NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap di Koridor Kampus

Pagi hari di area kampus terasa berbeda. Udara dingin sisa hujan semalam masih menggantung di pelataran, menyelimuti deretan pohon palem yang berjejer rapi. Aku memarkirkan sepeda motor matik tuaku di sudut parkiran biasa, lalu melangkah turun seraya merapikan tali tas punggung.

Baru saja aku mengunci stang motor, sebuah suara klakson mobil yang khas dan halus terdengar dari arah jalur utama parkiran.

Teeet!

Sebuah mobil sport BMW M8 Coupe berwarna hitam legam meluncur pelan dan berhenti tepat di samping motorku. Pintu pengemudi terbuka, memperlihatkan sosok Varro yang keluar dengan balutan kemeja putih bergaya kasual yang digulung rapi hingga siku. Ketampanannya yang mencolok langsung menyedot perhatian belasan mahasiswa yang kebetulan sedang melintas.

Varro melangkah mendekatiku seraya membawa sebuah kantung kertas berlogo toko roti ternama.

"Selamat pagi, Gisel cantik," sapa Varro dengan senyum lebar yang begitu menawan. Matanya langsung melirik ke arah kaki kananku. "Lutut lo gimana pagi ini? Masih perih?"

Aku merapikan rok kain panjangku, mencoba bersikap biasa saja meski dadaku mendadak berdesir. "Udah mendingan kok, udah gak terlalu sakit pas jalan."

Varro menyodorkan kantung kertas di tangannya ke arahku. "Nih, sarapan dulu. Gue tahu lo pasti belum sempat sarapan di rumah karena keburu buru-buru."

Aku menatap kantung roti itu, lalu menatap matanya. "Varro... lo gak perlu repot-repot begini setiap hari."

"Gak ada kata repot buat calon istri," sahut Varro santai tanpa dosa. Pria itu merogoh saku celananya, lalu melirik layar ponselnya sejenak. "HP baru dari gue dibawa, kan?"

Aku menepuk saku jaket denimku pelan. "Dibawa. Tenang aja, gak ketinggalan."

Varro mengulas senyum puas seraya mengelus pelan puncak kepalaku. "Pintar. Yaudah, ayo gue antar sampai depan gedung kelas lo."

Di balik suasana manis pagi itu, Brandon dan Marcel sedang berdiri bersandar di balik tiang koridor lantai dasar. Keduanya mengamati pergerakan Varro dan Gisella dari jauh dengan raut wajah tegang yang tersembunyi rapat.

"Anak-anak Starlit udah siap di setiap pintu masuk kampus?" bisik Marcel pelan tanpa mengalihkan pandangannya.

Brandon membetulkan kacamata tipisnya seraya mengangguk. "Udah. Sepuluh orang anak-anak utama udah menyebar di area parkiran, perpustakaan, sama kantin. Kalau anak-anak Viper nekat masuk ke area kampus, kita bisa langsung menghadang mereka sebelum mendekati Gisel."

Marcel menghembuskan napas panjang, meremas jemarinya. "Gue cuma khawatir sama si Raka. Dia itu licik. Dia gak bakal pakai cara jantan kayak Varro."

"Makanya kita harus tetap tenang dan gak boleh terpancing emosi," sahut Brandon datar.

Namun, belum sempat Brandon menyelesaikan kalimatnya, kegaduhan mendadak pecah di area lobi utama gedung perkuliahan.

BRUK!

Suara tumpukan brosur dan papan pengumuman yang roboh bergema nyaring di tengah keramaian mahasiswa. Beberapa mahasiswi berteriak kaget seraya mundur menjauh.

Di tengah lobi, empat orang pria berpakaian serba hitam melangkah masuk tanpa rasa takut. Di barisan paling depan, seorang pria berpostur tinggi tegap dengan jaket kulit cokelat tua dan bekas luka goresan di pipi kirinya melangkah dengan gaya angkuh.

Raka. Ketua geng Viper.

Aku dan Varro yang baru saja hendak menaiki anak tangga koridor seketika menghentikan langkah. Seluruh pasang mata mahasiswa di lantai dasar tertuju ke arah lobi utama.

Varro pasang badan secara refleks. Pria berpostur 183 sentimeter itu menggeser tubuhnya tepat ke depan dadaku, menyembunyikan posisiku di balik punggung tegapnya. Aura hangat yang tadi ia tunjukkan seketika menguap tanpa sisa, berganti menjadi aura dingin nan mematikan.

"Gisel, berdiri di belakang gue dan jangan pernah jauh-jauh dari gue," perintah Varro dengan suara bariton yang teramat dalam dan tegas.

Raka melangkah mendekat, menyunggingkan senyum miring yang penuh intrik. Tatapannya yang tajam dan jahat berganti-ganti menatap Varro dan diriku yang berada di belakangnya.

"Wah, wah... lihat siapa yang ada di sini," ujar Raka dengan suara parau yang mengejek. "Ketua Starlit yang diagung-agungkan... sekarang sibuk jadi bodyguard dari cewek manis?"

Brandon dan Marcel bergerak cepat, melangkah maju dan berdiri rapat di samping kanan dan kiri Varro. Suasana di lobi utama mendadak menjadi sangat pekat oleh tekanan perseteruan dua geng terbesar di kota ini. Para mahasiswa biasa mulai berisik berbisik ketakutan, beberapa di antaranya berlari menjauh untuk memanggil petugas keamanan kampus.

