NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Di kediaman keluarga Darmawan...

Suasana ruang kerja Tuan Darmawan tampak begitu hening.

Pria paruh baya itu sedang memeriksa beberapa dokumen perusahaan ketika terdengar dua kali ketukan di pintu.

Tok... tok...

"Masuk."

Pintu terbuka.

Dua pria bertubuh tegap melangkah masuk bersamaan.

Mereka adalah Revan dan Rendra, putra sulung serta putra kedua keluarga Wijaya.

"Papa sedang sibuk?" tanya Revan.

"Tidak. Duduklah."

Keduanya segera duduk berhadapan dengan sang ayah.

Tatapan Revan terlihat serius, sedangkan Rendra tampak menyandarkan tubuhnya dengan raut wajah yang tidak kalah kecewa.

"Pa," ucap Revan membuka pembicaraan, "kami datang ingin meminta penjelasan."

Tuan Wijaya menatap kedua putranya bergantian.

"Penjelasan tentang apa?"

"Perjodohan Rafael dengan putri sulung Tuan Adrian."

Ruangan mendadak sunyi.

Rendra langsung menimpali.

"Papa dulu pernah bilang akan memperkenalkan kami bertiga kepada keluarga Adrian. Setelah itu, biarkan mereka saling mengenal. Siapa yang cocok, dialah yang dipilih. Tapi sekarang? Tiba-tiba Rafael sudah bertunangan. Kenapa kami tidak pernah diberi kesempatan?"

Revan mengepalkan tangannya.

"Kalau memang akhirnya Zilia memilih Rafael, kami bisa menerima."

"Tapi kami bahkan belum pernah bertemu dengannya. Papa langsung mengambil keputusan tanpa berbicara kepada kami. Terus terang saja, kami merasa itu tidak adil."

Tuan Dermawan mengembuskan napas panjang.

"Papa tahu kalian kecewa. Tapi keputusan ini bukan keputusan yang baru dibuat."

"Maksud Papa?" tanya Rendra.

"Sejak bertahun-tahun lalu, Papa dan Tuan Adrian sudah memiliki kesepakatan. Kami sepakat akan menyatukan penerus utama kedua keluarga."

Revan mengernyit.

"Tapi kenapa harus Rafael? Kenapa bukan aku? Atau Rendra?"

Tuan Wijaya menatap kedua putranya dengan tenang.

"Karena sejak awal, Papa sudah menetapkan Rafael sebagai penerus utama Grup Darmawan. Sedangkan Tuan Adrian menetapkan Zilia sebagai penerus utama Grup Adrian. Itulah alasan mengapa mereka dipersatukan."

Rendra langsung menggeleng.

"Rafael memang pintar. Tapi bukan berarti kami tidak mampu."

"Benar, Pa," sambung Revan. "Kami juga putra Papa. Kami juga sudah membangun perusahaan ini bersama. Kenapa kesempatan itu tidak pernah diberikan kepada kami?"

Tuan Wijaya bangkit dari kursinya.

Ia berjalan perlahan mendekati jendela besar di belakang meja.

"Kalian berdua memang anak-anak Papa yang membanggakan."

"Tidak pernah sekalipun Papa meragukan kemampuan kalian. Lalu kenapa? apa karena status ibunya Rafael yang terhormat ketimbang status ibu kita berdua?" tanya Revan dengan nada tertahan.

"Karena menjadi penerus bukan hanya soal kemampuan. Juga, bukan karena status kedudukan. Papa melihat siapa yang paling siap memikul seluruh beban Grup Wijaya. Dan pilihan Papa jatuh kepada Rafael."

Ucapan itu membuat wajah Revan dan Rendra sama-sama berubah.

Rendra berdiri dari duduknya.

"Jadi keputusan Papa sudah mutlak?"

"Iya."

"Tidak bisa diubah."

"Pertunangan mereka sudah diumumkan di hadapan para rekan bisnis. Membatalkannya sekarang hanya akan mempermalukan dua keluarga."

Revan tersenyum hambar.

"Berarti sejak awal... kami memang tidak pernah menjadi pilihan."

"Itu bukan maksud Papa."

"Tapi itulah kenyataannya," sahut Rendra.

"Kami hanya ingin diperlakukan sama."

Tuan Wijaya menatap kedua putranya dengan sorot mata yang tegas.

"Papa memang tidak bisa memberikan posisi yang sama kepada kalian bertiga. Tetapi Papa bisa memberikan kepercayaan yang sama. Jangan jadikan rasa kecewa ini sebagai alasan untuk memusuhi adik kalian."

Revan dan Rendra saling berpandangan.

Tak satu pun dari mereka menjawab.

Meski akhirnya memilih diam, keduanya masih menyimpan rasa tidak terima.

