NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Hari Itu

Mobil memasuki kawasan perkantoran. Gedung KIM Holdings menjulang di hadapan Junho—tinggi, rapi, dan tak banyak bicara. Kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi dengan tenang, seolah ingin menegaskan satu hal: stabilitas tidak pernah membutuhkan sorak-sorai.

Junho membuka matanya perlahan wajahnya kembali datar, terkendali. CEO Kim Namjunho kembali mengambil alih, pria yang berdiri di puncak tanggung jawab, bukan panggung dia kembali menatap gedung itu beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Hampir delapan tahun.

Delapan tahun sejak ia menerima jabatan yang dahulu tidak pernah ia bayangkan akan menjadi miliknya. Dulu, hidupnya dipenuhi lampu sorot dan suara ribuan orang yang memanggil namanya. Kini, hidupnya diisi angka, keputusan, dan ruang rapat yang sunyi. Tidak ada teriakan. Tidak ada encore. Hanya pilihan-pilihan yang harus ia tanggung sendiri.

Saat mobil berhenti di depan lobi utama, sopir turun lebih dulu dan membukakan pintu. Junho melangkah keluar dengan tenang. Beberapa karyawan yang melintas langsung menunduk sopan, memberi salam singkat. Junho membalas dengan anggukan kecil dan selalu cukup meskipun hanya seperlunya.

Lift tertutup perlahan namun di balik pantulan bayangannya sendiri di dinding baja itu, pikirannya kembali melayang.

Ke hari itu, hari ketika segalanya berhenti bergerak ke depan namun justru berbalik ke dalam.

Hari itu, halaman utama STARNET berubah sunyi dengan cara yang aneh. Tidak ada teaser, hitungan mundur, foto konsep, atau kalimat bombastis. Hanya satu unggahan terverifikasi.

PENGUMUMAN RESMI / LYNX ENTERTAINMENT | STARNET

Terkait Aktivitas Grup SOLIX

Kepada LUNARIS yang kami hormati,

Dengan ini, LYNX Entertainment menyampaikan keputusan penting terkait aktivitas grup SOLIX.

Setelah melalui diskusi panjang dan mendalam antara para anggota SOLIX dan pihak agensi, kami telah mencapai kesepakatan bersama bahwa SOLIX akan mengakhiri aktivitas mereka sebagai grup idol dan resmi memasuki masa pensiun dari dunia musik.

Keputusan ini diambil bukan karena berkurangnya cinta terhadap musik atau penggemar, melainkan karena setiap anggota kini memasuki fase kehidupan yang baru—sebagai individu, yang ingin mereka jalani dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Sejak debut hingga kini, SOLIX telah berjalan bersama selama sembilan belas tahun. Mereka tumbuh, jatuh, bangkit, dan berdiri kembali—selalu dengan LUNARIS di sisi mereka.

Kami memahami bahwa keputusan ini membawa rasa haru dan kehilangan. Namun, kami percaya, cinta yang dewasa tidak selalu berarti memiliki selamanya, melainkan merelakan dengan hormat.

Sebagai penutup perjalanan ini, SOLIX akan melakukan siaran langsung terakhir untuk menyapa LUNARIS dan menyampaikan salam perpisahan mereka secara langsung.

Terima kasih atas cinta, waktu, dan kepercayaan yang telah diberikan selama ini.

Hormat kami,

LYNX Entertainment

Hari itu, dunia gempar namun bagi Junho hari itu justru terasa sunyi. Ia ingat duduk diam dengan ponsel di tangan. Tidak membaca komentar. Tidak menonton ulang video lama. Hanya menatap satu kalimat berulang kali:

“Bukan karena berkurangnya cinta.”

Padahal, ia tahu keputusan itu lahir justru karena cinta. Cinta yang tidak lagi ingin berteriak di atas panggung. Cinta yang tidak lagi membutuhkan ribuan lampu untuk membuktikan keberadaannya. Cinta yang hanya ingin pulang… dan tinggal.