"Raka," panggil Varro dingin, langkah kakinya maju satu tindak tanpa ada rasa gentar sedikit pun. "Lo udah kelewatan. Ini area kampus, bukan arena balapan liar tempat lo biasa membuang sampah."

Raka tertawa renyah, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk merinding. Ia memajukan wajahnya sedikit, menatap Varro dengan binar dendam yang menyala-nyala.

"Gue gak peduli ini kampus atau tempat sampah, Al!" bentak Raka pelan namun menekan. "Gue cuma datang buat memastikan kabar yang beredar. Ternyata bener ya, ketua geng motor tangguh sekelas Varro Aldrian Wijaya sekarang punya titik lemah yang sangat empuk."

Mata Raka melirik tajam ke arahku dari balik bahu Varro.

Darah di kepalaku seketika mendidih mendengarnya. Meski rasa cemas sempat menyelinap di dadaku, aku enggan terlihat lemah di depan pria liar ini. Aku memajukan kepalaku sedikit dari balik punggung Varro, menatap Raka dengan ketus.

"Gak usah sok jagoan lo di sini! Kalau punya masalah sama Varro, selesaikan secara jantan, gak usah bawa-bawa orang lain!" bentakku berani.

Raka membelalakkan matanya terkejut, lalu tertawa makin keras. "Wah, berani juga cewek lo, Al! Pantas aja lo sampai kepepet buat ngumumin pertobatan konyol Starlit kemarin!"

Varro mengepalkan kedua tangannya rapat-rapt di samping tubuh. Buku-buku jarinya memutih kaku. Ia menahan gejolak amarahnya sekuat tenaga demi memegang janjinya padaku untuk tidak lagi membuat keributan brutal di dalam area kampus.

"Keluar dari kampus ini sekarang, Raka," tumpas Varro dengan nada suara membunuh. "sebelum gue lupa sama janji gue sendiri dan bikin lo terkapar di lantai ini."

Raka menyunggingkan senyum liciknya. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara seolah pura-pura menyerah, lalu melangkah mundur dua tindak.

"Oke, oke... Gue bakal pergi sekarang," kata Raka santai. Namun, sebelum ia benar-benar membalikkan badan, pria itu menatap mata Varro dengan cengiran kejam. "Tapi ingat baik-baik kata-kata gue, Al. Ini baru awal dari pertunjukan kita. Kita lihat seberapa kuat lo bisa menjaga cewek ini saat malam mulai turun nanti."

Raka membalikkan badan dan melangkah pergi keluar lobi bersama tiga anak buahnya, meninggalkan keheningan mencekam yang merajai area gedung perkuliahan.

Setelah Raka dan anak buahnya menghilang di balik pintu gerbang utama, suasana di lobi perlahan kembali bergerak. Beberapa mahasiswa berbisik-bisik ketakutan, sementara petugas keamanan kampus baru tiba dengan napas terengah-engah.

Varro memutar tubuhnya cepat, menatap wajahku dengan raut panik yang luar biasa. Tangannya yang hangat meraih kedua pergelangan tanganku.

"Gisel, lo gak apa-apa?! Dia ada ngomong yang bikin lo takut gak?!" tanya Varro bertubi-tubi, matanya memindai wajahku dengan cemas.

Aku menghembuskan napas panjang, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkannya. "Gue gak apa-apa, Varro. Gue kan gak selemah yang lo bayangkan."

Brandon melangkah mendekati Varro, menyentuh bahu sahabatnya itu pelan. "Al, Raka cuma mau memancing emosi lo supaya lo bikin kerusuhan di kampus dan dikeluarkan dari sanksi akademis. Jangan sampai lo masuk ke dalam perangkap dia."

"Gue tahu," sahut Varro dingin seraya mengepalkan tangannya kembali. "Tapi dia udah berani melangkah terlalu jauh dengan menampakkan mukanya di depan Gisel."

Marcel ikut menepuk bahu Varro seraya menatapku. "Gisel, mulai hari ini jadwal kuliah lo dan jadwal kerja paruh waktu lo di kafe bakal kita awasi ketat dari jauh. Gak usah merasa terganggu, ini demi keselamatan lo."

Aku menatap Varro, Brandon, dan Marcel bergantian. Ada rasa hangat dan haru yang mendalam menyusup ke dalam hatiku. Tiga pria yang dulu sangat kupandang sebelah mata dan kucap sebagai pembuat onar... kini berdiri rapat membentuk benteng pertahanan paling kokoh demi melindungiku dari ancaman bahaya.

"Makasih ya, kalian semua..." ucapku tulus.

Varro menatapku lekat-lekat, lalu menggenggam jemari tangan kananku dengan erat dan hangat di depan Brandon dan Marcel.

"Gak usah bilang makasih, Gisel cantik," bisik Varro pelan seraya menatap mata cokelatku penuh ketegasan mutlak. "Selama gue masih bernapas di dunia ini, gak bakal ada satu orang pun yang bisa melukai lo."

Namun, di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sebuah firasat buruk berembus halus. Ancaman Raka sebelum pergi tadi terasa begitu nyata dan meyakinkan. Malam ini permainan berbahaya yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bersambung……

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!