Di dalam hati mereka, muncul pertanyaan yang sama.

"Apa sebenarnya yang dimiliki Rafael... hingga Papa begitu yakin memilihnya dibanding kami berdua?"

"Penilaian Papa tidak sedikit untuk menentukan keputusan."

"Ya sudahlah, jika memang sudah menjadi keputusan Papa." Kata Revan dan memilih untuk keluar.

Setelah perbincangan dengan ayahnya berakhir, Revan dan Rendra keluar dari ruang kerja.

Suasana di antara keduanya masih dipenuhi rasa kecewa.

"Aku keluar dulu," ujar Revan sambil mengambil kunci mobilnya.

"Mau ke mana?" tanya Rendra.

"Entahlah. Cari angin. Kepala lagi penuh beban."

Rendra hanya mengangguk.

"Kalau aku di rumah saja. Habis perjalanan jauh dari luar negeri, rasanya malas ke mana-mana."

"Ya sudah."

Revan menepuk pelan bahu adiknya.

"Istirahatlah."

Tak lama kemudian, mobil Revan meninggalkan kediaman keluarga Darmawan.

Di sisi lain...

Davin membawa Zilia ke sebuah arena berkuda yang terkenal di kota.

Hamparan padang rumput hijau, udara yang sejuk, serta para penunggang kuda yang lalu-lalang perlahan mengusir penat di benak Zilia.

"Wah..."

"Tempatnya bagus banget."

Davin tersenyum kecil.

"Makanya Kakak bawa kamu ke sini."

"Supaya pikiranmu nggak melulu dipenuhi masalah."

Zilia mengangguk.

Tatapannya tertuju pada beberapa orang yang sedang menunggang kuda sambil berlatih memanah.

"Keren banget..."

"Naik kuda sambil memanah."

"Kelihatannya seru."

Davin mengikuti arah pandangnya.

"Mau coba?"

Zilia buru-buru menggeleng.

"Nggak dulu deh."

"Ngeliat aja udah senang."

Beberapa saat kemudian, Zilia menunjuk ke arah taman kecil yang berada tak jauh dari arena.

"Kak."

"Hm?"

"Aku mau jalan-jalan ke sana sebentar."

Davin mengangguk.

"Jangan lama-lama."

"Kalau sudah capek, kembali ke sini."

"Iya, Kak."

Zilia pun berjalan sendiri.

Sesekali ia berhenti memperhatikan para penunggang kuda yang melintas.

Senyum tipis akhirnya kembali menghiasi wajahnya.

"Indah juga..."

"Sayangnya hidupku nggak seindah tempat ini."

Ia mengembuskan napas pelan.

"Kekasih... ternyata sudah menikah."

"Punya calon suami... tapi hubungannya juga nggak jelas. Entahlah, aku saja belum tahu apakah kami benar-benar berjodoh atau tidak."

Baru saja ia hendak melangkah lagi...

Terdengar suara panik dari arah arena.

"Awas!"

Seekor kuda yang lepas kendali berlari lurus ke arahnya.

Zilia membeku.

Tubuhnya seolah sulit digerakkan.

Dalam hitungan detik...

Seseorang berlari cepat.

Bruk!

Lengan pria itu langsung meraih pinggang Zilia dan menariknya menjauh.

Keduanya terjatuh berguling di atas rerumputan.

Kuda itu pun berlari melewati mereka.

Zilia masih memejamkan mata.

Saat membukanya...

Ia mendapati dirinya berada dalam dekapan seorang pria asing.

Sontak ia buru-buru menjauh.

"Maaf..."

Pria itu ikut bangkit.

"Bukan maksud saya lancang. Tadi kudanya hilang kendali. Kalau saya terlambat sedikit saja... mungkin kamu sudah tertabrak."

Zilia masih sedikit syok.

Namun ia tetap menganggukkan kepala.

"Terima kasih."

Pria itu tersenyum ramah.

"Syukurlah kamu nggak apa-apa."

Lalu ia bertanya dengan nada santai,

"Kamu ke sini sendirian?"

Zilia menggeleng.

"Tidak."

"Pacarmu?"

"Suamimu?"

Pertanyaan itu membuat Zilia tersenyum hambar.

"Aku datang sama sepupuku."

Belum sempat pria itu bertanya lagi...

Terdengar suara seseorang memanggil.

"Zilia!"

Davin berlari menghampiri dengan wajah panik.

"Kamu nggak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja, Kak."

Davin mengembuskan napas lega.

Barulah pandangannya beralih kepada pria yang berdiri di samping Zilia.

"Kamu..."

Pria itu tersenyum tipis.

"Davin."

Davin ikut tersenyum.

"Revan."

