NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Sang CEO

Pernikahan Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi lain Nathaniel

Aurelia melebarkan pupilnya, lalu menoleh pada Attar. Seakan tahu harus melakukan apa, Attar langsung mengangguk.

"Terimakasih atas waktunya, nona."

"Saya pamit undur diri." Ucap Attar dengan sopan.

Aurelia tersenyum tipis. Lalu bergerak memindahkan dokumen kontrak itu di laci tanpa terburu-buru, ia bergerak tenang karena Tyana sedang memperhatikan di ambang pintu.

"Sama-sama Attar. Sampaikan salamku untuk Nathaniel." Aurelia tersenyum.

Attar beranjak berdiri, detik itu juga Giovani sudah masuk tanpa meminta ijin. Tyana membungkuk hormat, begitu juga dengan Attar saat Giovani melewatinya.

"Kau asisten Nathaniel, bukan?" Giovani masih berdiri dan mengamati Attar. Iya cukup mengenal Attar karena sering bertemu di berbagai acara ketika menemani Nathaniel.

"Betul, tuan. Saya kesini untuk menyampaikan pesan dari tuan Nathaniel untuk nona Aurelia." Attar berbicara santai. Sehingga Giovani hanya memberi reaksi dengan anggukan kecil.

Kaki Giovani melangkah mendekat ke meja, detik itu juga Attar dan Tyana meninggalkan ruangan. Tanpa menoleh, Giovani sudah tahu mereka berdua sudah pergi. Tangannya bergerak menarik kursi, lalu duduk dihadapan Aurelia.

Pria itu menyender punggungnya, lalu tatapannya jatuh pada kening Aurelia yang masih di balut plester. Jemarinya mengetuk meja dengan perlahan.

"Apa keningmu masih sakit?"

Aurelia membeku, pupilnya melebar sempurna, jemarinya meraba kening dengan spontan. Ia masih merasakan sakit, tapi sudah terasa reda dari sebelumnya.

Detik berikutnya, ia menggeleng pelan dan mengubah ekspresinya seperti semula.

"Sudah sembuh. Tapi aku lupa melepas plester." Suara Aurelia terdengar sedikit terbata-bata. Bibirnya melengkungkan senyum kaku.

Giovani hanya mengangguk kecil, jemarinya berhenti bergerak, ia menautkan kedua tangannya di atas perut.

"Kamu sudah bertemu Nathaniel?"

Itu terdengar bukan seperti pertanyaan, Aurelia lebih menduga Giovani sudah tahu, mungkin Nathaniel sudah memberi tahunya saat bertemu tadi.

"Sudah. Kami juga sudah membahas tentang hubungan kami." Aurelia menahan napas sebentar, ia berusaha agar tetap terlihat tenang.

Giovani mengalihkan pandangannya ke luar jendela, "Saya dan Nathaniel juga sudah bertemu. Dia menyetujui perjodohan ini." Ucapnya kemudian beralih menatap Aurelia.

"Setelah aku berbicara dengannya, aku langsung menghubungi Pradana dan istrinya. Mereka menerima dengan baik kabar ini."

Aurelia tersenyum tipis, dia dapat bernapas dengan lega.

"Pernikahan kalian akan berlangsung satu bulan lagi."

Deg !

Aurelia membeku sesaat. Ia tidak tidak menyangka ini akan terjadi dalam waktu dekat. Yang ia pikirkan, pernikahan akan terjadi dalam beberapa bulan lagi, tapi sepertinya.... Giovani sangat haus akan kekuasaan.

"Apa tidak terlalu cepat?" Tanya Aurelia, jemarinya saling meremas satu sama lain.

Giovani langsung menggelengkan kepalanya kecil. "Justru itu bagus. Semakin cepat lebih baik. Lagipula... Nathaniel dan keluarganya sudah setuju." Ucap Giovani, menegakkan tubuhnya dan menghela napas sebentar.

Aurelia tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Ia hanya diam, hati dan pikirannya saling berperang satu sama lain. Masalahnya tidak benar-benar selesai, pernikahan ini justru awal dari semuanya. Karena setelah ini, ia akan hidup dengan pria yang bahkan tidak ia cintai.

Aurelia membutuhkan kasih sayang, tapi ia selalu bersama dengan orang-orang yang bahkan tidak terlihat menginginkan kehadirannya.

"Apa sekarang Papa senang?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari Aurelia.

Giovani diam, detik berikutnya terdengar tawa kecil dari mulutnya.

"Saya sangat senang Aurelia. Karena kamu memilih pria yang tepat." Raut itu terlihat benar-benar bahagia, mata dinginnya kini berbinar, menciptakan suasana hatinya yang terasa lebih baik.

Aurelia yang melihatnya hanya tersenyum tipis. Entah kenapa rahangnya tiba-tiba saja mengeras. Melihat kebahagiaan Giovani membuatnya sakit, bukan karena ia tidak ingin Giovani bahagia, melainkan... Hidupnya dipertaruhkan disini.

"Apa setelah ini, Papa bisa memperlakukan aku seperti dulu?"

Giovani langsung terdiam.

"Seperti waktu aku berusia delapan tahu. Aku benar-benar hanya menginginkan itu." Mata Aurelia berkaca-kaca. Keinginannya benar-benar tulus dari dalam hati.