Lift berhenti di lantai tujuan. Pintu terbuka perlahan, mengembalikan Junho pada hari ini. Ia melangkah keluar, meninggalkan bayangan masa lalu tetap tertinggal di dalam ingatan.

Hari itu sudah lewat.

Keputusan itu telah diambil.

Dan hidup—dengan segala bentuk barunya terus berjalan.

“Selamat pagi, sajangnim.”

Sapaan itu terdengar tepat ketika langkah Junho berhenti sejenak di depan ruang kerja utamanya. Ia mengangguk singkat tanpa menghentikan langkah.

“Agenda hari ini?” tanyanya, suaranya tenang, nyaris datar seperti seseorang yang sudah terbiasa memegang kendali atas waktunya sendiri.

Lee Hana menyusul dari belakang, tetap menjaga jarak profesional. Tablet di tangannya sudah menyala sejak berada di dalam lift tadi, jemarinya siap mencatat setiap instruksi yang diperlukan.

“Pukul sembilan, rapat evaluasi proyek properti Cheongdam East fokus pada restrukturisasi kepemilikan saham minoritas,” lapornya cepat dan rapi. “Pukul sebelas, pertemuan dengan perwakilan investor Jepang melalui konferensi video. Setelah makan siang, kunjungan singkat ke lokasi pembangunan Hannam Riverfront.”

Junho memasuki ruang kerjanya. Pintu kaca terbuka otomatis, menyingkap ruangan luas bernuansa abu-abu dan kayu gelap. Meja kerjanya bersih nyaris tanpa benda personal.

Tidak ada foto keluarga.

Tidak ada penghias meja.

Hanya laptop, beberapa map tipis, rak buku, serta jendela besar yang menghadap kota. Junho berhenti sebentar di depan jendela. Dari ketinggian itu, Seoul terlihat begitu kecil dan jauh, sibuk bergerak tanpa pernah peduli pada siapa pun yang berdiri di atas gedung ini.

“Proyek Cheongdam, kirimkan ringkasan risiko hukumnya. Saya ingin melihat kemungkinan konflik jangka panjang, bukan hanya laporan kuartal,” ucap Junho sambil membuka jas dan meletakkannya dengan rapi di sandaran kursi.

“Baik, sajangnim,” jawab Hana sopan.

“Dan untuk investor Jepang, pastikan kita membicarakan visi jangka sepuluh tahun. Kalau mereka hanya mencari keuntungan cepat, kita tidak perlu melanjutkannya,” lanjutnya sambil duduk.

Nada suaranya tidak meninggi. Tidak ada tekanan berlebihan. Namun, setiap kalimatnya jelas tidak membuka ruang tawar yang tidak diperlukan.

Lee Hana mencatat cepat. Ia sudah lama bekerja dengan Junho, cukup lama untuk tahu bahwa pria itu tidak menyukai penjelasan bertele-tele. Junho bekerja dengan cara yang berbeda dari banyak eksekutif lain: ia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, dan ketika berbicara keputusannya jarang berubah.

“Untuk Hannam Riverfront,” kata Junho lagi, matanya kini tertuju pada layar. “Saya ingin laporan dampak sosialnya. Kita tidak membangun hanya untuk angka. Lingkungan sekitar harus ikut tumbuh.”

“Sudah kami siapkan. Ada beberapa penyesuaian desain agar lebih ramah komunitas.” Hana mengangguk sedikit, meski Junho tidak menatapnya.

“Bagus.”

Percakapan berhenti di sana, Lee Hana menunggu beberapa detik, memastikan tidak ada instruksi tambahan.

“Jika tidak ada lagi, saya akan menyiapkan semua dokumen sebelum rapat,” ucapnya.

“Terima kasih.” Junho mengangguk tipis.

Saat pintu ruangannya tertutup kembali, ruangan itu kembali sunyi. Junho bersandar sejenak di kursinya. Dari balik jendela, kota Seoul terlihat bergerak; cepat, teratur, dan penuh ambisi. Ia menatapnya tanpa ekspresi berlebih. Beginilah hidupnya sekarang. Bukan sorak-sorai. Bukan lampu panggung. Melainkan keputusan-keputusan kecil yang menentukan arah banyak orang.

