Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Waktu terus berlalu.
Hari demi hari berganti, Sweet Cake terlihat semakin ramai. Pelanggan datang silih berganti. Sementara batas waktu kontrak bangunan semakin dekat.
Namun, hingga saat ini Viola masih belum menemukan tempat yang benar-benar cocok untuk memindahkan tokonya.
Beberapa bangunan yang ia temukan memang memiliki lokasi strategis. Ada yang berada di jalan utama, dekat perkantoran, bahkan ada yang memiliki area parkir cukup luas. Sayangnya, harga sewanya terlalu tinggi.
Viola membutuhkan tempat yang bukan hanya mampu menampung toko, tetapi juga cukup nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Di sisi lain, ia harus menyiapkan dana untuk memindahkan seluruh peralatan, merenovasi tempat baru, hingga membuat toko itu kembali berjalan seperti semula.
Semakin ia menghitung, semakin berat rasanya. Pikiran itu perlahan mulai mengganggu konsentrasinya.
Seperti yang baru saja terjadi. Viola baru saja memberikan uang kembalian kepada seorang pelanggan.
"Maaf, Kak. Sepertinya kembaliannya lebih," ucap seorang pelanggan setelah menghitung ulang kembalian yang diterimanya.
Viola yang sejak tadi menatap kosong langsung tersadar. Ia melihat orang di depannya, kemudian menghitung ulang jumlah pesanan yang harus dibayarkan.
"Maaf sekali, Kak," ucap Viola sambil tersenyum canggung. "Saya sedang tidak fokus."
"Untung saya hitung lagi." Pelanggan itu tersenyum maklum sebelum menyerahkan kembali kelebihan uang tersebut.
Viola mengangguk kecil. "Terima kasih."
Setelah pelanggan itu pergi, Viola masih berdiri beberapa saat di belakang meja kasir. Pandangannya mengikuti punggung pelanggan yang semakin menjauh sebelum akhirnya ia menghembuskan napas panjang.
Kalau saja pelanggan tadi tidak memperhatikan kembaliannya, mungkin Viola baru akan menyadari kesalahannya setelah semuanya terlambat. Dan sebenarnya, itu bukan kali pertama ia melakukan kecerobohan hari ini. Beberapa jam sebelumnya, ia hampir salah memasukkan pesanan pelanggan ke dalam kotak. Beruntung Rani yang berada di dekatnya segera menyadari dan mengingatkannya.
Viola menarik napas dalam-dalam. Ia tahu dirinya sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena rasa lelah sejak pagi harus berada di dapur membuat adonan, bukan juga karena tokonya yang sepi. Justru sebaliknya, Sweet Cake semakin ramai. Pesanan bertambah, penghasilan yang ia dapatkan bahkan jauh lebih baik dibandingkan beberapa bulan pertama sejak membuka toko. Namun, semua itu tidak mampu mengusir satu hal yang terus berputar di kepalanya.
Viola menunduk, jemarinya perlahan merapikan beberapa lembar uang di atas meja kasir. Ada perasaan berat setiap kali membayangkan harus menutup toko yang sudah susah payah ia bangun.
"Bu Viola?" Suara Rani membuat Viola menoleh. "Ibu tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja." Viola tersenyum tipis. "Hanya sedang banyak pikiran."
Rani mengangguk tanpa bertanya lebih jauh.
Setelah Rani pergi, Viola menatap ponselnya. Beberapa foto pilihan bangunan sempat ia simpan di sana. Ia bertekad untuk secepatnya menentukan tempat baru.
Tidak mungkin menunggu sampai kontraknya berakhir. Ia membutuhkan waktu untuk merenovasi tempat baru, lalu memindahkan peralatan, menata dapur, dan membuat tempat baru itu siap digunakan.
Viola mengusap wajahnya pelan. "Aku harus bergerak cepat." Ia sudah mengambil keputusan. Jika harus meninggalkan tempat ini, ia ingin melakukannya dengan cepat namun juga tepat.
Namun, tanpa Viola sadari, seseorang sudah lebih dulu menyiapkan jalan untuk kepindahannya.
******
Di tempat lain, suasana ruang kerja Seokjin jauh lebih tenang.
"Ini beberapa bangunan yang berhasil kami temukan, Tuan." Asisten Kim menyerahkan tablet kepada Seokjin.
Seokjin menerima tablet itu. Tatapannya langsung tertuju pada layar. Satu demi satu foto bangunan terpampang di sana. Beberapa merupakan ruko dua lantai, sementara yang lain berupa bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai kafe. Semuanya memiliki lokasi yang cukup strategis dan memungkinkan untuk dijadikan toko kue sekaligus tempat tinggal.
Seokjin menggeser layar perlahan. Ia tidak terburu-buru memilih. Setiap detail diperhatikannya. Lokasi, luas bangunan, hingga halaman yang tersedia.
"Bagaimana dengan yang ini?" Asisten Kim menunjuk salah satu bangunan. "Lokasinya cukup strategis. Akses kendaraan mudah dan kawasan di sekitarnya cukup ramai."
Seokjin tidak menjawab. Ia justru memperbesar foto sebuah bangunan lain. Matanya bergerak teliti, memperhatikan bagian depan, halaman, hingga posisi bangunan terhadap jalan utama.
"Yang ini." Seokjin menjatuhkan pilihan pada sebuah bangunan modern dua lantai.
Bangunan itu terlihat kokoh dengan desain sederhana dan elegan. Halamannya cukup luas, sehingga memungkinkan untuk dijadikan area parkir. Lokasinya juga berada di kawasan yang ramai, tetapi tidak terlalu padat.
"Pilihan yang bagus, Tuan." Asisten Kim mengangguk sambil memperhatikan foto bangunan tersebut.
"Hubungi pemiliknya." Seokjin meletakkan tablet itu di atas meja.
"Baik, Tuan. Saya akan menanyakan harga sewanya terlebih dahulu."
"Tidak perlu." Seokjin menatapnya. "Aku tidak berniat menyewanya."
Asisten Kim terdiam sejenak. "Apa Tuan berniat untuk membelinya?"
Seokjin menatap kembali foto bangunan itu. "Aku akan membelinya. Selesaikan semuanya sebelum akhir pekan.
"Baik, Tuan." Asisten Kim segera mencatat perintah itu.
"Periksa dokumennya dengan baik. Aku tidak ingin ada masalah hukum atau administrasi setelah pembelian selesai," lanjut Seokjin.
"Saya mengerti." Asisten Kim mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup.
Seokjin kembali sendirian. Tatapannya jatuh pada tablet yang masih menampilkan foto bangunan tersebut.
Ia sebenarnya bisa saja hanya membantu Viola menemukan tempat untuk disewa. Namun, Seokjin tidak menyukai sesuatu yang setengah-setengah. Tempat tersebut akan menjadi awal baru bagi Viola, maka bangunan itu harus lebih dari sekedar layak.
Bukan hanya tempat untuk memindahkan Sweet Cake, melainkan tempat yang mampu membuat usaha itu berkembang lebih jauh. Apalagi ini adalah permintaan langsung dari sepupunya, Nara.
Seokjin tentu saja tidak ingin mengecewakan apa yang Nara inginkan. Termasuk mencarikan tempat terbaik untuk Viola.
****Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor