NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehadiran Seorang Menantu

Kehadiran Rozen dan Aurora berdampak pada kesenyapan yang tiba-tiba terjadi di ruang makan tersebut. Ruangan megah yang menjadi pusat jamuan keluarga Salvadore.

Langit-langitnya menjulang tinggi. Sebuah lampu kristal besar tergantung kokoh di sana, memancarkan cahaya keemasan yang menerangi setiap sudut ruangan dengan hangat namun tetap berkelas.

Di tengah ruangan terbentang luas meja makan panjang dari kayu ek yang dipoles mengilap, cukup untuk menampung seluruh anggota keluarga inti Salvadore. Lilin-lilin hias dan rangkaian bunga lili putih turut memperindah suasana, tersusun rapi di sepanjang meja.

Tidak lupa kehadiran para pelayan yang berdiri tenang di sisi ruangan, siap melayani tanpa mengganggu jalannya percakapan.

Don Vittorio Salvadore duduk di kursi utama, posisi yang secara turun-temurun menjadi tempat kepala keluarga inti. Di sisi kanannya ada Bianca Salvadore, adik perempuan Don Vittorio yang dikenal lembut namun tegas. Di sisi lain tampak Lorenzo Salvadore, adik Rozen yang sesekali menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi, berbanding terbalik dengan Alessia Salvadore, adik bungsu Rozen yang duduk anggun dengan postur tegak dengan tatapan yang sulit diartikan.

Beberapa paman, bibi, serta sepupu keluarga Salvadore juga telah menempati kursi masing-masing. Mereka adalah orang-orang yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari keluarga paling berpengaruh itu.

Di luar hubungan darah, beberapa penasihat senior keluarga turut hadir sebagai tamu kehormatan. Salah satunya Christon, penasihat juga orang kepercayaan Rozen. Sudah sewajarnya jika mereka lebih banyak diam dan mengamati daripada ikut berbicara.

Rozen mulai melangkah memasuki ruangan dengan Aurora berjalan di sisinya. Puluhan pasang mata beralih kepada wanita muda yang mengenakan gaun biru langit itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa ingin tahu.

Sebagian mengamati wajah Aurora dengan saksama, mencoba menemukan perbedaan dengan Isabella yang sebelumnya mereka kenal. Ada juga yang tampak menilai sikap dan pembawaannya, seolah ingin memastikan apakah wanita yang kini menyandang nama Salvadore itu benar-benar pantas berdiri di sisi Rozen.

Bisik-bisik kembali terdengar, walau lebih pelan dari sebelumnya.

"Jadi benar.... Yang menikah dengan Rozen bukan Isabella."

"Wajah mereka memang mirip, tapi sorot mata itu berbeda."

Aurora dapat merasakan bahwa segala bisikan yang samar-samar terdengar serta tatapan penuh selidik itu sungguh mengarah kepadanya.

Jemarinya yang masih dibungkus tangan besar Rozen kembali bereaksi. Tanpa disadari oleh Aurora, di sebelahnya ada Rozen yang sedang menahan rasa perih di punggung tangannya akibat tusukan kuku jempol istrinya.

"Tenanglah."

Di tengah banyaknya pandangan yang menilai, suara rendah Rozen mengalun pelan.

Aurora tersadar setelah mendengar suara suaminya. Satu hal yang membuatnya sedikit lebih tenang adalah rasa lega karena suaminya masih berdiri di sampingnya. Tidak mempercepat langkah, tidak juga menjaga jarak. Suaminya tidak meninggalkannya.

Dan sikap sederhana yang Rozen perlihatkan itu justru dianggap oleh seluruh penghuni ruang makan tersebut sebagai sebuah penegasan bahwa wanita yang berjalan di sisi sang pewaris bukanlah seorang tamu ataupun pengganti yang kebetulan hadir.

Rozen yang tetap pada ekspresi santainya seolah ingin menegaskan bahwa ia datang bersama istrinya, Aurora Salvadore. Dan selama Rozen mengakui hal tersebut, maka tidak ada seorang pun di ruangan itu yang berani memperlakukan Aurora dengan tidak hormat.

Bisik-bisik yang semula terdengar mendadak mereda ketika pria yang paling disegani di keluarga Salvadore beranjak dari kursinya dengan penuh wibawa.

Aurora spontan menegakkan tubuhnya ketika seorang pria yang mengenakan setelan jas hitam sederhana sedang berjalan menuju ke arahnya.

Rambut yang mulai memutih tersisir rapi ke belakang, sementara wajah yang dipenuhi garis-garis usia justru memancarkan ketegasan yang sulit diabaikan. Jangan abaikan sorot mata tajam yang seolah mampu membaca isi pikiran orang lain hanya dari sekali tatap.

Don Vittorio Salvadore. Kepala keluarga inti Salvadore.

Selama puluhan tahun, namanya dikenal sebagai salah satu don mafia paling berpengaruh. Di bawah kepemimpinannya, keluarga Salvadore membangun kerajaan bisnis yang membentang di berbagai negara. Sementara pengaruhnya di dunia bawah membuat banyak organisasi memilih tunduk daripada menjadi musuhnya. Satu keputusan darinya mampu mengubah arah sebuah bisnis, bahkan menentukan nasib sebuah keluarga.

Ketika Don Vittorio telah berdiri di hadapan Aurora dan Rozen, seluruh anggota keluarga turut berdiri sebagai bentuk penghormatan.