Ia segera menyalakan laptop, membuka laporan demi laporan, lalu membacanya dengan fokus penuh. Setiap angka ia timbang. Setiap risiko ia perhitungkan. Ia tidak bekerja untuk terlihat hebat melainkan agar semuanya tetap berdiri.

Dan di sela-sela kesibukan itu, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar ia lepaskan: keinginan untuk pulang tepat waktu.

Junho melirik jam tangannya singkat, lalu kembali pada pekerjaannya. Di luar sana, dunia menuntut banyak hal darinya. Namun, di dalam dirinya, ada satu garis yang tak pernah ia langkahi.

Ia boleh menjadi CEO Kim Namjunho di ruangan ini. Namun, ketika hari berakhir—ia tetap seorang ayah yang harus pulang.

“Aku berhenti untukmu, Nala. Demi dirimu dan Jun-seok,” gumamnya lirih sembari membolak-balik dokumen yang sedang ia baca.

Jemarinya berhenti sesaat di atas halaman entah mengapa, wajah Nala kembali melintas di benaknya. Senyum perempuan itu, tatapan lembutnya, dan caranya memandang Junho seolah keputusan sebesar apa pun yang pernah ia ambil tidak pernah mengurangi rasa bangga di matanya.

Sudut bibir Junho terangkat tipis.

“Gomawo…” bisiknya nyaris tak terdengar, sebelum kembali menundukkan wajah pada dokumen di hadapannya.

════ ⋆★⋆ ════

Sementara itu, di tempat lain, siang itu matahari bersinar terik tepat di atas kepala. Nala melangkah turun dari mobilnya, lalu berhenti sejenak untuk menatap bangunan besar dan megah di hadapannya. ORIONA Entertainment berdiri anggun, sibuk, dan hidup—orang-orang berlalu-lalang dengan ritme masing-masing, beberapa membawa dokumen, sebagian lainnya berjalan tergesa menuju lift.

Hari itu ia memang datang agak siang dari biasanya. Pukul sepuluh waktu setempat. Pagi tadi, ia menghabiskan lebih banyak waktu bersama Junho dan Jun-seok adalah sebuah kemewahan kecil yang jarang ia miliki, tetapi tidak pernah ia anggap remeh.

Nala melangkah masuk dengan tenang dan elegan. Sepatu hak tinggi membalut kaki jenjangnya, sementara rambut panjangnya diurai lembut dengan tatanan gelombang kecil yang jatuh melewati bahu. Seperti biasa, ia tidak pernah berlebihan dalam berpenampilan. Hanya kemeja sederhana yang dipadukan dengan celana panjang, ditambah cardigan tipis berwarna netral.

Wajahnya terlihat manis tanpa banyak usaha. Tenang. Matang. Sulit ditebak usianya. Tidak banyak yang akan menyangka bahwa perempuan itu telah memasuki usia yang matang adalah seorang wanita bersuami sekaligus ibu.

“Hei… Nala-ya.”

Panggilan itu membuat langkah Nala terhenti. Ia berbalik, lalu tersenyum begitu melihat sosok pria yang berjalan menghampirinya.

“Oppa, kau sudah sehat?” tanyanya.

Pria itu mengangguk sambil melangkah mendekat.

“Sudah. Aku langsung masuk kerja begitu pulih. Rindu padamu,” ucapnya sambil tertawa ringan.

Lee Jeongin.

Dulu, di LYNX, mereka pernah berada dalam satu tim sebagai penulis lirik internal. Entah bagaimana takdir berjalan, Jeongin lebih dulu pindah ke ORIONA—dan tidak lama setelah itu, Nala menerima tawaran untuk bergabung di tempat yang sama. Posisi Jeongin tak kalah strategis darinya. Secara struktur, Jeongin merupakan senior Nala.

Namun, hubungan mereka tidak pernah terasa seperti atasan dan bawahan. Lebih mirip sahabat lama yang tumbuh bersama, saling memahami ritme serta beban masing-masing tanpa perlu banyak penjelasan.

