? Gue ke sini bukan mau nyapu, Pak. Gue bawa aset vital kekaisaran. Di mana ruang penaksir harga? Atau di mana meja Pangeran Caden?"

Mata pengawal itu melotot seakan mau keluar dari rongganya. "Beraninya kau menyebut nama Yang Mulia dengan mulut kotor mu, itu! Kau mau dihukum gantung?"

"Gantung aja kalau berani. Tapi kalau nanti bos lo kehilangan kesempatan investasi jutaan koin emas karena lo nahan gue di sini, gue pastikan bukan cuma leher gue yang putus, tapi dana pensiun lo juga hangus! Minggir!"

"Dasar jalang kecil yang tidak tahu diri—"

Pengawal itu baru saja akan menarik kerah baju Aura ketika udara di sekitar mereka tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin. Bukan dingin karena AC, melainkan tekanan aura yang sangat menindas hingga membuat bulu kuduk berdiri.

"Keributan apa yang mengotori lorong departemenku pagi-pagi begini?"

Suara itu berat, tenang, namun setajam silet es.

Pengawal besar itu langsung menjatuhkan dirinya ke lantai marmer, bersujud dengan gemetar. "A-ampun, Yang Mulia Pangeran Caden! Pelayan ini memaksa masuk dan membuat onar! Saya akan segera menyeretnya ke ruang bawah tanah!"

Aura menoleh. Dan napasnya nyaris berhenti sesaat.

Di sana, berdiri sosok Antagonis Utama dari novel Cinta Sang Mahkota. Pangeran Caden. Rambut hitam pekatnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan rahang tajam dan tulang pipi yang tegas. Matanya berwarna perak, menatap dingin ke arah Aura, seolah nyawa gadis itu tidak lebih berharga dari debu di sepatunya.

Namun, bukan ketampanan Caden yang membuat napas Aura tercekat. Mata Aura justru memindai pria itu dengan kecepatan kalkulator super.

Jas hitam ini, bahan wol vicuña asli, jahitan tangan, minimal dua ratus juta rupiah. Kancing manset nya? Safir biru murni, gila! Jam tangannya, ya ampun, itu mesin tourbillon kustom yang harganya sebanding sama satu kompleks apartemen. Sepatunya, kulit buaya albino? Orang ini bukan manusia, dia adalah uang dan brankas berjalan!

Caden menyipitkan matanya melihat pelayan kecil di depannya. Bukannya bersujud atau gemetar ketakutan seperti kebanyakan orang, pelayan itu malah menatapnya dengan mulut setengah terbuka dan mata berbinar-binar penuh kelaparan. Bukan kelaparan romantis, tapi kelaparan yang aneh.

"Pelayan," panggil Caden, nada suaranya mengancam. "Apa kau tidak punya telinga, atau tidak punya otak? Siapa yang memberimu izin menatapku seperti itu?"

"Yang Mulia," balas Aura, suaranya tiba-tiba melembut dan berubah menjadi sangat sopan, namun tidak ada niat untuk bersujud. "Saya sedang mengagumi betapa luar biasanya return of investment dari pakaian Anda. Pemilihan kancing safir untuk melengkapi wol vicuña adalah keputusan estetika yang sangat berani sekaligus menaikkan appraisal value Anda sebagai figur publik."

Keheningan melanda lorong itu. Asisten pribadi Caden, Lucas, yang berdiri di belakang pangeran, sampai membetulkan letak kacamatanya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Apa kau sedang mengigau sebelum mati?" dengus Caden, sudut bibirnya berkedut menahan rasa geli yang sangat jarang ia rasakan. "Lucas, panggil algojo. Buang mayatnya ke parit istana."

"Tunggu, tunggu, Bos!" Aura langsung mengangkat kedua tangannya. "Waktu adalah uang, dan waktu Anda terlalu berharga untuk ngurusin pemakaman saya! Saya datang ke sini untuk berbisnis!"

"Berbisnis?" Caden tertawa, suara tawa yang pelan dan menyeramkan. "Seorang pelayan yang bahkan tidak mampu membeli sabun mandi yang layak, ingin berbisnis dengan Menteri Keuangan Kekaisaran?"

"Jangan menilai buku dari sampulnya, dan jangan menilai investor dari seragam pelayannya, Yang Mulia."

Aura merogoh kantong celemek nya dan mengeluarkan koin naga emas itu. Ia sengaja menggesekkannya ke pilar marmer untuk menghasilkan suara dentingan logam padat, lalu menunjukkannya tepat ke arah wajah Caden.

"Lihat ini baik-baik. Emas murni. Ukiran tangan era Dinasti Pertama. Segel naga bermata dua. Anda kolektor barang antik berharga selangit, pasti tahu ini bukan barang murahan dari Pasar Bawah."

Mata perak Caden langsung terpaku pada koin itu. Ekspresi bosannya menguap seketika, digantikan oleh ketajaman seorang pemangsa yang melihat mangsa lezat.

"Koin Segel Kaisar Pertama," gumam Lucas di belakang Caden, suaranya bergetar. "Benda itu hilang tiga ratus tahun yang lalu! Bagaimana bisa ada di tangan..."

"Rahasia langit, Pak Kacamata," potong Aura cepat. Ia menatap langsung ke dalam mata perak Caden. "Saya tahu Anda menginginkan ini. Dan saya butuh modal tunai. Sekarang. Kita negosiasi di ruangan Anda, atau saya jual ke pesaing politik Anda di Fraksi Selatan?"

Ancaman itu begitu blak-blakan. Lucas nyaris menjerit ngeri melihat kelancangan pelayan itu.

Namun Caden justru terdiam. Ia menatap gadis berseragam kotor yang tidak setinggi bahunya itu. Gadis ini berani mengancamnya? Mengancam Pangeran Antagonis itu, yang terkenal bisa memiskinkan sebuah keluarga bangsawan hanya dengan satu jentikan jari?

Sebuah senyum tipis—senyum yang membuat Lucas merinding—tercetak di bibir Caden.

"Masuk ke ruanganku," perintah Caden dengan suara rendah. "Jika nilai koin ini tidak sepadan dengan waktuku yang terbuang, aku sendiri yang akan menguliti kepalamu."

"Dengan senang hati, Bosku yang tampan dan kaya raya," balas Aura sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan mendahului Pangeran Caden masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan pengawal dan Lucas yang masih membeku berjamaah di lorong.

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!