"Ayah," sapa Rozen singkat.

Don Vittorio, sang ayah, mengangguk tipis sebelum mengalihkan pandangannya kepada Aurora.

Tanpa diduga, tatapan pria itu berhenti beberapa detik lebih lama dari yang diharapkan Aurora, mengamati wajah gadis muda itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Aurora menundukkan kepala dengan hormat.

"Senang bertemu dengan Ayah," ucap Aurora dengan lembut. Walau ia ketakutan tapi getar ketakutan itu tidak sampai mempengaruhi suaranya.

Suasana mendadak hening. Beberapa anggota keluarga menunggu reaksi Don Vittorio, hingga akhirnya pria itu membuka suara.

"Jadi kaulah Aurora?"

Aurora mengangkat wajah perlahan, merasa heran dan bingung karena disebut namanya. Karena sejauh yang Aurora ingat, mereka belum pernah bertemu sebelumnya.

"Benar, Ayah," ucap Aurora berusaha setenang mungkin. Walau raut wajahnya terlihat sangat jauh dari kata tenang.

Don Vittorio mengangguk pelan kemudian melanjutkan kalimatnya.

"Aku sudah mengetahui semuanya."

Kalimat singkat itu membuat Aurora membeku di tempat. Wajah pucat pasih seakan menjelaskan perihal ketakutannya yang sudah mencapai batas. Aurora tidak tahu harus berkata apa.

"Rozen menghubungiku beberapa jam setelah upacara pernikahan kalian usai."

Aurora menahan napas.

"Dia mengatakan bahwa wanita yang berdiri di altar bersamanya bukan Isabella, melainkan saudara kembarnya."

Aurora menggigit bibir bawahnya. Sungguh, Aurora nyaris menumpahkan air matanya. Gadis itu gelisah dan takut bukan main. Aurora sama sekali tidak menyangka bahwa suaminya telah memberitahukan tentang dirinya kepada keluarga besarnya sejak awal. Pikiran Aurora menjadi kacau. Bagaimana mungkin dia dan keluarganya dapat selamat dari kemarahan don mafia ini?

"Aku bertanya pada putraku apakah pernikahan itu harus dibatalkan."

Don Vittorio mengalihkan pandangan kepada putranya sejenak.

"Namun putraku mengatakan bahwa keputusannya telah diambil."

Rozen tidak memberi reaksi. Pria dingin itu hanya diam di tempat, mendengarkan seluruh perkataan sang ayah tentang pernikahannya.

"'Siapa pun wanita yang mengucapkan janji pernikahan bersamaku akan menjadi istriku.' Begitu katanya."

Ruang makan itu terasa lebih sunyi setelah Don Vittorio mengucapkan pernyataan putra sulungnya tersebut.

Setelah usai berbicara, Don Vittorio menatap Aurora sekali lagi. Pandangannya lurus ke dalam sepasang mata bulat dan bening milik Aurora.

"Sejak saat itu, aku tidak lagi memikirkan siapa yang seharusnya menjadi pengantin. Yang penting bagiku adalah keputusan putraku," lanjut sang kepala keluarga inti Salvadore.

Sang ayah memang lebih mengenal putranya lebih baik daripada siapa pun. Ia tahu bahwa putra sulungnya tidak akan mengambil keputusan karena dorongan emosi saja. Jika Rozen memilih melanjutkan pernikahan dengan Aurora, artinya putranya itu telah siap menerima seluruh konsekuensinya.

Sebagai seorang ayah sekaligus kepala keluarga inti Salvadore, Don Vittorio tidak memiliki alasan untuk menggugat keputusan tersebut.

Lalu tanpa peringatan, Don Vittorio melangkah mendekati Aurora. Aurora yang sempat terkejut refleks mundur sedikit. Namun, sosok suami di sampingnya menahan pergerakan itu seolah menegaskan bahwa 'kau akan baik-baik saja selama ada aku di sini'.

"Mulai hari ini kau bukan lagi pengganti Isabella. Kau adalah menantuku. Menantu keluarga Salvadore yang sah."

Suara berat sang pemimpin terdengar lantang memenuhi ruangan.

Aurora memandang Don Vittorio. Memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Ia menyadari bahwa tatapan Don Vittorio tetap tegas, tetapi tidak lagi mengandung penilaian, melainkan pengakuan.

"Selama kau menjaga kehormatan nama Salvadore, keluarga ini akan menjadi rumahmu."

Aurora merasakan tenggorokannya tercekat. Bukan lagi karena takut dan khawatir, melainkan karena terharu dan bahagia. Seolah beban berat di hati yang selama ini mengusiknya kini terangkat seutuhnya.

Aurora menundukkan kepala lebih dalam.

"Terima kasih, Ayah."

Di sisi lain, Rozen memperhatikan keduanya dalam diam. Dengan ekspresinya yang tetap datar seperti biasa, Rozen sama sekali tidak terpengaruh oleh segala perkataan ayahnya.

Namun melihat ayahnya menerima Aurora tanpa mempermasalahkan masa lalunya, Rozen tahu satu hal bahwa keputusan nekat yang diambilnya di hari pernikahannya tidaklah salah setelah mendapat restu dari satu-satunya orang yang perkataannya sangat mutlak dan benar-benar berpengaruh di keluarganya.

...***...

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!