“Ya ampun, bisa saja,” balas Nala sambil terkekeh.

Jeongin ikut tertawa. Tatapannya kemudian jatuh pada Nala beberapa detik lebih lama sebelum ia menggeleng kecil.

“Sepuluh tahun berlalu, tapi kau benar-benar tidak berubah.”

Nala mengangkat sebelah alis.

“Jangan mulai, Oppa.”

“Memangnya aku mengatakan sesuatu yang salah?” goda nya menyenggol lengan Nala.

“Kalau kau bilang aku masih terlihat seperti dua puluh sembilan tahun, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk mentraktirmu makan siang,” ujar Nala serius.

Jeongin terkekeh.

“Kalau begitu, aku akan bilang tiga puluh.”

“Yah, batal.”

Tawa kecil mereka mengalun di lobi ORIONA yang sibuk. Namun, di tengah suasana ringan itu, Nala sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata sempat mengarah kepada mereka.

Bukan karena sesuatu yang mencurigaka hanya saja karena bagi orang-orang yang baru mengenalnya, kedekatan antara Nala dan Jeongin memang terlihat begitu alami seolah mereka telah mengenal satu sama lain jauh sebelum sebagian besar orang di gedung itu mengenal nama mereka.

Mereka berjalan menuju lift bersama. Sepanjang langkah mereka, poster-poster boy group dan girl group di bawah naungan ORIONA terpampang jelas di dinding—mewakili kerja keras, strategi, dan mimpi yang dirangkai dengan rapi.

Beberapa poster menampilkan wajah para artis dengan tatapan penuh percaya diri, sementara lampu-lampu koridor memantulkan kilau tipis pada bingkai kaca yang mengelilinginya.

Namun, satu poster paling mencuri perhatian.

ASTRAE.

Grup kebanggaan ORIONA Entertainment.

Nala meliriknya sekilas—tidak lama, tetapi cukup untuk menunjukkan keterikatan emosional yang tidak pernah ia sembunyikan. Tatapannya melembut sesaat. Bagi Nala, ASTRAE bukan sekadar aset agensi. Mereka adalah cerita yang ia jaga, narasi yang ia rawat, dan masa depan yang ia lindungi dengan sepenuh hati.

Pintu lift terbuka.

Dan hari kerja Nala pun resmi dimulai.

Saat pintu lift tertutup perlahan, ruang sempit itu dipenuhi pantulan cahaya lampu putih lembut dan aroma samar kayu serta logam—ciri khas bangunan ORIONA yang selalu terjaga estetikanya.

Jeongin menekan tombol lantai atas, lalu berdiri di sisi Nala dengan jarak yang sopan.

“By the way, draft konsep album ASTRAE yang terakhir kamu kirim… manajemen cukup lama membahasnya,” ucapnya membuka percakapan. Suaranya turun sedikit, berubah lebih profesional.

Hal itu membuat Nala menoleh. Tatapannya tenang dan fokus.

“Respons mereka?” tanyanya.

“Tidak ada yang menolak, tetapi mereka berhati-hati. Tema yang kamu ajukan tentang memori kolektif, kehilangan yang tidak dramatik, dan kedewasaan emosional itu bukan konsep yang mudah dijual. Dan lagi, aku dengar ada beberapa anggota ASTRAE yang kurang suka juga,” jawab Jeongin jujur.

Nala mengangguk pelan.

“ASTRAE bukan grup yang membutuhkan konsep mudah,” ucap Nala pelan, tetapi sengaja menggantungkan kata-katanya.

Lift bergerak naik. Angka pada panel berganti perlahan, satu demi satu.

“Aku tahu,” sahut Jeongin sambil tertawa kecil. “Dan justru itu yang membuat proposalmu… berbahaya sekaligus menarik.”

Nada suaranya semakin serius. Nala menatap pantulan wajah mereka pada dinding lift yang mengilap. Ekspresinya tetap tenang, tetapi sudut bibirnya terangkat tipis.

“Kalau mereka hanya ingin sesuatu yang aman, mereka tidak membutuhkan aku sebagai Creative Director.”