"Kamu bukan anak kecil lagi, Aurelia." Ucap Giovani, ekspresinya kembali dingin.

Lagi-lagi Aurelia hanya bisa tersenyum tipis dengan hati yang seakan teriris.

"Tapi sampai kapanpun, aku tetap anak Papa."Ucap Aurelia dengan suara yang seakan tercekik.

Giovani mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Hentikan omong kosong itu. Yang terpenting sekarang adalah pernikahan kamu. Saya akan pergi untuk mengurus sesuatu." Giovani beranjak berdiri tanpa menatap Aurelia lagi. Pria itu membalikkan badannya, namun berhenti sejenak.

"Jangan harap setelah pernikahan, kamu bisa lepas dari keluarga ini."

Aurelia menatap tubuh Giovani dengan sesak di dadanya. Sampai tubuh Giovani menghilang dari pandangannya setelah keluar dari pintu.

Aurelia menatap pada bingkai foto yang terpajang di atas meja kerjanya. Sebuah foto dengan kehangatan dan kasih sayang yang menyelimuti, Aurelia kecil yang sedang di peluk oleh Giovani dan Mamanya. Senyum mereka begitu merekah. Terlihat seperti keluarga kecil yang saling menyayangi.

Aurelia menoleh pada ponselnya yang berdering.

Matanya menangkap nama Sarah memenuhi layar ponselnya. Aurelia menghela napas terlebih dahulu, ia sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan Sarah. Berita tentang perjodohan ini pasti sudah sampai ke telinganya.

Tangan Aurelia mengambil ponsel dengan perlahan, ia menerima panggilan telepon dari Sarah lalu menempelkan ponselnya di samping telinga.

"Apa kabar yang aku dengar tidak salah?"

Suara Sarah melengking memekik telinga. Aurelia menyipitkan mata dengan alis yang mengkerut, bersyukur ia tidak menghidupkan loudspeaker.

"Tidak, Sarah. Itu memang benar." Aurelia berucap dengan santai.

"Kenapa bisa? Kenapa sangat tiba-tiba? Kamu tidak memberi tahu aku terlebih dahulu?"

Aurelia hanya bisa menggelengkan kepala.

"Itu terjadi begitu saja. Setelah aku dan Nathaniel bertemu kemarin, kami berbincang panjang. Dan entah kenapa, keputusan itu muncul dan disepakati oleh kami." Aurelia berkata dengan hati-hati, ia tidak boleh menimbulkan kecurigaan pada Sarah.

"Bukankah sebelumnya kalian saling menolak?"

Aurelia terdiam sejenak.

"Itu memang benar. Tapi aku percaya pada Nathaniel, Sarah..." Aurelia beranjak berdiri, kakinya melangkah menuju jendela.

"Seperti yang kamu katakan. Daripada harus dijodohkan dengan pria yang tidak jelas asal-usulnya. Lebih baik aku memilih Nathaniel."

Sarah sudah mengetahui sebelumnya, bahwa Aurelia akan dijodohkan oleh Giovani dengan Elbarak. Dan Sarah terkejut, bahkan dia juga menyarankan lebih baik memilih Nathaniel.

"Kamu memilih keputusannya yang tepat. Tapi ada satu masalah..."

Aurelia mengerutkan keningnya.

"Apa?"

Ia dapat mendengar helaan napas berat Sarah di seberang telepon sana.

"Bagaimana bisa Nathaniel sangat mudah menyetujuinya? Kamu menawarkan apa padanya? Iya aku tahu, kalau kamu tidak pantas ditolak pria manapun, tapi Nathaniel berbeda, dia selalu kekeh dengan pendiriannya. Mungkin kalau kalian melakukan pendekatan terlebih dahulu, tidak akan membuat aku terkejut."

Jemari Aurelia meraba kaca, pandangan matanya jatuh pada gedung-gedung tinggi yang menjulang, lalu beralih pada kendaraan yang berlalu lalang.

"Aku tidak menawarkan apapun. Aku hanya memberi tahu dia, bahwa aku akan berusaha menjadi istri yang baik meskipun awalnya tidak memiliki perasaan apapun."

"Jadi kamu yang menawarkan diri lebih dulu?"

"Iya. Karena aku tidak punya pilihan lain." Aurelia tidak berniat membohongi Sarah. Tapi ini adalah kesepakatan antara dia dan Nathaniel bahwa Sarah tidak boleh tahu mengenai kontrak ini.

"Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Justru aku berterima kasih karena kamu mau mempertimbangkan bahkan menerima perjodohan ini. Aku sangat senang, Aurelia."

"Terimakasih juga karena kamu selalu peduli, Sarah." Aurelia melipatkan bibirnya kedalam.

"Tapi sebelum pernikahan kalian dimulai... Aku ingin memberi tahu sesuatu." Ucap Sarah disana.

"Apa?" Aurelia bertanya, ia rasa nada bicara Sarah berubah serius.

"Mungkin ada sisi lain Nathaniel yang akan membuatmu terkejut. Tapi aku sendiri tidak berhak memberi tahu secara detail. Karena itu akan terlihat perlahan setelah kalian hidup bersama."

1
Yayaa
seruu
Yayaa
lanjut ka
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Yayaa
semangat
Yayaa
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!