Keduanya berjabat tangan.

Zilia mengernyit heran.

"Kalian saling kenal?"

Revan tertawa kecil.

"Kenal."

"Kami sering bertemu dalam urusan bisnis."

Lalu Revan menoleh kepada Zilia.

"Jadi..."

"Dia pacarmu?"

Zilia langsung menggeleng.

"Bukan."

"Dia kakak sepupuku."

"Oh..."

Revan mengangguk pelan.

"Berarti kamu..."

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Davin sudah lebih dulu berkata,

"Dia Zilia."

"Putri sulung Om Adrian."

Kalimat itu membuat senyum Revan perlahan memudar.

Sorot matanya berubah.

"Jadi..."

"Dia benar-benar Zilia?"

Perempuan yang beberapa jam lalu menjadi penyebab perdebatan di rumahnya...

Kini justru berdiri tepat di hadapannya.

Revan tersenyum tipis.

"Pantas saja. Akhirnya kita bertemu juga."

Sementara itu, dari kejauhan...

Sepasang mata memperhatikan pertemuan mereka.

Rafael.

Ia baru saja tiba di arena berkuda untuk menghilangkan kejenuhan kejenuhannya. Namun siapa sangka kalau dia akan bertemu dengan Zilia. Namun langkahnya terhenti saat melihat Revan berdiri begitu dekat dengan Zilia.

Rafael menyipitkan mata.

"Apa yang sedang Kak Revan lakukan bersama Zilia...?"

Revan masih berbincang santai bersama Davin dan Zilia.

Sesekali, ia melontarkan candaan yang membuat Zilia tertawa kecil.

Melihat tawa itu, tanpa sadar senyum Revan ikut mengembang.

Sementara itu...

Rafael akhirnya melangkahkan kaki menghampiri mereka.

"Dari jauh sudah terdengar suara tawa."

Mendengar suara yang begitu dikenalnya, Zilia sontak menoleh.

"Rafael."

Rafael mengangguk singkat.

"Zilia."

Tatapan mereka hanya bertemu beberapa detik sebelum sama-sama mengalihkan pandangan.

Revan memperhatikan perubahan ekspresi adiknya.

"Raf. Kamu ngapain di sini?"

"Aku cuma iseng jalan-jalan kemari. Kakak sendiri?"

"Sama,"

Rafael lalu menoleh kepada Davin.

"Davin."

"Iya, ada apa?"

"Gak ada apa-apa, cuma ingin ngilangin jenuh."

"Oooh,"

Suasana sejenak menjadi canggung.

Revan kemudian tersenyum tipis.

"Untung aku datang ke sini. Kalau nggak, mungkin aku nggak bakal ketemu sama calon adik iparku."

Ucapan itu membuat Rafael melirik kakaknya.

"Sudah kenalan?"

"Sudah."

"Bahkan Zilia hampir tertabrak kuda tadi. Untung aku sempat menariknya."

Rafael langsung menatap Zilia.

"Kamu nggak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja."

"Cuma kaget."

Rafael mengembuskan napas lega.

"Syukurlah."

Namun, yang menarik perhatian Rafael bukan jawaban Zilia. Melainkan cara Revan memandang gadis itu. Tatapan itu terlalu lama. Terlalu hangat.

Sebagai adik yang mengenal kakaknya. Rafael langsung menyadari sesuatu.

"Kak, jangan bilang..."

Belum sempat Rafael menyelesaikan pikirannya, Revan kembali membuka suara.

"Raf."

"Iya?"

"Kamu beruntung."

Rafael mengernyit.

"Maksud Kakak?"

Revan menatap Zilia sekilas sebelum kembali menatap Rafael.

"Calon istrimu ternyata jauh lebih menarik daripada yang kubayangkan."

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Namun bagi Rafael ada makna lain yang tersembunyi di baliknya. Ia menyipitkan mata.

"Terima kasih. Tapi sebaiknya Kakak jangan terlalu lama memujinya."

Revan tertawa pelan.

"Kenapa? kamu cemburu?"

Rafael tersenyum tipis.

"Bukan. Aku hanya mengingatkan. Dia tunanganku."

Suasana kembali hening.

Revan tetap tersenyum, tetapi sorot matanya berubah lebih tajam.

"Tentu. Aku tahu batasnya. Tenang saja."

Meski berkata demikian, di dalam hati Revan muncul keinginan yang terus mengganggunya.

"Kalau saja aku bertemu dengannya lebih dulu... mungkin orang yang berdiri di samping Zilia sekarang bukan Rafael." Batinnya

Davin yang berdiri di antara mereka mulai merasakan hawa persaingan yang aneh.

Ia melirik Zilia.