Jeongin terdiam sesaat, lalu mengangguk.

“Geurae.” Ia tersenyum kecil. “Itu alasan aku tahu kamu tidak akan mundur hanya karena beberapa orang merasa tidak nyaman.”

Nala terkekeh pelan.

“Aku tidak berniat mundur.”

Lift terus bergerak menuju lantai atas, sementara pembicaraan mereka perlahan memasuki wilayah yang jauh lebih serius daripada sekadar konsep sebuah album.

“Kamu ingin album ini tidak berteriak. Tidak memaksa emosi. Lagu-lagunya seperti surat yang tidak dikirim secara personal, reflektif, tetapi tetap memiliki struktur naratif yang jelas. Dan itu sangat Nala.” Jeongin melirik Nala yang menyandarkan punggungnya ringan ke dinding lift.

“Pendengar ASTRAE sudah tumbuh. Mereka tidak membutuhkan ledakan. Mereka membutuhkan kejujuran yang rapi, sama seperti SOLIX dulu, kan?” ucap Nala. Kalimat itu terdengar lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan, dan hal itu membuat Jeongin tersenyum tipis.

“Dan kamu menyusunnya seperti arsip kenangan. Setiap track memiliki posisi emosional yang presisi.” Ia berhenti sejenak, seolah kembali mengingat proposal yang telah mereka bahas berulang kali. “Intro instrumental yang hampir sunyi. Lalu masuk ke lagu utama dengan lirik yang tidak langsung menjelaskan luka, tetapi membiarkannya terasa. Itu… keputusan yang berani.”

“Keheningan juga bagian dari musik. Kalau semuanya dijelaskan, pendengar tidak punya ruang untuk tinggal,” jawab Nala singkat.

Lift melambat di lantai tengah, lalu kembali bergerak naik. Angka pada panel digital berganti perlahan, sementara suasana di dalamnya terasa semakin hening.

“Manajemen sempat khawatir. Apakah publik akan mengerti? Lalu, tahu ceritamu itu sunyi, tenang, dan menyentuh titik terdalam emosi manusia. Sedangkan kita tahu, manusia akan selalu menghindari kenyataan yang menelanjangi mereka,” lanjut Jeongin.

Mendengar itu, Nala tersenyum kecil—bukan senyum defensif, melainkan senyum seseorang yang sudah berdamai dengan pilihannya.

“Aku tidak pernah menulis untuk dimengerti dengan cepat. Aku menulis agar mereka yang siap… bertahan. Kalau manusia tidak suka menghadapi masalah, apa itu salahku karena aku jujur?” tanya Nala.

Jeongin terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala.

“Jawaban seperti itu lagi,” balasnya.

Nala meliriknya sekilas.

“Seperti apa maksudmu?” tanyanya.

“Jawaban yang selalu berhasil membuat siapa pun terdiam,” ucap Jeongin, setengah menggoda. “Tidak konfrontatif, tidak emosional. Namun setelah itu… tidak ada yang berani membantah.”

Ia menoleh sepenuhnya kepada Nala. Tatapannya mengandung sedikit kekaguman yang tidak berusaha ia sembunyikan.

Nala hanya mengangkat sebelah alis.

“Karena aku tidak sedang berdebat, Oppa. Aku hanya mengatakan apa yang menurutku benar.”

Jeongin tersenyum kecil.

“Justru itu masalahnya.”

“Masalah?”

“Jinjja.” Jeongin menghela napas pendek, masih tersenyum. “Kamu selalu membuat sesuatu yang sederhana terdengar seperti kesimpulan akhir.”

Nala tertawa pelan. Lift terus bergerak naik, membawa mereka semakin dekat menuju lantai tempat pekerjaan mereka menunggu—tanpa keduanya menyadari bahwa percakapan sederhana itu perlahan membuka kembali sesuatu yang telah lama tersimpan di antara mereka.

“Dulu di LYNX juga begitu. Setiap kali rapat mulai panas, kamu hanya bicara satu atau dua kalimat. Dan anehnya, ruangan langsung tenang. Bahkan Yoohan yang terkenal paling serius pun ikut diam,” lanjutnya, yang membuat Nala tertawa kecil.