Sementara Zilia sendiri sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Pikirannya masih dipenuhi bayangan Vio dan berbagai masalah yang menimpanya.

Baginya, Revan hanyalah kakak Rafael yang baru dikenalnya hari itu.

Namun bagi Rafael, tatapan kakaknya barusan sudah cukup menjadi peringatan.

Ia mengenal Revan.

Jika kakaknya benar-benar menginginkan sesuatu, ia bukan tipe orang yang mudah menyerah.

Dan untuk pertama kalinya...

Rafael merasa bahwa bukan hanya Vio yang akan menjadi penghalang hubungannya dengan Zilia.

Kini, bayangan persaingan itu justru datang dari dalam keluarganya sendiri.

Suasana di arena berkuda kembali hening.

Rafael melirik jam di pergelangan tangannya, lalu mengalihkan pandangan kepada Zilia.

"Zilia."

"Hm?"

"Ada waktu?"

Zilia mengernyit.

"Kenapa?"

"Temani aku sebentar."

"Mau ke mana?"

"Rahasia."

Zilia langsung menggeleng pelan.

"Aku harus pulang sama Kak Davin."

Rafael kemudian menoleh ke arah Davin.

"Davin."

"Iya?"

"Kalau tidak keberatan, boleh aku meminjam Zilia sebentar?"

Davin mengangkat sebelah alisnya.

"Meminjam?"

Rafael tersenyum tipis.

"Aku hanya ingin mengajaknya ke suatu tempat. Nanti aku sendiri yang mengantarnya pulang ke rumah."

Davin memperhatikan Rafael beberapa detik.

Ia tahu seperti apa keluarga Wijaya.

Terlebih, Rafael sudah resmi menjadi tunangan Zilia di hadapan kedua keluarga.

Setelah berpikir sejenak, Davin mengangguk.

"Baik. Tapi jangan terlalu malam. Dan pastikan Zilia pulang dengan selamat."

Rafael mengulurkan tangannya.

"Terima kasih."

Davin menyambut uluran tangan itu.

"Aku percaya sama kamu."

Ucapan itu membuat Rafael mengangguk pelan.

"Aku tidak akan mengecewakan kepercayaan itu."

Di samping mereka, Zilia justru terlihat kebingungan.

"Kak..."

"Kok malah diizinin?"

Davin terkekeh.

"Sesekali jalan sama tunangan sendiri tidak apa-apa."

"Tapi dia bukan—"

Belum sempat Zilia menyelesaikan kalimatnya, Davin sudah menyela.

"Sudah."

"Jangan bikin Kakak khawatir."

"Kalau Rafael macam-macam, telepon Kakak."

Zilia hanya bisa mengembuskan napas panjang.

"Iya deh."

Semua percakapan itu tak luput dari perhatian Revan. Tatapannya berubah dingin. Ia mengepalkan rahangnya pelan.

"Davin bahkan mempercayakan Zilia kepada Rafael. Sedangkan aku? Seolah hanya orang asing."

Rasa tidak nyaman mulai mengusik pikirannya.

Ia tidak tahu mengapa, tetapi melihat Rafael dan Zilia pergi bersama membuat dadanya terasa sesak.

Rafael berjalan menuju mobilnya.

Ia lalu membuka pintu penumpang.

"Silakan."

Zilia berdiri beberapa saat.

"Aku sebenarnya bisa buka pintu sendiri."

"Aku tahu."

"Terus?"

"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai laki-laki."

Jawaban itu membuat Zilia mendengus pelan.

"Dasar."

Meski begitu, ia tetap masuk ke dalam mobil.

Rafael menutup pintu dengan hati-hati sebelum berjalan ke sisi pengemudi. Tak lama kemudian, mesin mobil menyala.

Mobil sport berwarna hitam itu perlahan meninggalkan arena berkuda.

Revan hanya bisa memperhatikan kepergian mereka.bSorot matanya semakin tajam.

Tanpa sadar, kedua tangannya mengepal kuat.

"Rafael... Kamu sengaja, ya? Kamu tahu aku baru saja bertemu dengannya. Lalu kamu langsung membawanya pergi."

Di sampingnya, Davin menepuk pelan bahu Revan.

"Mereka memang perlu waktu saling mengenal."

Revan tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

"Iya. Semoga saja."

Namun jauh di dalam hatinya, muncul tekad yang bahkan ia sendiri tidak pernah membayangkannya.

"Kalau memang belum resmi menjadi suami istri, Blberarti takdir mereka belum benar-benar selesai ditulis." Batinnya.

Tatapannya terus mengikuti mobil Rafael hingga benar-benar menghilang dari pandangan.

Dan untuk pertama kalinya, Revan merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan terhadap perempuan mana pun. Keinginan untuk memilikinya.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!