“Mungkin karena mereka lelah berdebat. SOLIX… Mereka tidak sama seperti ASTRAE, tetapi juga tidak sepenuhnya berbeda. Keduanya memiliki satu keunggulan,” jawab Nala, yang membuat Jeongin kembali menyahut.

“Apa?” tanya Jeongin.

“Mereka sudah cukup dengan lirik yang berisik. Kini mereka mencari ketenangan,” ungkap Nala.

Jeongin terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa terasa tepat. Tidak ada celah untuk disanggah. Ia hanya mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum kecil.

Tepat saat itu, lift berbunyi pelan, menandakan mereka hampir sampai.

“Oh, ya. Manajemen akhirnya menyetujui kerangka besar album ini,” lanjut Jeongin. “Dengan catatan—mereka ingin kamu memimpin langsung narasi lirik dan visual storytelling-nya. Aku sudah menyarankan yang lain, tetapi mereka bilang ingin kamu yang menangani langsung.”

Nala terdiam beberapa saat. Tatapannya tetap tertuju pada angka lantai yang terus berubah, sebelum akhirnya ia kembali membuka suara.

“Sejak kapan aku tidak memimpin?” balas Nala ringan, tetapi nadanya jelas.

“Fair point.” Jeongin tertawa geli.

Tidak ada yang berubah.

Nala tetap menjadi wanita sederhana dengan pikiran yang luas dan kemampuan yang bahkan telah ia kagumi sejak dulu.

Cara perempuan itu menyusun kata, membaca emosi, hingga menemukan makna di balik sesuatu yang dianggap sederhana selalu membuat Jeongin bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang dapat melihat dunia dengan cara yang begitu berbeda.

Pintu lift terbuka perlahan di lantai tujuan. Aktivitas kantor ORIONA langsung menyambut—suara langkah, percakapan rendah, dering telepon, dan ritme kerja yang rapi. Namun, sebelum benar-benar keluar dari area lift, Jeongin menambahkan satu kalimat terakhir, setengah bercanda, tetapi terdengar terlalu jujur untuk sekadar dianggap candaan.

“Kadang aku kasihan pada orang-orang yang rapat bersamamu, Nala. Mereka datang dengan segudang argumen… dan pulang dengan satu kalimatmu yang terus terngiang,” ucapnya pelan.

Nala melangkah keluar lebih dulu, bahunya tegak, langkahnya mantap. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam caranya berjalan, seolah percakapan tadi hanyalah bagian kecil dari rutinitas yang sudah begitu ia kenal.

“Itu bukan karena aku pintar. Aku hanya tahu kapan harus berhenti bicara. Kau tahu... terkadang berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa pun itu menyenangkan,” ucapnya tenang tanpa menoleh.

“Kenapa?” Jeongin tersenyum lebar, menatap punggung Nala sejenak sebelum menyusul.

“Karena... dari sana aku menemukan orang yang berkualitas. Sulit memilah mangga busuk dengan mata telanjang. Cara paling efektif adalah ikut bergabung dengannya,” lanjut Nala sambil berbalik sebentar.

Jeongin mengangkat sebelah alis, seolah mencoba memahami arah pemikiran perempuan itu.

“Dan hasilnya... aku mendapatkan mangga yang manis karena berhasil menyingkirkan mangga busuk itu,” tambah Nala sembari melangkah masuk ke ruangannya.

Jeongin menggeleng pelan. Senyum masih bertahan di wajahnya.

Sekali lagi, ORIONA bergerak mengikuti ritme perempuan itu—tenang, terukur, dan tidak pernah sia-sia. Nala mungkin tidak selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara dalam sebuah ruangan, tetapi ketika ia memilih untuk bersuara, kata-katanya selalu meninggalkan sesuatu.

Jeongin menatap pintu ruangan Nala yang telah tertutup beberapa detik lebih lama.

“Women 3B. Aku suka dia,” gumamnya, sebelum akhirnya ikut masuk ke ruangannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!